Waktu sudah beranjak petang, tapi satu kewajibanku belum kutunaikan. Sudah hampir pukul lima sore, tapi sepanjang pencarianku di samping kiri kanan jalan yang kulalui tak ada masjid atau mushala. Padahal, takkan cukup waktu untuk shalat di rumah. Belum lagi jalan yang kulalui langganan macet.
Semua bermula karena tadi aku buru-buru untuk pulang, padahal adzan Ashar sudah berkumandang. Dan, apes, di tengah jalan ban motorku bocor terkena paku. Tukang tambal ban cukup jauh dari “TKP”. Jadilah aku bermandi peluh mendorong sepeda motorku yang genap akan berusia lima tahun.
Wah, ternyata ban dalamku robek, jadi tak bisa ditambal. Kurogoh lagi kocek lebih dalam, Rp 25 ribu. Selesai. Aku lanjutkan perjalanan, sambil menyesal dan memohon ampun. Mungkin ini teguran karena aku lalai. Akhirnya kudapati sebuah department store yang tampaknya akan bangkrut. Pastilah ada tempat shalat, batinku. Setelah berlari aku mencari mushala, aku dapati planknya, aku ikuti. Akhirnya ketemu juga, letaknya di lantai dasar dan sedikit pengap. Cukup banyak orang yang bernasib sama sepertiku.
Akhirnya aku shalat berjamaah. Di sampingku seorang pria gagah, Satpam, turut menjadi makmum. Tiga rakaat kami jalani dengan khusuk walaupun bau ruangan kurasa semakin pengap. Allahu akbar, ucap imam. Samiallahu liman hamidah. Aku menjawab, rabbana wa lakal hamd. Tapi tidak dengan pria gagah di sampingku. Walkie talkie-nya “berbicara”.
“Ya masuk,” ujarnya di tengah shalat.
Astagfirullah, aku tak sanggup menahan senyum. Di saat rakaat terakhir malah batal shalatnya. Cepatlah, pikirku kepada imam untuk segera mengakhiri shalat. Aku tak tahu apakah shalatku dapat diterima. Tapi, tingkah orang di sampingku benar-benar merusak semua kekhusukan shalatku.
Entah reflek atau apa, Satpam tadi menjawab panggilan di walkie talkie-nya, dan meninggalkan shalatnya yang tinggal serekaat. Usai shalat aku hanya tersenyum geli kepadanya yang masih menerima panggilan dari walkie talkie-nya. Dia masih sibuk “over ganti” dengan orang yang entah sedang ada di mana. Mungkin komandannya.
Makanya kalau mau shalat tinggalkan semua aktivitas dan jangan lupa matikan barang-barang yang bisa mengganggu kekhusukan shalat kita, daripada jadi malu sendiri.
Nur Izzi Muntaha
Jl Cipinang Kebembem IX No 56
Pisangan Timur, Pulogadung Jakarta Timur 13230
Sumber : www.republika.co.id