Gabung dengan Dynasis

http://www.klikdynasis.net/?id=UB026

GRATIS, TANPA RESIKO, DAPAT BONUS & MUDAH!

* GRATIS Biaya Pendaftaran, potensi Rp. 5.314.320/bln…
* TANPA RESIKO! Produk Pasti Terpakai…
* Walaupun GRATIS tetap dapat BONUS langsung…
* Sistem Canggih, MUDAH & GRATIS (Online/Offline)…
* Bonus Berulang-Ulang setiap bulan…

Mulai dari Rp. 0,- & benar-benar sampingan:
http://KlubPulsa.com/?id=j4p4ck

Ditulis dalam Lain-lain. 3 Komentar »

Maulana M Syuhada : Dengan Angklung Menaklukkan Eropa

Maulana M Syuhada bersama 35 temannya menjelajahi berbagai negara di belahan Eropa. Misinya hanya satu: Ekspand the Sound of Angklung (ESA). Memperkenalkan alat musik tradisional Sunda yang bisa membawakan berbagai lagu ini merupakan pekerjaan menantang bagi Maulana.

September 2007, buku tentang pengalaman mereka diluncurkan di Bandung: 40 days in Europe. ”Seusai melakukan penjelajahan budaya ke beberapa negara di Eropa ini, saya menilai, pengalaman ini tidak boleh terhapus oleh waktu. Pengalaman ini sangat berharga,” jelas pria kelahiran Bandung, 14 Juni 1977, ini.

Mereka telah berkelana di Eropa pada 22 Juli 2004-30 Agustus 2004. Misi mereka awalnya hanya untuk mengikuti Aberdeen International Youth Festival, salah satu even budaya terbesar di Skotlandia. Peserta festival ini bukan hanya kelompok seniman dari Skotlandia, tapi hampir seluruh kelompok seniman dunia.

Tapi, ibarat pepatah sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, alumnus SMA Negeri 3 Bandung angkatan 1996 ini bertekad upaya melanglang buana mengenalkan angklung tak cukup hanya berlabuh di Skotlandia. Sebagai pimpinan rombongan, Maulana bersusah-payah mencari tahu berbagai festival dan even budaya yang digelar di berbagai negara Eropa dalam kurun waktu yang tak jauh berbeda.

”Festival dan konser itu dicari selama satu tahun. Lalu di set up. Selama mencari berbagai even dan festival itu, saya harus bolak-balik Paris, Berlin, Brussel, dan mencari berbagai festival melalui internet, telepon, maupun kopi darat,” tutur jebolan program Master (S2) Manajemen Produksi Technische Universitaet Hamburg, Jerman. Alhasil, dua festival lain bisa diikuti oleh tim ESA pimpinan Maulana ini. Yaitu, International Festival of Highland Folklore di Zakopane, Polandia, dan International Folklore Festival di Kostelec, Republik Czech.

Berbagai pertunjukan ‘gratisan’ juga digelar ESA di berbagai negara dan kota, mulai dari Bremen, Berlin, Muenchen, Paris, Frankfurt, Hamburg, hingga Brussels. Dalam setiap pertunjukan, Maulana dan tim ESA sering menampilkan lagu-lagu daerah dan keroncong. ”Penampilan angklung dengan membawakan lagu-lagu klasik, seperti karya Bach dan lagu-lagu opera seperti Opera Carmen, cukup mendapatkan apresiasi hangat dari para penonton,” jelas kandidat PhD Ilmu Manajemen Lancaster University Management School, Inggris, itu.

Hampir di setiap pertunjukan, penonton bahkan juga juri memberikan standing applaus. Tidak hanya itu, berbagai penghargaan pun diraih ESA dan tentu saja Maulana. ESA meraih juara pertama di festival mendapat di Kostelec, Republik Czech.

Di festival Zakopane, Polandia, selain meraih juara pertama, mereka juga mendapat penghargaan tertinggi, yaitu Ciupaga. Padahal, di festival itu Maulana dan ESA hanya berstatus sebagai bintang tamu. Sebenarnya, Maulana dan kelompok ESA tidak berhak ikut dalam kompetisi folklor karena tidak mewakili jenis kebudayaan folklor dataran tinggi. Tetapi, lantaran performa ESA dinilai sangat berkualitas, tim juri akhirnya tetap memutuskan penghargaan tertinggi itu berhak diraih ESA dan Maulana.

Aktualisasi Diri
Sebelumnya, Maulana adalah peranakan Sunda yang tak begitu mengenal angklung. Perkenalannya dengan angklung terjadi saat mengikuti orientasi siswa baru di SMAN 3 Bandung. Saat itu, kata dia, Keluarga Paduan Angklung SMAN 3 (KPA 3) membawakan soundtrack film McGyver yang saat itu tengah ngetren.

”Ternyata, angklung itu alat musik tradisional yang bisa digunakan untuk membawakan lagu-lagu Top 40, bahkan soundtrack Mcgyver,” kenang mantan Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli dan Sarjana Indonesia di Jerman (IASI) ini. Hingga lulus dari SMAN 3 Bandung dan belajar di Teknik Industri ITB, Maulana belum juga memainkan angklung. Alat musik bambu itu baru ia pelajari justru saat dirinya belajar di Jerman, tepatnya di Hamburg University of Technology, pada 2001.

Maulana memainkan angklung dengan segala keterbatasannya, mulai dari sarana hingga personel. Dia dan rekan-rekan mahasiswa yang sama-sama berasal dari Indonesia, hanya memainkan angklung pada saat digelar International Student Evening.

Sambutan dari para penonton saat dia dan kelompok mahasiswa Indonesia bermain angklung sangat luar biasa. Bahkan, para penonton terlihat begitu antusias. Atas kepuasan penonton itulah, Maulana mengaku bahwa angklung menjadi semacam bentuk aktualisasi dirinya. Lewat angklung pula, ia merasakan pencitraan positif tentang Indonesia. ”Faktor ini yang menyebabkan saya tidak berhenti bermain angklung,” jelas alumnus Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah, Garut, Jawa Barat, ini.

Dengan segala ketekunannya, Maulana menghimpun rekan-rekannya untuk serius mempelajari angklung. Maulana dan rekan-rekannya pun mendirikan Angklung Orchester Hamburg pada 2002. Kini, kata dia, terdapat puluhan anggota Angklung Orchester Hamburg yang berasal dari 10 negara, yaitu Meksiko, Venezuela, Vietnam, Thailand, Ethopia, Elsavador, India, Austria, Rusia, dan Jerman.

Mengambil program doktoral di Inggris, Maulana tetap bermain angklung. Di Lancaster University Management School, Inggris, kata dia, pesertanya, 100 persen orang Inggris. Maulana yakin bahwa mengenalkan angklung di luar negeri merupakan upaya yang sangat efektif untuk diplomasi, khususnya dalam bentuk pencitraan. ”Lewat seni, Indonesia memiliki nilai yang sangat tinggi,” tegas .

Bersama 35 orang, Maulana telah menundukkan Eropa. Senjata mereka angklung. ”Ini merupakan pengalaman yang luar biasa,” kata mantan presiden Angklung Orchester Hamburg, Jerman, itu.

Sumber : www.republika.co.id

Ditulis dalam Sosok. 3 Komentar »

Masjid-masjid Tua

Cornelis Matelief Jonge, pemimpin armada Belanda, ketika menjelajahi Teluk Jakarta (1607), membuat gambar kota Jayakarta yang berada di tepi pantai. Terlihat sebuah masjid, yang menurut sejarawan Adolf Heuken sebagai masjid pertama di Jakarta. Pada Mei 1619, masjid ini dibumi-hanguskan oleh JP Coen, ketika dia menaklukkan Jayakarta.

Menjadi pertaanyaan, apakah masjid yang dibangun dari kayu terletak beberapa puluh meter sebelah selatan Hotel Omni Batavia (kira-kira terminal angkutan darat Jakarta Kota) itu merupakan masjid pertama di Ibukota? Tanah bekas masjid itu kemudian digunakan untuk membangun sebuah perwakilan dagang Inggris.

Pada paruh abad ke-14 di Karawang, Jawa Barat, berdiri pesantren Kuro. Karawang, seperti juga Sunda Kalapa, ketika itu termasuk wilayah Kerajaan Pajajaran yang dipimpin prabu Siliwangi. Ketika sang prabu mengunjungi pesantren Kuro, ia jatuh hati pada seorang santri bernama Subang Larang. Mereka menikah dan dikarunia seorang putera, Kyan Santang, yang kemudian menyebarkan agama Islam.

Ketika itu, orang Betawi banyak menjadi pengikut Islam. Para pendeta di Pajajaran menilai Kyan Santang melakukan penyimpangan, atau langgara. Karena itu, tempat sembahyang pengikut Islam di sebut langgar. Warga Betawi masih banyak menyebut langgar untuk sebutan mushola. Sedang tempat shalat yang lebih besar mereka sebut masjid atau masigit. Jadi, menjelang abad ke-15 sudah berdiri masjid di Jakarta.

Karena Islam dianggap membahayakan, maka Pejajaran melakukan perjanjian dengan Portugis yang membuat Sultan Trenggano dari Demak menjadi amat gusar. Dia kemudian mengirimkan seorang mubaligh sekaligus panglima, Fatahilah, dengan balatentaranya untuk menyerbu Sunda Kalapa dan mengusir Portugis. Fatahillah mendirikan kadipaten di sebelah barat muara Ciliwung. Di sebelah timur didirikan aryan perumahan untuk pejabat kadipaten dan keluarganya yang didatangkan dari Banten.

Pada abad ke-17 orang dari berbagai bangsa di Nusantara bertemu di Jakarta. Adat kebiasaan masing-masing terpaksa ditinggalkan karena beraneka ragam. Karena itu, kampung-kampung di sekitar kota dan desa-desa pedalaman bersatu dalam hal agama, dan kemudian dalam hal bahasa Melayu Betawi.

Gereja reformasi, tulis Hayken, tak sampai mencoba penginjilan, karena dianggap mustahil mentobatkan orang Muslim atau Tionghoa. Kecuali kegiatan Katholik yang dilarang sampai 1806. Batavia dan daerah sekitarnya mengalami semacam ‘Melayunisasi’ cepat setelah tahun 1700. Letnan Gubernur Jenderal Raffles sampai menulis pujian terhadap perkembangan Islam yang pesat pada masanya.

Untuk menjajaki sejumlah masjid tua yang sampai kini masih berdiri, baiklah kita mendatangi Masjid Al-Alam di Marunda, Cilincing, Jakarta Utara. Masjid ini dibangun oleh Fatahilah dan pasukannya untuk menyerang Portugis (1527). Ada keyakinan masyarakat di sini, bahwa Fatahillah membangun Masjid Al-Alam hanya dalam sehari.

Hingga kini masjid yang terletak di tepi pantai itu tidak pernah sepi. Selalu diziarai, lebih-lelbih pada malam Jumat kliwon. Seratus tahun kemudian (1628-1629), ketika ribuan prajurit Mataram pimpinan Bahurekso menyerang markas VOC (kini gedung museum sejarah Jakarta) para prajurit Islam ini lebih dulu singgah di Marunda guna mengatur siasat perjuangan. Bahkan, ada yang mengatakan masjid ini dibangun oleh prajurit Sultan Agung.

Dalam bulan puasa ini, ada hal-hal istimewa yang akan kita dapati bila mengunjungi masjid-masjid tua di Jakarta. Di samping mendapatkan siraman rohani, kita akan mendapatkan pula kisah-kisah heroik perjuangan umat Islam di masa lalu. Mencontoh fungsi masjid di masa Rasulullah SAW, nasjid tua itu, melalui para jamaahnya, telah mengobarkan semangat perjuangan melawan penjajahan Belanda. Bahkan, pernah dijadikan sebagai markas perjuangan pada masa revolusi fisik (1945-1949) melawan NICA.

Ada Masjid As-Salafiah di Jatinegara Kaum, dekat Pulo Gadung, Jakarta Timur. Masjid ini didirikan oleh Pangeran Ahmed Jakerta, setelah ia hijrah dari Jayakarta pada tahun 1619 akibat gempuran VOC. Di tempat yang empat abad lalu masih terpencil dan berupa hutan belukar itu pangeran membangun masjid yang hingga kini masih diabadikan. Ini terlihat dari empat tiang utama yang terbuat dari kayu jati yang menjadi penyangganya. Sekalipun sudah delapan kali direnovasi dan diperluas, empat tiang penyanggah ini masih kita dapati.

Dari Masjid As-Salafiah inilah, pangeran Jayakarta dan pengikutnya mengobarkan semangat jihad untuk terus menerus mengusik Belanda. Menurut sejarah versi Belanda, sampai 1670 Batavia tidak pernah aman dari gangguan keamanan akibat aksi gerilya tersebut. Ketika Sultan Agung menyerang Batavia, Jatinegara Kaum kembali memegang sejarah penting. Di masjid ini kita masih mendapati makam Pangeran Ahmed Jakerta, para keluarga dan pengikutnya.

Glodok yang selalu hingar bingar apalagi saat puasa sekarang ini juga banyak memiliki masjid tua. Di Jl Pengukiran II, misalnya, terdapat masjid Al-Anshor yang didirikan oleh para pendatang dari Malabar (India) pada abad ke-17. Tepatnya pada 1648. Ada lagi Masjid Kampung Baru yang didirikan pada tahun 1748 yang kini hanya tersisa beberapa dari bangunan aslinya.

Tidak jauh dari tempat itu, di tepi kali Angke di Jl Pekojan, Jakarta Barat, terdapat sebuah surau yang disebut Langgar Tinggi. Disebut demikian karena langgar ini agak tinggi dan berlantai dua. Para Muslim India juga berperan dalam membangun langgar ini. Masih di kawasan Pekojan, terdapat masjid yang dibangun pada abad ke-18. Masjid an-Nawier (Cahaya) erat kaitannya dengan masjid kuno di Kraton Solo dan Banten. Ikut berperan dalam penyebaran Islam. Masih terdapat puluhan lagi masjid tua di Jakarta yang ikut berperan dalam penyebaran Islam dan memeprtahankan kemerdekaan.

(Alwi Shahab )

Sumber : www.republika.co.id

The Return : Kisah Horor Futuristik

Lewat dua kali penampilan dalam The Grudge: Ju-on (2004,2006), Sarah Michelle Gellar bagai menahbiskan dirinya sebagai spesialis film-film horor. Tahun ini, Gellar kembali dalam The Return, yang shooting-nya hanya terpaut beberapa bulan dengan The Grudge II (2006). Gellar bersiap kembali mengembangkempiskan adrenalin penonton. Namun, akankah film ini seseram The Grudge? The Return berkisah tentang sosok Joanna Mills (Sarah Michelle Gellar), gadis usia 25 tahun, yang kesepian. Tak ada yang terlampau istimewa pada diri Joanna kecuali pekerjaan nomadennya sebagai pengemudi truk dan kemampuannya melihat masa lalu, seperti halnya cenayang. Yang terakhir ini adalah biang dari kesulitan-kesulitannya, tapi juga ‘darah’ dari film ini.

Syahdan, Joanna ditugaskan berangkat ke Texas demi mengamankan pesanan kliennya. Nah, sepanjang perjalanan ke Texas itulah halusinasi-halusinasi mengerikan kian getol menyambanginya. Ia sudah mulai mengalaminya pada usia 11 tahun. Seraut wajah tiba-tiba muncul dari kaca spion dan menatapnya lama. Ketika ia menyalakan radio, anehnya, seluruh stasiun radio menyuarakan lagu Sweet Dream dari Patsy Cline.

Yang kerap tampak dalam halusinasi itu adalah sosok lelaki dengan wajah mengancam serta suasana sebuah bar. Joanna merasa pernah melihat bar ini di suatu masa. Ia menemukannya di La Salle. Betul saja. Itu adalah bar pernah ia lihat di masa kecilnya.

Joanna menemui seseorang pengunjung, Terry Stahl (Peter O’Brien) di situ. Istri Terry, Annie (Erinn Allison), dibunuh secara brutal 15 tahun lalu. Peristiwa ini membuat Terry sebagai tertuduh, meski pengadilan tak kuasa membuktikannya. Anehnya, bayang-bayang peristiwa kriminal itu sekonyong-konyong muncul di benak Joanna. Secara tak terduga pula, ia mendapati dirinya benar-benar tercemplung ke dalam ulangan peristiwa kriminal ini. Apa yang lantas terjadi?

Dibanding The Grudge yang mengobral teror hantu, The Return lebih bernuansa futuristik-supranatural seperti halnya Butterfly Effect (2002). Dialog-dialog amat kering, kecuali ekspresi wajah tegang Gellar yang lumayan meyakinkan. Ide film ini terlalu imajinatif, tak mudah dicerna, dan membikin penonton merasa hampa.

Sumber : www.republika.co.id

Flawless : Demi Sebongkah Berlian

Jika pernah terpukau oleh kejeniusan Danny Ocean (George Clooney) dan kawan-kawan membobol brankas sertifikat berharga dalam Ocean’s Twelve (2004), yakinlah bahwa film itu hanyalah cerita fiksi yang ’sok high-tech‘.

Sebab, di dunia nyata, paling tidak tahun 1960, tak dibutuhkan otak secemerlang Danny Ocean dan teknologi tinggi untuk membawa lari harta senilai ratusan juta poundsterling. Tapi, cukup otak seorang Tony Hobbs (Michael Caine), seorang petugas pembersih lantai yang kakinya pincang. Inilah cerita menarik Flawless (2007).

Kian menarik setelah mengetahui bahwa peristiwa heboh ini betul-betul terjadi di London empat dasawarsa silam. Tepatnya di London Diamond (Lon Di), perusahaan pemasok berlian terbesar di Eropa yang memiliki penjagaan ekstraketat, jika tidak mustahil dibobol. Flawless adalah kisah pembobolan berlian yang, boleh jadi, paling menarik sepanjang sejarah.

Tapi, sekali lagi, Flawless bukanlah Ocean’s Twelve yang menjadikan dirinya pentas bagi kepiawaian para maling. Flawless sejatinya adalah film drama –drama kehidupan Laura Quinn (Demi Moore) yang menggetarkan. Dialah ‘berlian’ sesungguhnya perusahaan berlian Lon Di. Cerdas dan pekerja keras, Quinn adalah satu-satunya wanita di jajaran manajer Lon Di. Seorang wanita ambisius, menghabiskan hidupnya demi karier, usianya 38 tahun, dan tetap melajang.

Sayangnya, karier Quinn tak serupawan parasnya. Ia terus dipaku pada kursi manajer selama bertahun-tahun. Untuk wanita sekaliber Quinn, jabatan ini terlampau mungil, sementara ia dikenal di kantornya sebagai ’si datang pertama, si pulang terakhir’.

Suatu ketika terjadi kisruh yang menewaskan seratus orang di tambang berlian Afrika Selatan. Sebuah kisruh yang merembet ke isu Perang Dingin. Diduga melibatkan Lon Di, kisruh ini memastikan diputusnya kontrak Lon Di dengan pemerintah Rusia. Tapi, Quinn punya ide ambisius. ”Kita lanjutkan bisnis lewat jalan belakang,” cetusnya.

Kabar sial itu pun meluncur dari mulut Hobbs. Sang pembersih lantai mencuri dengar bahwa Quinn bakal dipecat menyusul ide nakal soal Rusia tadi. Betul saja. Surat pemecatan Quinn bahkan sudah rampung disusun. Quinn –yang masih jengkel lantaran gagal promosi– pun meradang, terluka, dan bersumpah membalas dendam.

Dan, Hobbs menawarkan Quinn sebuah jalan balas dendam yang sempurna, yakni bersama-sama membobol brankas berlian Lon Di. Hobbs bakal pensiun dalam hitungan minggu. Ia perlu uang besar (sesungguhnya ia pun menaruh dendam terhadap Lon Di yang zalim).

Sebagai petugas kebersihan, ia tahu betul kode ruang brankas diganti oleh bos Lon Di, Milton (Josh Ackland), saban dua minggu. Karena itulah Hobbs meminta Quinn mencuri kode brankas di kamar pribadi Milton. Berhasil. Kini, mereka harus berhadapan dengan lusinan kamera pengintai nyaris di setiap sudut gedung. Hobbs, kata Quinn, cuma memiliki waktu 30 detik untuk menerobos pintu brankas. Itu mustahil. Sebab kaki Hobbs pincang.

Ajaib. Keesokan harinya Lon Di geger. Berlian seharga ratusan juta poundsterling raib. Quinn sendiri dibuat terkejut-kejut menyaksikan ulah Hobbs malam itu. Seluruh berlian digangsir tak bersisa. ”Ke mana gerangan lari berlian itu? Bagaimana si tua dan si pincang Hobbs memboyong puluhan kilogram berlian dalam sebuah termos kecil?”

Demi mengucurkan adrenalin penontonnya, sutradara Michael Radford tak merasa perlu menyewa lusinan bintang tenar seperti halnya trilogi Ocean 11, 12, dan 13. Atau memamerkan aksi tipu muslihat yang terlampau mencengangkan seperti halnya Catch Me if You Can (2002). Radford melakukannya dengan sederhana saja.

Pertama, ia menyuguhkan percakapan yang panas. Kantor Lon Di adalah gedung bercat serbabiru, kaku, dan dingin. Bagai lemari es raksasa yang dipenuhi karyawan-karyawan necis namun tanpa perasaan. Dalam ‘kedinginan’ itu, sang sutradara membikin gerah nalar dan rasa penontonnya lewat dialog-dialog menyengat dan penuh prasangka.

Kedua, Radford memasang dua peseni peran yang tepat: Demi Moore dengan keanggunan dan rasa frustrasi yang saling bertabrakan di wajahnya. Michael Caine dengan ketenangan, dendam, dan akal bulus yang sama-sama mengendap di benaknya. Akting memikat keduanya adalah darah segar buat film ini, jika bukan daya tarik satu-satunya yang tak putus sepanjang film.

Lihatlah, misalnya, bagaimana Quinn usai perampokan digambarkan terengah-engah napasnya lantaran ciut nyali yang justru membikin Flawless tampak begitu alami, apa adanya. Hingga akhirnya kita dibawa pada aksi perampokan Hobbs. Itu pun bukan aksi perampokan yang mengobral ketegangan, namun tetap saja amat memuaskan.

Sumber : www.republika.co.id

Menghirup Aura Yogya

Jangan ragu untuk menyebut Yogyakarta sebagai tempat wisata terkemuka di Nusantara, selain Bali. Banyak orang bilang, Yogya sempurna sebagai kota pelesiran. Di kota bekas Kesultanan Mataram itu, Anda bisa menikmati aneka hasil seni dan budaya, cuci mata di pusat-pusat belanja, mencicipi kelezatan aneka makanan khas Yogya sembari duduk lesehan di sepanjang jalan Malioboro, atau mengunjungi tempat-tempat berpanorama indah di sekitar kota ini.

Hal lain yang sangat menyenangkan ketika berada di Yogya adalah kemudahan untuk menjangkau objek wisata yang satu dengan lainnya. Karena jaraknya saling berdekatan, Anda bisa menjangkaunya dengan menumpang delman atau becak. Sedangkan untuk objek wisata yang agak jauh, tersedia taksi, bus kota, angkot, juga ojek.

Namun dari berbagai moda transportasi itu, becak lah yang terfavorit. Selain murah, mobilitasnya di dalam kota juga lebih tinggi. Berbeda dengan banyak kota besar lainnya di negeri kita, Yogya salah satunya yang sangat ramah pada kendaraan roda tiga ini. Di jalan-jalan utama, seperti Malioboro, becak berseliweran mencari penumpang.

Bagi para pelancong, keberadaan becak-becak itu sangat menguntungkan. Bayangkan, di senja hari yang sejuk, Anda naik becak menikmati suasana Yogya. Tentu sangat menyenangkan. Enaknya lagi, Anda bisa bertanya banyak hal pada sang pengemudi becak. Layaknya tour guide, ia akan dengan senang hati menjawab semua pertanyaan Anda. Jangan heran, jika sang pengemudi becak ini bisa menjelaskan secara fasih seluk-beluk kota Yogya. ”Sudah biasa Mas, kita sudah tahu apa yang dikehendaki wisatawan bila ke Yogya, jadi kami hampir hafal,” kata Suryadi, pengemudi becak yang mangkal di ujung jalan masuk kawasan Malioboro.

Selain bisa berperan layaknya tour guide, para pengemudi becak di Yogya juga sangat santun, tidak suka neko-neko. Mereka umumnya tak mau menipu para turis supaya membayar ongkos lebih mahal. ”Kami tidak ingin ketidakjujuran merusak citra kota Yogya. Jika itu terjadi, kami juga yang repot. Jadi kami harus menjaga kenyamanan wisatawan selama berada di Yogya,” kata Tukiman, tukang becak asal Solo yang sudah lebih dari 30 tahun tinggal di Yogya.

Tak hanya para turis berduit, Yogya juga cukup ramah bagi para pelancong dengan dana terbatas. Di kota gudeg ini tersedia banyak penginapan sederhana dengan tarif puluhan ribu rupiah semalam. Jangan pula pusing untuk urusan perut. Siapapun bisa dengan mudah menemukan warung makan atau depot-depot makan kaki lima. Harga makanannya? Dijamin tak merepotkan kantung. ”Satu hal lagi, orang Yogya juga sangat welcome pada wisatawan. Itu membuat kita kerasan di kota ini,” kata Joko Susilo, peserta Press Gathering PT Telkomsel di Yogyakarta, belum lama ini.

Keraton
Di antara sekian banyak tempat menarik yang ‘wajib’ dikunjungi ketika berada di Yogya adalah keraton. Meski telah berusia ratusan tahun, Keraton Ngayogyakata Hadiningrat masih terpelihara baik. Pranata budaya serta benda-benda kuno peninggalan raja-raja Mataram juga sangat terawat. Menurut catatan sejarah, keraton ini dibangun pada tahun 1756 oleh Pangeran Mangkubumi (Hamengku Buwono I) sebagai pusat kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat. Sebagaimana bangunan keraton pada kerajaan-kerajaan Jawa di masa lalu, Keraton Yogyakarta dibangun menghadap ke utara.

Bangunan terluar berupa benteng keraton yang dibuat dari batu bata merah dengan ketebalan sekitar empat meter. Benteng ini melingkari keraton dan membentuk segi empat dengan beberapa gerbang utama (regol). Adapun susunan bangunan Keraton Yogyakarta berturut-turut dari utara ke selatan adalah: alun-alun utara (termasuk Siti Hinggil dan Bangsal Pagelaran), Kemandungan Lor (utara) atau Keben, Sri Manganti, keraton sebagai bangunan induk, Kemagangan, Kemandungan Kidul (selatan), dan alun-alun selatan.

Pada zaman kerajaan, alun-alun utara digunakan untuk mengumpulkan prajurit dan rakyat. Selain itu, digunakan pula untuk upacara-upacara adat seperti grebeg, sekaten, dan lain-lain. Keberadaan alun-alun ini melambangkan menunggalnya raja dengan rakyat dalam membangun kerajaan. Di tengah alun-alun terdapat dua pohon beringin yang melambangkan bahwa sultan adalah pelindung dan pengayom rakyatnya. Puas menikmati keraton, sempatkan melongok Taman Sari. Letaknya tidak jauh dari keraton. Pada masa lalu, Taman Sari merupakan tempat rekreasi bagi para sultan dan kerabat keraton. Di tempat ini, Anda dapat menyaksikan peninggalan sejarah berupa istana, kolam pemandian, gapura, dan lorong bawah tanah. Dari Taman Sari, sempatkan menyambangi Pasar Burung Ngasem. Di pasar inilah, warga Yogya biasa membeli hewan peliharaan, terutama burung.

Selain objek-objek wisata dalam kota Yogyakarta, wisatawan dapat pula mengunjungi sejumlah destinasi yang ada di sekitar kota Yogyakarta. Kendati masuk dalam wilayah kabupaten lain, namun jaraknya tidak terlalu jauh. Sebut saja misalnya, Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Candi Boko. Ada pula Pantai Parangtritis, Kaliurang, Museum Dirgantara, Monumen Yogya Kembali, Museum Afandi, dan sejumlah sentra kerajinan industri kulit. ”Kami hanya dua malam di Yogyakarta, tapi bisa menikmati banyak objek wisata,” kata Yahya Umar, wartawan sebuah media harian di Bali, yang juga salah seorang peserta Press Gathering PT Telkomsel.

Bagaimana dengan urusan cendemata? Yang ini pun tak perlu dikhawatirkan. Yogya punya banyak pilihan cenderamata dan oleh-oleh. Ada batik, keramik, gerabah, kerajinan perak, dan kerajinan kulit. Untuk keramik dan gerabah, Anda bisa mendapatkannya langsung di daerah Kasongan, Bantul. Lain halnya jika menginginkan aneka kerajinan perak berkualitas bagus, maka Anda mesti menuju Kota Gede. Sedangkan untuk mendapatkan kerajinan kulit, seperti rompi, jaket, sepatu, tas, atau dompet, datanglah ke daerah Manding, Bantul. Untuk oleh-oleh makanan khas Yogya seperti bakpia, geplak, yangko, dan ampyang jahe, Anda bisa membelinya di kawasan Purwodiningratan.

Membeli oleh-oleh ke sentra industri, khususnya makanan khas Yogyakarta, cukup menguntungkan karena Anda akan mendapatkan harga lebih murah. Anda pun akan mendapatkan makanan yang masih segar dan baru. Di sepanjang Jalan Malioboro pun, Anda bisa mendapatkan aneka jajanan khas Yogya dan berbagai barang kerajinan termasuk kerajinan perak, kulit, maupun batik. Tapi di sini Anda mesti pintar memilih dan menawar harga. Jika tidak, bisa jadi Anda akan membawa pulang cenderamata dengan harga mahal namun bermutu rendah. Sayang sekali bukan?

Sumber : www.republika.co.id

Ditulis dalam Jalan-jalan. 2 Komentar »

Kolektor Brosur Mobil

Sejak kecil, Noor Satrio Hendratno telah ‘dekat’ dengan dunia otomotif. Seperti anak-anak lainnya, Satrio kerap mendapat mainan berupa mobil-mobilan. Saat itu juga Satrio telah gemar mengumpulkan mainan berupa miniatur atau replika mobil yang dibuat dari metal. ”Ketika itu masih berharga sekitar Rp 1.000,” kata pria asal Sleman, Yogyakarta, itu.

Bahkan, kedekatan itu kian lekat lantaran orangtuanya sempat memiliki usaha berupa bengkel mobil serta showroom motor Binter dan Vespa di Banjarnegara, Jawa Tengah, ketika dia masih duduk di bangku SD sekitar 1980-an.

Ketika itu kendati showroom motornya menyediakan banyak brosur mobil, Satrio belum terpikir untuk mulai mengoleksi brosur itu. ”Saya justru suka menggunting gambar-gambar mobil di koran, majalah, dan saya kliping,” ujarnya.

Hingga pada suatu ketika, dia tertarik untuk mengirimkan kupon permintaan brosur di satu majalah ke dealer Suzuki ketika akan meluncurkan Suzuki Carry 1.000 dengan rem booster di tahun 1986.

Selanjutnya, berselang setahun kemudian, Satrio pun mendapat kiriman brosur Citroen BX16 TRS dari dealer-nya di Semarang. ”Saya baru benar-benar serius koleksi sejak tahun 1991. Brosur yang saya dapatkan saat itu adalah Land Rover dan Mercy dari ATPM-nya di Indonesia,” ungkapnya.

Tak hanya dari dalam negeri, brosur mobil dari luar negeri pun didapatnya. Untuk kali pertama, Satrio memperoleh brosur Mercedes-Benz Jerman karena mereka merespon s dan membalas surat permintaannya. ”Mereka mengirim beberapa eksemplar brosur produknya terutama brosur Mercy 300 SEL yang digunakan sebagai mobil resmi KTT GNB 1992 ,” ujar pria berusia 32 tahun ini.

Secara perlahan, segala macam brosur, katalog, booklet, leaflet dari berbagai jenis mobil sedan, limosin, SUV, MPV, bus, truk, ambulans, mobil antipeluru , mobil balap dari berbagai merek telah menjadi koleksinya. Brosur mobil yang telah dia kumpulkan dan koleksi sampai saat ini berasal dari berbagai merek. Mulai dari mobil Eropa, Asia, Amerika; dari merek Mercedes-Benz, Lamborghini, Ferrari, Bentley, Porsche, Rolls Royce, Toyota, Daihatsu, Suzuki, Proton, Dacia, Mahindra, Tata, Auverland, dan lainnya. Belum termasuk brosur truk dan bus dari Mercy, Volvo, Scania, Setra, Evobus, Mitsubishi, Hino, Tata, JRD, serta Nissan-Diesel. Dari merek yang sudah dipasarkan di Indonesia hingga yang sama sekali belum masuk ke Indonesia.

”Saya berburu brosur tidak hanya dengan meminta ke ATPM, dealer, di pameran mobil atau berkirim surat atau lewat e-mail ke perusahaan mobil. Namun, saya juga berburu ke pasar buku bekas atau loakan,” kata dia.

Satrio, misalnya, pernah mendapatkan brosur Toyota Crown, Corona, dan Corolla tahun 1980-an di Pasar Johar, Semarang. Sedangkan di kota kecil Jombang, dia sempat mendapatkan brosur Mercy Tiger atau E-Class tahun 1970-1980-an.

Kemudian di pasar buku bekas Jalan Semarang, Surabaya, pria yang berwiraswasta ini sempat juga memperoleh brosur Mercy S-Class dan SEC tahun 1995. Bagi dia, ada daya tarik tersendiri dengan mengumpulkan brosur-brosur itu. ”Selain hobi, saya mengumpulkan brosur juga untuk mengisi waktu luang. Saya juga berharap dapat menambah wawasan perkembangan dunia otomotif yang selalu dinamis,” katanya.

Hingga saat ini, Satrio sendiri mengaku tidak pernah menghitung berapa banyak brosur yang telah dikoleksinya. Ini karena brosurnya sendiri dalam bentuk lembaran besar dan kecil, leaflet, booklet, bentuk buku yang bersampul tebal atau tipis dari beberapa negara. ”Yang pasti sejak tahun 1990-an sampai sekarang mungkin sekitar ratusan brosur,” ujarnya.

Terlebih selain brosur, dia juga mengumpulkan beberapa poster, kartu pos, serta cendera mata ATPM seperti kaos, topi, mug, stiker, pin, korek api, gantungan kunci, tas, dompet, atau dasi.

Untuk menunjang hobi tersebut, Satrio mengoleksi pula replika atau miniatur mobilnya. ”Namun, kebanyakan saya koleksi jenis mobil SUV dan yang paling saya favoritkan adalah replika Isuzu D-Max Rodeo LS yang saya beli dari Astra Isuzu ,” ungkapnya.

Uniknya, dengan ratusan brosur mobil miliknya, Satrio masih memendam keinginan lain. Inilah pengakuannya: ”Kendati koleksi brosur mobil saya sudah lumayan banyak, namun kebalikan dari hobi itu adalah sampai saat ini saya belum memiliki mobil yang sebenarnya. He, he.”

Hobi Murah Meriah
Untuk menekuni hobinya ini, Satrio tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Ini lantaran harga masing-masing brosur itu tidak mahal hanya berkisar Rp 5.000 hingga Rp 10 ribu saja. ”Yang terpenting bagi saya adalah nilai kelangkaan brosur itu dan mobilnya sendiri sudah tidak diproduksi lagi,” kata dia.

Bila mendapat tawaran brosur berharga mahal, Satrio tak bakal ragu menolaknya. Seperti ketika dia mendapat undangan untuk menghadiri bursa otomotif di Parkir Timur, Senayan, Jakarta, pada 2004 lalu. Saat itu ada sebuah gerai barang bekas yang berani menjual brosur Mercy Tiger seharga Rp 100 ribu per eksemplar.

Lantaran melihat ada beberapa brosur yang belum dimilikinya, Satrio mengaku tertarik untuk memborong. Namun, begitu melihat harganya, dia langsung mundur teratur. ”Saya urungkan setelah melihat harganya yang tidak sesuai dengan kantong saya. Biarpun hobi, tapi saya masih pakai perhitungan dan tidak terburu nafsu untuk mendapatkannya.

Mimpikan Perpustakaan Brosur
* Kiat merawat
Bagi Satrio, merawat koleksi brosur mobil tidak gampang. Karena negeri kita beriklim tropis, dia kerap mengalami masalah koleksi yang berjamur. Untuk merawatnya, dia mengatur seluruh koleksi dalam rak dan membungkus dengan plastik serta diberi kapur barus dan silica gel. Untuk brosur yang tipis-tipis atau lembaran, dia simpan dalam document keeper sehingga terlindung dari kotor, terlipat, atau kumal. Agar lembaran tidak lengket dan berjamur, terkadang koleksinya itu dibongkar. Bila tetap berjamur, cukup diusap dengan kain halus dan air hangat.

* Pengalaman unik
”Setiap kali berburu brosur ke perusahaan mobil, seringkali dikira tertarik dan akan membeli produk yang mereka jual. Karena itu ada yang menelepon saya baik dari perusahaan mobil di Indonesia atau perusahaan mobil dari luar negeri.

* Sendiri
Sekian lama mengoleksi brosur mobil, Satrio baru sekali bertemu dengan orang yang punya hobi serupa. ”Kami berteman baik hingga sekarang,” ujar dia.

* Sepi peminat
Di mata Satrio, tak banyak orang yang mau melakukan hobi ini karena mungkin dari segi ekonomis belum bisa menjanjikan. Namun, di beberapa negara sudah terbentuk komunitas kolektor literatur mobil. Bahkan, di internet seperti situs e-Bay bisa dijumpai brosur mobil tua sampai yang terbaru dijual dengan harga yang bervariasi tergantung pada kelangkaan atau melihat kondisi masing-masing brosur tersebut apakah masih mulus atau agak lusuh.

* Obsesi
Satrio bermimpi memiliki perpustakaan pribadi brosur-brosur mobil. ”Suatu saat ini bisa menjadi rujukan orang-orang yang membutuhkan riwayat atau sejarah mobil itu sendiri ,” kata Satrio.

Sumber : www.republika.co.id

Ditulis dalam Hobi & Habit. 2 Komentar »

The Bourne Ultimatum : Shooting Keliling Dunia

Sutradara Paul Greengrass berkata,”Anda bisa memahami secara sempurna mengapa Jason Bourne menjadi Jason Bourne.” Inilah kata-kata Greengrass untuk film arahannya, The Bourne Ultimatum.

Cerita petualangan psikologis Bourne (Matt Damon), agen CIA yang didera amnesia, sekaligus mengakhiri trilogi kisah Jason Bourne yang terpaksa bergelut dengan rahasia jati dirinya selama tiga tahun dan mendorongnya menjadi mesin pembunuh.

Dalam penutup dari trilogi Jason Bourne, The Bourne Ultimatum (TBU) memberi kunci jawaban atas pertanyaan Bourne tadi. Dan, di tangan Greengrass, ketegangan pun teramu dalam satu film penuh aksi. ”Ini adalah film thriller yang sangat menegangkan. Film action yang hebat,” ujar Greengrass. ”Namun, film ini juga butuh plot yang konspiratif dan berliku serta dipersiapkan untuk setting di Eropa. Dengan begitu, butuh banyak kamera untuk menangkap adegan secara tepat.”

Maka, ketegangan itu hadir di berbagai kawasan di seantero dunia yang didukung oleh kru yang berpengalaman. Sekitar 250 orang berada di balik kamera produksi film ini. Tentu saja, para kru ini telah berpengalaman untuk membidik lokasi sulit. Entah di bandara Heathrow atau JFK, shooting di stasiun Gare du Nord atau Waterloo, membidik adegan berkendara di Madrid, atau sekadar menyusuri jalan-jalan New York.

Tentu saja, mereka harus berhadapan dengan lokasi sulit, perangkat, kru lokal serta bekerja sama dengan orang-orang yang berbicara dalam berbagai bahasa sehingga proses pengambilan gambar di tujuh negara dan tiga benua itu berjalan lancar. Sebagian besar pengambilan gambar dilakukan di kawasan kota Tangier, Maroko, yang berlokasi di pantai Afrika Utara di pintu masuk barat Selat Gibraltar. Cafe de Paris di Tangier yang menjadi lokasi adegan di mana Nicky menunggu untuk bertukaran telepon seluler dengan Desh merupakan tempat pertemuan para ekspatriat.

Namun, sang produser Frank Marshall justru terkagum-kagum dengan Madinah. Kota ini, di mata Marshall, terbilang unik dengan jalan-jalan sempit yang dipadati ribuan toko dan rumah. ”Ini benar-benar kawasan yang mengagumkan,” kata Marshall. ”Kota ini amat tua. Bagi kami, kota ini menghadirkan banyak warna. Inilah tempat yang amat bagus untuk melakukan pengejaran.”

Untuk melakukan shooting di tengah kepadatan kota itu, tim produksi harus bersiasat dengan berjuta cara. Greengrass pun berjibaku dengan kamera untuk menerobos ratusan para pejalan kaki seraya mengikuti gerak Bourne, Nicky, dan musuh mereka, Desh. Aksi Bourne yang bergerak cepat menyelusup di antara jalan sempit Madinah tetap tertangkap secara intens berkat penempatan secara strategis sejumlah kamera.

Sementara agar Matt Damon dan tim stunt dapat melompati puluhan atap dan meletakkan bahan peledak di tengah kepadatan Madinah, tim produksi harus menandatangani lebih dari 2.000 kontrak. Yang menarik pula, lantaran produksi diadakan ketika bulan Ramadhan, jam kerja para kru dan pemain menjadi lebih terbatas.

Berakhir di New York
Ketika berada di London, Inggris, pengambilan gambar diadakan di Pinewood Studios. Di tempat ini mereka membuat interior untuk lokasi di New York, Paris, Madrid, Tangier, dan Berlin. Dari Pinewood, mereka pun bergerak menuju jalanan London menyusuri kepadatan kawasan perkantoran, gedung-gedung, hotel, dan stasiun bawah tanah. Bahkan, stasiun ini beberapa kali muncul mulai dari kedatangan Bourne di Gare du Nord, Paris, hingga ketika dia tiba di Atocha, stasiun di Madrid, Spanyol.

Tiga tahun lalu, stasiun Atocha menjadi tempat peledakan bom yang menewaskan 200 orang. Namun, stasiun Waterloo di London menjadi fokus utama. Salah satu dari lima stasiun utama London ini dipadati oleh 380 ribu orang setiap hari. Butuh waktu selama lima bulan untuk bernegosiasi agar tim produksi diizinkan untuk mengambil gambar di sana. Namun, Marshall menanggapi kesulitan ini dengan ringan. ”Di mana saja kita akan membuat film apalagi di kawasan bisnis, kita harus terbiasa bekerja di tengah kerumunan dan orang lalu lalang,” ujar Marshall. ”Tentu saja, tak ada bedanya dengan Waterloo.”

Akhirnya, permintaan shooting itu pun dikabulkan dengan bantuan polisi Inggris, pasukan keamanan tim produksi dengan kekuatan 20 orang, dan ratusan kamera CCTV yang mengawasi gerakan para kru dan pemeran. Setelah itu kru pun bergerak menuju Paris. Greengrass, Matt, dan para kru beraksi di atas Eurostar lantaran mereka melakukan perjalanan dari London dengan melintasi terowongan panjang Chunnelothe sejauh 50 km yang menghubungkan London dan Paris.

Mereka bergerak dengan perangkat minimal. ”Kami mencoba untuk menggunakan seluruh fasilitas dan seluruh waktu dengan sangat efisien,” ujar Marshall. ”Kami sempat mengambil gambar di kereta api dan ketika kembali ke London, kami juga melakukan hal serupa.”

Di Paris, para kru menyiapkan adegan ketika Bourne tiba di Gare du Nord. Perjalanan Bourne pun lantas berlanjut ke Madrid hingga ujung film bermuara di New York, AS. ”Salah satu alasan kami datang ke New York adalah kami perlu membawa Jason Bourne pulang,” ujar produser Patrick Crowley. ”Saya kira, tidak ada kota yang amat menggambarkan Amerika selain New York.”

Tentu saja, shooting di tengah kepadatan kota metropolis Manhattan menghadirkan tantangan tersendiri. Tanpa perangkat besar seperti crane dan lampu, mereka dapat mengambil gambar tanpa perlu menarik banyak perhatian. Gaya intim sutradara Greengrass ini menghadirkan gambar-gambar para pemeran utama yang membaur di tengah kesibukan para pekerja New York. Hingga mereka pun tak sadar, di tengah mereka ada terselip sosok Jason Bourne alias Matt Damon.

Sumber : www.republika.co.id

Endo Suanda : Demi Seni Tradisi

Ada kegelisahan yang tumbuh dalam diri Endo Suanda. Kesenian daerah yang bertebaran di berbagai daerah di Indonesia terancam oleh budaya luar. Pengajaran kesenian di sekolah-sekolah dilihatnya cenderung berorientasi pada dasar nilai estetika Barat. Model pengajaran semacam itu tidak bersambungan dengan kesenian tradisi.

Lebih parah lagi, pada sebuah masa di negeri ini, kesenian daerah yang satu diadu dengan kesenian daerah lain. Padahal, menurut dia, pemahaman orang terhadap musik yang baik atau tari yang baik, tidak bisa diseragamkan. Musik dan tari dari satu daerah, misalnya, belum tentu baik di telinga orang lain. Di sinilah problemnya.

Didera kegelisahan mengenai hal ini, pria kelahiran Majalengka, 1947, ini akhirnya menyusun program pengajaran kesenian kepada guru-guru kesenian. Metodologi pengajaran yang ia kenalkan berbeda dengan kelaziman yang ada. Titik tekannya bukan bagaimana memberikan pengertian kesenian dan semacamnya kepada anak didik, tapi lebih pada apresiasi terhadap kesenian itu sendiri.

Melalui Lembaga Pendidikan Seni Nusantara (LPSN) yang ia ketuai, Endo menyusun kurikulum dan bahan ajar kesenian untuk sekolah-sekolah umum. Acuannya adalah pemahaman pluralitas kesenian dalam kehidupan masyarakat di berbagai wilayah budaya. Materi pengajaran dibuat dalam bentuk buku dan audio visual, sambil memperkenalkan alat musik yang digunakan dalam kesenian daerah. ”Melalui pendekatan culture specific, pengetahuan kemajemukan budaya bisa diperoleh,” ujarnya.

Kala itu, 2001, Endo mulai memperkenalkan metodologi yang dibuatnya ke Pusat Kurikulum, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Bagaimana tanggapan departemen itu? ”(Mereka) tidak setuju, karena sudah punya konsep KBK (kurikulum berbasis kompetensi),” ucapnya. Untungnya, menurut dia, meski tidak setuju, tapi Depdiknas juga tidak melarang.

Dua tahun berselang, 2003, Endo mencoba mengimplementasikannya ke sekolah-sekolah. Tanggapan sekolah pun beragam, seiring dengan diterapkannya otonomi daerah. Dia mengujicobakan metodologinya dalam bentuk pelatihan kepada guru-guru dari 30 sekolah, antara lain berasal dari Jakarta, Medan, dan Flores. Kata Endo, ”Waktu dilatih, banyak guru yang menolak karena terbiasa dengan text book.”

Tanggapan yang diperoleh dari pelatihan itu pun beragam. ”Ada (guru) yang mengaku merasa sulit, tapi menarik,” ucapnya. Toh, umumnya guru yang mengikuti pelatihan mengaku senang. Itu karena mereka merasa akan lebih mudah mengajarkan kesenian kepada anak didik dalam mengenalkan secara langsung bentuk-bentuk kesenian yang ada dengan mengacu pada realitas pertujukan kesenian.

Tidak seperti sebelumnya, anak didik diajari kesenian berdasarkan kurikulum dengan panduan buku yang ada. Dalam metode pengajaran ini, jelas Endo, anak didik diajak berdiskusi. ”Ternyata siswa senang karena diajak berpikir, bukan menghafal,” kata ayah dua anak yang pernah mengikuti program S-3 Etnomusikologi di University of Washington, ini menuturkan.

Tahun-tahun berikutnya, minat guru mengikuti pelatihan kian banyak. Pada 2005, misalnya, tidak kurang dari 850 sekolah di 12 provinsi menyertakan gurunya untuk mengikuti pelatihan. Meski belum memberikan pengakuan resmi, tapi menurut Endo, Depdiknas pun mulai mengulurkan tangan, membantu dana untuk pelatihan. Tapi, lantaran tak memiliki anggaran yang cukup, setahun berselang jumlah peserta diturunkan. ”Sekarang hanya 500 sekolah,” ujarnya.

Sejak Kecil
Endo Suanda mengenal dan belajar kesenian tradisional sejak kecil di desa kelahirannya, Cikasarung, Majalengka, Jawa Barat. Di usia 8 tahun, Endo kecil sudah bermain berbagai jenis kesenian tradisional, seperti gamelan, wayang, sandiwara, dan tari. Bergabung dalam grup wayang, ia kerap melakukan pementasan kesenian keliling, dari desa ke desa. ”Waktu SMP, saya sudah menabuh gendang (dalam pertunjukan wayang),” ujarnya.

Perjalanan waktu membawanya masuk ke Konsevatori Tari (Kori) –yang kemudian berubah menjadi Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung, dan terakhir menjadi Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung– dan ASTI Yogyakarta. Sempat menjadi pengajar di dua lembaga pendidikan itu, Endo pun tercatat sebagai pegawai negeri sipil. Tak betah, ia memilih berhenti. ”Saya ingin jadi seniman. Seniman itu harus mengembara,” ucapnya.

Saat itu, 1977, Endo memulai pengembaraannya. Ia berangkat ke Bali, menjadi seniman freelance di bidang musik, tari, dan teater. Dua tahun kerja bebas, dia memperoleh kesempatan mengikuti program master di Wesleyan University, Middletown, Connecticut, Amerika Serikat. Kembali dari sana, Endo menjadi konsultan dan dosen Jurusan Etnomusikologi, Universitas Sumatra Utara (USU), Medan, sampai akhirnya kembali melanjutkan pendidikannya di University of Washington.

Beruntung, pengembaraannya menyaksikan kesenian tradisional di banyak di daerah di Indonesia selalu ia dokumentasikan. Endo memiliki ratusan arsip audiovisual pertujukan kesenian tradisional yang ada di negeri ini. Arsip itulah yang memudahkan ia menyusun bahan ajar berupa buku dan paket audiovisual yang diterapkan pada sekolah peserta program LPSN. Sekarang sudah diterbitkan 10 buku bahan ajar dengan topik yang berbeda.

Endo menyatakan, ini untuk keseimbangan dari kesenian yang cenderung berorientasi pada nilai-nilai estetika Barat. Mantan ketua Masyarakat Seni Pertujukan Indonesia (MSPI) ini bilang, ”Kita tidak bisa melihat kesenian Batak, misalnya, dengan kaca mata Barat.”

Sumber : www.republika.co.id

Ditulis dalam Sosok. Leave a Comment »

Shalat `Masuk` Oke `Ganti`

Waktu sudah beranjak petang, tapi satu kewajibanku belum kutunaikan. Sudah hampir pukul lima sore, tapi sepanjang pencarianku di samping kiri kanan jalan yang kulalui tak ada masjid atau mushala. Padahal, takkan cukup waktu untuk shalat di rumah. Belum lagi jalan yang kulalui langganan macet.

Semua bermula karena tadi aku buru-buru untuk pulang, padahal adzan Ashar sudah berkumandang. Dan, apes, di tengah jalan ban motorku bocor terkena paku. Tukang tambal ban cukup jauh dari “TKP”. Jadilah aku bermandi peluh mendorong sepeda motorku yang genap akan berusia lima tahun.

Wah, ternyata ban dalamku robek, jadi tak bisa ditambal. Kurogoh lagi kocek lebih dalam, Rp 25 ribu. Selesai. Aku lanjutkan perjalanan, sambil menyesal dan memohon ampun. Mungkin ini teguran karena aku lalai. Akhirnya kudapati sebuah department store yang tampaknya akan bangkrut. Pastilah ada tempat shalat, batinku. Setelah berlari aku mencari mushala, aku dapati planknya, aku ikuti. Akhirnya ketemu juga, letaknya di lantai dasar dan sedikit pengap. Cukup banyak orang yang bernasib sama sepertiku.

Akhirnya aku shalat berjamaah. Di sampingku seorang pria gagah, Satpam, turut menjadi makmum. Tiga rakaat kami jalani dengan khusuk walaupun bau ruangan kurasa semakin pengap. Allahu akbar, ucap imam. Samiallahu liman hamidah. Aku menjawab, rabbana wa lakal hamd. Tapi tidak dengan pria gagah di sampingku. Walkie talkie-nya “berbicara”.
“Ya masuk,” ujarnya di tengah shalat.
Astagfirullah, aku tak sanggup menahan senyum. Di saat rakaat terakhir malah batal shalatnya. Cepatlah, pikirku kepada imam untuk segera mengakhiri shalat. Aku tak tahu apakah shalatku dapat diterima. Tapi, tingkah orang di sampingku benar-benar merusak semua kekhusukan shalatku.

Entah reflek atau apa, Satpam tadi menjawab panggilan di walkie talkie-nya, dan meninggalkan shalatnya yang tinggal serekaat. Usai shalat aku hanya tersenyum geli kepadanya yang masih menerima panggilan dari walkie talkie-nya. Dia masih sibuk “over ganti” dengan orang yang entah sedang ada di mana. Mungkin komandannya.

Makanya kalau mau shalat tinggalkan semua aktivitas dan jangan lupa matikan barang-barang yang bisa mengganggu kekhusukan shalat kita, daripada jadi malu sendiri.

Nur Izzi Muntaha
Jl Cipinang Kebembem IX No 56
Pisangan Timur, Pulogadung Jakarta Timur 13230

Sumber : www.republika.co.id