Sutradara Paul Greengrass berkata,”Anda bisa memahami secara sempurna mengapa Jason Bourne menjadi Jason Bourne.” Inilah kata-kata Greengrass untuk film arahannya, The Bourne Ultimatum.
Cerita petualangan psikologis Bourne (Matt Damon), agen CIA yang didera amnesia, sekaligus mengakhiri trilogi kisah Jason Bourne yang terpaksa bergelut dengan rahasia jati dirinya selama tiga tahun dan mendorongnya menjadi mesin pembunuh.
Dalam penutup dari trilogi Jason Bourne, The Bourne Ultimatum (TBU) memberi kunci jawaban atas pertanyaan Bourne tadi. Dan, di tangan Greengrass, ketegangan pun teramu dalam satu film penuh aksi. ”Ini adalah film thriller yang sangat menegangkan. Film action yang hebat,” ujar Greengrass. ”Namun, film ini juga butuh plot yang konspiratif dan berliku serta dipersiapkan untuk setting di Eropa. Dengan begitu, butuh banyak kamera untuk menangkap adegan secara tepat.”
Maka, ketegangan itu hadir di berbagai kawasan di seantero dunia yang didukung oleh kru yang berpengalaman. Sekitar 250 orang berada di balik kamera produksi film ini. Tentu saja, para kru ini telah berpengalaman untuk membidik lokasi sulit. Entah di bandara Heathrow atau JFK, shooting di stasiun Gare du Nord atau Waterloo, membidik adegan berkendara di Madrid, atau sekadar menyusuri jalan-jalan New York.
Tentu saja, mereka harus berhadapan dengan lokasi sulit, perangkat, kru lokal serta bekerja sama dengan orang-orang yang berbicara dalam berbagai bahasa sehingga proses pengambilan gambar di tujuh negara dan tiga benua itu berjalan lancar. Sebagian besar pengambilan gambar dilakukan di kawasan kota Tangier, Maroko, yang berlokasi di pantai Afrika Utara di pintu masuk barat Selat Gibraltar. Cafe de Paris di Tangier yang menjadi lokasi adegan di mana Nicky menunggu untuk bertukaran telepon seluler dengan Desh merupakan tempat pertemuan para ekspatriat.
Namun, sang produser Frank Marshall justru terkagum-kagum dengan Madinah. Kota ini, di mata Marshall, terbilang unik dengan jalan-jalan sempit yang dipadati ribuan toko dan rumah. ”Ini benar-benar kawasan yang mengagumkan,” kata Marshall. ”Kota ini amat tua. Bagi kami, kota ini menghadirkan banyak warna. Inilah tempat yang amat bagus untuk melakukan pengejaran.”
Untuk melakukan shooting di tengah kepadatan kota itu, tim produksi harus bersiasat dengan berjuta cara. Greengrass pun berjibaku dengan kamera untuk menerobos ratusan para pejalan kaki seraya mengikuti gerak Bourne, Nicky, dan musuh mereka, Desh. Aksi Bourne yang bergerak cepat menyelusup di antara jalan sempit Madinah tetap tertangkap secara intens berkat penempatan secara strategis sejumlah kamera.
Sementara agar Matt Damon dan tim stunt dapat melompati puluhan atap dan meletakkan bahan peledak di tengah kepadatan Madinah, tim produksi harus menandatangani lebih dari 2.000 kontrak. Yang menarik pula, lantaran produksi diadakan ketika bulan Ramadhan, jam kerja para kru dan pemain menjadi lebih terbatas.
Berakhir di New York
Ketika berada di London, Inggris, pengambilan gambar diadakan di Pinewood Studios. Di tempat ini mereka membuat interior untuk lokasi di New York, Paris, Madrid, Tangier, dan Berlin. Dari Pinewood, mereka pun bergerak menuju jalanan London menyusuri kepadatan kawasan perkantoran, gedung-gedung, hotel, dan stasiun bawah tanah. Bahkan, stasiun ini beberapa kali muncul mulai dari kedatangan Bourne di Gare du Nord, Paris, hingga ketika dia tiba di Atocha, stasiun di Madrid, Spanyol.
Tiga tahun lalu, stasiun Atocha menjadi tempat peledakan bom yang menewaskan 200 orang. Namun, stasiun Waterloo di London menjadi fokus utama. Salah satu dari lima stasiun utama London ini dipadati oleh 380 ribu orang setiap hari. Butuh waktu selama lima bulan untuk bernegosiasi agar tim produksi diizinkan untuk mengambil gambar di sana. Namun, Marshall menanggapi kesulitan ini dengan ringan. ”Di mana saja kita akan membuat film apalagi di kawasan bisnis, kita harus terbiasa bekerja di tengah kerumunan dan orang lalu lalang,” ujar Marshall. ”Tentu saja, tak ada bedanya dengan Waterloo.”
Akhirnya, permintaan shooting itu pun dikabulkan dengan bantuan polisi Inggris, pasukan keamanan tim produksi dengan kekuatan 20 orang, dan ratusan kamera CCTV yang mengawasi gerakan para kru dan pemeran. Setelah itu kru pun bergerak menuju Paris. Greengrass, Matt, dan para kru beraksi di atas Eurostar lantaran mereka melakukan perjalanan dari London dengan melintasi terowongan panjang Chunnelothe sejauh 50 km yang menghubungkan London dan Paris.
Mereka bergerak dengan perangkat minimal. ”Kami mencoba untuk menggunakan seluruh fasilitas dan seluruh waktu dengan sangat efisien,” ujar Marshall. ”Kami sempat mengambil gambar di kereta api dan ketika kembali ke London, kami juga melakukan hal serupa.”
Di Paris, para kru menyiapkan adegan ketika Bourne tiba di Gare du Nord. Perjalanan Bourne pun lantas berlanjut ke Madrid hingga ujung film bermuara di New York, AS. ”Salah satu alasan kami datang ke New York adalah kami perlu membawa Jason Bourne pulang,” ujar produser Patrick Crowley. ”Saya kira, tidak ada kota yang amat menggambarkan Amerika selain New York.”
Tentu saja, shooting di tengah kepadatan kota metropolis Manhattan menghadirkan tantangan tersendiri. Tanpa perangkat besar seperti crane dan lampu, mereka dapat mengambil gambar tanpa perlu menarik banyak perhatian. Gaya intim sutradara Greengrass ini menghadirkan gambar-gambar para pemeran utama yang membaur di tengah kesibukan para pekerja New York. Hingga mereka pun tak sadar, di tengah mereka ada terselip sosok Jason Bourne alias Matt Damon.
Sumber : www.republika.co.id