Seorang anak bertanya pada ayahnya. ”Mengapa Ayah tidak naik pesawat terbang saja ke Makkah? Ini akan lebih mudah.” Sang ayah terdiam sejenak. ”Air laut baru akan kehilangan rasa pahitnya setelah ia menguap ke langit,” jawabnya.
”Apa?”
”Ya, begitulah air laut menemui kemurniannya. Ia harus mengangkasa melewati awan. Inilah mengapa lebih baik naik haji berjalan kaki ketimbang naik kuda. Lebih baik naik kuda ketimbang naik mobil. Lebih baik naik mobil ketimbang naik perahu. Lebih baik naik perahu ketimbang naik pesawat terbang…”
Percakapan ini terbetik pada sebuah trotoar di Bulgaria ketika keduanya terpaksa berlindung dari empasan badai salju. Mobil mereka mogok. Usai melintas sepertiga benua Eropa di atas roda empat, tanya Reda (Nicolas Cazale) pun akhirnya pecah. ”Mengapa tak naik pesawat terbang saja ke Makkah?”
Sebuah pertanyaan masuk akal. Alih-alih terusik oleh tajamnya pertanyaan Reda, sang ayah justru menjawabnya puitis. Sebuah jawaban yang tentu saja tak mudah dicerna oleh rasio awam yang matematis. Jawaban yang agaknya lebih bisa dicerna oleh hati yang khusuk.
Tafsirnya adalah semakin sulit perjalanan menuju Makkah, menurut sang ayah, maka semakin kita memurnikan jiwa kita –seperti halnya perjalanan air laut yang mengangkasa. Hanya dengan cara itulah, ia menemukan kemurniannya kembali. Inilah pesan metaforis Le Grand Voyage (2004), tetapi bukan satu-satunya pesan bernuansa spiritual yang disodorkan peraih Film Terbaik Venice Film Festival ini.
Sang ayah, diperankan secara apik oleh aktor kawakan Mohamed Majd, adalah imigran Maroko. Telah menetap 30 tahun di Prancis, laki-laki berwajah Afrika utara itu masih memegang kukuh budaya Arab dan Islam. Sementara Reda adalah generasi kedua imigran yang sudah kebarat-baratan, ia bahkan tak pernah shalat dan memacari seorang gadis Prancis nonmuslim. Namun, dalam bingkai budaya Arab yang kental, sang ayah tetaplah figur dominan.
Maka, titah sang ayah bagai sambaran geledek di siang bolong. Kala itu Reda akan menggondol gelar sarjana dan tengah di mabuk cinta. Tetapi, ia diminta menyupiri ayahnya naik haji ke Makkah, menyusuri rute sejauh lima ribu kilometer dari Prancis selatan di atas mobil minivan Peugeot yang bobrok. Jadilah Le Grand Voyage, sebuah film perjalanan (road-movie) dan, seperti kebanyakan road movie, ia bergerak linear.
Melintaslah mereka ke Italia, Slovenia, Kroasia, Serbia, dan Bulgaria. Menyeberang ke Turki, Suriah, Yordania, hingga Arab Saudi. Pertikaian kecil meletup sepanjang jalan. Dan, tahulah kita, betapa asingnya dunia ayah dan anak ini. Kita pun diperlihatkan, betapa uniknya peristiwa-peristiwa yang terjadi akibat perbedaan isi kepala dan kegagalan berkomunikasi.
Suatu waktu, sang ayah sekonyong-konyong menarik rem tangan hingga kendaraan yang mereka tumpangi nyaris terguling. Ini semata-mata lantaran Reda menolak meminggirkan mobilnya di jalan tol. Di Suriah, pertengkaran memuncak. Reda pergi meninggalkan ayahnya sendirian di gurun pasir setelah sang ayah memberikan duitnya pada seorang janda tua. Padahal duit mereka nyaris ludes usai ditipu orang Turki bernama Mustafa (Jacky Nercessian).
Uniknya mereka terus bersatu. Lewat film ini kita disodori sebuah hubungan kasih sayang ayah-anak yang ganjil namun terasa alami. Bagai ada tangan tak terlihat yang terus merekatkan keduanya. Ada pula paradok-paradok yang membikin film ini sebuah teka-teki. Yang kentara adalah sang ayah digambarkan sebagai sosok kepala batu dan Muslim yang taat. Namun, tak disangka, ia adalah seorang moderat yang sungkan memaksa Reda ikut shalat bersamanya.
Dan penonton pun bertanya-tanya. Seperti apa kira-kira akhir perjalanan dua manusia dengan kesenjangan budaya dan isi kepala itu? Sutradara Ismael Ferroukhi menyuguhkan sebuah sintesis yang memikat. Seperti air laut yang menguap, sang ayah menemui kemurniannya kembali di Baitullah. Ia wafat di situ.
Maka, pada titik ini, Feeroukhi berhasil mengiris-iris hati penonton. Reda diperlihatkan menangis sejadi-jadinya di depan jasad sang ayah yang terbujur kaku. Betapa menyakitkan. Bukankah Reda baru saja mengenal dan menemukan ayahnya lewat perjalanan jauh ini, tapi sekaligus mesti kehilangannya dalam satu pukulan?
Le Grand Voyage adalah film yang membuat penontonnya pulang dengan hati ‘berdarah-darah’. Sebagai film yang sukses mengaduk emosi dan menggelitik saraf spiritual, Le Grand Voyage terhitung unik. Film ini amat sederhana, jika tidak miskin penggarapan teknis. Penonton kerap dihadapkan pada banyak ruang kosong. Dialog ayah dan anak ini amat irit. Namun, bukankah kejeniusan kerap kali tampak pada kesederhanaan?
Pemain: Nicolas Cazale, Mohamed Majd
Sutradara: Ismael Ferroukhi
Produksi: Ognon Pictures
Sumber : www.republika.co.id
Oktober 18, 2007 pukul 7:05 am
Sepertinya Film ini bagus untuk ditonton.
tapi dimana ya bisa mendapatkan DVDnya ya?
Agustus 25, 2009 pukul 8:47 am
Ada yg tw ga kl kt mw bli DVD Le Grand Voyage dmn ya?terima kasih.
November 19, 2007 pukul 4:21 am
iya, dimana bisa dapetin DVDnya….
November 26, 2007 pukul 9:59 am
gw minggu lalu beli di BLITZ MEGAPLEX
harganya 55rb
cukup murah utk sebuah dvd original
Juni 5, 2009 pukul 8:09 pm
itu blitz mana ya ???
klo d Blitz PVJ da gak ya ??
Januari 5, 2008 pukul 5:44 pm
sama, setelah ‘berdarah darah ‘ pula mencarinya kemana mana, dengan sangat berbinar kemaren me’nemu’kannya di blitz , …
ayo buruan semua beli.,..
Januari 22, 2008 pukul 4:59 am
waw suatu karya film yang begitu mengagumkan
Februari 25, 2008 pukul 2:09 pm
filmnya “brengsek”, penggambaran hubungan kasih sayang anak dan bapak yang alami,
keren sekali!
Maret 4, 2008 pukul 2:44 pm
yang ngaku orang islam kudu nonton film ini!!!
April 3, 2008 pukul 7:47 am
iya, kemarin aku gue baru nonton karena ikut kuiah seni apresiasi film. Bagus banget dan sangat cerdas karena konsepnya jelas….Ada film lain ga? yang menyentuh kayak gini
April 9, 2008 pukul 6:36 am
jadi penasaran bgt pengen nonton nie
April 9, 2008 pukul 7:38 am
pertamanya gw nonton film ini kepaksa, coz disetelin sama dosen apresiasi film gw. ga taunya fimnya dalem banget. highly recommended!
Mei 21, 2008 pukul 2:12 pm
Beli DVDnya dimana nich? Ebay ngak ada.
Juli 22, 2008 pukul 1:57 pm
[...] Berikut sekilas tentang film “le Grand Voyage” (diambill dari salah satu blog
[...]
Juli 31, 2008 pukul 5:49 am
saya baru sajah tadi malam menontonnya, dan sumpah keren banget filmnya. sayah jadi kangen sama ayah saya, hukz
Oktober 18, 2008 pukul 6:48 pm
Pak mau tanya beli DVDnya dimana?bolehkah jika saya dibantu untuk mendapatkan film tersebut?
trimakasih
Oktober 27, 2008 pukul 9:45 pm
berkali kali saya nonton film ini , dan nggak pernah bosan . meskipun secara teknik banyak ruang ruang kosong di film ini yg tergambar lewat visual . tapi kekuatan le grand voyage memang terletak pada cerita , alur , konsep , akting dan sinematografi yang sungguh indah dan cerdas . yg sering bermasalah dengan ayah , atau yg ayahnya mau pergi haji WAJIB nonton film ini .film film lain yg layak tonton banyak misalnya : THE KITE RUNNER , CHILDREN OF HEAVEN , TURTLE CAN FLY , BARAN diantaranya.
November 16, 2008 pukul 12:51 am
saya rekomendasikan untuk menonton film ini, saya banyak nonton film, tapi belum ada yang sebagus film ini!
November 18, 2008 pukul 1:20 pm
hiks..hiks..
sumpah!!keren abis!!
gak sengaja waktu itu beli di disc tara..
sempet ragu juga..
eh pas ditonton,,
gila gila gilaaa…it just suits me!!
waktu itu sempet dipake buat acara nonton bareng di kampus,,
habis itu banyak yang ngantri buat pinjem!!
kereeeen
Desember 11, 2008 pukul 1:58 pm
sumpah film ini ceritana sgt mengesankan
saya harap lebih bnyki film2 ky gini di puter di bioskop2
Januari 12, 2009 pukul 12:04 pm
saya terharu…. hiks.. hiks….
Januari 16, 2009 pukul 4:48 pm
Film nya bagus bgt walau sangat sedih endingnya,tapi sosok 2 orang ayah anak ini merupakan cerminan hubungan antara ayah dan anak di zaman sekarang dimana si ayah dengan idealis pengalaman ( kolot gitu lah), dan si anak yg besar di zaman serba maju,dengan pergaulan dan pengalaman yg berbeda pula. TOP sangat bagus filmnya patut di tonton buat anak jaman sekarang, dengan istilah ” gokil ” nya……
Januari 28, 2009 pukul 3:16 pm
baru aja selese nonton…
Keren abis…
dan beginilah seharusnya manusia memaknai Tuhan lewat ibadah haji…
Haji bukan sekadar pelesiran… tapi upaya mendekatkan diri pada Tuhan…
Februari 22, 2009 pukul 3:53 pm
sip,, filmnya memang keren,, subhanalloh..
mantabzz
Juni 5, 2009 pukul 7:51 pm
sumpah, walaupun nonton endingnya doank . . gara2 diputerin sama RCTI barusan , gw bisa langsung vonis film ini bagus ‘ . dan gara2 gw ke kamar mandi . eh, gw jadi kaga tau judulnya apa. Tapi, berhubung sangad penasaran, langsung gw searching ja d web RCTI . untung dapet . hehehe . .
gw mau nonton uLang . .
Juni 5, 2009 pukul 8:00 pm
saama donnkk..bru nonton….mengharukan sekali…sayang bet ditinggal nyuci..
Juni 5, 2009 pukul 7:58 pm
…gw nangis sejadi-jadinya…teringat ayah…
ayah q itu kyak ayahnya Reda,,moderat jua,,dan dia selalu ingin nunjukkin sayangnya dia dengan cara ortodoks…waktu SD, saia pernah diajarin matematika ampe keluar kata2 kasar, di Goblok2in..tapi Lama saia nyadar..bokap ga mau saia terlihat Bodoh di depan temen2 yg jelas2 selalu cemooh tman yg tak bisa..
mengutip novel fenomenal..
ayah Q..ayah juara 1 seluruh dunia
_andrea hinata_
Juni 9, 2009 pukul 8:33 am
Film yang bagus….
tapi ada yang aku gak mengerti mengenai bagian si Mustapa di Turki, kok setelah di tuduh duit nya hilang di ambil mustapa, kenapa kemudian duit nya di temukan di mobil oleh si Reda, dan di bilang ke bapak nya bahwa duitnya itu di balikin oleh kedubes perancis….
maksud nya apa ya ?
Juni 9, 2009 pukul 8:38 am
film ini memakai bhs Indonesia atau Prancis?
apakah d jual d toko yg mudah d temukan?
gw jg sering selisih paham ayah gw…hiks..hiks..
pembelajaran buat gw!
Juni 9, 2009 pukul 8:44 am
Waduh… Terlalu dalam bro nih dikupasnya…
ini sih bukan review, tapi ngedongeng film nya… wah wah, masa ending nya jg di kasih tau.. jadi gak kepengen nonton ‘lagi’…
Juli 11, 2009 pukul 4:47 pm
dimana saya bisa mendapatkan film ini saat ini baik berupa vcd atau dvd. terima kasih.
Juli 11, 2009 pukul 5:17 pm
keren.gw baru 2x nonton. thanks to rcti en metro tv yg udah nayangin.
penuh hikmah.banyak yg bs dijadiin pelajaran.
Juli 11, 2009 pukul 6:26 pm
Baru nonton kmaren (11/07) d metrotv. Iya bener !! Mengharukan paz bagian akhir. Thankz for sharing—– keep blogging. . salam blogwalking ^__^
Juli 12, 2009 pukul 11:18 am
Bikin jadi nyadar,lebih baik pergi haji sebelum terlambat,dan orang ramah tak seperti kelihatannya di luar.Sesalah-salahnya ayah,dialah yang benar,pangalaman hidup lebih banyak daripada anak2nya,gak boleh bantah.Juga ngingetin kita untuk sholat karena sholat menjauhkan kita dari perbuatan keji dan munkar,gak itu aja tapi juga menjauhkan kita dari orang2 keji dan munkar kayak mustafa.Setan emang selalu berwujud friendly tapi aslinya menjerumuskan.Astaghfirullah.
Juli 12, 2009 pukul 5:41 pm
Keren, baru aja liat kemaren di metro tv
Yang paling aku suka, pas sang bapak njelasin kenapa dia perlu pergi ke Mekkah. Jadi pengen naik haji juga sebelum telat.
Indonesia kayaknya butuh lebih banyak lagi film religi.
Juli 13, 2009 pukul 8:58 am
Subhanallah…
gara2 Film ini gue ngebet pengen naik haji…
baru kali ini gue mengerti kenapa kita harus berhaji.
kemaren abis sholat gue ampe nangis… he..he…
Yang paling gue inget adalah dialog di tengah perjalanan, si anak nanya:
“Ayah, kenapa engkau memaksakan diri untuk berhaji?”
“setelah sejauh ini, engkau baru menanyakannya…”
Lalu beliau duduk di samping Reda.
“Haji adalah wasiat nabi ibrahim, haji adalah salah satu rukun islam yang wajib dilakukan seorang muslim”.
Beliau melanjutkan : “Ayah khawatir kalau Ayah meninggal sementara ayah belum melaksanakan kewajiban Ayah pada Allah”.
Thanks buat metro TV.
Juli 13, 2009 pukul 1:34 pm
subhannallah…
kemaren sabtu malam (malam minggu) di metro tv diputerin dan alhamdulillah menyentuh banget di Qalbu.
perjuangan menuju mekkah (ka’bah) ,
melewati beberapa negara Eropa (Milan, Beograd, Kroasia, Bulgaria dll) dan negara Timur (Turki, negara padang pasir lah) , sesampai di mekkah sang ayah tawaf dan meninggal sebagai tamu Allah…
well ga ada kata” lagi dah…
ini baru film yg sebenar”nya film
Juli 14, 2009 pukul 4:08 am
sangat ingin nonton lagi ni pilem..penasaran bgt.. soalnya q nonton pas dah mao ending tp bisa membuat sy terkagum2 menyimak alur critanya.. mohon metro tipi mutar ulang ni pìlem^^
Juli 27, 2009 pukul 4:19 am
film ini bagus sekali. penuh hikmah. aku rasa kalian juga harus menontonnya. aku liat di metro tv. kita jadi bisa merenung bahwa kita masih mempunyai dosa yang sangat banyak dan harus cepat-cepat bertaubat sebelum waktu merenggut kita.
Agustus 8, 2009 pukul 7:04 pm
minta refrensi film lagi dongz temen2?
Agustus 25, 2009 pukul 5:31 am
yups!! aku setuju banget dengan komentar anisa dan kita juga harus ngehormatin ortu kita
September 9, 2009 pukul 4:36 am
wah,ntar gw jadiy moderator nih piLem nich ke Maba [Mahasiswa Baru-Red] ^_^ doaian iah moogaa ajah Lancar,,amien ^,^
September 22, 2009 pukul 5:08 am
Sayang dewan guru udah ngasih lampu kuning waktu pengen ngerekomendasiin film ini supaya diputar waktu pesantren ramadhan. Alesan kalo nonton sambil baca terjemahan kaga asik. Mudah mudahan pesantren ramadhan tahun depan bisa diusulin. antum punya rekomendasi film lain yang “touching” lagi ga?
Oktober 25, 2009 pukul 5:13 am
Wajib tonton