Kolektor Brosur Mobil

Sejak kecil, Noor Satrio Hendratno telah ‘dekat’ dengan dunia otomotif. Seperti anak-anak lainnya, Satrio kerap mendapat mainan berupa mobil-mobilan. Saat itu juga Satrio telah gemar mengumpulkan mainan berupa miniatur atau replika mobil yang dibuat dari metal. ”Ketika itu masih berharga sekitar Rp 1.000,” kata pria asal Sleman, Yogyakarta, itu.

Bahkan, kedekatan itu kian lekat lantaran orangtuanya sempat memiliki usaha berupa bengkel mobil serta showroom motor Binter dan Vespa di Banjarnegara, Jawa Tengah, ketika dia masih duduk di bangku SD sekitar 1980-an.

Ketika itu kendati showroom motornya menyediakan banyak brosur mobil, Satrio belum terpikir untuk mulai mengoleksi brosur itu. ”Saya justru suka menggunting gambar-gambar mobil di koran, majalah, dan saya kliping,” ujarnya.

Hingga pada suatu ketika, dia tertarik untuk mengirimkan kupon permintaan brosur di satu majalah ke dealer Suzuki ketika akan meluncurkan Suzuki Carry 1.000 dengan rem booster di tahun 1986.

Selanjutnya, berselang setahun kemudian, Satrio pun mendapat kiriman brosur Citroen BX16 TRS dari dealer-nya di Semarang. ”Saya baru benar-benar serius koleksi sejak tahun 1991. Brosur yang saya dapatkan saat itu adalah Land Rover dan Mercy dari ATPM-nya di Indonesia,” ungkapnya.

Tak hanya dari dalam negeri, brosur mobil dari luar negeri pun didapatnya. Untuk kali pertama, Satrio memperoleh brosur Mercedes-Benz Jerman karena mereka merespon s dan membalas surat permintaannya. ”Mereka mengirim beberapa eksemplar brosur produknya terutama brosur Mercy 300 SEL yang digunakan sebagai mobil resmi KTT GNB 1992 ,” ujar pria berusia 32 tahun ini.

Secara perlahan, segala macam brosur, katalog, booklet, leaflet dari berbagai jenis mobil sedan, limosin, SUV, MPV, bus, truk, ambulans, mobil antipeluru , mobil balap dari berbagai merek telah menjadi koleksinya. Brosur mobil yang telah dia kumpulkan dan koleksi sampai saat ini berasal dari berbagai merek. Mulai dari mobil Eropa, Asia, Amerika; dari merek Mercedes-Benz, Lamborghini, Ferrari, Bentley, Porsche, Rolls Royce, Toyota, Daihatsu, Suzuki, Proton, Dacia, Mahindra, Tata, Auverland, dan lainnya. Belum termasuk brosur truk dan bus dari Mercy, Volvo, Scania, Setra, Evobus, Mitsubishi, Hino, Tata, JRD, serta Nissan-Diesel. Dari merek yang sudah dipasarkan di Indonesia hingga yang sama sekali belum masuk ke Indonesia.

”Saya berburu brosur tidak hanya dengan meminta ke ATPM, dealer, di pameran mobil atau berkirim surat atau lewat e-mail ke perusahaan mobil. Namun, saya juga berburu ke pasar buku bekas atau loakan,” kata dia.

Satrio, misalnya, pernah mendapatkan brosur Toyota Crown, Corona, dan Corolla tahun 1980-an di Pasar Johar, Semarang. Sedangkan di kota kecil Jombang, dia sempat mendapatkan brosur Mercy Tiger atau E-Class tahun 1970-1980-an.

Kemudian di pasar buku bekas Jalan Semarang, Surabaya, pria yang berwiraswasta ini sempat juga memperoleh brosur Mercy S-Class dan SEC tahun 1995. Bagi dia, ada daya tarik tersendiri dengan mengumpulkan brosur-brosur itu. ”Selain hobi, saya mengumpulkan brosur juga untuk mengisi waktu luang. Saya juga berharap dapat menambah wawasan perkembangan dunia otomotif yang selalu dinamis,” katanya.

Hingga saat ini, Satrio sendiri mengaku tidak pernah menghitung berapa banyak brosur yang telah dikoleksinya. Ini karena brosurnya sendiri dalam bentuk lembaran besar dan kecil, leaflet, booklet, bentuk buku yang bersampul tebal atau tipis dari beberapa negara. ”Yang pasti sejak tahun 1990-an sampai sekarang mungkin sekitar ratusan brosur,” ujarnya.

Terlebih selain brosur, dia juga mengumpulkan beberapa poster, kartu pos, serta cendera mata ATPM seperti kaos, topi, mug, stiker, pin, korek api, gantungan kunci, tas, dompet, atau dasi.

Untuk menunjang hobi tersebut, Satrio mengoleksi pula replika atau miniatur mobilnya. ”Namun, kebanyakan saya koleksi jenis mobil SUV dan yang paling saya favoritkan adalah replika Isuzu D-Max Rodeo LS yang saya beli dari Astra Isuzu ,” ungkapnya.

Uniknya, dengan ratusan brosur mobil miliknya, Satrio masih memendam keinginan lain. Inilah pengakuannya: ”Kendati koleksi brosur mobil saya sudah lumayan banyak, namun kebalikan dari hobi itu adalah sampai saat ini saya belum memiliki mobil yang sebenarnya. He, he.”

Hobi Murah Meriah
Untuk menekuni hobinya ini, Satrio tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Ini lantaran harga masing-masing brosur itu tidak mahal hanya berkisar Rp 5.000 hingga Rp 10 ribu saja. ”Yang terpenting bagi saya adalah nilai kelangkaan brosur itu dan mobilnya sendiri sudah tidak diproduksi lagi,” kata dia.

Bila mendapat tawaran brosur berharga mahal, Satrio tak bakal ragu menolaknya. Seperti ketika dia mendapat undangan untuk menghadiri bursa otomotif di Parkir Timur, Senayan, Jakarta, pada 2004 lalu. Saat itu ada sebuah gerai barang bekas yang berani menjual brosur Mercy Tiger seharga Rp 100 ribu per eksemplar.

Lantaran melihat ada beberapa brosur yang belum dimilikinya, Satrio mengaku tertarik untuk memborong. Namun, begitu melihat harganya, dia langsung mundur teratur. ”Saya urungkan setelah melihat harganya yang tidak sesuai dengan kantong saya. Biarpun hobi, tapi saya masih pakai perhitungan dan tidak terburu nafsu untuk mendapatkannya.

Mimpikan Perpustakaan Brosur
* Kiat merawat
Bagi Satrio, merawat koleksi brosur mobil tidak gampang. Karena negeri kita beriklim tropis, dia kerap mengalami masalah koleksi yang berjamur. Untuk merawatnya, dia mengatur seluruh koleksi dalam rak dan membungkus dengan plastik serta diberi kapur barus dan silica gel. Untuk brosur yang tipis-tipis atau lembaran, dia simpan dalam document keeper sehingga terlindung dari kotor, terlipat, atau kumal. Agar lembaran tidak lengket dan berjamur, terkadang koleksinya itu dibongkar. Bila tetap berjamur, cukup diusap dengan kain halus dan air hangat.

* Pengalaman unik
”Setiap kali berburu brosur ke perusahaan mobil, seringkali dikira tertarik dan akan membeli produk yang mereka jual. Karena itu ada yang menelepon saya baik dari perusahaan mobil di Indonesia atau perusahaan mobil dari luar negeri.

* Sendiri
Sekian lama mengoleksi brosur mobil, Satrio baru sekali bertemu dengan orang yang punya hobi serupa. ”Kami berteman baik hingga sekarang,” ujar dia.

* Sepi peminat
Di mata Satrio, tak banyak orang yang mau melakukan hobi ini karena mungkin dari segi ekonomis belum bisa menjanjikan. Namun, di beberapa negara sudah terbentuk komunitas kolektor literatur mobil. Bahkan, di internet seperti situs e-Bay bisa dijumpai brosur mobil tua sampai yang terbaru dijual dengan harga yang bervariasi tergantung pada kelangkaan atau melihat kondisi masing-masing brosur tersebut apakah masih mulus atau agak lusuh.

* Obsesi
Satrio bermimpi memiliki perpustakaan pribadi brosur-brosur mobil. ”Suatu saat ini bisa menjadi rujukan orang-orang yang membutuhkan riwayat atau sejarah mobil itu sendiri ,” kata Satrio.

Sumber : www.republika.co.id

Ditulis dalam Hobi & Habit. 2 Komentar »

Naik Sepeda Onthel Berwisata ke Masa Lalu

Saban Senin dan Jumat, Chandra Meizir (44 tahun) bagai memutar jarum jam sejarah. Pada hari-hari itulah –seperti Scott Bakula dalam serial televisi Quantum Leap– ia ‘melesat’ ke masa lampau, yakni ke Batavia tahun 1920-an. Dan, Chandra melakukannya lewat sepeda onthel. Inilah yang dilakoninya pada Senin dan Jumat pagi itu. Ia keluarkan sepeda onthel kesayangannya dari ruang tamu. Kemudian ia tanggalkan kemeja kantornya dan hanya memakai kaos oblong. Sebuah topi demang lantas ia pasangkan di kepala. Hmmm, mirip sudah ia dengan meneer-meneer zaman Belanda.

Sang sepeda kuno itu pun mulai mengukur jalan. Dari rumahnya di bilangan Kuningan, Jaksel, Chandra pun meluncur hingga ke kantornya di daerah Pasar Minggu di atas sepeda Gazelle buatan Belanda tahun 1920. Begitulah cara ia ‘berwisata’ ke masa lalu.

Nah, di tengah hiruk-pikuk kemacetan Ibu Kota, Chandra dan sepeda ‘Oemar Bakri’-nya kontan menyajikan pemandangan yang kontras. Tak sedikit yang lantas mengacungkan jempol kepadanya. Chandra membalasnya dengan senyum. Kalau sudah begitu, kata Chandra,”Rasanya bangga banget.” ”Kawas bule, euy (seperti orang bule). Meneer, meneer,” begitu Ricky Hilmansyah Wijaya (31 tahun) menirukan sapaan orang-orang di jalan, setiap kali ia menggelosor di atas sepeda onthelnya di jalanan kota Bandung. Ricky memakai baju khas demang saat itu. Lengkap dengan jasnya.

Di rumahnya, ia memiliki tujuh unit sepeda lawas itu. Salah satunya adalah merek Veeno keluaran tahun 1836 buatan Belanda. Ia juga memarkirkan Gazelle, Philip, Cicloid, Hercules, Magneet, atau Simplex. Inilah sepeda-sepeda generasi pertama yang masuk ke Indonesia. Sejak dibuat kali pertama pada 1971 di Prancis, sepeda bermigrasi ke Nusantara baru pada 1910-an. Pemerintah kolonial menamakannya Fiets. Namun, lidah orang Jawa menyebutnya pit.

Lantas mengapa dinamai onthel? Onthel adalah bahasa Belanda yang berarti mengayuh. Jadi, sepeda onthel adalah sepeda kayuh (sebab saat ditemukan di Eropa, sepeda belumlah memakai pedal dan berbahan kayu). Chandra dan Ricky adalah segelintir dari ribuan penggila sepeda onthel di negeri ini –para penggila masa lalu. Dan, Imam Hartoyo adalah salah satunya. Pria usia 50 tahun ini adalah salah satu pendiri Prima Onthel Club (POC), yakni sebuah perkumpulan sepeda onthel di Bekasi yang diawaki 70-an orang. Kebanyakan anggota POC adalah bapak-bapak paruh baya –dari pimpinan partai politik, manajer, lurah, hingga pengusaha yang supersibuk. Nah, kata Imam, alasan mereka berkecimpung di komunitas ini, cukup sederhana. ”Mereka ingin mendobrak kebosanan setelah bekerja dari Senin hingga Jumat,” tuturnya. Lebih dari itu, mereka sesungguhnya mencoba keluar dari irama kehidupan modern yang sesak. Naik sepeda onthel, tambah Imam, ”Seolah membawa kita kembali ke kehidupan zaman dahulu yang tenteram, dan damai. Paling tidak, kita bisa tebar senyum, deh,” ia tersenyum kecil.

Para bapak ini lantas berwisata ke masa lalu dengan cara yang semarak. Tak hanya naik sepeda onthel, lusinan anggota POC sepakat untuk mengenakan pakaian para meneer atau demang zaman Belanda saat berkumpul. Atau memakai pakaian dinas upacara (PDU), yang lazim dipakai para pejabat pada masa kolonial.

Soal pakaian, Chandra Meizir tak ketinggalan. Pendiri Komunitas Onthel Batavia (KOBA) ini tak pernah bosan mengenakan pakaian favoritnya saat ngumpul bareng dengan para ‘onthelis’ se-Jakarta. Pakaian favorit Chandra? Seragam kebesaran almarhum Bung Karno, plus peci di kepalanya. Chandra amat pas dalam pakaian itu. Ia sepintas amat mirip Bung Karno. Karena itulah ia sempat didapuk naik mobil Bung Karno betulan pada napak tilas HUT RI ke-60.

Di Bandung, para anggota Paguyuban Sepeda Baheula (PSB) juga berwisata ke masa lalu lewat pakaian ‘jadul’. Saban hari Ahad mereka berkumpul di depan Gedung Sate, Bandung. Dari 70-an yang hadir, lebih dari separuhnya mengenakan pelbagai pakaian zaman baheula seperti seragam ‘kompeni’, tentara Jepang, pakaian meneer Belanda, atau pakaian kampret khas Priangan. Alhasil, ”Orang-orang pernah berebut sekadar ingin foto-foto dengan kita,” kata Ricky Hilmansyah, pimpinan PSB.

Pulang Bersama dengan Truk
Ada ribuan penggemar sepeda onthel di negeri ini. Mereka tergabung di puluhan klub sepeda onthel yang tertebar dari Jakarta hingga Pasuruan. Saat peringatan Bandung Lautan Api (BLA) pada Maret 2007 silam menjadi hajatan besar para penggemar sepeda onthel Tanah Air.

Nyaris seribu ‘onthelis’ dari Bandung, Jakarta, Surabaya, hingga Lombok, berkumpul di lapangan Tegalega, Bandung. Mereka melakukan pawai hingga ke Kota Parahyangan, Padalarang, dalam aneka pakaian ‘jadul’. ”Heboh banget,” kata Ricky. ”Jalanan sampai macet.”

Dimulai di Yogyakarta, dan mulai menjamur pada 2000-an, komunitas sepeda onthel kini telah menjadi kekuatan yang terorganisasi rapi. Di tingkat nasional, puluhan klub sepeda onthel ini tergabung dalam Komunitas Sepeda Tua Indonesa (KOSTI). Persaudaraan antarklub lumayan kuat. Ini misalnya ditunjukkan oleh tur-tur bersama yang diikuti berbagai klub seperti peringatan BLA 2007 atau Jambore Nasional yang diadakan di Surabaya beberapa waktu lalu, meski hanya diikuti sedikit peserta.

Ada satu kesamaan di antara komunitas yang jumlahnya puluhan ini. Nyaris dipastikan mereka selalu menggelar acara kumpul rutin saban akhir pekan. KOBA, misalnya, yang beranggotakan 265 orang, getol menghelat kongkow-kongkow di sekitar bundaran Hotel Indonesia setiap hari Ahad pukul 07.00 hingga 08.30 WIB.

Ada saja anggota yang mengenakan seragam ‘kompeni’. Atau kostum daerah yang nyentrik seperti pakaian Madura, blangkon, hingga koteka. Sepanjang 1,5 hingga 1 jam mereka lantas mengarahkan setirnya ke tempat-tempat bersejarah, dari Monas hingga ke Gedung Arsip Nasional. Di Bandung, PSB rutin ngumpul di Gedung Sate pada Ahad sejak pukul 08.00 pagi. Juga dengan kostum ‘jadul’. Mulai pukul 10.00-an, kata Ricky, sekitar 80-an sepeda onthel mulai bergerak meramaikan kota Bandung yang asri. Yang dilakoni para ‘onthelis’ PSB ini cukup unik: Sembari konvoi, mereka mencabuti poster-poster di sepanjang jalan. Poster-poster ini kerap menjadi pemandangan yang mengotori tembok kota. ”Kita juga menurunkan spanduk-spanduk yang sudah habis masa berlakunya,” ujar Ricky. ”Ini kegiatan positif. Hitung-hitung membantu pemda.”

Di tengah kesenjangan sosial yang menganga, sepeda onthel menjadi sarana mengembalikan para penggemarnya ke titik nol. Persamaan dan persaudaraan menjadi kata kunci. Ketika seseorang sudah naik sepeda onthel,”Maka semua status dan jabatan di kantor ditanggalkan,” kata Imam Hartoyo. ”Kita semua sama. Kita ingin senang-senang.”

Anggota komunitas sepeda onthel ini memang berasal dari beragam profesi dan usia. KOBA, misalnya, diawaki oleh pengacara, dokter, hingga tukang teh botol. Sementara POC dianggotai calon wali kota hingga ibu-ibu rumah tangga. PSB, klub yang beranggotakan 240 orang ini, bahkan diawaki ‘onthelis’ usia 8 tahun hingga 87 tahun. Meski beranggotakan orang dengan pelbagai status sosial,”Kita selalu kompak. Sehabis tur, kita harus pulang bersama. Naik truk!” begitu kata Imam.

Kisah ‘Penggali Kuburan’
Sejak menikah beberapa tahun lalu, Ricky Hilmansyah kini masih tinggal bersama mertuanya di pusat kota Bandung. Alih-alih menabung untuk membeli rumah sendiri, Ricky lebih rela menggelontorkan duit hingga Rp 45 juta untuk memborong tujuh sepeda onthel. ”Istri saya mendukung kok,” kata dia sembari tertawa kecil.

Hobi memang selalu memiliki logikanya sendiri. Alasan Chandra Meizir kesengsem sepeda onthel terwakili pada empat kata –nilai historis yang tinggi. ”Coba hitung, berapa ribu kilometer yang sudah ditempuh sepeda ini. Atau berapa puluh orang yang naik di atas sadelnya. Buat saya, ini memberikan sensasi tersendiri,” tutur dia.

Jatuh hati pada onthel pada 2004, Chandra kini memiliki 16 koleksi sepeda onthel. Saking sayangnya, Chandra memarkirkan tiga unit sepeda onthelnya di ruang tamu. Para tamu yang bersambang ke rumah Chandra di bilangan Kuningan, Jaksel, karenanya, sekaligus disuguhkan ‘pameran’ sepeda-sepeda ‘jadul’.

Toh, kenikmatan berkecimpung di hobi sepeda onthel telah dimulai bahkan sejak masa perburuan barang-barang lawas itu. Nah, Chandra punya cerita unik soal itu. Ia pernah ‘membongkar kuburan’ sebuah sepeda onthel! Ceritanya begini. Seorang informan memberitahu soal keberadaan sebuah onthel kuno di bilangan Mampang, Jaksel. Sayangnya, sepeda klasik ini sudah terkubur di dalam tanah selama puluhan tahun. Chandra penasaran.

Ketika disambangi, sang empunya sepeda setuju membongkar kuburan sepedanya. Dengan satu syarat. ”Sepeda ini dihargai satu juta rupiah,” ia menirukan. Maka penggalian pun dimulai. Akhir cerita, sepeda berhasil diangkat dari kedalaman dua atau tiga meter. Yang muncul adalah sepeda Gazelle buatan Belanda tahun 1927. ”Kabarnya, sepeda ini sudah tertimbun tanah selama lima kali musim banjir!,” kata dia antusias.

Padahal, kalau mau jujur, sepeda-sepeda itu tak lebih batangan besi tua. Umurnya sekitar 80 tahunan hingga 100-an tahun. Tetapi, sebagai besi tua,”Ini bukan sembarang besi. Kualitasnya yahud,” kata Imam Hartoyo. Orang Eropa zaman dahulu, kata Imam, betul-betul apik dalam membuat sepeda. Sepeda-sepeda itu, sudah dipersiapkan untuk hidup selama puluhan tahun. ”Coba saja. Sepeda saya ini usianya sudah lebih dari setengah abad, tapi amat nyaman saat dipakai,” kata dia.

Inilah keajaiban sepeda onthel. Meski ia adalah kumpulan batangan besi, bahkan beratnya mencapai 25 hingga 30 kilogram, ”Ketika dinaiki kok rasanya ringan dan nyaman,” kata Ricky. Ia membuktikannya dengan bersepeda onthel dari Bandung ke Cirebon selama 13 jam bersama 23 anggota PSB lain.

Lagi-lagi, logika tak selamanya punya tempat dalam urusan hobi. Segepok duit tak mampu meluluhkan kecintaan Ricky pada sepeda Veeno miliknya. Padahal, tak sedikit yang membujuk Ricky untuk melepas sepeda buatan Belanda tahun 1836 itu. Terakhir ada yang menawar Rp 10 juta. Tapi, Ricky tetap emoh, meski ia cuma merogoh beberapa ratus ribu saja saat membelinya.

Malah, Ricky mengaku tak kepikiran melego satu pun dari tujuh koleksi sepedanya itu. Maklum, ketujuh sepedanya adalah hasil mengobok-obok ke berbagai kota. Bahkan hingga ke Surabaya, Malang, atau Pekalongan. ”Saya sampai pernah menggedor toko orang di Pekalongan untuk cari onderdil, ha ha.”

Sumber : www.republika.co.id

Ditulis dalam Hobi & Habit. 1 Komentar »

Komunitas Backpacker : Untuk Indonesia, Surga Wisata

Adakah buku panduan wisata setebal Lonely Planet Indonesia? Bagi Aris Yanto, jawabannya adalah tidak ada. Setebal 2.000-an halaman, Aris yakin inilah travel guide book paling tebal yang pernah ada. Dan, kata dia, hanya satu alasan mengapa buku itu amat tebal. ”Indonesia memang surga tempat wisata,” kata dia. ”Bahkan yang terbanyak di dunia.”

Bandingkan dengan buku Lonely Planet milik Malaysia, Singapura, atau Brunei. Tebalnya paling-paling 200-an halaman saja. Hanya India, kata Aris, yang mampu menyaingi Indonesia dalam jumlah tempat wisata. Saking banyaknya tempat wisata di Indonesia, ”Kalau kita kunjungi, itu enggak bakal ada selesai-selesainya,” seloroh dia.

Bayangkan, ada 50 taman nasional di Indonesia dan 200-an gunung berapi. Uniknya, gunung berapi ini menjadi jualan yang laku di luar negeri. Kantor-kantor biro wisata di Jerman dan Inggris menawarkan paket gunung berapi Indonesia untuk konsumen mereka. Tapi di Indonesia, pesona gunung vulkanis atau kerimbunan taman nasional, belumlah menjadi magnet.

Inilah ironinya. Orang Indonesia banyak yang tidak tahu tempat wisata di negerinya sendiri. ”Orang bertanya di mana Kepulauan Karimun? Mereka pikir itu berada di dekat Singapura. Tidak. Wisata laut ini ada di utara Jawa, di dekat Semarang,” tuturnya. Asal tahu, kata Aris, panorama laut di Kepulauan Karimun lebih baik ketimbang Bunaken. ”Tetapi, orang banyak yang tidak tahu kan?” cetusnya lagi.

Atau Taman Nasional Tanjung Puting, misalnya. ”Apa itu terdengar akrab di telinga kita?” tanya Aris. Atau Pulau Komodo di Flores. Pulau yang menyimpan makhluk purba ini justru menjadi komoditas bernilai tinggi di luar negeri. ”Orang asing justru lebih familiar dengan Pulau Komodo ketimbang orang Indonesia sendiri. Orang Indonesia lebih tahu dan lebih suka Singapura!” katanya.

Kondisi inilah yang mendorong Aris dan kedua rekannya mendirikan komunitas on-line indobackpacker pada 2004 silam. Ini adalah kumpulan para backpacker yang bermarkas di www.indobackpacker.com. Pendirian komunitas ini ditujukan untuk menyuguhkan info tentang pariwisata di Indonesia. Mengapa backpacker? Backpacker berasal dari kata backpack atau tas punggung atau ransel. Backpacker adalah orang-orang yang pergi berjalan-jalan mengenakan ransel, bukan koper. ”Para backpacker juga pergi memakai angkot,” kata dia sembari tertawa kecil.

Pada mulanya mimpi Aris sederhana. Ia hanya ingin membuat situs untuk memajang catatan perjalanan (adventure) sehingga bisa dikonsumsi banyak orang. Tahun pertama, artikel yang masuk hanya 30-an naskah dan merangkak ke angka 250-an artikel. Kini, situs dan milis indobackpacker telah menjadi lahan yang cukup menarik untuk dikunjungi. Sudah 521 ribu orang yang mengunjunginya sejak didirikan tiga tahun silam. Maklum, situs dan milis ini menjadi terminal bagi para pemburu wisata. Bahkan, untuk sekadar menanyakan hotel yang pas untuk menginap di sebuah tempat.

Situs indobackpacker pada dasarnya menyodorkan informasi tentang pelbagai tempat wisata di Indonesia. Juga, cerita di balik tempat-tempat tersebut yang dilaporkan oleh para penulisnya. Misalnya, artikel berjudul Nias, Jejak Budaya Megalit di Nusantara, Singgah Semalam di Taman Nasional Kelimutu, Sangiran : Pabrik Fosil Kelas Dunia, atau Situs Muara Jambi, Jejak Peradaban di Tepi Batanghari, dan lain-lain. Siapa pun bisa menjadi penulis di situs ini. Keleluasaan dan keterbukaan adalah ciri utama dari komunitas on-line ini. ”Yang penting info pariwisata bisa menyebar. Itu intinya,” kata dia.

Lewat komunitas ini, Aris dan kawan-kawan juga ingin menumbuhkan jiwa backpacker di antara para petualang pemula. Sekaligus menciptakan backpacker baru. ”Itu yang selalu kita dengung-dengungkan,” kata Erwin Yulianto, anggota komunitas yang lain. Menurut Erwin, tak semua anggota komunitas indobackpacker mengerti tentang dunia backpacking dan menyukainya. Di komunitas ini, mereka saling mendukung dan menularkan ilmu. Bagi Aris, jiwa backpacker perlu ditumbuhkan. ”Karena dengan cara inilah seseorang akan lebih mengenal lingkungan tempat tinggalnya,” kata dia.

Sumber : www.republika.co.id

Musik yang Mendamaikan

Lagu Stairway to Heaven Deep Purple melengking dari senar biola Tedi Pangestu (7 tahun) dan Muhamad Ramli (10 tahun). Asyik nian si kecil Ramli. Matanya menerawang ke mana-mana. Sementara tangannya bergerak lincah merayapi gagang biola bak musisi profesional. Untuk bocah seusianya, Ramli termasuk pebiola yang lumayan piawai.

Mereka, Tedi dan Ramli, adalah dua dari 18 para pebiola cilik yang tergabung dalam Sanggar Merah Putih. Mereka adalah generasi ketiga dari tradisi bermusik di Taman Harapan, Cawang –sebuah tradisi yang telah dimulai sejak 1950-an. Inilah mimpi mereka. ”Saya pingin jadi pemusik. Ingin punya album,” kata Tedi, bocah kelas 3 SD, yang belajar otodidak main biola sejak umur 5 tahun.

Sanggar ini terbentuk Agustus dua tahun silam, secara tak sengaja. Mulanya para bocah ini cuma doyan memperhatikan Budi Yuntono menggesek biola di teras rumahnya. Lalu mereka tergoda ingin menjajal. ”Om pegang dong,” kata Tono menirukan. Tapi lantas mereka ketagihan. ”Ya sudah saja ajari sekalian,” lanjutnya.

Jadilah Tono guru bagi mereka. Tanpa bayaran. Tono bahkan yang menyediakan biola-biolanya sekaligus. Jadwal latihannya pun semaunya. Tapi, mereka anak-anak cerdas. ”Sepuluh kali datang, ya, sudah bisalah,” katanya. Tono membuktikan bahwa tidak punya alat musik, bukan berarti tidak bisa main musik.

Sanggar ini terbuka buat siapa pun. Dari 18 anggota Sanggar Merah Putih, beberapa di antaranya adalah anak-anak putus sekolah dan yatim piatu. Salah seorang anggota sanggar ini adalah Bimo, bocah sebatang kara asal Bandung yang mengadu nasib ke Jakarta sepeninggal ayahnya. ”Bimo masih mengamen di bus,” kata seorang anggota Sanggar Merah Putih. ”Dia kayaknya enggak bisa datang ke sini. Lagi ‘perang’,” lanjutnya. Istilah ‘perang’ dipakai untuk mengistilahkan kegiatan ‘mengamen’. Sebuah istilah yang mereka pelajari dari senior-seniornya.

Sanggar ini mulanya hanya mengisi acara-acara kecil seperti acara kawinan, wisuda anak SMP dan SMA, atau acara 17 Agustusan. Toh, seiring dengan waktu, bukan cuma panggung sederhana saja yang ditapaki anak-anak ABG ini. Mereka pernah manggung bersama band Kerispatih pada hari ulang tahun Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Senayan, Jakarta. Dan, jika tak ada aral, November mendatang bakal menjadi penampilan Sanggar Merah Putih paling prestisius. Mereka berencana tampil di Taman Ismail Marzuki. ”Statusnya sedikit meningkatlah,” kata Iskandar, koordinator humas Sanggar Merah Putih.

Dan, musik telah mengubah wajah kampung Taman Harapan, Cawang. Dahulu, cerita Bo Gusti, kampung ini dikenal sebagai sarangnya anak-anak yang doyan tawuran. Tapi, kesibukan bermusik mampu menghadirkan energi baru dan membuat para anak muda di kampung ini terlibat dalam kegiatan yang lebih berbudaya. ”Lumayan meredam,” kata Bo. Kelak, Sanggar Merah Putih ini bisa berperan bagai katup pengaman bagi anak-anak yang beranjak ABG itu.

Sumber : www.republika.co.id

Ditulis dalam Hobi & Habit. 1 Komentar »

Veri, Si Pelukis Lilin

Segalanya bermula dari jongkok dan mendongak di WC kamar kos. Sebelas tahun silam, Veri Apriyanto (33 tahun) tak pernah menduga bahwa aktivitas rutin itulah yang kelak mengantarkannya menjadi Veri saat ini. Seorang pelukis lilin (/candle painter/) ternama, jika tidak satu-satunya di negeri ini.

Orang menjulukinya Veri ‘Candle’. Tapi kemudian nama itu kerap dipelesetkan menjadi ‘Very Candle’ (baca : sangat lilin). Toh, pelesetan itu tak benar-benar keliru. Di kediamannya di Gang H Koweng, Jl Legoso, Ciputat, Jaksel, Veri tinggal dalam impitan ‘dinding lilin’. Ya, dinding rumahnya dijejali lebih dari 30 lukisan berbahan lilin.

Ada lukisan kupu-kupu, lukisan Candi Borobudur, Candi Prambanan, lukisan penari bali, bunga-bungaan, gunung es, kawanan burung, waktu senja, wajah Soeharto dan duit lima puluh ribu, atau lukisan daging ayam segar. Lukisan-lukisan ini kebanyakan bertekstur menonjol. Ada pula lukisan yang dikombinasikan dengan replika tiga dimensi seperti lukisan daging ayam segar. Yang jelas, lukisan-lukisan lilin ini takkan mencair asalkan tidak diterpa suhu di atas 60 derajat Celcius.

Kendati sempat vakum beberapa lama dan kembali sibuk berlilin ria pada 2003, sudah ada 70 lukisan lilin tercipta dari tangan dinginnya sejak saat itu. Separuhnya ia jual, separuhnya ia koleksi. Sebelum vakum, beberapa kali Veri menggelar pameran tunggal lukisan lilin sejak 1998 antara lain di Pusat Kebudayaan Jepang, Hotel Hilton, Jakarta, dan wanawisata Tanah Tingal, Tangerang. Ia juga pernah diundang ke luar negeri yakni ke Yunani, Prancis, AS, atau Australia. Namun, rencana itu ia urungkan lantaran panitia tak menanggung akomodasi.

Yang jelas,”Ketika kembali dari Bali ke Bandung pada 2001 saya sempat bingung bagaimana mencari makan. Kemudian saya kembali menekuni lukisan lilin pada 2003. Dan, kini saya bisa makan,” kata bujang asal Kuningan, Jabar, itu saat ditemui Republika Senin (22/8) lalu. Wajar saja. Satu lukisan lilin Veri ukuran sedang (80×60 cm) bisa laku Rp 3,4 juta sampai Rp 4 juta, sementara ukuran besar (80×120 cm) bisa Rp 7 juta – Rp 10 juta (ukuran 80×120 cm). Veri malah pernah menjual sembilan lukisan lilin bergambar wayang seharga masing-masing Rp 12 juta. Kini, Veri menyimpan mimpinya. ”Saya ingin membangun museum lilin Indonesia,” kata dia.

Museum lilin Madame Tussaud menjadi inspirasi terbesar Veri. Museum yang terdapat di Eropa, Amerika Serikat, dan Hong Kong (Asia) itu menyimpan ratusan patung lilin para tokoh-tokoh dunia. Nah, andai museum lilin Indonesia terwujud, maka yang bakal dipamerkan di situ adalah tokoh-tokoh asal Indonesia saja.

Yang tak kalah unik, museum lilin Indonesia rencananya juga bakal mereplika makanan-makanan khas Nusantara dari Sabang sampai Merauke. Sebut saja pempek palembang, gudeg yogya, sate madura, tahu gejrot cirebon, atau pecel bandung. Semuanya bakal diduplikasi dalam bentuk lilin.

Museum lilin itu rencananya merupakan bagian dari wisata lilin Indonesia yang diimpi-impikan Veri. ”Kelak wisata unik juga bakal menyuguhkan sekolah lilin, candle art-shop, dan galeri. Para pengunjung juga bisa menyaksikan proses pembuatan lukisan dan replika lilin dari A sampai Z sebab lokasi work-shop dibangun dengan konsep open production,” ujar Veri. Semoga.

Sumber : www.republika.co.id

Ditulis dalam Hobi & Habit. 1 Komentar »

Mengamati Burung, Memelihara Alam

Wajah Aan berseri. Dengan mata berbinar, dia bertutur tentang ‘pertemuannya’ dengan si cabe lombok. ”Wah, kalau bisa mengamati burung endemik (langka) cabe lombok, itu merupakan kebanggaan tersendiri, karena hanya ada di Bali dan Lombok. Saya sendiri pernah melihat burung endemik cabe lombok,” ujar dia.

Dwi Nugraha Setyawati tak kalah bersemangat. ”Burung bentet kelabu itu bentuknya seperti lolipop, ekornya panjang, dan suaranya indah,” kata Atik, panggilan akrab Dwi Nugraha Setyawati. Topik tentang burung agaknya dapat membawa keduanya terus berceloteh. Kekaguman pada dunia satwa satu ini kian membuncah ketika mereka ‘berburu’ untuk mengamati burung-burung.

Mengamati? Ya, mereka ini adalah para anggota kelompok studi burung Bionic yang merupakan kepanjangan dari Biology UNY Ornithology Club. Semula, kebersamaan para mahasiswa Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta ini berawal dari hobi dan kecintaan yang sama, yaitu mengamati burung di alam atau bird watching. Namun, belakangan kecintaan ini ‘menular’ pada rekan yang lain dari jurusan berbeda hingga Bionic pun berdiri pada 25 Desember 2004. Mereka bersatu demi kecintaan serupa, yaitu mengamati burung.

”Kegiatan mengamati burung di alam yang kami lakukan selayaknya pemburu. Namun, bila pemburu berburu menggunakan senapan, kami berburu menggunakan teropong. Bila pemburu berburu burung untuk membunuh, kami berburu burung dalam rangka memeliharanya di alam,” tutur Imam Taufiqurrahman, salah seorang pendiri Bionic. Pagi hari adalah waktu yang tepat untuk memulai aktivitas mengamati burung. Menurut mereka, inilah saatnya burung-burung itu bergerak amat aktif.

Yang menarik, Fianika Yuniasari yang juga menjabat sebagai bendahara Bionic itu mengaku sempat tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika mengamati burung-burung itu. ”Awalnya, saya hanya diajak teman untuk mengamati burung dan tidak tahu mau ngapain. Ternyata setelah bisa mengamati burung di alam, menyenangkan sekali. Saya pun merasa menjadi lebih dekat dan peduli dengan alam,” katanya.

Atik juga mengaku ikut-ikutan teman. ”Tetapi setelah bisa mengamati burung, asyik rasanya. Burungnya lucu-lucu,” kata dia. Setiap dua bulan sekali kelompok Bionic mengadakan ‘Mersi’ atau mersani peksi yang dapat diartikan sebagai aktivitas pengamatan burung yang rutin dilakukan. Pegunungan, hutan, dan pantai adalah sejumlah kawasan yang kerap dipakai untuk mengamati berbagai habitat burung yang ada.

Tak cuma mengamati burung, Bionic juga melakukan riset ornitologi, pendidikan lingkungan, serta kampanye pelestarian burung dan habitatnya. Aksi ini dapat dilakukan secara independen maupun dengan bergabung bersama organisasi sejenis.

Di usianya yang memasuki tahun ketiga ini, anggota Bionic telah mencapai 34 orang. Agar komunikasi sesama anggota juga dengan alumni tetap lancar, mereka membuka milis dan situs www.bionic.xlphp.net serta menerbitkan secara berkala buletin bernama Kicau. Saat ini sudah ada delapan anggota Bionic yang telah menjadi ‘alumni’. Beberapa di antaranya menjadi guru dan satu orang saat ini bekerja di lembaga konservasi burung dalam kegiatan penelitian mengenai kasus flu burung.

Sepanjang masa itulah, prestasi demi prestasi mereka raih. Bionic kerap meraih gelar juara dalam sejumlah lomba di antaranya gelar Juara Harapan II pada lomba pengamatan burung yang diadakan oleh Bioexplorer-Universitas Soedirman di Baturaden, Gunung Slamet, pada 2005, serta Juara I lomba yang diadakan oleh Bio Bird Club Universitas Nasional di Puncak, Bogor.

Di bulan Januari 2007, Bionic menyabet gelar sebagai tim terfavorit dalam lomba pengamatan burung tingkat nasional yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Biologi Universitas Padjadjaran di Panaruban, Gunung Tangkubanperahu.

Bagi mereka, keasyikan menikmati tingkah laku burung-burung itu tak akan tergantikan. Bahkan, ada ‘gairah’ tersendiri di balik itu. Seperti diungkap Aan, ”Seiring bertambahnya list burung endemik, tingkat kesenioran akan naik. Banyak yang bersedia membayar mahal untuk bisa melihat burung endemik.”

Sumber : www.republika.co.id

Ditulis dalam Hobi & Habit. 1 Komentar »

Adenium, Sang Pelipur Lara

Semua berawal dari rasa sepi. H Arizal Bahar, manager operasional Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Pelabuhan Gilimanuk, Bali, terpaksa berpisah dengan keluarga lantaran bertugas di Bali.

Di tempat tugasnya, Arizal tidak ditemani istri dan anak-anaknya. Sang istri, Rusmiati, adalah seorang guru yang bertugas di Lampung Selatan. Begitu pula empat orang anaknya, semuanya bersekolah di provinsi yang letaknya paling selatan dari Pulau Sumatra. Bila harus memboyong keluarga dan pindah ke Bali, Arizal dan istri merasa ini membutuhkan proses yang cukup lama.

Akhirnya, Arizal memilih bertugas tanpa membawa keluarga. Bahkan, lantaran menjadi ‘bujangan’ itu pula, Arizal lebih suka tinggal di kantor dengan menjadikan salah satu ruangan kantornya menjadi kamar tidur. Ini berarti dia berada di kantor selama 24 jam.

Maka, demi mengisi waktu luang dan mengobati rasa rindu pada keluarga, Arizal melirik adenium. Dia pun memilih menanam adenium di halaman kantor ASDP Gilimanuk. Rasa bosan akibat terus-menerus berada di kantor berhasil dialihkan Arizal untuk merawat adenium miliknya.

Bagi dia, adenium adalah tanaman yang tak merepotkan karena penanganannya cukup mudah dan biaya yang dikeluarkan tidak besar. Selain itu, merawat tanaman yang berasal dari Afrika dan Arab ini memerlukan perasaan yang halus. Lantaran dalam hal-hal tertentu, adenium memiliki karakteristik seperti manusia.

Rupanya, adenium berhasil memikat hati laki-laki kelahiran Padang Panjang, Sumatra Barat, pada 1 November 1956 ini. ”Awalnya hanya untuk mengisi waktu senggang, tapi sekarang jadi hobi juga,” kata Arizal. Berkat tangan dingin Arizal, adenium pun tumbuh subur dan menyegarkan mata. Suasana kantor Arizal terasa lebih sejuk dan nyaman. Tidak heran, kalau tanaman adenium milik Arizal, kemudian memberikan banyak inspirasi untuk penataan kawasan Pelabuhan Gilimanuk.

Pelabuhan yang sangat sibuk itu, kini kelihatan lebih rapi, bersih, dan yang paling penting tertib dan aman. Bila Anda pernah menyeberang ke Pulau Jawa dari Pelabuhan Gilimanuk, Bali, sempatkan untuk menemukan puluhan adenium atau yang biasa disebut dengan tanaman bunga jepun di halaman kantor ASDP tersebut. Tak aneh bila dari penataan-penataan yang dilakukan di Gilimanuk, pelabuhan itu mendapatkan berbagai penghargaan.

Sejak Arizal mengendalikan Pelabuhan Gilimanuk pada 2004, pelabuhan tersebut menjadi juara pelayanan publik dari Menteri Perhubungan tiga kali berturut-turut sejak 2005. Berselang satu tahun kemudian, ISSO 9001-2000 berhasil pula diraih. Tak hanya itu, tanaman bunga itu juga menjadi juara dalam lomba keindahan tanaman adenium yang digelar dalam rangkaian perayaan HUT Bhayangkari ke-61 Kabupaten Jembrana beberapa waktu lalu.

Berkat sukses menyabet penghargaan, adenium yang semula dibeli seharga ribuan rupiah, kini ditawar orang mencapai Rp 2,5 juta per pohon. Saat ini koleksi pria yang juga gemar memelihara burung ini telah mencapai 42 pohon. Kini, bagi Arizal, adenium tak lagi sekadar hobi. Untuk mengembangkan tanaman ini, dia akan mengajak masyarakat Gilimanuk untuk ikut menanam adenium.

Bila kelak pindah tugas, Arizal sendiri tak terbayang akan diapakan adenium-adenium itu. Yang pasti, dia akan terus menambah koleksinya. Apalagi, adenium lebih dari sekadar tanaman untuk Arizal. Adenium juga pelipur laranya. ”Saya senang yang sejuk-sejuk dan adenium memberikan inspirasi untuk melahirkan kesejukan itu,” kata dia.

Sumber : www.republika.co.id

Mobil Unik ‘Ganyang Malaysia’

”Mobil ini menghidupkannya pakai koin, ya?” celetuk seorang teman kepada Iskandar Wahid (47). Yang ditanya cuma cengar-cengir. Maklum, mobil Iskandar yang satu ini bentuknya seperti mobil mainan. Tapi, jangan keliru, ini mobil betulan lho. Malah, mobil ini sebetulnya adalah kendaraan perang tahun 1960-an!

Namanya cukup panjang dan terdengar unik: Puch Steur Haflinger. Bacanya bisa dibolak-balik. Atau bisa juga memanggilnya Puch saja, Steur saja, atau Haflinger saja. Ini bukan sembarang mobil. Sebab mobil bikinan Austria tahun 1960 itu punya julukan khusus: Mobil ‘ganyang Malaysia’. ”Mobil ini didatangkan khusus dari Austria saat Indonesia berkonfrontasi dengan Malaysia dasawarsa 1960-an,” kata Iskandar.

Kabarnya, mobil yang kini bercat kuning ini merupakan pesanan Angkatan Laut (AL) saat itu. Diduga, kendaraan tersebut hanya digunakan untuk mengangkut penumpang saat pertempuran, bukan beroperasi di dalam air, meski terdapat propeler (baling-baling) di dalam mesinnya. Masih misteri berapa unit mobil jenis Puch yang didatangkan dari Austria ke perbatasan utara Kalimantan tahun 1960-an.

Bahwa mobil Puch merupakan pesanan khusus Indonesia, tak perlu diragukan lagi. Lihat saja panel-panel yang ada di dashboard mobil ini. Semuanya menggunakan bahasa Indonesia. Dalam panel spesifikasi, misalnya, tertulis: Ketjepatan maksimum. Memasukkan : tarik. Melabaskan : tekan. Benar-benar memakai ejaan yang belum disempurnakan. ”Sekarang semua mobil kan sudah pakai bahasa Inggris,” kata Iskandar. ”Ini edisi khusus yang jumlahnya terbatas,” ungkapnya lagi. Dua unit mobil Puch diparkir di garasi rumah Iskandar di komplek Bumi Karang Indah, Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Mobil langka ini dimiliki Iskandar sejak 10 tahun silam dan selalu menjadi pemandangan menarik bagi siapa pun yang melintas garasi rumahnya yang terletak di hook. Sepintas mobil ini terlihat seperti katak.

Serbamungil
Ukuran mobil ini terhitung mungil. Panjangnya sekitar 2,5 meter, lebar 1,2 meter, dan tinggi dari tanah 1,7 meter. Jangan keliru, ”Minggu lalu saya memboyong sembilan orang pakai mobil ini. Plus dua unit biola. Sesak-sesakan, tapi bisa lho,” kata Iskandar Wahid yang sudah 22 tahun berprofesi sebagai arsitek.

Semuanya serbamungil di mobil ini. Knalpotnya mungil dengan diameter satu inci. Juga empat jok yang terpasang di depan dan belakang. Demikian pula lampu bagian depan dan belakang. Meski mungil, suara yang keluar dari mesin mobil ini jauh dari mungil. Suaranya amat berisik, malah seperti mesin jahit! Ini pantas membikin orang menoleh jika sang Puch melintas.

Namun, bukan suara keras yang membikin mobil ini menarik perhatian. Tentu saja karena bentuknya yang lain daripada yang lain. Iskandar bahkan berani bilang,”Kalau di jalan mobil ini sebelah-sebelahan dengan Mercedes Benz terbaru. Saya berani jamin orang masih lebih doyan melirik yang ini. Mereka pada gemes sih ha ha.”

Anak-anak kecil justru yang paling suka. Mereka biasanya tertawa-tawa kalau melihat mobil ini. ”Kalau sudah begitu, wah, saya senangnya bukan main,” kata Iskandar lagi.

Kru Republika sempat menjajal naik mobil ini lantas berputar di sekitar Lebak Bulus. Sensasinya memang berbeda. Nyaris setiap orang menatap ke arah mobil unik ini. Tapi, Iskandar mengingatkan,”Oke-oke saja dilihatin banyak orang. Tapi enggak boleh riya lho,” tutur Iskandar yang low profile itu. Tak sedikit orang yang mengajak Iskandar kenalan saat ia memarkirkan mobilnya. Mereka cukup penasaran soal mobil antik itu. Suatu waktu Iskandar hendak makan soto di bilangan Cilandak, Jaksel.

Seorang pensiunan TNI-AL tiba-tiba menghampiri dia. Orang ini mengajaknya ngobrol-ngobrol sambil bernostalgia. ”Saya dahulu naik mobil ini, Mas, sewaktu perang melawan Malaysia di Kalimantan,” Iskandar menirukan. Malah, pernah ada orang yang tiba-tiba menyetopnya Iskandar di jalan. Orang itu juga pensiunan TNI-AL. Repot-repot menghentikan Iskandar, orang ini cuma ingin mengatakan bahwa mobil jenis inilah yang ia operasikan saat bertempur di Kalimantan. Oh la la, dari merekalah Iskandar tahu soal sejarah mobil kesayangannya.

‘Pantas Jadi Bapak Saya’
Sebenarnya, sejak 1983 Iskandar telah memiliki Puch. Ketika itu ia masih menjadi mahasiswa Jurusan Arsitektur di Universitas Indonesia (UI). Seorang teman rela melego mobil antik itu yang kebetulan tidak dipakai. Harganya saat itu Rp 150 ribu, tapi kondisinya off the roadalias mogok. Saat diutak-atik dan tak kunjung hidup, Iskandar mulai bete. Mobil langka itu pun ia diamkan saja di garasi, tapi entah mengapa ia jual lagi. ”Bayangkan, mobil itu saya kilo ke tukang besi!” kata Iskandar yang tak ingat berapa duit yang ia peroleh saat itu.

Tiba-tiba Iskandar mendadak menyesal. ”Kok saya bodoh banget ya,” ia mengutuki kelancangannya sendiri. Ketika lulus dari UI tahun 1987, mobil antik itu terus terbayang-bayang di benaknya. Sampai-sampai ia bertekad, kalau ketemu mobil seperti itu lagi,”Gue pasti bakal langsung beli deh,” tutur dia.

Lantas ia mulai menjelajahi bengkel-bengkel tua dan bengkel militer di seantero Jakarta hingga ke Bogor. Hasilnya nihil. Baru 10 tahun kemudian Iskandar menemuinya. Ini setelah ia iseng-iseng membaca rubrik iklan baris sebuah koran lokal dan mendapati seseorang melego mobil Puch Steur Haflinger.

Bingo! Tanpa ba bi bu, Iskandar langsung meluncur menemui sang penjual. Dalam tempo singkat ia sudah membawa pulang mobil Puch berwarna hijau itu dengan harga Rp 19 juta. Dua tahun kemudian, ketika sedang berjalan-jalan di bilangan Bintaro, secara tak sengaja Iskandar melihat bangkai mobil Puch teronggok di garasi sebuah rumah. Tanpa berpikir dua kali, Iskandar langsung menghampiri empunya rumah dan bertanya,”Apa mobilnya dijual, Pak?”

Saat itu kondisi mobil lumayan memprihatinkan. Bannya sudah sobek-sobek, tubuhnya berkarat di sana-sini, mesinnya pun teronggok di tanah. Tapi, Iskandar tak peduli. Ia pun langsung menderek mobil rongsokan itu ke rumahnya. Duit Rp 10 juta ia sodorkan kepada sang empunya mobil.

Jika kini mobil Puch miliknya terlihat kinclong, itu bukan tanpa perjuangan. Iskandar bersusah payah membangun kembali mobil rongsokan ini. Lantaran kondisinya parah, mobil ini sempat mendekam di bengkel lebih dari setengah tahun pada 1998. Total jenderal, duit yang ia gelontorkan untuk mempercantik mobil ini mencapai Rp 20 juta. ”Kebetulan sedang punya rezeki, Mas,” tutur pria kelahiran Padang, Sumatra Barat ini.

Persoalannya, ujar dia, tidak mudah memperoleh suku cadang atau aksesori mobil ‘jadul’ alias zaman dahulu itu. Untuk mendapatkan empat ban yang kini terpasang di mobilnya ini, misalnya, Iskandar harus melanglang buana ke Solo. Ia membelinya dari sebuah toko yang menjual ban traktor. Hanya ban traktor berukuran 13 inilah yang pas dengan setelan mobil Iskandar.

Persoalan lainnya, tak semua bengkel mau mengurusi mobil old-crack model begini. Seorang montir bengkel malah sempat berseloroh,”Wah, mobil ini pantasnya jadi bapak saya, Mas. Abis sudah tua banget sih ha ha ha.”

Selorohan serupa muncul ketika ia mendaftarkan STNK ke Polda Metro Jaya. Maklum, usia mobil ini sudah 47 tahun. Kecuali spion, penutup kanvas, dan sweeper, seluruh komponen mobil ini masih orisinal.

‘Koboi’ Kesepian
Sepuluh tahun sudah Iskandar menyetir mobil Puch. Dua kali seminggu ia mengeluarkan mobil perangnya dari kandang lantas berkeliling Jakarta, Sawangan, atau Bekasi. Tapi, sepanjang itu pula Iskandar belum sekali pun berpapasan dengan mobil serupa. Padahal, inilah momen yang paling ia tunggu-tunggu. ”Kalau ada yang punya mobil kayak begini ketemu di jalan, saya pasti akan saya kejar dia. Terus kenalan,” tutur dia.

Ya, Iskandar merasa seperti seorang lone ranger alias koboi yang kesepian. Ia memimpikan punya teman-teman ’senasib’. ”Saya punya mimpi mendirikan komunitas pemilik mobil Puch,” tutur dia. Sayangnya, itu sulit bukan main.

Iskandar sudah berkali-kali berhubungan telepon dengan sejumlah orang yang mengaku memiliki mobil Puch di Jakarta dan Bandung. Namun, saban ia mengajak ngumpul, mereka selalu saja ogah. Iskandar pun menduga, jangan-jangan cuma dia yang punya mobil Puch dalam kondisi normal. ”Mobil-mobil lainnya kemungkinan mogok,” kata dia.

Terlebih, agak sulit melacak keberadaan mobil jenis ini di Indonesia. Mobil tempur ini memang terbilang langka. Ketika Iskandar mendaftarkan mobilnya ke ajang Indonesia Classic Car Show Juni 2007 lalu, seorang panitia sempat terkejut. Orang ini barangkali tahu banyak soal keunikan dan kelangkaan mobil Puch. Sayangnya, Iskandar terlambat mendaftarkan mobilnya. ”Untuk tahun depan saja, Pak,” sang panitia menjanjikan.

Bagi sebagian orang, keunikan dan kelangkaan mobil ini malah bisa membuat ‘gelap mata’. Seorang penggemar, cerita Iskandar, ada yang ngebet untuk membeli ban Puch orisinal miliknya. Padahal, berkali-kali Iskandar mengingatkan bahwa ban tersebut sudah sobek-sobek. Tapi, orang ini tetap ngotot.

Bukan sekali dua kali mobil Puch-nya ditawar orang. Dua turis berkewarganegaraan Jerman dan Austria bahkan sempat menyambangi rumahnya untuk menengok koleksi Puch-nya. Mereka sempat terkejut sebab salah satu mobil Puch milik Iskandar menggunakan mesin VW. ”Saya bilang, orang Indonesia jago akal-akalan,” kata dia.

Namun, ujung-ujungnya mereka menawar mobil Puch-nya Rp 75 juta. ”Enggak saya kasih,” ujar Iskandar. ”Mobil ini enggak ada harganya,” seru dia sembari menunjuk mobil antik berwarna kuningnya itu. Tentu saja Iskandar sedang bercanda.

Lincah dan Irit
* Seirit motor
Bentuknya yang mungil, semungil konsumsi bensinnya. Mobil ini memiliki kapasitas tangki 20 liter. Iskandar pun menyambangi SPBU paling-paling sebulan sekali. Maklum mobil ini amat irit, bisa satu liter bensin untuk 15-18 kilometer ”Seirit motor,” kata dia.

* Jagonya parkir
Mobil ini memiliki radius roda yang kecil. Ia bisa berputar 180 derajat tanpa harus bersusah payah membanting setir. Belokan rodanya amat dalam. Jadi, untuk urusan parkir, tentu tak ada masalah.

* Biar lambat asal selamat
Berkapasitas 700 cc, laju mobil ini paling tinggi 80 km per jam. Meski demikian, tarikan mobil mungil ini masih tokcer. ”Saya keluar masuk jalan tol pakai mobil ini,” kata Iskandar. ”Belum lama saya mengajak ketemuan orang di tol Cipularang malah,” tambahnya.

* Antiselip
Namanya, juga mobil tempur. Produsen di Austria sudah mendesain mobil ini supaya bisa mengarungi segala medan, terutama di daerah pantai. Wajar jika mobil ini dijamin antiselip. Sebab,”Ia menggunakan four-wheel drive,” kata Iskandar lagi.

* Melucuti pintu
Tak keliru jika dibilang mobil ini mirip mainan. Ketika sesi foto-foto, Iskandar bertanya pada Republika,”Apa pintu mobilnya mau dibuka saja?” Dikira cuma dibuka-tutup biasa, eh, tahu-tahu Iskandar sudah melucuti pintu-pintu mobil Puch-nya dan menaruhnya ke tanah dalam hitungan detik.

Sumber : www.republika.co.id

Ditulis dalam Hobi & Habit. 1 Komentar »

Bus yang Kutunggu

Jika ditanya apa cita-cita Deddy Ariawan (24 tahun) saat kecil, ia akan menjawab enteng,”Jadi sOpir bus.” Ia tak sedang bercanda. Beranjak remaja, Deddy tetap memendam keinginan berkiprah di dunia per-bus-an. Tapi, sedikit lebih maju,”Saya kepingin jadi pengusaha bus,” kata dia.

Kecintaan pada bus ibarat sihir bagi Deddy. Inilah yang mendorong bujangan yang tinggal di Probolinggo, Jawa Timur, itu hijrah ke Jakarta saat lulus SMA pada 2001. Di kota ini ia mendaftar di Universitas Trisakti. Bidang studi yang diambil bisa ditebak –jurusan transportasi darat. Deddy menekuninya di Sekolah Tinggi Manajemen Transportasi Trisakti. Bidang studi inilah yang memungkinkan Deddy bergelut serius dengan bus –angkutan darat berbadan besar yang telah membaut hatinya sejak bocah. Suhargo Gentur (30) punya cerita sendiri. Saat itu pertengahan 2002.

Kecintaan pada bus membikin pria yang akrab disapa Gentur ini ‘nekat’ menyeberang ke Denpasar, Bali. Gentur baru merampungkan perjalanan dinas di Makassar, Sulsel, bersama kawan-kawan kantornya. Tak seperti rekan-rekannya, Gentur ogah pulang langsung ke Jakarta. Ia mengubah jadwal tiket pesawatnya dan terbang ke Denpasar lalu menyeberang ke Surabaya.

Orang kebanyakan bakal memilih naik pesawat dari Surabaya ke Jakarta lantaran waktu tempuhnya cuma dua jam. Tapi, itulah Gentur. Ia memilih naik bus. Padahal, lihat saja, Gentur harus menghabiskan waktu 24 jam hingga tiba di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta. Duduk berjam-jam di bus,”Justru itulah momen yang saya cari-cari,” ujar dia sembari tertawa kecil. Jelas, entur dan Deddy sama-sama punya hobi langka, yakni doyan naik bus. Kesamaan hobi inilah yang membuat keduanya sepakat, pada 3 April 2007 lalu, mendirikan sebuah komunitas bagi para pencinta bus yang jumlahnya diduga cukup banyak di negeri ini namun tak terwadahi.

Bus Mania. Inilah nama komunitas unik itu. Orang awam barangkali bingung,”Kok bisa ada orang-orang yang begitu fanatik naik bus seperti kita-kita,” kata Gentur. Buktinya, sudah ada 100-an orang yang bergabung perkumpulan ini sejak didirikan empat bulan silam. Inilah komunitas pertama, dan satu-satunya, yang mewadahi para pencinta bus di Indonesia. Aneh? ”Kita memang orang-orang edan kok ha ha ha,” kali ini Gentur tertawa lebar.

Awalnya, adalah celoteh-celoteh pada sebuah blog. Syahdan, seorang konsumen bus, Anjar Prihandoyo, jengkel lantaran bus yang ditumpanginya memberi servis asal-asalan. Iseng-iseng Anjar curhat di blog pribadinya. Eh, tak disangka banyak yang ikut nimbrung di situ. Sekitar selusinan orang mengomentari kisah Anjar. Dari yang berkata ketus,”Enggak usah naik bus lagi,” hingga yang memberi tips-tips memilih perusahaan bus bonafide.

Perbincangan malah melebar. Bahkan, mulai menyerempet ke masalah-masalah teknis yang tidak semua orang paham, kecuali para pemerhati bus. ‘Polemik’ di blog Anjar inilah yang menarik perhatian Gentur. Ia menduga banyak orang yang sebetulnya pengamat sejati bus. Gentur melihat ini sebuah kesempatan.

Sudah sejak lama Gentur memendam keinginan mencari ‘kawan senasib’. Ia sempat mengobok-obok internet. Siapa tahu ada komunitas para pencinta bus. Tapi, hasilnya nihil. Malah ia dibikin kian ngiler ketika mendapati bahwa di luar negeri komunitas bus mania sudah berjamuran seperti di Brasil, Amerika Serikat, bahkan Malaysia. Mereka terdiri dari komunitas konsumen bus, sopir, bahkan mekanik bus.

Tanpa menunggu lama, Gentur pun mengajak para komentator di blog untuk bersatu. ”Saya tuliskan nomor ponsel saya sekalian,” tuturnya. Tak lama kemudian sepotong SMS mampir ke telepon genggamnya. Dari Deddy Ariawan, seorang penggandrung bus, yang mahasiswa STMT Trisakti. Keduanya sepakat ketemuan dan ngobrol hingga larut malam. Tentu saja, soal bus.

Pertemuan kecil itu berujung pada ide menciptakan sebuah mailing list busmania@yahoo.groups.com setelah seorang bus mania asal Surabaya, Benny, membakar semangat mereka. Tanggal itu akhirnya diperingati sebagai hari jadi komunitas Bus Mania. Jumlah anggota beringsut lamban, cuma lima orang dalam sepekan. Meski baru secuil, hasrat pada anggota untuk bertemu muka terbilang kuat.

Selang tiga pekan kemudian mereka pun menggelar ‘kopi darat’ pertama. Jumlah yang berkumpul cuma empat orang. Lokasi? Namanya saja para penggandrung bus. ”Kita pilih terminal bus,” kata Deddy. Mereka berkumpul di Terminal Rawamangun, Jaktim, untuk kemudian nongkrong di mal. Beberapa minggu kemudian, setelah jumlah anggota kian banyak, mereka berkumpul lagi. Bedanya, mereka balik lagi ke terminal bus usai nongkrong di mal. Para calo bus pun bertanya,”Mau ke mana, Mas?” Mereka jawab,”Cuma mau lihat-lihat bus, Pak.” Jawaban yang aneh bagi para calo.

Sumber : www.republika.co.id

Ditulis dalam Hobi & Habit. 7 Komentar »

Dunia Numismatik Merdy

”Itu tanda tangan asli,” kata Merdy K Batangaris (59 tahun) sembari memperlihatkan selembar uang kertas Rp 50 ribu yang dibubuhi tanda tangan mantan Presiden Soeharto. ”Cuma ada sepuluh lembar yang kayak begini di Indonesia,” sambung dia sembari tersenyum kecil. Merdy lantas memasukkan kembali pecahan Rp 50 ribu itu ke dalam sebuah amplop biru. Dengan ekstra hati-hati.

Tangannya lantas bergerak cekatan menguras isi lemari di pojok ruang tamu rumahnya. Kali ini ia menyodorkan tiga jilid album foto. Album tebal itu tak berisi foto, tapi lagi-lagi lembaran duit. Pecahan Rp 50 ribu tadi, nyatanya, cuma satu dari sekitar 1000-an koleksi duit kertas Merdy yang tersimpan apik dalam enam jilid album.

Ini adalah koleksi-koleksi uang kertas lintas zaman. Uang-uang ini berasal dari periode Hindia Belanda hingga dasawarsa 1990-an dan sebagian merupakan koleksi langka. Ini juga koleksi-koleksi uang kertas lintas negara. Uang-uang ini adalah mata uang dari seluruh negara di lima benua, dari Kenya di Afrika hingga Papua Nugini di Asia Tenggara. Merdy mengumpulkannya dalam kurun waktu 40 tahun.

Bukan cuma uang kertas, Merdy juga mengoleksi uang koin. Jumlahnya kurang lebih sama, sekitar 1.000-an koin. Pria kelahiran Bukit Tinggi, Sumbar, tahun 1948 itu menyimpan koin Hindia Belanda Halve Duken Zeeland tahun 1791 berbahan tembaga. Juga koin-koin abad 18 hingga abad 20 dari berbagai penjuru dunia, terutama negara Eropa.

Termasuk yang disimpan apik dalam album tadi adalah surat-surat berharga kuno. Salah satunya adalah selembar surat bermaterai dari zaman Kesultanan Moghul India tahun 1664. Atau selembar surat saham sejumlah Rp 1 juta pada 1957 milik perusahaan pembuat emas Belanda V.Olislaegeryang yang amat terkenal di Batavia saat itu.

Merdy juga mengantongi tak kurang 40 tanda jasa (kebanyakan militer) dari Indonesia maupun mancanegara. Salah satu yang berasal dari Eropa adalah tanda jasa zaman Nazi Jerman yang diberikan Hitler kepada prajurit pemberani saat Perang Dunia II.

Selamat datang di dunia numismatik Merdy K Batangaris,…
Numismatik? Ya, ini adalah semacam ilmu atau kajian tentang uang kertas, koin, surat-surat berharga, atau bintang tanda jasa. Merdy boleh dibilang seorang numismatikus langka. Disebut langka sebab ia sudi membeberkan koleksi-koleksinya. Kebanyakan numismatikus berkarakter individualis, tertutup dan, dalam kadar tertentu, nyentrik. Mereka enggan diketahui punya koleksi-koleksi unik.

Apa arti selembar uang kedaluwarsa? Bagi kebanyakan orang barangkali cuma kertas tanpa faedah, bahkan sampah. Tapi bagi Merdy, dan para numismatikus, itu adalah harta yang patut diburu. Dunia numismatik memang memiliki logikanya sendiri. Secara sederhana, kata Merdy, menarik tidaknya selembar uang dapat ditinjau dari tingkat kelangkaan, umur, kualitas cetak, sistem keamanan, desain gambar, atau sejarah uang tersebut.

Uang kertas Hindia Belanda keluaran tahun 1938 edisi wayang dinilai Merdy sebagai uang terbaik yang pernah ada di Indonesia. Dicetak di Belanda, uang kertas berwarna ungu ini memiliki desain gambar yang amat artistik, kualitas cetakan yang sempurna, gambar air (water mark) yang begitu kentara, sistem pengaman yang mutakhir di zamannya, dan langka. Ada tulisan De Javasche Bank-Betaalt Aan Toonder di permukaannya.

Merdy punya beberapa lembar uang Hindia Belanda edisi wayang. Angka nominalnya cuma Rp 50 setiap lembar. Mau tahu berapa Merdy pernah melego salah satu koleksi edisi wayangnya? Rp 15 juta selembar! Atau 300 ribu kali lipat. ”Semakin tua, langka, atau historis, maka nilainya makin terdongkrak,” kata dosen mata kuliah sejarah kebudayaan dan kesenian Indonesia pada dua universitas swasta top di Jakarta itu.

Nilai artistik uang adalah satu hal. Masih banyak lain hal yang ternyata tak kalah ampuh mendongkrak keistimewaan uang kertas. Selembar uang, misalnya, akan bernilai lebih tinggi jika kita juga memiliki specimen-nya sekaligus. Specimen adalah uang sampel yang hanya secara khusus diberikan Bank Indonesia kepada kantor cabang. Mengantongi uang specimen menandakan bahwa kita memiliki akses ke bank, bahwa kita adalah kolektor hebat.

Uang kertas yang belum dipotong (uncut) juga dipastikan bakal melonjak nilainya. Di antara jenis uncut yang dimiliki Merdy adalah uang kertas 10 dolar Australia berbahan plastik yang bergambar penduduk Aborigin. Ada empat uang uncut dalam satu lembar besar kertas uang. Koleksi lain yang ia punyai adalah dua uang kertas Kanada uncut senilai masing-masing dua dolar. Nilai uang uncut, kata Merdy, bisa 10 kali lipat dari nominal yang tertera.

Nilai historis juga menjadi pertimbangan penting. Salah satu koleksi yang lumayan diburu adalah uang kertas Rp 500 seri banteng yang ditandatangani Syafruddin Prawiranegara pada 1957. Uang ini sempat dicetak, tapi kemudian batal beredar atas perintah Presiden Soekarno lantaran Syafrudin terlibat pemberontakan PRRI-Semesta. Uang itu praktis menjadi barang eksklusif yang diincar hingga kini. Merdy memiliki beberapa lembar uang edisi ini.

Sebagai kolektor serius, Merdy sebetulnya tak doyan melego koleksi-koleksinya. ”Kecuali kalau lagi bokek dan ada kolektor ‘gila’ yang mau beli dengan harga mahal ha ha ha,” kata bapak dua putra ini. Seperti ketika dia pernah menjual sebuah koin emas 25 tahun Indonesia Merdeka seharga Rp 15 juta atau bintang tanda jasa Nazi Jerman seharga Rp 2 juta.

Jika dilihat sebagai bentuk investasi, koleksi uang kuno adalah investasi yang lumayan menjanjikan. Ini relatif lebih baik ketimbang tingkat apresiasi bank. Barangkali perbandingannya adalah perangko. Kenaikan harga perangko, kata Merdy, adalah sekitar 20 persen per tahun, seperti halnya uang-uang kuno ini.

Namun, duit yang diperoleh dari melego koleksi-koleksinya kebanyakan dibelanjakan untuk membeli koleksi lain lagi. Atau dipakai untuk menutup pengeluaran dari pembelian koleksi sebelumnya. Bukan untuk foya-foya. Pada prinsipnya,”Hobi memang harus bisa menghidupi hobi lagi. Itulah berhobi yang sehat,” ujarnya.

Berburu Tanda Tangan
Uang kertas dijamin bakal kian ‘karismatik’ jika terbubuh tanda tangan pejabat yang mengeluarkan uang tersebut. Salah satu koleksi Merdy yang banyak ditawar orang adalah uang Rp 50 ribu yang dibubuhi tanda tangan asli Soeharto dengan tinta perak. Uang berbahan plastik tersebut dicetak di Australia tertanggal 26-9-2004. ”Ada yang menawar Rp 3 juta, ya enggak saya kasih dong,” selorohnya.

Maka, berburu tanda tangan adalah salah satu kegiatan menantang bagi para numismatikus. Merdy pernah menguntit Deputi Gubernur BI, Dono Djojo Subroto, dalam sebuah kesempatan, sekadar memintanya membubuhkan tanda tangan asli pada uang Rp 1.000. Kebetulan pada uang Rp 1.000 ini terdapat cetakan tanda tangan Dono. ”Kolektor harus berani ‘nodong’ kayak begini, ha ha ha,” ujar Merdy.

Saat bertemu Rachmat Saleh, yang sudah mantan gubernur BI saat itu, Merdy pun tak sungkan meminta dia menandatangani duit kertas Rp 100, Rp 500, dan Rp 1.000. ”Mantan Perdana Menteri Australia, Paul Keating, malah pernah dituntut gara-gara membubuhkan tanda tangan di selembar uang. Sebab ini bisa mendongkrak harga uang tersebut,” ungkap Merdy.

Tempat Favorit: Pasar Loak!
Merdy mulai mengoleksi uang kuno sejak 1968 ketika masih duduk di bangku SMP. Kegemaran pada uang kuno tak terlepas dari jabatan ayahnya yang sekretaris Menteri Keuangan pertama RI, Syafruddin Prawiranegara. ”Dulu, waktu anak-anak, ayah suka memberi uang yang masih hangat dan fresh dari bank. Kita dan sepupu-sepupu amat senang, terutama saat Lebaran,” cerita dia. Sejak itu Merdy mulai menggandrungi uang kuno bahkan menguber hingga ke mancanegara.

Soal koleksi mata uang asing, Merdy enggak ada lawannya. Nyaris seluruh uang negara di dunia ia kantongi, kecuali negara-negara yang baru berdiri. Bahkan, mata uang negara kecil seperti Samoa, Suriname, atau Maldiva ia punya. Salah satu koleksi unik adalah selembar uang Yugoslavia dengan jumlah nominal 50.000.000.000 alias lima puluh miliar. ”Saat itu memang sedang terjadi inflasi parah di negara itu,” cerita Merdy.

Ratusan lembar mata uang asing, koin asing, surat berharga, dan bintang tanda jasa, ia peroleh dari dealer-dealer di luar negeri. Sebagian besar ia dapatkan di pasar loak. Salah satu pasar loak favorit Merdy adalah Marseille Opus di Paris, Prancis. Ini adalah salah satu pasar loak terbesar di dunia yang menempati area berhektare-hektare. Kebetulan Merdy pernah tinggal tiga tahun di Paris.

”Hampir seluruh negara Eropa pernah saya kunjungi pasar-pasar loaknya,” cerita suami dari Wahini Raditya itu. ”Pokoknya setiap saya mengunjungi satu negara, saya selalu berusaha menyempatkan diri masuk ke pasar loak,” tambah Merdy yang saat ini, di usianya yang ke-59, juga masih berburu minimal sebulan dua kali ke pasar-pasar loak di Jakarta.

Ketika tinggal di Sydney, Australia, selama enam tahun (1992-1998), Merdy bergabung dengan International Bank Note Society (IBNS) cabang Australia. IBNS adalah organisasi para kolektor uang kertas di dunia. Secara regular, anggota IBNS Australia berkumpul untuk saling tukar koleksi.

Kalau ditanya mata uang negara mana yang membikin Merdy penasaran, jawabnya adalah mata uang Timor Leste. Negara itu sudah tiga kali berganti mata uang, yakni ketika masih dijajah Portugal, saat bergabung dengan Indonesia, dan terakhir setelah merdeka.

Yang diburu Merdy adalah mata uang Timor pada masa penjajahan Portugal. Ketika Timor beralih ke pangkuan Indonesia, negara itu praktis menjadi ‘negara yang hilang’. Serupa dengan Makau di daratan Cina. ”Ini membuat mata uangnya ikut hilang pula, menjadi langka, dan dicari orang,” ujar Merdy.

Suatu waktu ada seorang kolektor di Australia yang memiliki buku katalog mata uang Timor Leste berukuran 1:1 dengan kualitas cetakan serupa uang asli. Sialnya, sang kolektor ogah melepas album katalog itu. ”Padahal udah gue tawar 2.000 dolar AS (sekitar Rp 19 jutaan),” keluh Merdy.

Uang, Uang, Uang
* Uang kertas nan menawan
Faktor lain yang membuat para numismatikus tertarik pada uang kertas adalah sistem keamanannya yang artistik. Setiap mata uang memiliki sistem pengamanan berbeda. Yang paling sering diterapkan adalah hologram pada uang plastik, gambar air, desain aksesori yang muka-belakang, benang pengaman yang kini digantikan micro printing serta dicetak dobel sehingga luar biasa sulit untuk menirunya. ”Uang adalah karya seni sekaligus karya teknologi yang menarik,” tuturnya.

* Dibobol maling
Museum Nasional di Jakarta adalah tempat yang amat diperhitungkan. Koleksi numismatik di museum itu, kata Merdy, sempat menjadi yang terlengkap di dunia setelah British Museum di Inggris. Namun, koleksi tersebut dibobol maling pada 1980-an dan menyebabkan kehilangan dalam jumlah tak sedikit. Akibatnya, koleksi numismatik yang tersisa kini tak lagi dibuka untuk umum, kecuali untuk kepentingan studi.

* Dimiliki Pangeran Arab
Siapa kolektor uang zaman Hindia Belanda terbesar? Dia bukan orang Indonesia. ”Dia adalah Raja Faisal dari Arab Saudi,” kata Merdy. Belakangan, koleksi-koleksinya diborong dalam jumlah besar oleh saudagar kayu asal Kanada di balai lelang Southeby’s. Sebagian kecil ada yang kembali ke Indonesia lantaran dibeli oleh seorang kolektor Indonesia.

Sumber : www.republika.co.id