Jika pernah terpukau oleh kejeniusan Danny Ocean (George Clooney) dan kawan-kawan membobol brankas sertifikat berharga dalam Ocean’s Twelve (2004), yakinlah bahwa film itu hanyalah cerita fiksi yang ’sok high-tech‘.
Sebab, di dunia nyata, paling tidak tahun 1960, tak dibutuhkan otak secemerlang Danny Ocean dan teknologi tinggi untuk membawa lari harta senilai ratusan juta poundsterling. Tapi, cukup otak seorang Tony Hobbs (Michael Caine), seorang petugas pembersih lantai yang kakinya pincang. Inilah cerita menarik Flawless (2007).
Kian menarik setelah mengetahui bahwa peristiwa heboh ini betul-betul terjadi di London empat dasawarsa silam. Tepatnya di London Diamond (Lon Di), perusahaan pemasok berlian terbesar di Eropa yang memiliki penjagaan ekstraketat, jika tidak mustahil dibobol. Flawless adalah kisah pembobolan berlian yang, boleh jadi, paling menarik sepanjang sejarah.
Tapi, sekali lagi, Flawless bukanlah Ocean’s Twelve yang menjadikan dirinya pentas bagi kepiawaian para maling. Flawless sejatinya adalah film drama –drama kehidupan Laura Quinn (Demi Moore) yang menggetarkan. Dialah ‘berlian’ sesungguhnya perusahaan berlian Lon Di. Cerdas dan pekerja keras, Quinn adalah satu-satunya wanita di jajaran manajer Lon Di. Seorang wanita ambisius, menghabiskan hidupnya demi karier, usianya 38 tahun, dan tetap melajang.
Sayangnya, karier Quinn tak serupawan parasnya. Ia terus dipaku pada kursi manajer selama bertahun-tahun. Untuk wanita sekaliber Quinn, jabatan ini terlampau mungil, sementara ia dikenal di kantornya sebagai ’si datang pertama, si pulang terakhir’.
Suatu ketika terjadi kisruh yang menewaskan seratus orang di tambang berlian Afrika Selatan. Sebuah kisruh yang merembet ke isu Perang Dingin. Diduga melibatkan Lon Di, kisruh ini memastikan diputusnya kontrak Lon Di dengan pemerintah Rusia. Tapi, Quinn punya ide ambisius. ”Kita lanjutkan bisnis lewat jalan belakang,” cetusnya.
Kabar sial itu pun meluncur dari mulut Hobbs. Sang pembersih lantai mencuri dengar bahwa Quinn bakal dipecat menyusul ide nakal soal Rusia tadi. Betul saja. Surat pemecatan Quinn bahkan sudah rampung disusun. Quinn –yang masih jengkel lantaran gagal promosi– pun meradang, terluka, dan bersumpah membalas dendam.
Dan, Hobbs menawarkan Quinn sebuah jalan balas dendam yang sempurna, yakni bersama-sama membobol brankas berlian Lon Di. Hobbs bakal pensiun dalam hitungan minggu. Ia perlu uang besar (sesungguhnya ia pun menaruh dendam terhadap Lon Di yang zalim).
Sebagai petugas kebersihan, ia tahu betul kode ruang brankas diganti oleh bos Lon Di, Milton (Josh Ackland), saban dua minggu. Karena itulah Hobbs meminta Quinn mencuri kode brankas di kamar pribadi Milton. Berhasil. Kini, mereka harus berhadapan dengan lusinan kamera pengintai nyaris di setiap sudut gedung. Hobbs, kata Quinn, cuma memiliki waktu 30 detik untuk menerobos pintu brankas. Itu mustahil. Sebab kaki Hobbs pincang.
Ajaib. Keesokan harinya Lon Di geger. Berlian seharga ratusan juta poundsterling raib. Quinn sendiri dibuat terkejut-kejut menyaksikan ulah Hobbs malam itu. Seluruh berlian digangsir tak bersisa. ”Ke mana gerangan lari berlian itu? Bagaimana si tua dan si pincang Hobbs memboyong puluhan kilogram berlian dalam sebuah termos kecil?”
Demi mengucurkan adrenalin penontonnya, sutradara Michael Radford tak merasa perlu menyewa lusinan bintang tenar seperti halnya trilogi Ocean 11, 12, dan 13. Atau memamerkan aksi tipu muslihat yang terlampau mencengangkan seperti halnya Catch Me if You Can (2002). Radford melakukannya dengan sederhana saja.
Pertama, ia menyuguhkan percakapan yang panas. Kantor Lon Di adalah gedung bercat serbabiru, kaku, dan dingin. Bagai lemari es raksasa yang dipenuhi karyawan-karyawan necis namun tanpa perasaan. Dalam ‘kedinginan’ itu, sang sutradara membikin gerah nalar dan rasa penontonnya lewat dialog-dialog menyengat dan penuh prasangka.
Kedua, Radford memasang dua peseni peran yang tepat: Demi Moore dengan keanggunan dan rasa frustrasi yang saling bertabrakan di wajahnya. Michael Caine dengan ketenangan, dendam, dan akal bulus yang sama-sama mengendap di benaknya. Akting memikat keduanya adalah darah segar buat film ini, jika bukan daya tarik satu-satunya yang tak putus sepanjang film.
Lihatlah, misalnya, bagaimana Quinn usai perampokan digambarkan terengah-engah napasnya lantaran ciut nyali yang justru membikin Flawless tampak begitu alami, apa adanya. Hingga akhirnya kita dibawa pada aksi perampokan Hobbs. Itu pun bukan aksi perampokan yang mengobral ketegangan, namun tetap saja amat memuaskan.
Sumber : www.republika.co.id