The Bourne Ultimatum : Shooting Keliling Dunia

Sutradara Paul Greengrass berkata,”Anda bisa memahami secara sempurna mengapa Jason Bourne menjadi Jason Bourne.” Inilah kata-kata Greengrass untuk film arahannya, The Bourne Ultimatum.

Cerita petualangan psikologis Bourne (Matt Damon), agen CIA yang didera amnesia, sekaligus mengakhiri trilogi kisah Jason Bourne yang terpaksa bergelut dengan rahasia jati dirinya selama tiga tahun dan mendorongnya menjadi mesin pembunuh.

Dalam penutup dari trilogi Jason Bourne, The Bourne Ultimatum (TBU) memberi kunci jawaban atas pertanyaan Bourne tadi. Dan, di tangan Greengrass, ketegangan pun teramu dalam satu film penuh aksi. ”Ini adalah film thriller yang sangat menegangkan. Film action yang hebat,” ujar Greengrass. ”Namun, film ini juga butuh plot yang konspiratif dan berliku serta dipersiapkan untuk setting di Eropa. Dengan begitu, butuh banyak kamera untuk menangkap adegan secara tepat.”

Maka, ketegangan itu hadir di berbagai kawasan di seantero dunia yang didukung oleh kru yang berpengalaman. Sekitar 250 orang berada di balik kamera produksi film ini. Tentu saja, para kru ini telah berpengalaman untuk membidik lokasi sulit. Entah di bandara Heathrow atau JFK, shooting di stasiun Gare du Nord atau Waterloo, membidik adegan berkendara di Madrid, atau sekadar menyusuri jalan-jalan New York.

Tentu saja, mereka harus berhadapan dengan lokasi sulit, perangkat, kru lokal serta bekerja sama dengan orang-orang yang berbicara dalam berbagai bahasa sehingga proses pengambilan gambar di tujuh negara dan tiga benua itu berjalan lancar. Sebagian besar pengambilan gambar dilakukan di kawasan kota Tangier, Maroko, yang berlokasi di pantai Afrika Utara di pintu masuk barat Selat Gibraltar. Cafe de Paris di Tangier yang menjadi lokasi adegan di mana Nicky menunggu untuk bertukaran telepon seluler dengan Desh merupakan tempat pertemuan para ekspatriat.

Namun, sang produser Frank Marshall justru terkagum-kagum dengan Madinah. Kota ini, di mata Marshall, terbilang unik dengan jalan-jalan sempit yang dipadati ribuan toko dan rumah. ”Ini benar-benar kawasan yang mengagumkan,” kata Marshall. ”Kota ini amat tua. Bagi kami, kota ini menghadirkan banyak warna. Inilah tempat yang amat bagus untuk melakukan pengejaran.”

Untuk melakukan shooting di tengah kepadatan kota itu, tim produksi harus bersiasat dengan berjuta cara. Greengrass pun berjibaku dengan kamera untuk menerobos ratusan para pejalan kaki seraya mengikuti gerak Bourne, Nicky, dan musuh mereka, Desh. Aksi Bourne yang bergerak cepat menyelusup di antara jalan sempit Madinah tetap tertangkap secara intens berkat penempatan secara strategis sejumlah kamera.

Sementara agar Matt Damon dan tim stunt dapat melompati puluhan atap dan meletakkan bahan peledak di tengah kepadatan Madinah, tim produksi harus menandatangani lebih dari 2.000 kontrak. Yang menarik pula, lantaran produksi diadakan ketika bulan Ramadhan, jam kerja para kru dan pemain menjadi lebih terbatas.

Berakhir di New York
Ketika berada di London, Inggris, pengambilan gambar diadakan di Pinewood Studios. Di tempat ini mereka membuat interior untuk lokasi di New York, Paris, Madrid, Tangier, dan Berlin. Dari Pinewood, mereka pun bergerak menuju jalanan London menyusuri kepadatan kawasan perkantoran, gedung-gedung, hotel, dan stasiun bawah tanah. Bahkan, stasiun ini beberapa kali muncul mulai dari kedatangan Bourne di Gare du Nord, Paris, hingga ketika dia tiba di Atocha, stasiun di Madrid, Spanyol.

Tiga tahun lalu, stasiun Atocha menjadi tempat peledakan bom yang menewaskan 200 orang. Namun, stasiun Waterloo di London menjadi fokus utama. Salah satu dari lima stasiun utama London ini dipadati oleh 380 ribu orang setiap hari. Butuh waktu selama lima bulan untuk bernegosiasi agar tim produksi diizinkan untuk mengambil gambar di sana. Namun, Marshall menanggapi kesulitan ini dengan ringan. ”Di mana saja kita akan membuat film apalagi di kawasan bisnis, kita harus terbiasa bekerja di tengah kerumunan dan orang lalu lalang,” ujar Marshall. ”Tentu saja, tak ada bedanya dengan Waterloo.”

Akhirnya, permintaan shooting itu pun dikabulkan dengan bantuan polisi Inggris, pasukan keamanan tim produksi dengan kekuatan 20 orang, dan ratusan kamera CCTV yang mengawasi gerakan para kru dan pemeran. Setelah itu kru pun bergerak menuju Paris. Greengrass, Matt, dan para kru beraksi di atas Eurostar lantaran mereka melakukan perjalanan dari London dengan melintasi terowongan panjang Chunnelothe sejauh 50 km yang menghubungkan London dan Paris.

Mereka bergerak dengan perangkat minimal. ”Kami mencoba untuk menggunakan seluruh fasilitas dan seluruh waktu dengan sangat efisien,” ujar Marshall. ”Kami sempat mengambil gambar di kereta api dan ketika kembali ke London, kami juga melakukan hal serupa.”

Di Paris, para kru menyiapkan adegan ketika Bourne tiba di Gare du Nord. Perjalanan Bourne pun lantas berlanjut ke Madrid hingga ujung film bermuara di New York, AS. ”Salah satu alasan kami datang ke New York adalah kami perlu membawa Jason Bourne pulang,” ujar produser Patrick Crowley. ”Saya kira, tidak ada kota yang amat menggambarkan Amerika selain New York.”

Tentu saja, shooting di tengah kepadatan kota metropolis Manhattan menghadirkan tantangan tersendiri. Tanpa perangkat besar seperti crane dan lampu, mereka dapat mengambil gambar tanpa perlu menarik banyak perhatian. Gaya intim sutradara Greengrass ini menghadirkan gambar-gambar para pemeran utama yang membaur di tengah kesibukan para pekerja New York. Hingga mereka pun tak sadar, di tengah mereka ada terselip sosok Jason Bourne alias Matt Damon.

Sumber : www.republika.co.id

The Bourne Ultimatum : Shooting Keliling Dunia

Sutradara Paul Greengrass berkata,”Anda bisa memahami secara sempurna mengapa Jason Bourne menjadi Jason Bourne.” Inilah kata-kata Greengrass untuk film arahannya, The Bourne Ultimatum.

Cerita petualangan psikologis Bourne (Matt Damon), agen CIA yang didera amnesia, sekaligus mengakhiri trilogi kisah Jason Bourne yang terpaksa bergelut dengan rahasia jati dirinya selama tiga tahun dan mendorongnya menjadi mesin pembunuh.

Dalam penutup dari trilogi Jason Bourne, The Bourne Ultimatum (TBU) memberi kunci jawaban atas pertanyaan Bourne tadi. Dan, di tangan Greengrass, ketegangan pun teramu dalam satu film penuh aksi. ”Ini adalah film thriller yang sangat menegangkan. Film action yang hebat,” ujar Greengrass. ”Namun, film ini juga butuh plot yang konspiratif dan berliku serta dipersiapkan untuk setting di Eropa. Dengan begitu, butuh banyak kamera untuk menangkap adegan secara tepat.”

Maka, ketegangan itu hadir di berbagai kawasan di seantero dunia yang didukung oleh kru yang berpengalaman. Sekitar 250 orang berada di balik kamera produksi film ini. Tentu saja, para kru ini telah berpengalaman untuk membidik lokasi sulit. Entah di bandara Heathrow atau JFK, shooting di stasiun Gare du Nord atau Waterloo, membidik adegan berkendara di Madrid, atau sekadar menyusuri jalan-jalan New York.

Tentu saja, mereka harus berhadapan dengan lokasi sulit, perangkat, kru lokal serta bekerja sama dengan orang-orang yang berbicara dalam berbagai bahasa sehingga proses pengambilan gambar di tujuh negara dan tiga benua itu berjalan lancar. Sebagian besar pengambilan gambar dilakukan di kawasan kota Tangier, Maroko, yang berlokasi di pantai Afrika Utara di pintu masuk barat Selat Gibraltar. Cafe de Paris di Tangier yang menjadi lokasi adegan di mana Nicky menunggu untuk bertukaran telepon seluler dengan Desh merupakan tempat pertemuan para ekspatriat.

Namun, sang produser Frank Marshall justru terkagum-kagum dengan Madinah. Kota ini, di mata Marshall, terbilang unik dengan jalan-jalan sempit yang dipadati ribuan toko dan rumah. ”Ini benar-benar kawasan yang mengagumkan,” kata Marshall. ”Kota ini amat tua. Bagi kami, kota ini menghadirkan banyak warna. Inilah tempat yang amat bagus untuk melakukan pengejaran.”

Untuk melakukan shooting di tengah kepadatan kota itu, tim produksi harus bersiasat dengan berjuta cara. Greengrass pun berjibaku dengan kamera untuk menerobos ratusan para pejalan kaki seraya mengikuti gerak Bourne, Nicky, dan musuh mereka, Desh. Aksi Bourne yang bergerak cepat menyelusup di antara jalan sempit Madinah tetap tertangkap secara intens berkat penempatan secara strategis sejumlah kamera.

Sementara agar Matt Damon dan tim stunt dapat melompati puluhan atap dan meletakkan bahan peledak di tengah kepadatan Madinah, tim produksi harus menandatangani lebih dari 2.000 kontrak. Yang menarik pula, lantaran produksi diadakan ketika bulan Ramadhan, jam kerja para kru dan pemain menjadi lebih terbatas.

Berakhir di New York
Ketika berada di London, Inggris, pengambilan gambar diadakan di Pinewood Studios. Di tempat ini mereka membuat interior untuk lokasi di New York, Paris, Madrid, Tangier, dan Berlin. Dari Pinewood, mereka pun bergerak menuju jalanan London menyusuri kepadatan kawasan perkantoran, gedung-gedung, hotel, dan stasiun bawah tanah. Bahkan, stasiun ini beberapa kali muncul mulai dari kedatangan Bourne di Gare du Nord, Paris, hingga ketika dia tiba di Atocha, stasiun di Madrid, Spanyol.

Tiga tahun lalu, stasiun Atocha menjadi tempat peledakan bom yang menewaskan 200 orang. Namun, stasiun Waterloo di London menjadi fokus utama. Salah satu dari lima stasiun utama London ini dipadati oleh 380 ribu orang setiap hari. Butuh waktu selama lima bulan untuk bernegosiasi agar tim produksi diizinkan untuk mengambil gambar di sana. Namun, Marshall menanggapi kesulitan ini dengan ringan. ”Di mana saja kita akan membuat film apalagi di kawasan bisnis, kita harus terbiasa bekerja di tengah kerumunan dan orang lalu lalang,” ujar Marshall. ”Tentu saja, tak ada bedanya dengan Waterloo.”

Akhirnya, permintaan shooting itu pun dikabulkan dengan bantuan polisi Inggris, pasukan keamanan tim produksi dengan kekuatan 20 orang, dan ratusan kamera CCTV yang mengawasi gerakan para kru dan pemeran. Setelah itu kru pun bergerak menuju Paris. Greengrass, Matt, dan para kru beraksi di atas Eurostar lantaran mereka melakukan perjalanan dari London dengan melintasi terowongan panjang Chunnelothe sejauh 50 km yang menghubungkan London dan Paris.

Mereka bergerak dengan perangkat minimal. ”Kami mencoba untuk menggunakan seluruh fasilitas dan seluruh waktu dengan sangat efisien,” ujar Marshall. ”Kami sempat mengambil gambar di kereta api dan ketika kembali ke London, kami juga melakukan hal serupa.”

Di Paris, para kru menyiapkan adegan ketika Bourne tiba di Gare du Nord. Perjalanan Bourne pun lantas berlanjut ke Madrid hingga ujung film bermuara di New York, AS. ”Salah satu alasan kami datang ke New York adalah kami perlu membawa Jason Bourne pulang,” ujar produser Patrick Crowley. ”Saya kira, tidak ada kota yang amat menggambarkan Amerika selain New York.”

Tentu saja, shooting di tengah kepadatan kota metropolis Manhattan menghadirkan tantangan tersendiri. Tanpa perangkat besar seperti crane dan lampu, mereka dapat mengambil gambar tanpa perlu menarik banyak perhatian. Gaya intim sutradara Greengrass ini menghadirkan gambar-gambar para pemeran utama yang membaur di tengah kesibukan para pekerja New York. Hingga mereka pun tak sadar, di tengah mereka ada terselip sosok Jason Bourne alias Matt Damon.

Sumber : www.republika.co.id

Lady Jet Set : Para Model Pun Berakting

Siang itu hujan cukup deras mengguyur. Tak sedikit orang yang lalu lalang memilih berhenti sejenak dari aktivitasnya dan berteduh. Namun, dari sebuah rumah di bilangan Kali Mulia, kawasan Pancoran Mas, Depok, justru terdengar keriuhan yang berbeda.

Dari rumah bertingkat dua dengan gaya modern minimalis seluas 3.000 meter, sekitar 15 orang sibuk mempersiapkan kamera, lampu, dan kabel. Sebuah monitor terlihat ditonton serius oleh beberapa orang. Keriuhan itu rupanya berpusat di ruang-ruang rumah milik koreografer tari terkenal Boy G Sakti. Keriuhan dari proses pengambilan gambar untuk sebuah sinetron drama romantis berjudul Lady Jet Set.

Seperti judulnya, kisah yang diangkat dari skenario garapan Alberthiene Endah ini berkisah tentang kehidupan para perempuan sosialita yang berfokus pada hubungan empat sahabat, yaitu Nova (diperankan oleh Karina Suwandhi), Lili (Lili), Abel (Alanis), dan Tasya (Ola Ramlan). Nova adalah pemilik salon yang berhasil dan juga istri Toni, seorang pengusaha kaya.

Selain itu, Nova juga mempunyai dua orang pegawai kepercayaannya yakni Sherli (Davina) dan Vanesa (Alexandra Gottardo). Kehidupan Nova tampak sempurna. Namun, berbagai konflik muncul dalam kehidupan keluarganya. Termasuk konflik perselingkuhan suaminya juga problema pribadi tiga sahabat lainnya yang memiliki status berbeda-beda.

”Drama romantis ini memang menangkap kisah kehidupan salah satu golongan masyarakat yang ada di Jakarta saat ini dan menyuguhkan kembali dalam format drama di layar kaca dengan plot lebih romantis dan juga ditaburi bumbu komedi,” papar John De Rantau, sutradara Lady Jet Set yang makin melejit usai menggarap film Denias. Demi menguatkan kesan kalangan ‘jetset’, sang sutradara pun memilih lokasi dan pemeran utama yang ‘lekat’ dengan kesan itu.

Kediaman Boy G Sakti agaknya mampu menjadi representasi tempat tinggal untuk pasangan kaya-raya Toni (Marcelino Lefrandt) dan Nova. Untuk kisah drama komedi ini, tidak banyak kondisi rumah yang diubah. Hanya tata letak perabotan rumah saja yang agak diatur serta beberapa sisi rumah juga tak ditampilkan. Rumah ini memang dikontrak selama shooting drama romantis sampai episode terakhir.

Tak hanya itu, John juga memilih aktris dan aktor yang sebagian besar berlatar model catwalk. Memang, menurut John, kehidupan glamor yang mereka jalani pada kehidupan nyata bisa mempermudah adaptasi cerita Lady Jet Set. ”Tapi, bukan berarti tanpa casting, lho.

Tetap ada,” kata John. Pilihan pun jatuh pada Marcelino dan Karina Suwandhi. Dari beberapa aktris yang ikut casting, kata John, Karina yang juga peragawati itu dianggap paling pas memerankan Nova, seorang wanita matang dan istri dengan dua anak. ”Meskipun kenyataannya ia sudah lama tidak berakting, belum berkeluarga, dan memiliki karakter yang tomboi dan cuek, tapi dia bisa masuk dalam peran tersebut,” ujar dia.

Untuk urusan penggarapan, kendati shooting dimulai sejak awal September 2007, baru episode perdana Lady Jet Set yang rampung dan siap ditayangkan. Marcelino menuturkan bahwa penggarapan drama romantis ini sempat mundur lebih dari satu minggu dari jadwal yang ditentukan. ”Harusnya akhir Agustus sudah dimulai. Namun, penyesuaian jadwal belum ketemu antara pemain. Jadilah, awal September mulainya,” ujar dia.

Ketika dimulai, sang sutradara pun menetapkan aturan main. Setiap hari shooting dimulai pukul 09.00 WIB dan baru usai paling cepat pukul 21.00 WIB. Seperti di hari itu. Meski hujan mendera, shooting tetap berjalan. Menggunakan kamera video Sony D-35, sebanyak 27 adegan yang melibatkan para pemeran utama akan digarap untuk episode 2-5 dan harus selesai hari itu juga.

John juga menerapkan sistem pengambilan gambar serupa untuk format layar lebar. Setiap kali akan diambil sebuah adegan, sutradara menyuruh para karakter untuk mencoba dulu. Bila sudah dianggap pas, adegan baru akan direkam. Saat ini sinetron produksi Multivision tersebut sudah memasuki proses produksi untuk episode kelima dari keseluruhan 49 episode. Bagaimana akting Karina dan Marcelino? Saluran televisi berlangganan Astro baru akan menayangkan pada akhir November mendatang.

Sumber : www.republika.co.id

Serial Laksamana Cheng Ho : Berdialog dengan Enam Bahasa

Seorang perempuan berkerudung merah jambu mengucap salam dengan terbata-bata. ”Assalammualaikum,” ujar Nadtaya Janrung, seorang aktris Thailand.

Yusril Ihza Mahendra pun menjawab dengan artikulasi suara tegas tapi terdengar lembut, ”Waalaikumsalam.” Lalu, keduanya mendekat. Dua kamera Sony Power HAD-EX yang dipasang di lintasan rel kamera film turut pula bergerak. Yusril bergerak sekitar empat langkah ke depan. Sedangkan Phoo –panggilan akrab Nadtaya Janrung– turun dari atas kereta kudanya. Tak lama, terjadilah dialog. Yusril berdialog dengan bahasa Indonesia dan Phoo tetap dengan menggunakan bahasa ibunya, Thailand.

Adegan antara Yusril dan Phoo itu merupakan bagian dari proses produksi film serial Admiral Zheng He atau Laksamana Cheng Ho. Cerita yang naskahnya ditulis Darto Joned ini bertitik tolak dari rangkaian ekspedisi 200 armada laut Laksamana Cheng Ho yang terjadi pada rentang waktu 1405-1433 Masehi. Jumlah episode yang disiapkan sebanyak 26 episode. Proses shooting dilakukan di studio alam Kantana Movie Town di Salaya Nakornphatom berjarak sekitar 50 km arah selatan Kota Bangkok, Thailand. Studio alam ini milik Kantana Group Public Company Limited sebuah perusahaan film bonafide asal Thailand.

Di studio alam yang memiliki luas areal hingga 1000 hektare ini terdapat dua bangunan berbentuk benteng dengan dominasi warna merah. Selain itu terlihat juga sebuah pasar yang bersuasana tempo dulu. Setiap lapak yang ada di pasar itu beratap daun rumbia. Sedangkan di sisi lainnya tampak juga istal kuda lengkap dengan kuda-kudanya dan sebuah gerbang kerajaan sepanjang 15 meter dengan tinggi tembok sekitar lima meter.

Dalam film serial ini, Yusril Ihza Mahendra memerankan tokoh utama sebagai Laksamana Cheng Ho. Lawan main Yusril di adegan tadi, melakoni tokoh Sian Hwa yang merupakan istri Juan Lang seorang jenderal Muslim yang hidup di masa Dinasti Ming dan menjadi sahabat Cheng Ho. Untuk merampungkan dialog singkat itu ternyata bukanlah hal yang mudah. Phoo yang tidak terbiasa dengan lafal bahasa Arab, sebelum shooting, terpaksa berulang kali belajar mengucapkan salam kepada Yusril.

Adegan yang dibuat untuk episode 11 pada scene kedelapan hingga sepuluh itu mengisahkan tentang pertemuan Cheng Ho dan Sian Hwa di sebuah tempat terbuka. Sian Hwa datang ke tempat Cheng Ho membawa sebuah kabar penting. Suami Sian Hwa, Juang Lang, diceritakan sedang sakit keras. Saat dialog terjadi, Yusril dan Phoo dibantu oleh asisten sutradara, Lukman Thambose, serta seorang kru film dari Thailand. Kehadiran dua orang ini untuk memberi kode.

Kode sangat penting di sini. Maklum, dalam setiap dialog setiap aktris maupun aktor menggunakan enam bahasa ibu berbeda, yakni Indonesia, Thailand, Vietnam, Malaysia, Kamboja, dan Cina. ”Di sinilah peran asisten. Kode itu diberikan agar proses dialog berjalan lancar dan tidak tumpang tindih,” kata Lukman di sela-sela proses shooting.

Lukman mengatakan saat editing, bahasa ibu yang dipakai pemain akan tetap digunakan di negara asalnya. Sedangkan bahasa lain bakal dilakukan sulih suara. ”Sederhananya, untuk penayangan di Indonesia, dialog Yusril tidak mengalami perubahan. Tetapi, dialog Sian Hwa akan di-dubbing ke dalam bahasa Indonesia,” kata dia menjelaskan. Selain Yusril, terlibat juga Saifullah Yusuf. Mantan Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal itu memerankan tokoh Raja Parameswara dari Kerajaan Majapahit.

Hingga saat ini, seperti diungkap Yusril, proses produksi film ini baru mencapai 30 persen. Untuk menuntaskan keseluruhan adegan, dana hingga tiga juta dolar AS pun dikucurkan. Boleh dibilang inilah film seri televisi termahal di Indonesia. Begitu juga dengan total pemainnya. Film yang diproduksi di enam negara ini melibatkan hampir enam ribu pemain yang berasal dari Indonesia, Thailand, Malaysia, Kamboja, Vietnam, dan Cina. Namun demikian, seperti kata Yusril, aspek sejarah menjadi poin utama penggarapan film serial ini. Lewat tayangan inilah, kita akan menyaksikan kedigdayaan ekspedisi laut laksamana asal Cina bernama Cheng Ho.

Sumber : www.republika.co.id

Mati Bujang Tengah Malam : Cerita Bom Bali di Yogya

Seorang mahasiswa yang baru saja lulus kuliah dengan predikat cum laude tampak gelisah. Berbekal ijazahnya, segala usaha sudah ia lakukan untuk mencari pekerjaan. Namun, tetap saja kesempatan kerja tak kunjung datang padanya. Tidak hanya itu, ia pun baru saja diputus oleh sang kekasih. Tak lama berselang, sebuah peristiwa besar terjadi. Ledakan bom kembali mengguncang Bali pada 2005.

Itulah sepenggal kisah yang memberi inspirasi Fajar Nugroho menuliskan novel berjudul Buaya Jantan yang terbit pada September 2006 lalu. Novel inilah yang kemudian diangkat ke layar lebar dalam bentuk film pendek berjudul Mati Bujang Tengah Malam. Fajar melakukan adaptasi untuk judul film yang juga ia garap bersama rekan-rekannya pada awal tahun 2007.

Film itu bertutur tentang seorang pemuda bernama Armand (diperankan Erros ‘Sheila On 7′) yang terpuruk lantaran tak kunjung mendapat kerja dan kemudian diputus kekasihnya Amelia (Artika Sari Devi). Di tengah rasa putus asa karena ingin segera menghasilkan uang demi membantu keluarganya, Armand akhirnya mau melakukan aksi bom bunuh diri atas perintah seorang laki-laki misterius dengan imbalan sejumlah uang.

Beberapa penyesuaian memang dilakukan untuk menuangkan alur novel dalam sebuah film pendek. Dalam penulisan skenario, Fajar dibantu oleh rekannya, Donny Prasetyo, yang memang berprofesi sebagai penulis skenario. Untuk menyusun skenario, Donny membutuhkan waktu sekitar satu bulan melalui empat kali perubahan draft. ”Dalam skenario memang ada perubahan di sana sini termasuk pemotongan cerita,” papar Donny. Tak sedikit kisah dalam novel yang tidak ada dalam film ini, kata dia, tapi beberapa karakter baru dimunculkan.

Donny mencontohkan, adanya upaya pengalihan isu tentang korupsi dengan melakukan peledakan bom pada alur cerita di novel tidak secara nyata tampak pada film. ”Untuk menggambarkan pengalihan isu membutuhkan waktu yang panjang dan juga adegan yang tidak sedikit,” papar dia.

Di Yogya
Untuk proses shooting film Mati Bujang Tengah Malam ini menghabiskan waktu selama satu pekan. Sepanjang waktu itu, sejak pukul 05.00 WIB kru sudah stand by di lokasi shooting. Padahal, shooting sendiri dimulai pukul 06.00 WIB sampai malam.

Berhubung seluruh kru memang berdomisili di Yogyakarta, shooting pun dilakukan di seputar kota ini. Karena lokasi bom bunuh diri berlatar sebuah kafe, maka dalam film, kafe bernama Cheers yang berlokasi di Jalan Gejayan, Yogyakarta, dipilih sebagai salah satu lokasi shooting. Tidak banyak dilakukan perubahan dengan kafe ini.”Hanya ada penambahan lampu untuk menghidupkan suasana. Karena kafe itu kurang terang dan ramai,” kata Fajar yang juga menjadi sutradara film ini.

Sementara lokasi lainnya yang dipilih adalah sebuah tempat kos di Kabupaten Bantel, Yogyakarta, yang menjadi tempat tinggal Armand. Tempat kos ini kebetulan memang sebuah kamar kosong yang sedang tidak disewa dan disewa khusus untuk shooting film ini. Kamar itu adalah sebuah kamar dengan perabotan yang sangat sederhana di antaranya sebuah kasur, meja, dan sebuah papan pengumuman yang sengaja dibuat berisi aturan-aturan kos. ”Tidak ada yang diubah dalam kamar itu karena sudah sesuai dengan skenario tentang Armand, sosok mahasiswa yang hidup sederhana. Papan pengumuman untuk memberi detail kamar kos,” papar Fajar.

Lokasi lainnya adalah wilayah Kota Baru, Yogyakarta. Di Kota Baru, beberapa adegan dalam film yang menggambarkan suasana keseharian Armand diambil. Sedangkan lokasi terakhir yang dipilih adalah Studio Mataram Surya Visi yang terletak di Kota Yogyakarta. Studio ini disulap menjadi sebuah studio siaran televisi. Di dalam studio itu diambil adegan seorang presenter berita yang sedang membacakan berita baik tentang isu korupsi maupun berita pengeboman.

Yang menarik, dalam salah satu adegan pembacaan berita, mereka menampilkan seorang presenter berita sungguhan, yaitu Grace Natalie dari stasiun televisi antv. Meskipun waktunya sangat sempit, Grace bisa meluangkan waktu untuk pengambilan gambar yang hanya berlangsung selama satu jam. Itu pun di sela-sela liputan antv di Yogyakarta. Selama proses pengambilan gambar yang berlangsung selama tujuh hari sejak 24-30 Maret 2007 tersebut, para kru menggunakan kamera format video Canon SL-2 dan mengerahkan sedikitnya 33 kru.

Sepanjang proses produksi dan editing film yang terbilang indie alias independen ini, kru Mati Bujang Tengah Malam juga dibantu oleh sebuah rumah produksi di Yogyakarta bernama Zerosith Pictures. Dari hasil kerja keras plus berbujet minim itulah, film berdurasi 45 menit tuntas digarap.

Namun, setelah melalui proses editing yang memakan waktu satu bulan, film tersebut akhirnya berdurasi 30 menit. Rupanya, durasi 30 menit sudah ditargetkan sejak awal. ”Kita realistis saja. Karena memang film pendek, ya waktu tayangnya juga tidak boleh terlalu panjang,” papar Fajar. Di Kota Yogyakarta sendiri, film Mati Bujang Tengah Malam telah beredar sejak Juli lalu. Rencananya, film ini pun siap merambah Jakarta sekitar akhir bulan Agustus. fia

Berbicara dengan Simbol

Tak hanya dengan bahasa gambar, kisah Mati Bujang Tengah Malam ini berbicara pula dengan bahasa simbol. Untuk mengalirkan suasana, tim produksi menyisipkan beberapa simbol yang memiliki arti. Seperti penggunaan simbol dua buah surat, yaitu sebuah surat tagihan pembayaran kos dan sepucuk lagi surat dari orang tua Armand yang mengharapkan dia sebagai tumpuan harapan perekonomian keluarga.

Kedua surat itu menggambarkan tekanan pada Armand sehingga ia tidak ada pilihan untuk menerima pekerjaan dan menjalani aksi bunuh diri. Simbol lain yang dipilih adalah bola golf yang merupakan simbol koruptor dan juga buku-buku yang bercerita seputar terorisme. Rupanya, Fajar Nugroho berharap simbol-simbol ini akan membuat filmnya bakal kaya dengan detail.

Sumber : www.republika.co.id

Film Animasi Bermodal Papan Tulis

Nelayan itu berlayar di tengah laut. Bersama perahu kecilnya, sang nelayan berusaha menyelamatkan diri dari gempuran badai dan kejaran seekor hiu. ”Help…!!”’

Jeritan nelayan itulah yang menjadi inti kisah animasi dua dimensi karya Firman Widyasmara. Jangan dulu berpikir rumit tentang animasi ini. Untuk membuat film animasi berjudul Help tersebut, Firman cukup bermodalkan sebuah papan tulis 2×1 meter, kapur tulis, sebuah kamera digital lengkap dengan tripod (penyangga kamera), dan tentu saja sebuah ruang untuk meletakkan papan tulis yang dilengkapi pencahayaan dari lampu kamar biasa.

Papan tulis ternyata digunakan Firman untuk menuangkan ide dalam bentuk gambar. Sedangkan kapur tulis dipilih untuk menoreh coretan yang membentuk bermacam-macam gambar yang ada dalam cerita. Mulai dari bentuk ombak, kapal, sosok nelayan yang digambarkan sedang berada di dalam perahu yang dilengkapi layar, sampai bentuk tetesan air hujan. Untuk menggambar ratusan motion (adegan), Firman hanya membutuhkan 12 batang kapur berwarna putih. ”Meskipun jadi sering kelilipan kapur, tapi prosesnya lebih cepat,” tambah Firman.

Stop motion
Ketika menuntaskan Help, Firman menggunakan teknik bernama stop motion. Boleh dibilang, teknik ini terbilang unik. Setiap kali sebuah adegan dalam rangkaian cerita usai digambar, sang animator langsung mengambil kamera untuk menjepretnya. Begitu terus sampai adegan seluruh rangkaian cerita usai. ”Memang cukup melelahkan, tapi kalau kita sudah punya ide kita harus segera menuangkannya. Kalau nggak ntar keburu lupa,” ucap Firman.

Ide menggambar pun datang dari segala arah. Bahkan, tangan kanan adiknya yang baru lewat saat Firman menggambarkan menjadi inspirasi tersendiri. Tangan itu menjadi sosok penolong nelayan. ”Sebelumnya tidak direncanakan, ide itu datang begitu saja,” papar dia.

Awalnya, Firman sempat berpikir akan menggunakan bahan dasar cat air untuk membuat animasi itu. Namun, lantaran memperhitungkan waktu yang dibutuhkan saat proses produksi, akhirnya dipilih media papan tulis dan kapur. ”Di samping lebih irit waktu, juga lebih irit bahan. Kalau memaksa pakai cat air, pasti banyak kertas yang terbuang dan lebih ribet. Jadi, buat yang simpel aja,” kata Firman yang berperan sebagai animator, penulis skenario, kreatif suara, hingga camera person dalam Help itu.

Sedikitnya 144 gambar pada papan tulis hitam harus dibuat Firman untuk menceritakan film animasi Help yang berdurasi 37 detik. Itu belum termasuk gambar-gambar yang salah. Jika ditambah dengan proses error, sekitar 150 kali lebih Firman harus mengulang gambar yang sama dengan adegan berbeda. Secara keseluruhan, ungkap Firman, hanya membutuhkan waktu delapan jam untuk membuatnya.

Yang jelas, lanjutnya, seperti gerakan perahu atau goyangan ombak, dia harus membuat gambar yang berbeda-beda dengan materi sama sehingga dapat menggambarkan bahwa kapal bergerak dan ombak pun bergoyang. ”Pergeseran gambar kapal dan ombak harus terlihat. Itu dibuat dengan menggeser sedikit demi sedikit gambar saya ke arah yang dituju. Setiap pergeseran itu lalu dipotret,” papar dia.

Untuk memformulasikan seluruh gambar menjadi gambar bergerak, Firman menggunakan perangkat lunak Adobe Premiere. Usai dimasukkan ke perangkat lunak itu, ratusan gambar di papan tulis yang dibuat satu per satu akan berjalan dan membentuk gambar bergerak yang bercerita. ”Ide sederhana dan pengerjaan dengan cara yang sederhana pula bisa menghasilkan animasi. Jadi, jangan takut untuk memulai memproduksi animasi. Asal ada keinginan kuat lho. Kalau tidak, pasti nggak jadi-jadi,” ujar Firman.

Ini sudah dibuktikannya sendiri. Berkat kegigihan itu pula, Firman berhasil meraih juara ajang Festival Film Animasi Indonesia tahun 2005 yang diselenggarakan tiap dua tahun untuk kategori spot animation. Dia juga sukses menyabet salah satu grand prize pada ajang Hello Fest Screen 2006 untuk film yang sama.

Sumber : www.republika.co.id

Transformers : Kerja Keras untuk Robot ‘Asli’

Robot-robot luar angkasa itu bersembunyi. Mereka punya cara jitu untuk mengelabui musuh-musuhnya. Mereka bertransformasi. Mereka mengubah dirinya menjadi mesin biasa. Tak hanya menjadi mesin, robot itu juga dengan lihai berubah menjadi mobil atau pesawat terbang.

Itulah aksi para robot supercerdas dalam film Transformers. Perubahan robot-robot itu menjadi daya tarik utama film arahan sutradara Michael Bay. Proses konversi itu boleh dibilang sangat meyakinkan dan memikat.

Tentu saja, demi mendapatkan aksi memukau itu bukan hal mudah. Dan, tak murah pula. Produser Steven Spielberg, bersama DreamWorks SKG dan Paramount Pictures, memperoleh hak Transformers pada 2004. Berselang satu tahun kemudian, Paramount Pictures berhasil menggandeng DreanWorks SKG setelah menggelontorkan dana 1,6 miliar dolar AS.

Transformers sendiri adalah nama merek dagang mainan produksi Hasbro dan serial kartun televisi yang sukses sekitar 1980-an. Setelah itu giliran sang sutradara Michael Bay yang bekerja. Keinginannya cuma satu. Dia ingin robot-robot itu terlihat amat asli. Bay berharap, robot-robot itu tampak menawan ketika terbang, bersembunyi dalam pasir, atau ketika berlari di jalanan.

Lantaran itulah Bay kerap mengembalikan robot-robot itu pada ILM (Industrial & Light Magic), perusahaan pembuat efek visual yang didirikan George Lucas. Bay terus mendesak agar robot-robot itu terlihat makin nyata, kian asli. Ketika robot-robot itu diciptakan secara digital, Bay memilih memakai tank dan pesawat asli ketimbang bersusah-susah memakai layar biru efek visual.

Padahal, tentu saja, perangkat militer itu tidak murah. Bahkan, boleh dibilang inilah koordinasi terbesar militer dan dunia layar lebar sepanjang masa. Bagi editor Paul Rubell, Transformers benar-benar milik Michael Bay. ”Banyak aksi, banyak karakter, banyak improvisasi humor, segudang efek visual, dan menghabiskan banyak waktu saat edit pertama,” ungkap Rubell. Sedangkan Glen Scantlebury, editor yang lain, bilang, ”Butuh banyak kekuatan untuk menghentikan imajinasi liar Michael Bay.”

Demi Bay dan robot-robot supercerdas itu, bagian art menghabiskan waktu setahun untuk membuat desain robot, set film, serta konsep efek visual agar lebih modern. Pengembangan konsep seni dan desain terus berlanjut sepanjang proses shooting hingga pascaproduksi.

Selama masa praproduksi, sang sutradara membentuk sendiri tim animator independen. Mereka inilah yang merancang banyak adegan pahlawan serta menyiapkan panduan untuk masa persiapan dan saat pengambilan gambar. Di akhir proses itu, beberapa adegan justru terlihat diambil sangat dekat dan beberapa juga muncul dari ide-ide spontan saat proses dan selama pascaproduksi.

Kehadiran efek visual yang menawan juga menjadi isu besar dalam Transformers. Sepanjang durasi film, setidaknya ada 630 adegan berefek visual. Namun, jangan mengira semuanya ini selesai dikerjakan oleh satu perusahaan saja. Bay lebih suka beberapa perusahaan yang menangani ratusan efek itu. ILM sempat mengeksekusi 430 adegan, 91 di Digital Domain, perusahaan komputer grafis pemenang Academy Awards; 70 di Asylum, dan sisanya ditangani 2D. Sementara sejumlah perbaikan dilakukan oleh CO3, ISolve, dan Ken Blackwell.

Lima editor
Proses editing Transformers juga terbilang menakjubkan. Demi menghasilkan efek menawan, mereka butuh lima editor sekaligus–tiga editor utama dan dua tambahan. ”Transformers memang butuh para editor dengan pengalaman dan kemampuan yang penting untuk merangkai aksi yang menegangkan, efek visual rumit, dan humor yang segar dalam cerita,” ujar Adam Goodman, kepala produksi DreamWorks.

Para editor Transformers adalah Rubell, Scantlebury, dan Muldoon. Sedangkan dua editor tambahan adalah John Murray dan Todd Miller, serta seorang associate editor, Ken Blackwell. Seluruh editor itu pernah bekerja sama dengan Bay dan punya pengalaman menangani efek visual secara intensif. Mereka sendiri punya cara masing-masing untuk menyelami ruh Transformers. ”Saya sempat menonton episode pertama film seri televisinya hanya untuk mendapat ‘napas’ film itu,” ujar Rubell.

Namun, Scantlebury punya pendapat berbeda. Dia justru enggan membandingkan dengan kisah robot itu di masa lalu. ”Film itu sangat hebat. Saya tidak perlu melihat kisah Transformers sebelumnya karena tak akan ada yang dapat membantu untuk mengedit film Michael Bay.” Rubell sendiri merasa inspirasi terbesar ketika mengedit film ini adalah film misteri klasik, Citizen Kane. ”Intinya adalah editing yang baik adalah editing yang baik, tak peduli apa genrenya,” ujar Rubell.

Maka, mereka pun bersiap untuk mentransformasi dunia ketika robot luar angkasa itu menjadikan Bumi sebagai kawasan tempur terakhir. Bagi para editor, ada satu hal yang bakal mengubah masa depan mereka di dunia layar lebar. ”Jika sebuah mesin bertransformasi menjadi robot editor, maka kami semua dalam bahaya,” ujar Scantlebury.

Sumber : www.republika.co.id

Kamulah Satu-satunya : Sebar Kuesioner untuk Akhir Cerita

Bayah adalah sebuah desa yang terletak di tepi pantai Palabuhanratu. Suasana nyaman khas pedesaan itulah yang membuat Hanung Bramantyo, sutradara Kamulah Satu-satunya, memilih Bayah sebagai lokasi pembuatan film tersebut.

Film produksi Oreima ini bercerita tentang usaha seorang gadis bernama Indah (Nirina Zubir) yang tinggal di Bayah untuk bertemu dengan grup band idolanya, Dewa. Dalam benak Hanung, keindahan pemandangan di sekitar Palabuhanratu dan ketenangan daerah tersebut menjadi poin lebih yang pas untuk ditampilkan.

Begitu shooting dimulai di sana, Hanung justru terkaget-kaget. ”Ternyata di Bayah, Palabuhanratu, masyarakatnya sudah banyak mengadopsi gaya-gaya orang kota,” papar dia.

Bahkan, masyarakat Bayah lebih suka memoles cat tembok berwarna-warni yang sangat mencolok untuk rumah mereka. Tentu saja, ini di luar perkiraan Hanung yang membayangkan warna rumah-rumah di Bayah masih senada dan sederhana.

Akibatnya, pria kelahiran Yogyakarta ini perlu benar-benar hati-hati mengambil sudut pengambilan gambar. Ia memilih gambar perumahan nelayan yang masih benar-benar asli. ”Dalam film ini saya ingin memperlihatkan dengan sangat jelas perbedaan kontras antara suasana kehidupan kota besar dan kehidupan di sebuah desa yang sangat tenang,” papar Hanung.

Sensasi visual memang menjadi salah satu hal yang ditonjolkan. Maka, dibuatlah suasana kontras antara situasi tenang pedesaan dengan pemandangan alam menawan menjadi suasana kasar, semrawut, dan memusingkan khas kota besar. Perpindahan itu terlihat jelas ketika Indah berusaha menemui band idolanya di Jakarta.

Karena alasan itu pula, film Kamulah Satu-satunya menggunakan dua jenis kamera, yaitu kamera film 35 milimeter dan kamera video HDV. Untuk menggambarkan kesemrawutan Jakarta, Hanung menggunakan kamera video HDV, sedangkan potret keindahan alam desa terekam lewat kamera 35 milimeter.

Untuk menambah suasana desa yang tenang dan bangunan yang terkesan asli, Hanung membangun setting sebuah warung makan yang menjual berbagai menu hasil laut. Warung tersebut dibuat dengan bahan yang hampir seluruhnya berasal dari bambu dengan atap berlapis daun-daun kelapa yang kering. Bangunan warung itu pun tidak terlalu besar, berukuran sekitar 5×5 meter.

Untuk setting rumah tempat tinggal Indah bersama kakeknya yang diperankan Didi Petet, tim produksi mengambil lokasi sebuah rumah asli penduduk yang masih berlantai tanah. Karena film bercerita tentang seorang penggemar setia Dewa, kamar Indah diberi berbagai aksesori grup band Dewa.

SMA di Depok
Status Indah sebagai pelajar sebuah SMU negeri di Bayah ternyata membawa permasalahan tersendiri. Di Bayah, ternyata hanya terdapat dua sekolah menengah atas. Dan, kedua sekolah tersebut, menurut Hanung, sudah tidak asli seperti sekolah di daerah pedesaan.

Untuk itu pengambilan gambar sekolah justru dilakukan di salah satu sekolah menengah atas di daerah Depok. ”Saya sengaja memilih sekolah itu karena sesuai dengan gambaran yang ada di benak saya,” papar sutradara yang sempat menyabet Piala Citra lewat film Brownies ini.

Penyesuaian skenario juga dilakukan ketika tim produksi menemukan bahwa para siswi di Bayah menggunakan jilbab saat sekolah. Sebenarnya, Indah sendiri tidak berjilbab, tapi berhubung beberapa adegan diambil saat menggunakan seragam maka Nirina tampil berjilbab.

Untuk pengambilan gambar konser Dewa, shooting dilakukan di sebuah kafe di bilangan Kemang, Jakarta Selatan. Dewa memang muncul secara khusus sebagai salah satu rangkaian cerita film. Tim produksi tidak terlalu banyak mengubah kafe, hanya memberi aksesori, baliho, serta poster Dewa.

Daniel Rahmad, produser eksekutif Kamulah Satu-satunya, bertutur bahwa dipilihnya Dewa sebagai tokoh panutan pada film ini karena Dewa dianggap sebagai salah satu band legendaris di Indonesia dan sudah cukup mengakar di benak orang Indonesia. ”Dan yang paling penting memiliki penggemar setia seperti Indah yang digambarkan dalam film ini,” lanjut dia. Proses shooting film ini berlangsung selama 19 hari dimulai pada pertengahan September 2006 lalu. Untuk naskah skenario yang telah jadi Maret 2006, diakui Daniel Rahmad, mengalami perubahan sekitar 14 kali. ”Perubahan pun masih terjadi seiring proses shooting. Itu hal biasa, asalkan tidak keluar dari cerita aslinya,” papar dia.

Sedangkan untuk menentukan akhir cerita, pihak produser sempat melakukan riset kepada anak-anak SMP, SMA, dan mahasiswa penggemar Dewa yang masing-masing sebanyak 20 orang. Produser memberi beberapa alternatif pilihan akhir cerita dalam bentuk kuesioner yang dibagikan kepada para responden penggemar Dewa itu. ”Sehingga akhir cerita dalam film ini sesuai dengan hasil kuesioner yang disebar dan tentu saja disesuaikan dengan keinginan sutradara serta tema skenario secara global,” kata Daniel.

Saat editing, durasi film yang semula 130 menit terpangkas hingga menjadi 90-95 menit. Hal itu, kata Daniel, disesuaikan dengan pilihan akhir cerita yang paling sesuai. Maklum saja, proses editing ini perlu mengundang pengisi kuesioner sebanyak lima kali termasuk dari kalangan pembuat film. Dan, akhirnya film yang menghabiskan dana sebesar Rp 7 miliar mencakup biaya pascaproduksi, editing, serta final preview di Thailand ini telah beredar di bioskop-bioskop pada 12 Juli.

Berjemur dan Lebih Gemuk Demi Indah
Demi menghayati peran sebagai Indah, seorang gadis desa yang tinggal di daerah pantai, Nirina perlu melalui proses yang tidak mudah. Proses pertama yang perlu dilakukan adalah dia harus menghitamkan badannya. Alhasil, beberapa hari selama proses shooting, Nirina berjemur di pantai. ”Aku berjemur saat istirahat siang. Yang lain pada enak makan siang, aku malah disuruh berjemur di pantai bareng Junior,” kata Nirina.

Sebenarnya, untuk menghitamkan tubuhnya, gadis yang biasa menyebut dirinya dengan Na itu diberi dua pilihan –menggunakan make up selama shooting atau berjemur. ”Saya lebih memilih yang natural karena saya nggak mau pliket di seluruh tubuh selama shooting,” katanya dengan tawa khas yang lepas.

Tak hanya itu, Nirina juga harus menambah berat tubuhnya sebanyak tujuh kilogram. Untuk itu dia selalu ngemil dan makan dengan porsi yang lebih banyak.

Bahkan, gadis yang fasih berbahasa Mandarin ini juga rela mengorbankan rambutnya untuk diberi warna cat rambut yang agak norak. ”Padahal, saat mulai shooting, rambutku sedang bagus-bagusnya habis digunting dan dicat dengan warna kesukaan,” katanya.

Meski begitu, semua proses itu dilakoni dengan senang hati. Bagi dia, inilah bagian dari pendalaman karakter dan konsekuensi menjadi pemain film. Maka, Nirina pun dengan besar hati menolak untuk tampil di publik selama proses shooting. Dia enggan membawakan acara atau tak mau pula walau hanya diwawancara oleh wartawan. Semuanya itu demi melekatkan karakter Indah.

Junior dan Sepeda Ontel
Bowo adalah sahabat Indah yang diam-diam jatuh cinta padanya. Sosok Bowo diperankan oleh Junior. Boleh dibilang Junior adalah pendatang baru di dunia layar lebar meski dia sempat tampil dalam sejumlah tayangan film televisi (FTV).

Lantaran menjadi ‘anak bawang’, Junior mengaku sering melakukan beberapa kesalahan teknis. Namun, hal itu dimaklumi oleh Hanung. ”Ada beberapa scene yang kurang fokus karena Junior sering melampaui titik fokus yang sudah kita tandai. Tapi, bukan masalah karena hanya sebagian kecil adegan. Itu pun hanya saat scene Junior,” ujar sutradara Hanung Bramantyo.

Salah satu hal yang membuat Junior terkesan adalah kehadiran sepeda yang kerap digunakan Bowo. Untuk memberi sentuhan humor pada film ini, tim kreatif menciptakan sebuah sepeda bermotor penggerak kecil yang selalu dikendarai Bowo. Sepeda itu menjadi alat untuk menciptakan adegan lucu di sekitar pasar, di depan warung Abah (kakek Indah), pantai, dan sekolah.

Untuk mengendarai sepeda tersebut, menurut Junior, menjadi pengalaman tak terlupakan. Ini karena sebagian besar adegan saat Junior mengendarai adalah adegan jatuh dari sepeda. ”Saya benar-benar harus jatuh berkali-kali saat menghentikan sepeda ontel bermotor ini. Benar-benar benda ajaib,” kata Junior.

Sumber : www.republika.co.id

Perjalanan 3 Wanita : Dialog Berlatar Hutan Bakau

Seruas jalan lengang yang terapit bentangan sawah di Tanara, Serang. Kelengangan pagi hari itu seketika pecah ketika dua mobil berjalan beriringan dalam kecepatan sedang.

Mobil pertama bergerak dengan bagasi terbuka dan menyembulkan kamera Mini DV Sony DSR VD 170. Kamera itu mengarah pada mobil kedua yang dikendarai tiga orang perempuan muda. Keduanya pun bergerak dengan saling menjaga kecepatan. Setelah berjalan sekitar 500 meter, adegan selesai. Tak ada pengambilan gambar ulang. Tiga perempuan itu pun tersenyum lebar.

Itulah sepenggal proses pengambilan gambar program Perjalanan 3 Wanita produksi stasiun televisi Trans TV untuk episode Syekh Nawawi Al-Bantani. Pagi itu, para kru yang berjumlah lebih dari 15 orang dibagi menjadi dua tim untuk membuat episode sosok ulama besar itu yang menurut sejarah lahir di Tanara.

Mereka bersama menuju ke lokasi yang sama. Setelah setengah jam perjalanan menuju Rangkas Bitung, Lebak, tim kedua termasuk tiga perempuan yang juga presenter acara –Rimma, Vidia, dan Salmah– menghentikan perjalanan. Tepatnya di Tanara, tempat asal Syekh Nawawi. Ketika itulah mereka sempat beberapa kali melakukan pengambilan gambar di berbagai tempat bersejarah yang terkait dengan Syekh Nawawi Al Bantani.

Adegan perjalanan di ruas jalan Tanara itu hanya sepenggal dari rangkaian episode tersebut. Ketika menemui tikungan, untuk menambah variasi gambar atau stock shoot, mobil jip yang memang dipilih sebagai mobil yang dikendarai oleh tiga wanita terpaksa berbalik arah. Mobil sengaja kembali ke titik sebelum tikungan untuk diambil gambarnya saat menikung.

Program Perjalanan 3 Wanita yang tayang tiap Selasa dan Rabu pukul 06.30 WIB itu sendiri bertutur tentang petualangan tiga perempuan ke berbagai tempat bersejarah yang terkait dengan dunia keislaman. Untuk tiap episodenya, tim produksi Perjalanan 3 Wanita memang menjadwalkan satu hari penuh. Proses shooting dimulai pagi hari dan selesai tepat saat adzan Maghrib berkumandang.

Yang menarik, mereka berusaha menampilkan kesan tertentu dalam setiap perjalanan. Seperti pada episode Syekh Yusuf Al-Makassari, sudut pengambilan gambar terfokus pada latar belakang hamparan laut. Dengan menyewa sebuah sebuah kapal nelayan ukuran sedang, ketiga presenter dan sekitar delapan kru pendukung ikut naik ke kapal.

Hampir setengah jam berlayar menggunakan perahu bermotor, dengan berlatar pohon-pohon bakau yang tumbuh di tepi laut, ketiga perempuan itu melanjutkan dialog mereka. Semula, mereka berencana berdialog di hutan bakau. ”Namun, karena kondisi tanah yang basah usai terguyur hujan dan rawan longsor, diputuskan pengambilan gambar dilakukan di atas kapal,” kata Agus Efriyanto, produser Perjalanan 3 Wanita.

Untuk mengilustrasikan situasi dan kondisi kehidupan seorang tokoh yang temanya diangkat, tim produksi Perjalanan 3 Wanita pun menghadirkan segmen yang disebut ‘pengadegan’. Dalam segmen itu, tampil beberapa karakter yang dibuat mirip dengan kondisi saat si tokoh hidup dalam bentuk ilustrasi gambar.

Karena dananya yang cukup terbatas untuk tiap episode tayangan, figuran-figuran yang memerankan tokoh saat segmen pengadegan berasal dari kru produksi sendiri. Mereka melakukan adegan dengan menggunakan kostum yang memang sudah disiapkan dari Jakarta.

Sementara, kostum yang dikenakan oleh ketiga perempuan presenter itu pada tiap episode disponsori oleh salah satu produsen pakaian dan perlengkapan bagi para petualang. Maklum, selain harus berada di laut maupun di tengah sawah, mereka terkadang juga melakukan pendakian di bukit-bukit sehingga pakaian pendukung pun harus sesuai dengan aktivitas mereka.

Dalam memproduksi tayangan ini, Trans TV juga menggandeng Kilik Entertainment sebagai tim penyusun skenario tayangan. Ini termasuk pemilihan lokasi setting yang menggambarkan perjalanan. Ali Taba, salah satu tim produksi dari Kilik Entertainment mengatakan, mereka harus melakukan survei lokasi seminggu sebelumnya ke tempat lokasi shooting. Untuk mempelajari sejarah perjalanan, mereka juga mencari sumber peta sejarah maupun peta arkeologi. ”Karena banyak tempat yang sudah berubah saat ini,” kata dia.

Sedangkan pihak Trans TV sebagai tim produksi bertugas melakukan pengambilan gambar dan juga mengatur akting para presenter. Saat ini program Perjalanan 3 Wanita masih berada di beberapa episode awal. Untuk perjalanan di Banten, mereka berhasil menyelesaikan empat episode baru.

Meski begitu, rating acara terbilang baik yang mencapai angka 11,9. Pencapaian yang lebih baik ketimbang episode perdana yang tercatat berkisar di angka 8,9. Bila rating terus meningkat, agaknya perjalanan ini tidak hanya merambah di sejumlah kawasan Tanah Air. Jejak sejarah keislaman di luar negeri pun bakal dijalani. ”Kalau ratingnya bagus, kami berencana ke Arab Saudi,” ujar Agus Efriyanto, sang produser yang biasa disapa Anto itu.

Sumber : www.republika.co.id

The Photograph : Ketika Kapal Tiba-tiba Melintas

Pertanyaan itulah yang menggelitik Nan T Achnas. Pertanyaan yang berawal ketika membesuk dosen sinematografi di Institut Kesenian Jakarta, Sutomo Gandar Suprapto, yang sedang sakit keras suatu ketika pada 1997.

Kepada Nan dan Paquita Widjaja yang juga menjenguknya, sang dosen berkata, ”Jika Tuhan memberi saya satu tahun lagi untuk hidup, saya ingin menyelesaikan buku saya tentang sinematografi untuk mahasiswa film.” Rupanya, inilah keinginan terakhir sang dosen. Keinginan itu pula yang menimbulkan inspirasi bagi Nan hingga tibalah dia pada ide cerita The Photograph.

Beberapa waktu berselang, Nan kembali melirik idenya yang tertunda. Nan membutuhkan waktu selama dua tahun untuk menyusun idenya untuk menjadi skenario. Selama penyusunan itu pula Nan harus melakukan revisi berulang kali. ”Sampai delapan draft skenario yang saya buat,” papar dia.

Dalam proses revisi itu pulalah Nan terkadang memasukkan atau justru menghapus karakter yang ia ciptakan. ”Memang itulah proses penyusunan skenario,” ungkapnya.

Pada 2002 Nan dibantu oleh Shanty Harmayn dan Paquita Widjaja mulai memperkenalkan skenario dan mulai mencari calon-calon pemeran dalam film ini.

Ketika berburu pemain, Nan kembali kesulitan. Maklum saja, dia harus menemukan pemain berwajah khas Tionghoa. Latar belakang kehidupan etnis Tionghoa pada film ini memaksa Nan mencari wajah oriental. ”Banyak yang mengikuti casting, mulai dari keturunan Tionghoa asli sampai keturunan yang ada di Indonesia tetap saja tidak dapat,” ujar dia.

Secara spesifik, Nan kesulitan mendapatkan karakter Johan. ”Kurang lebih satu tahun saya melakukan casting, tapi tetap tidak mendapatkan peran untuk Johan,” papar Nan.

Pencarian itu berakhir ketika Shanty Harmayn dan Paquita Widjaja sebagai produser menemui Lim Kay Tong, seorang guru teater dan aktor senior di Singapura, serta mengajaknya bergabung.

”Bekerja dengan Lim Kay Tong itu sangat mudah karena ia sudah sangat berpengalaman dan profesional. Lim Kay Tong sendiri adalah peranakan sehingga ia fasih berbahasa Melayu dan karenanya tidak ada kendala dalam dialog-dialog film,” papar Nan dalam rilis The Photograph.

Berburu dana
Yang menarik adalah sebelum film jadi, gaung The Photograph justru telah terdengar di luar negeri. Ini tak lain untuk urusan berburu dana. Nan Achnas yang menjadi sutradara film itu sengaja menjalin kerja sama dengan pihak organisasi film dari luar negeri untuk menyokong dana pembuatan film. Akhirnya, Nan mendapat aliran dana itu setelah mengikutkan naskah film The Photograph ke Festival Film Internasional pada tahun 2002. Prince Claus Fund (Cinemart) dan Goteborg Film Fund (Pusan) memberi dana untuk pengembangan skenario.

Lain lagi dengan urusan shooting. Proses ini baru dilakukan setelah The Photograph meraih penghargaan dan mendapatkan dana dari Fond Sud Prancis pada tahun 2005 dan Swiss Fund at Open Doors Locarno Film Festival tahun 2006.

Alhasil, proses shooting baru terlaksana pada November 2006 lalu. Selama 20 hari, film yang merupakan kerja sama antara Triximages, Salto Films, dan Les Petites Lumieres France melakukan proses pengambilan gambar di Semarang, Jawa Tengah,

Pilihan jatuh pada kota ini, kata Nan, lantaran banyak lokasi yang masih sangat asli menggambarkan kehidupan etnis Tionghoa. Selain itu, bujet yang dikeluarkan juga bisa lebih minim karena lokasi yang saling berdekatan untuk pengambilan gambar. Sekitar 40 kru film dari Jakarta diboyong ke kota ini.

Setiap hari proses pengambilan gambar berlangsung selama 18-20 jam. Ketika itulah berlangsung peristiwa yang tak akan dilupakan para pemain. Misalnya, saat pengambilan gambar kejar-kejaran antara Sita dan Suroso (Lukman Sardi). Untuk adegan itu, tim produksi harus menyewa sebuah lokomotif.

Bagi Nan, inilah pengambilan gambar yang paling berisiko. ”Untung Lukman cepat adaptasi dan bisa loncat dengan cepat jadi ia tidak terluka sedikit pun,” kata Nan. Pada adegan itu tidak diceritakan apakah Suroso meninggal terlindas kereta atau tetap hidup.

Pengulangan gambar yang unik dan mendadak pun sempat terjadi. Seperti diungkap Shanty, pemeran Sita, sebenarnya dalam skenario ketika adegan di dermaga di mana Sita ngobrol dengan Johan seharusnya ada kapal lewat. Namun, karena sulit menunggu kapal besar berpenumpang lewat, adegan lantas selesai dilakukan dengan latar belakang laut tanpa kapal. Ternyata, tiba-tiba ada kapal mendekat. Sontak, Nan meminta seluruh kru kembali bersiap untuk pengambilan gambar. ”Jadilah, scene itu berlatar pemandangan kapal lewat,” ujar Shanty.

Ketika akhirnya proses produksi tuntas dilakukan di Semarang, film ini tak lantas segera beres. Maklum saja, proses mixing final dan final paska laboratorium dilakukan di Prancis. Selanjutnya, film yang menelan biaya sekitar Rp 4,5 miliar ini akan beredar di bioskop tertentu mulai 5 Juli mendatang.

Balsem Cina di Rumah Tua
Sebuah rumah tua bernuansa Tionghoa di Pecinan, Semarang, menarik perhatian sang sutradara Nan T Achnas. Kebetulan rumah yang masih sesuai dengan bentuk aslinya sedang direnovasi oleh pemiliknya. Sontak, Nan meminta untuk menghentikan renovasi dengan alasan rumah itu akan digunakan sebagai tempat shooting. Beruntung, si pemilik setuju. Di tangan Men Fo, art director The Photograph, rumah kosong yang sangat tua itu disulap menjadi sebuah rumah yang lengkap dengan berbagai pernak-pernik bernuansa Tionghoa.

Men Fo sangat detail menentukan setting rumah ini. Mulai dari mebel, kaca, serta keramik Cina sehingga terlihat sangat kental menonjolkan atmosfer Tionghoa. Tak lupa balsem merek Cina pun hadir mewarnai salah satu adegan.

Untuk menimbulkan kesan rumah tua usang dan dihuni oleh orang tua, Menfo tak lupa menambahkan debu yang berserakan di seluruh ruang dan juga peti-peti berbahan logam yang ada di dalam ruangan tersebut. Ia memang sengaja menaburi debu-debu itu. Bahkan, debu pun bertaburan di sebuah pintu kaca untuk memasuki ruangan tersebut.

Barang-barang etnis Tionghoa didapat tim produksi film dari Pak Handoko, pengusaha barang-barang etnis Cina di Semarang. Menurut Nan, Handoko sangat kooperatif meminjamkan barang-barang koleksinya. Apalagi koleksinya dinilai Nan sangat lengkap.

Sita dan Shanty
Film The Photograph berkisah tentang seorang fotografer Tionghoa tua bernama Johan (Lim Kay Tong) yang ditinggal anak dan istrinya ketika mendekati ajal. Saat menikmati hari-hari terakhirnya, sang fotografer bertemu seorang penyanyi karaoke bernama Sita (Shanty) yang asli Jawa. Keduanya ternyata bisa berteman dan akhirnya saling membutuhkan.

Bagi Shanty, bermain dalam film ini merupakan pengalaman yang luar biasa. ”Sangat sulit menunjukkan sikap cinta atas dasar saling membutuhkan dan tidak ada kontak fisik sama sekali,” papar dia.

Untuk beradaptasi dengan lawan main lantaran tenggang waktu pertemuan dengan Lim terbilang singkat, Shanty melakukan siasat tersendiri. Di sela-sela shooting, Shanty sering mengobrol dengan Lim, baik saat makan malam maupun kesempatan lain saat proses reading atau pendalaman naskah skenario.

Bahasa yang berbeda juga tidak menjadi kendala buat Shanty. Kendati Lim adalah peranakan Melayu dan Tionghoa, tetap saja ia membutuhkan Shanty untuk memahami betul arti kata-kata dalam bahasa Indonesia.

Selama proses shooting, tak urung terjadi fragmen-fragmen menarik. Seperti pada sebuah adegan ketika Shanty harus menyendiri selama tiga hari, tanpa berhubungan sama sekali dengan orang lain. Demi menjiwai perannya, Shanty mengaku tidak mengaktifkan telepon selular, tidak menonton televisi, tidak berbicara dengan orang lain kecuali pada Nan, dan juga tidak membaca koran atau buku.

Pengasingan itu dilakukan saat akan melakukan adegan detik-detik kehilangan Johan dan ketika harus membuang abunya di laut. ”Air mata jatuh dengan sendirinya, seperti merasa benar-benar kehilangan orang yang saya sayangi karena kita bergantung dan membutuhkannya,” papar dia. Atau ketika Shanty harus berani menerima tantangan berkawan dengan debu dan kecoa selama shooting. ”Gue harus membunuh empat kecoa selama tampil dalam film itu. Ih geli, tapi gue lakoni karena tuntutan akting,” kata gadis berambut panjang ini.

Bahkan, penjiwaan yang mendalam terhadap film berdurasi 95 menit ini membuat Shanty sulit keluar dari karakter Sita sesudah proses shooting. ”Setibanya di Jakarta, gue kagum melihat gedung-gedung tinggi,” ungkap Shanty. Setelah satu bulan Shanty baru benar-benar bisa keluar dari karakter Sita.

Sumber : www.republika.co.id