Lewat dua kali penampilan dalam The Grudge: Ju-on (2004,2006), Sarah Michelle Gellar bagai menahbiskan dirinya sebagai spesialis film-film horor. Tahun ini, Gellar kembali dalam The Return, yang shooting-nya hanya terpaut beberapa bulan dengan The Grudge II (2006). Gellar bersiap kembali mengembangkempiskan adrenalin penonton. Namun, akankah film ini seseram The Grudge? The Return berkisah tentang sosok Joanna Mills (Sarah Michelle Gellar), gadis usia 25 tahun, yang kesepian. Tak ada yang terlampau istimewa pada diri Joanna kecuali pekerjaan nomadennya sebagai pengemudi truk dan kemampuannya melihat masa lalu, seperti halnya cenayang. Yang terakhir ini adalah biang dari kesulitan-kesulitannya, tapi juga ‘darah’ dari film ini.
Syahdan, Joanna ditugaskan berangkat ke Texas demi mengamankan pesanan kliennya. Nah, sepanjang perjalanan ke Texas itulah halusinasi-halusinasi mengerikan kian getol menyambanginya. Ia sudah mulai mengalaminya pada usia 11 tahun. Seraut wajah tiba-tiba muncul dari kaca spion dan menatapnya lama. Ketika ia menyalakan radio, anehnya, seluruh stasiun radio menyuarakan lagu Sweet Dream dari Patsy Cline.
Yang kerap tampak dalam halusinasi itu adalah sosok lelaki dengan wajah mengancam serta suasana sebuah bar. Joanna merasa pernah melihat bar ini di suatu masa. Ia menemukannya di La Salle. Betul saja. Itu adalah bar pernah ia lihat di masa kecilnya.
Joanna menemui seseorang pengunjung, Terry Stahl (Peter O’Brien) di situ. Istri Terry, Annie (Erinn Allison), dibunuh secara brutal 15 tahun lalu. Peristiwa ini membuat Terry sebagai tertuduh, meski pengadilan tak kuasa membuktikannya. Anehnya, bayang-bayang peristiwa kriminal itu sekonyong-konyong muncul di benak Joanna. Secara tak terduga pula, ia mendapati dirinya benar-benar tercemplung ke dalam ulangan peristiwa kriminal ini. Apa yang lantas terjadi?
Dibanding The Grudge yang mengobral teror hantu, The Return lebih bernuansa futuristik-supranatural seperti halnya Butterfly Effect (2002). Dialog-dialog amat kering, kecuali ekspresi wajah tegang Gellar yang lumayan meyakinkan. Ide film ini terlalu imajinatif, tak mudah dicerna, dan membikin penonton merasa hampa.
Sumber : www.republika.co.id