Sejak kecil, Noor Satrio Hendratno telah ‘dekat’ dengan dunia otomotif. Seperti anak-anak lainnya, Satrio kerap mendapat mainan berupa mobil-mobilan. Saat itu juga Satrio telah gemar mengumpulkan mainan berupa miniatur atau replika mobil yang dibuat dari metal. ”Ketika itu masih berharga sekitar Rp 1.000,” kata pria asal Sleman, Yogyakarta, itu.
Bahkan, kedekatan itu kian lekat lantaran orangtuanya sempat memiliki usaha berupa bengkel mobil serta showroom motor Binter dan Vespa di Banjarnegara, Jawa Tengah, ketika dia masih duduk di bangku SD sekitar 1980-an.
Ketika itu kendati showroom motornya menyediakan banyak brosur mobil, Satrio belum terpikir untuk mulai mengoleksi brosur itu. ”Saya justru suka menggunting gambar-gambar mobil di koran, majalah, dan saya kliping,” ujarnya.
Hingga pada suatu ketika, dia tertarik untuk mengirimkan kupon permintaan brosur di satu majalah ke dealer Suzuki ketika akan meluncurkan Suzuki Carry 1.000 dengan rem booster di tahun 1986.
Selanjutnya, berselang setahun kemudian, Satrio pun mendapat kiriman brosur Citroen BX16 TRS dari dealer-nya di Semarang. ”Saya baru benar-benar serius koleksi sejak tahun 1991. Brosur yang saya dapatkan saat itu adalah Land Rover dan Mercy dari ATPM-nya di Indonesia,” ungkapnya.
Tak hanya dari dalam negeri, brosur mobil dari luar negeri pun didapatnya. Untuk kali pertama, Satrio memperoleh brosur Mercedes-Benz Jerman karena mereka merespon s dan membalas surat permintaannya. ”Mereka mengirim beberapa eksemplar brosur produknya terutama brosur Mercy 300 SEL yang digunakan sebagai mobil resmi KTT GNB 1992 ,” ujar pria berusia 32 tahun ini.
Secara perlahan, segala macam brosur, katalog, booklet, leaflet dari berbagai jenis mobil sedan, limosin, SUV, MPV, bus, truk, ambulans, mobil antipeluru , mobil balap dari berbagai merek telah menjadi koleksinya. Brosur mobil yang telah dia kumpulkan dan koleksi sampai saat ini berasal dari berbagai merek. Mulai dari mobil Eropa, Asia, Amerika; dari merek Mercedes-Benz, Lamborghini, Ferrari, Bentley, Porsche, Rolls Royce, Toyota, Daihatsu, Suzuki, Proton, Dacia, Mahindra, Tata, Auverland, dan lainnya. Belum termasuk brosur truk dan bus dari Mercy, Volvo, Scania, Setra, Evobus, Mitsubishi, Hino, Tata, JRD, serta Nissan-Diesel. Dari merek yang sudah dipasarkan di Indonesia hingga yang sama sekali belum masuk ke Indonesia.
”Saya berburu brosur tidak hanya dengan meminta ke ATPM, dealer, di pameran mobil atau berkirim surat atau lewat e-mail ke perusahaan mobil. Namun, saya juga berburu ke pasar buku bekas atau loakan,” kata dia.
Satrio, misalnya, pernah mendapatkan brosur Toyota Crown, Corona, dan Corolla tahun 1980-an di Pasar Johar, Semarang. Sedangkan di kota kecil Jombang, dia sempat mendapatkan brosur Mercy Tiger atau E-Class tahun 1970-1980-an.
Kemudian di pasar buku bekas Jalan Semarang, Surabaya, pria yang berwiraswasta ini sempat juga memperoleh brosur Mercy S-Class dan SEC tahun 1995. Bagi dia, ada daya tarik tersendiri dengan mengumpulkan brosur-brosur itu. ”Selain hobi, saya mengumpulkan brosur juga untuk mengisi waktu luang. Saya juga berharap dapat menambah wawasan perkembangan dunia otomotif yang selalu dinamis,” katanya.
Hingga saat ini, Satrio sendiri mengaku tidak pernah menghitung berapa banyak brosur yang telah dikoleksinya. Ini karena brosurnya sendiri dalam bentuk lembaran besar dan kecil, leaflet, booklet, bentuk buku yang bersampul tebal atau tipis dari beberapa negara. ”Yang pasti sejak tahun 1990-an sampai sekarang mungkin sekitar ratusan brosur,” ujarnya.
Terlebih selain brosur, dia juga mengumpulkan beberapa poster, kartu pos, serta cendera mata ATPM seperti kaos, topi, mug, stiker, pin, korek api, gantungan kunci, tas, dompet, atau dasi.
Untuk menunjang hobi tersebut, Satrio mengoleksi pula replika atau miniatur mobilnya. ”Namun, kebanyakan saya koleksi jenis mobil SUV dan yang paling saya favoritkan adalah replika Isuzu D-Max Rodeo LS yang saya beli dari Astra Isuzu ,” ungkapnya.
Uniknya, dengan ratusan brosur mobil miliknya, Satrio masih memendam keinginan lain. Inilah pengakuannya: ”Kendati koleksi brosur mobil saya sudah lumayan banyak, namun kebalikan dari hobi itu adalah sampai saat ini saya belum memiliki mobil yang sebenarnya. He, he.”
Hobi Murah Meriah
Untuk menekuni hobinya ini, Satrio tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Ini lantaran harga masing-masing brosur itu tidak mahal hanya berkisar Rp 5.000 hingga Rp 10 ribu saja. ”Yang terpenting bagi saya adalah nilai kelangkaan brosur itu dan mobilnya sendiri sudah tidak diproduksi lagi,” kata dia.
Bila mendapat tawaran brosur berharga mahal, Satrio tak bakal ragu menolaknya. Seperti ketika dia mendapat undangan untuk menghadiri bursa otomotif di Parkir Timur, Senayan, Jakarta, pada 2004 lalu. Saat itu ada sebuah gerai barang bekas yang berani menjual brosur Mercy Tiger seharga Rp 100 ribu per eksemplar.
Lantaran melihat ada beberapa brosur yang belum dimilikinya, Satrio mengaku tertarik untuk memborong. Namun, begitu melihat harganya, dia langsung mundur teratur. ”Saya urungkan setelah melihat harganya yang tidak sesuai dengan kantong saya. Biarpun hobi, tapi saya masih pakai perhitungan dan tidak terburu nafsu untuk mendapatkannya.
Mimpikan Perpustakaan Brosur
* Kiat merawat
Bagi Satrio, merawat koleksi brosur mobil tidak gampang. Karena negeri kita beriklim tropis, dia kerap mengalami masalah koleksi yang berjamur. Untuk merawatnya, dia mengatur seluruh koleksi dalam rak dan membungkus dengan plastik serta diberi kapur barus dan silica gel. Untuk brosur yang tipis-tipis atau lembaran, dia simpan dalam document keeper sehingga terlindung dari kotor, terlipat, atau kumal. Agar lembaran tidak lengket dan berjamur, terkadang koleksinya itu dibongkar. Bila tetap berjamur, cukup diusap dengan kain halus dan air hangat.
* Pengalaman unik
”Setiap kali berburu brosur ke perusahaan mobil, seringkali dikira tertarik dan akan membeli produk yang mereka jual. Karena itu ada yang menelepon saya baik dari perusahaan mobil di Indonesia atau perusahaan mobil dari luar negeri.
* Sendiri
Sekian lama mengoleksi brosur mobil, Satrio baru sekali bertemu dengan orang yang punya hobi serupa. ”Kami berteman baik hingga sekarang,” ujar dia.
* Sepi peminat
Di mata Satrio, tak banyak orang yang mau melakukan hobi ini karena mungkin dari segi ekonomis belum bisa menjanjikan. Namun, di beberapa negara sudah terbentuk komunitas kolektor literatur mobil. Bahkan, di internet seperti situs e-Bay bisa dijumpai brosur mobil tua sampai yang terbaru dijual dengan harga yang bervariasi tergantung pada kelangkaan atau melihat kondisi masing-masing brosur tersebut apakah masih mulus atau agak lusuh.
* Obsesi
Satrio bermimpi memiliki perpustakaan pribadi brosur-brosur mobil. ”Suatu saat ini bisa menjadi rujukan orang-orang yang membutuhkan riwayat atau sejarah mobil itu sendiri ,” kata Satrio.
Sumber : www.republika.co.id