Ada kegelisahan yang tumbuh dalam diri Endo Suanda. Kesenian daerah yang bertebaran di berbagai daerah di Indonesia terancam oleh budaya luar. Pengajaran kesenian di sekolah-sekolah dilihatnya cenderung berorientasi pada dasar nilai estetika Barat. Model pengajaran semacam itu tidak bersambungan dengan kesenian tradisi.
Lebih parah lagi, pada sebuah masa di negeri ini, kesenian daerah yang satu diadu dengan kesenian daerah lain. Padahal, menurut dia, pemahaman orang terhadap musik yang baik atau tari yang baik, tidak bisa diseragamkan. Musik dan tari dari satu daerah, misalnya, belum tentu baik di telinga orang lain. Di sinilah problemnya.
Didera kegelisahan mengenai hal ini, pria kelahiran Majalengka, 1947, ini akhirnya menyusun program pengajaran kesenian kepada guru-guru kesenian. Metodologi pengajaran yang ia kenalkan berbeda dengan kelaziman yang ada. Titik tekannya bukan bagaimana memberikan pengertian kesenian dan semacamnya kepada anak didik, tapi lebih pada apresiasi terhadap kesenian itu sendiri.
Melalui Lembaga Pendidikan Seni Nusantara (LPSN) yang ia ketuai, Endo menyusun kurikulum dan bahan ajar kesenian untuk sekolah-sekolah umum. Acuannya adalah pemahaman pluralitas kesenian dalam kehidupan masyarakat di berbagai wilayah budaya. Materi pengajaran dibuat dalam bentuk buku dan audio visual, sambil memperkenalkan alat musik yang digunakan dalam kesenian daerah. ”Melalui pendekatan culture specific, pengetahuan kemajemukan budaya bisa diperoleh,” ujarnya.
Kala itu, 2001, Endo mulai memperkenalkan metodologi yang dibuatnya ke Pusat Kurikulum, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Bagaimana tanggapan departemen itu? ”(Mereka) tidak setuju, karena sudah punya konsep KBK (kurikulum berbasis kompetensi),” ucapnya. Untungnya, menurut dia, meski tidak setuju, tapi Depdiknas juga tidak melarang.
Dua tahun berselang, 2003, Endo mencoba mengimplementasikannya ke sekolah-sekolah. Tanggapan sekolah pun beragam, seiring dengan diterapkannya otonomi daerah. Dia mengujicobakan metodologinya dalam bentuk pelatihan kepada guru-guru dari 30 sekolah, antara lain berasal dari Jakarta, Medan, dan Flores. Kata Endo, ”Waktu dilatih, banyak guru yang menolak karena terbiasa dengan text book.”
Tanggapan yang diperoleh dari pelatihan itu pun beragam. ”Ada (guru) yang mengaku merasa sulit, tapi menarik,” ucapnya. Toh, umumnya guru yang mengikuti pelatihan mengaku senang. Itu karena mereka merasa akan lebih mudah mengajarkan kesenian kepada anak didik dalam mengenalkan secara langsung bentuk-bentuk kesenian yang ada dengan mengacu pada realitas pertujukan kesenian.
Tidak seperti sebelumnya, anak didik diajari kesenian berdasarkan kurikulum dengan panduan buku yang ada. Dalam metode pengajaran ini, jelas Endo, anak didik diajak berdiskusi. ”Ternyata siswa senang karena diajak berpikir, bukan menghafal,” kata ayah dua anak yang pernah mengikuti program S-3 Etnomusikologi di University of Washington, ini menuturkan.
Tahun-tahun berikutnya, minat guru mengikuti pelatihan kian banyak. Pada 2005, misalnya, tidak kurang dari 850 sekolah di 12 provinsi menyertakan gurunya untuk mengikuti pelatihan. Meski belum memberikan pengakuan resmi, tapi menurut Endo, Depdiknas pun mulai mengulurkan tangan, membantu dana untuk pelatihan. Tapi, lantaran tak memiliki anggaran yang cukup, setahun berselang jumlah peserta diturunkan. ”Sekarang hanya 500 sekolah,” ujarnya.
Sejak Kecil
Endo Suanda mengenal dan belajar kesenian tradisional sejak kecil di desa kelahirannya, Cikasarung, Majalengka, Jawa Barat. Di usia 8 tahun, Endo kecil sudah bermain berbagai jenis kesenian tradisional, seperti gamelan, wayang, sandiwara, dan tari. Bergabung dalam grup wayang, ia kerap melakukan pementasan kesenian keliling, dari desa ke desa. ”Waktu SMP, saya sudah menabuh gendang (dalam pertunjukan wayang),” ujarnya.
Perjalanan waktu membawanya masuk ke Konsevatori Tari (Kori) –yang kemudian berubah menjadi Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung, dan terakhir menjadi Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung– dan ASTI Yogyakarta. Sempat menjadi pengajar di dua lembaga pendidikan itu, Endo pun tercatat sebagai pegawai negeri sipil. Tak betah, ia memilih berhenti. ”Saya ingin jadi seniman. Seniman itu harus mengembara,” ucapnya.
Saat itu, 1977, Endo memulai pengembaraannya. Ia berangkat ke Bali, menjadi seniman freelance di bidang musik, tari, dan teater. Dua tahun kerja bebas, dia memperoleh kesempatan mengikuti program master di Wesleyan University, Middletown, Connecticut, Amerika Serikat. Kembali dari sana, Endo menjadi konsultan dan dosen Jurusan Etnomusikologi, Universitas Sumatra Utara (USU), Medan, sampai akhirnya kembali melanjutkan pendidikannya di University of Washington.
Beruntung, pengembaraannya menyaksikan kesenian tradisional di banyak di daerah di Indonesia selalu ia dokumentasikan. Endo memiliki ratusan arsip audiovisual pertujukan kesenian tradisional yang ada di negeri ini. Arsip itulah yang memudahkan ia menyusun bahan ajar berupa buku dan paket audiovisual yang diterapkan pada sekolah peserta program LPSN. Sekarang sudah diterbitkan 10 buku bahan ajar dengan topik yang berbeda.
Endo menyatakan, ini untuk keseimbangan dari kesenian yang cenderung berorientasi pada nilai-nilai estetika Barat. Mantan ketua Masyarakat Seni Pertujukan Indonesia (MSPI) ini bilang, ”Kita tidak bisa melihat kesenian Batak, misalnya, dengan kaca mata Barat.”
Sumber : www.republika.co.id