Monty Tiwa : Tenang Sebagai Penulis Skenario

Keputusan berkarier di dunia kepenulisan menyentakkan keluarga dan kerabatnya. Ijazah sarjana elektronik dari Cansas University, Amerika Serikat, ia tepikan. Jabatan creative director sebuah televisi swasta di usia 27 tahun ia tinggalkan. Ia lebih memilih jalan ketenangan, mengorbankan kesenangan dengan penghasilan yang lebih dari cukup.

Perjalanan waktu yang relatif pendek membuktikan pilihannya tidak keliru: Penulis skenario. Karya-karyanya mengalir bak air bah, menyerbu jagat perfilman Indonesia, dibicarakan kritikus film. Sebutlah misalnya, 9 Naga, Mendadak Dangdut, Denias, Mengejar Mas Mas, Andai Ia Tahu, Vina Bilang Cinta, Biarkan Bintang Menari, Juli di Bulan Juni, Ujang Pantry 1 dan 2, Pocong 1 dan Pocong 2, Dunia Mereka. Denias, Senandung di Atas Awan mencatatkan nama Monty Tiwa peraih Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) 2006 kategori skenario cerita asli terbaik.

Internet
Semuanya bermula dari kegemarannya menulis cerita pendek sejak kecil. Kegemaran itu terasah oleh sentuhan Eric Tiwa, kakaknya yang juga punya kegemaran sama. Tapi, itu tidak diketahui banyak orang, karena ia tak pernah mengirim tulisan-tulisannya ke media massa. `’Nggak pede (percaya diri),” ucapnya.

Zaman berubah, era internet hadir. Ia membuat website. Monty menemukan wadah penyaluran tulisan-tulisannya. Tak ia nyana, sebuah surat elektronik masuk di kotak e-mail-nya. Indra Yudhistira dari Transinema meminta Monty membuat skenario pendek. Lahirlah Andai Ia Tahu. Skenario cerita 10 halaman itu diproduksi Transinema. ”Mungkin karena suka, saya dipanggil bekerja di TransTV,” tuturnya.

Saat itu, 2002, Monty sebagai creative writer di TransTV. Setahun berselang, ia meloncat ki RCTI. Di sini kemampuannya makin terasah, kegemarannya tersalurkan. Banyak cerita TV yang ia buat. Juli di Bulan Juni, salah satu di antaranya, meraih Piala Vidia FFI 2005 sebagai skenario terbaik film cerita lepas.

Jabatan head section creative, menuntut ia tak hanya menulis skenario. Monty juga menangani acara-acara musik. Theme song Indonesian Idol adalah karya bujangan berdarah Sanger, Sulawesi Utara ini. ”Karena saya suka musik, jadi nyambung,” kata Monty yang mengaku pernah membuat grup band ketika bersekolah di SMAN 6 Jakarta.Karier bungsu dari empat bersaudara kelahiran Jakarta, 28 Agustus 1976, ini bersinar. Setahun di RCTI, dia dipercayakan menjadi creative director MMC yang membawahi tiga stasiun TV: RCTI, TPI, Global TV. Jabatan ini pun hanya setahun dia emban. Dia memutuskan berhenti, mengikuti panggilan nuraninya. ”Saya pilih ketenangan hidup daripada kepastian hidup,” ucapnya.Dikontak Rudi Sudjarwo
Rupanya, kreativitas Monty diam-diam diamati oleh Rudi Soedjarwo. Sutradara film itu kerap menghubunginya di tengah kesibukan Monty bekerja di stasiun televisi. ”Kita suka kontak-kontakan. Dia bilang, kayak-nya visi kita sama. Tapi, susah mengatur waktunya untuk bertemu,” kata Monty menuturkan.
Pertemuan terjadi setelah hampir setahun hanya sebatas pembicaraan lewat telepon. Lahirlah ide membuat film 9 Naga. Monty senang. Sembari mencari investor, batin Monty bergejolak. Dia dihadapkan pada pilihan. Terus menjadi creative director yang terikat di sebuah perusahaan atau bebas berkreasi tanpa jaminan kepastian hidup.Monty memilih keluar. Dia bilang, ”Daripada susah tidur, mendingan coba.” Pilihan itu membuat keluarganya kecewa. Apalagi, seperti diakuinya, sejak awal keluarga menginginkan ia hidup mapan dari penghasilan sebagai insinyur lulusan luar negeri. Monty hanya bisa diam, seakan kehilangan argumentasi yang rasional atas putusan itu. ”Kalau sudah hati yang ngomong, udah susah,” ucapnya.

Awal-awal menjalani panggilan hati, ia mengaku sempat kerepotan. Tabungan terkuras. Penghasilan dari membuat lagu yang banyak ia jalani masa-masa itu, tidak seberapa. Ya, ”Kadang makan kadang nggak,” kata dia.

Sukses film 9 Naga disusul film Mendadak Dangdut memperkecil rasa kecewa keluarganya. Perlahan-lahan pembuktian atas pilihannya hadir. Dalam hati ia berkata, ”Udah benar jalan yang kupilih.”

Tapi, kata dia, kekhawatiran keluarga atas kepastian masa depan Monty belum juga lekang. Ada keluarganya yang mengkhawatirkan dirinya saat tidak ada proyek film. Penata Sunting Terbaik Piala Vidia FFI 2006 untuk Ujang Pantry 2 tak mampu menjawab keraguan itu dengan bahasa yang jelas. Dia hanya bisa menanggapinya dengan terus berkarya.

Sebagai penulis skenario, ia pun mencoba menularkan kepiawaiannya. Bersama Rudi Soedjarwo pula, ia mengelola sekolah Reload Center Film.

Dia juga menciptakan lagu-lagu, antara lain untuk soundtrack Biarkan Bintang Menari (bersama Andi Rianto), soundtrack Mendadak Dangdut (Jablay, dan sebagainya) dan melahirkan dua novel.

Menulis skenario film, menyusun novel, pencipta lagu serta membuat aransemen musik menjadi pengisi hari-harinya kini. ”Ini pilihan yang membuat saya semakin tenang,” tuturnya.

Sumber : www.republika.co.id

Ditulis dalam Sosok. 4 Komentar »

4 Tanggapan ke “Monty Tiwa : Tenang Sebagai Penulis Skenario”

  1. trueheart Says:

    apa saya akan diberi kesempatan untuk bertemu anda? pilihan hidup saya seperti anda (monty tiwa), tapi pilihan itu seperti transeden karena dunia itu tidak nyata buat saya. bantu saya masuk ke dalam ruang dan waktu itu karena saya punya formulanya. terimakasih

  2. dhika Says:

    saya ingin bisa seperti anda. tapi kebetulan saya punya krisis kepercyaan diri dengan tulisan saya sendiri. saya punya beberapa skenario film. bagaimana cara mempublikasikannya. apa saya bisa? tolong bantu saya untuk merealisasikan mimpi dan cita2 saya. terimakasih atas perhatiannya

  3. sapta poetri Says:

    saya sapta, mahasiswa desain komunikasi visual.
    saya sangat ingin salah satu skenario/cerita dari mas monty untuk saya jadikan graphic novel.bukan komersil, untuk studi.

  4. youly an Nidris Says:

    saya mau seperti anda,,
    dan saya sangat pengen menuli sebuah skenario horor,, dimana saya sendiri yang menjadi tokoh utamanya,,, bagaimana aya bisa menyalurkan itu semua,,,


Tinggalkan Balasan