Menghirup Aura Yogya

Jangan ragu untuk menyebut Yogyakarta sebagai tempat wisata terkemuka di Nusantara, selain Bali. Banyak orang bilang, Yogya sempurna sebagai kota pelesiran. Di kota bekas Kesultanan Mataram itu, Anda bisa menikmati aneka hasil seni dan budaya, cuci mata di pusat-pusat belanja, mencicipi kelezatan aneka makanan khas Yogya sembari duduk lesehan di sepanjang jalan Malioboro, atau mengunjungi tempat-tempat berpanorama indah di sekitar kota ini.

Hal lain yang sangat menyenangkan ketika berada di Yogya adalah kemudahan untuk menjangkau objek wisata yang satu dengan lainnya. Karena jaraknya saling berdekatan, Anda bisa menjangkaunya dengan menumpang delman atau becak. Sedangkan untuk objek wisata yang agak jauh, tersedia taksi, bus kota, angkot, juga ojek.

Namun dari berbagai moda transportasi itu, becak lah yang terfavorit. Selain murah, mobilitasnya di dalam kota juga lebih tinggi. Berbeda dengan banyak kota besar lainnya di negeri kita, Yogya salah satunya yang sangat ramah pada kendaraan roda tiga ini. Di jalan-jalan utama, seperti Malioboro, becak berseliweran mencari penumpang.

Bagi para pelancong, keberadaan becak-becak itu sangat menguntungkan. Bayangkan, di senja hari yang sejuk, Anda naik becak menikmati suasana Yogya. Tentu sangat menyenangkan. Enaknya lagi, Anda bisa bertanya banyak hal pada sang pengemudi becak. Layaknya tour guide, ia akan dengan senang hati menjawab semua pertanyaan Anda. Jangan heran, jika sang pengemudi becak ini bisa menjelaskan secara fasih seluk-beluk kota Yogya. ”Sudah biasa Mas, kita sudah tahu apa yang dikehendaki wisatawan bila ke Yogya, jadi kami hampir hafal,” kata Suryadi, pengemudi becak yang mangkal di ujung jalan masuk kawasan Malioboro.

Selain bisa berperan layaknya tour guide, para pengemudi becak di Yogya juga sangat santun, tidak suka neko-neko. Mereka umumnya tak mau menipu para turis supaya membayar ongkos lebih mahal. ”Kami tidak ingin ketidakjujuran merusak citra kota Yogya. Jika itu terjadi, kami juga yang repot. Jadi kami harus menjaga kenyamanan wisatawan selama berada di Yogya,” kata Tukiman, tukang becak asal Solo yang sudah lebih dari 30 tahun tinggal di Yogya.

Tak hanya para turis berduit, Yogya juga cukup ramah bagi para pelancong dengan dana terbatas. Di kota gudeg ini tersedia banyak penginapan sederhana dengan tarif puluhan ribu rupiah semalam. Jangan pula pusing untuk urusan perut. Siapapun bisa dengan mudah menemukan warung makan atau depot-depot makan kaki lima. Harga makanannya? Dijamin tak merepotkan kantung. ”Satu hal lagi, orang Yogya juga sangat welcome pada wisatawan. Itu membuat kita kerasan di kota ini,” kata Joko Susilo, peserta Press Gathering PT Telkomsel di Yogyakarta, belum lama ini.

Keraton
Di antara sekian banyak tempat menarik yang ‘wajib’ dikunjungi ketika berada di Yogya adalah keraton. Meski telah berusia ratusan tahun, Keraton Ngayogyakata Hadiningrat masih terpelihara baik. Pranata budaya serta benda-benda kuno peninggalan raja-raja Mataram juga sangat terawat. Menurut catatan sejarah, keraton ini dibangun pada tahun 1756 oleh Pangeran Mangkubumi (Hamengku Buwono I) sebagai pusat kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat. Sebagaimana bangunan keraton pada kerajaan-kerajaan Jawa di masa lalu, Keraton Yogyakarta dibangun menghadap ke utara.

Bangunan terluar berupa benteng keraton yang dibuat dari batu bata merah dengan ketebalan sekitar empat meter. Benteng ini melingkari keraton dan membentuk segi empat dengan beberapa gerbang utama (regol). Adapun susunan bangunan Keraton Yogyakarta berturut-turut dari utara ke selatan adalah: alun-alun utara (termasuk Siti Hinggil dan Bangsal Pagelaran), Kemandungan Lor (utara) atau Keben, Sri Manganti, keraton sebagai bangunan induk, Kemagangan, Kemandungan Kidul (selatan), dan alun-alun selatan.

Pada zaman kerajaan, alun-alun utara digunakan untuk mengumpulkan prajurit dan rakyat. Selain itu, digunakan pula untuk upacara-upacara adat seperti grebeg, sekaten, dan lain-lain. Keberadaan alun-alun ini melambangkan menunggalnya raja dengan rakyat dalam membangun kerajaan. Di tengah alun-alun terdapat dua pohon beringin yang melambangkan bahwa sultan adalah pelindung dan pengayom rakyatnya. Puas menikmati keraton, sempatkan melongok Taman Sari. Letaknya tidak jauh dari keraton. Pada masa lalu, Taman Sari merupakan tempat rekreasi bagi para sultan dan kerabat keraton. Di tempat ini, Anda dapat menyaksikan peninggalan sejarah berupa istana, kolam pemandian, gapura, dan lorong bawah tanah. Dari Taman Sari, sempatkan menyambangi Pasar Burung Ngasem. Di pasar inilah, warga Yogya biasa membeli hewan peliharaan, terutama burung.

Selain objek-objek wisata dalam kota Yogyakarta, wisatawan dapat pula mengunjungi sejumlah destinasi yang ada di sekitar kota Yogyakarta. Kendati masuk dalam wilayah kabupaten lain, namun jaraknya tidak terlalu jauh. Sebut saja misalnya, Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Candi Boko. Ada pula Pantai Parangtritis, Kaliurang, Museum Dirgantara, Monumen Yogya Kembali, Museum Afandi, dan sejumlah sentra kerajinan industri kulit. ”Kami hanya dua malam di Yogyakarta, tapi bisa menikmati banyak objek wisata,” kata Yahya Umar, wartawan sebuah media harian di Bali, yang juga salah seorang peserta Press Gathering PT Telkomsel.

Bagaimana dengan urusan cendemata? Yang ini pun tak perlu dikhawatirkan. Yogya punya banyak pilihan cenderamata dan oleh-oleh. Ada batik, keramik, gerabah, kerajinan perak, dan kerajinan kulit. Untuk keramik dan gerabah, Anda bisa mendapatkannya langsung di daerah Kasongan, Bantul. Lain halnya jika menginginkan aneka kerajinan perak berkualitas bagus, maka Anda mesti menuju Kota Gede. Sedangkan untuk mendapatkan kerajinan kulit, seperti rompi, jaket, sepatu, tas, atau dompet, datanglah ke daerah Manding, Bantul. Untuk oleh-oleh makanan khas Yogya seperti bakpia, geplak, yangko, dan ampyang jahe, Anda bisa membelinya di kawasan Purwodiningratan.

Membeli oleh-oleh ke sentra industri, khususnya makanan khas Yogyakarta, cukup menguntungkan karena Anda akan mendapatkan harga lebih murah. Anda pun akan mendapatkan makanan yang masih segar dan baru. Di sepanjang Jalan Malioboro pun, Anda bisa mendapatkan aneka jajanan khas Yogya dan berbagai barang kerajinan termasuk kerajinan perak, kulit, maupun batik. Tapi di sini Anda mesti pintar memilih dan menawar harga. Jika tidak, bisa jadi Anda akan membawa pulang cenderamata dengan harga mahal namun bermutu rendah. Sayang sekali bukan?

Sumber : www.republika.co.id

Ditulis dalam Jalan-jalan. 4 Komentar »

Jejak Sejarah Minangkabau di Tanah Datar

Legenda berkisah, kaum Minangkabau berawal dari daerah Pariangan atau Nagari Tuo Pariangan. Di manakah kira-kira tempat ini berada? Ternyata, tak sulit dicari. Ia berada di Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat.

Setelah menempuh perjalanan darat sekitar satu setengah jam dari bandara, Nagari Tuo Pariangan atau desa tertua itu pun terhampar di depan mata. Hari itu, cuaca mendung. Hawa sejuk terasa membelai kulit. Di bawah cuaca yang tidak menyengat itu, perjalanan menelusuri jejak sejarah Minangkabau pun dimulai.

Nagari Tuo Pariangan berada di tengah perbukitan. Dari salah satu titik tertinggi di perbukitan itu, terlihat rumah-rumah beratap gadang. Tampak pula Masjid Ishlah atau Masjid Tua Minangkabau Pariangan. Siang itu, kami tiba ketika adzan Dzuhur berkumandang. Mendengarnya, warga Nagari Tuo Pariangan segera bergegas meninggalkan aktivitas masing-masing untuk menunaikan kewajiban agama mereka. Dibarengi hujan deras, kami shalat Dzuhur berjamaah.

Bisa jadi, cuma di desa, yang jauh dari hiruk-pikuk kesibukan, kebiasaan seperti itu masih terjaga baik. Kepada seorang ibu yang menunggu hujan reda, saya bertanya, benarkah di sini asal-mula orang Minang? Ibu itu pun mengangguk sembari menunjuk ke sebuah bangunan beratap seng. Setelah saya dekati, di bawah atap seng biru itu terdapat sebongkah batu yang disebut Situs Prasasti Pariangan.

Secara singkat, situs dari batu andesit yang lebarnya 2,6 meter dan tinggi 1,6 meter itu menceritakan bahwa pada awalnya terdapat dua suku besar atau kelarasan di Minangkabau, yakni Bodicaniago dan Kotopiliang. Dalam perkembangannya, dua kelarasan itu kemudian menjadi 10 suku.

Tak terawat
Sangat disayangkan, situs yang menjadi cikal bakal legenda kaum Minangkabau itu tidak terawat. Tulisan pada batu yang diperkirakan berasal dari zaman Adityawarman, tidak lagi dapat terbaca. Sepintas, batu itu terlihat sebagai batu biasa. Rumput liar bahkan menyeruak di antara secuil lahan tempat batu itu berada, yang kini dikelilingi pagar besi bercat telur asin. Kelarasan Bodicaniago dan Kotopiliang berawal dari sejarah yang menceritakan ketidakselarasan keduanya. Sampai pada suatu ketika sebuah batu ditikam di bagian tengahnya sebagai pertanda sumpah satiah atau setia yang menandai berakhirnya perselisihan paham antara kedua kelarasan ini.

Inilah cerita yang melatari keberadaan Situs Batu Batikam. Situs ini berada di Jorong Dusun Tuo, Nagari Lima Kaum, Kecamatan Lima Kaum, Kabupaten Tanah Datar. Legenda atau tambo mengatakan, batu tersebut ditikam dengan keris oleh Datuk Parpatih nan Sabatang.

Di dekat situs Batu Batikam, terdapat sejumlah batu yang disusun melingkar dengan sandaran di belakang tiap batu. Itulah medan nan bapaneh. Fungsinya sebagai tempat bermusyawarah pada masa lampau. Kala itu, setiap permasalahan kampung diselesaikan tokoh masyarakat di ruang terbuka dalam posisi duduk melingkar. Di belakang ruang bermusyawarah itu, warga kampung mendengarkan diskusi para tokoh. Medan nan bapaneh boleh dikatakan sebagai salah satu cikal bakal demokrasi ala bangsa Indonesia.

Perjalanan menuju benda cagar budaya berikutnya menunjukkan, kaum Minangkabau merupakan komunitas yang menyukai kebersamaan dan menganut budaya musyawarah untuk mufakat. Pada masa lalu, masyarakat Minangkabau menggelar pertemuan adat di Balai Adat Balairungsari Nagari Tabek di Kecamatan Pariangan, masih di Kabupaten Tanah Datar. Bangunan Balairungsari merupakan perkembangan bentuk dari medan nan bapaneh. Persamaan ditemukan pada bentuk bangunan yang terbuka tanpa dinding. Balairungsari terbuat dari kayu dengan atap ijuk dengan enam gonjong dan lantai panggung.

Masih ada satu situs lagi yang menarik untuk disambangi. Situs Prasasti Kuburajo namanya. Di sana, terdapat tiga buah batu ukuran besar dengan gambar bunga matahari sebagai perlambang alam, kura-kura perlambang menjunjung adat, dan batu bertuliskan huruf Sansekerta atau batu bersurat sebagai perlambang ibadah. Intinya, prasasti ini menyatakan bahwa bahwa dari dulu kaum Minangkabau diajarkan untuk menghargai alam, menjunjung adat, dan menjalankan ibadahnya.

Tanah Datar sesungguhnya memang daerah yang kaya akan nilai sejarah. Setidaknya ada 43 benda cagar budaya, mulai dari prasasti, rumah adat, hingga masjid yang berumur ratusan tahun. Mengunjunginya satu persatu mengajarkan indahnya kearifan lokal dan betapa kayanya budaya bangsa Indonesia. Sayangnya, kurang perhatian menjadikan sebagian benda cagar budaya itu terlihat tidak menarik. Laksana seonggok benda tanpa makna.

Sumber : www.republika.co.id

Menapaki Sejarah Islam di Iran

Mendengar Iran, yang terbayang adalah keindahan sebuah negara dengan iklim subtropis lengkap dengan keramahan penduduk dan bangunan sejarah bukti gemilangnya Islam pada abad pertengahan (9-18 Masehi). Namun, ketika tiba di sana, yang terlihat lebih dari itu. Kami mendapati gadis-gadis cantik dengan nasionalisme yang cukup tinggi. Mereka selalu berkata, kami bangga sebagai Persia.

Kunjungan rombongan kami terdiri dari beberapa pengelola biro perjalanan dari Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam (hasil kerja sama Iran Air, Iran Doostan Tour, PT Apex, serta Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Indonesia) dimulai dari Tehran, ibukota Iran. Kota ini sepintas adalah kota lama. Tower komunikasi mirip menara Kuala Lumpur menyambut kami.

Karena kunjungan dilakukan pada musim panas, maka di sepanjang perjalanan, kami menyaksikan sebuah gunung besar kemerahan mengepung Tehran. Itulah Gunung Alborz. Selama delapan bulan dalam satu tahun, pengunjung dapat berski es di Alborz. Jalan-jalan di Iran adalah jalan yang rindang dengan pohon platenau (mirip pohon maple) di kiri dan kanan jalan. Uniknya, pohon bertubuh tinggi menjulang dan berdaun rindang itu berdiri kokoh di atas saluran air dingin yang jernih dan lancar mengalir.

Istana Pahlevi vs rumah Imam Khomeini
Tujuan pertama kami adalah Museum Istana Pahlevi. Ini adalah saksi kemegahan gaya hidup klan Pahlevi ketika memimpin Persia yang diganti namanya menjadi Iran. Dinasti Reza Shah sempat memimpin Iran pada 1925-1979 dimulai dari Reza Shah (1925-1941) dan kemudian Mohammad Reza yang di Indonesia lebih dikenal dengan nama Reza Pahlevi (1941-1979). Reza Shah mengangkat dirinya sendiri sebagai shah setelah kudeta terhadap dinasti Qajar.

Sebelum menuju Istana Pahlevi, kami melewati kawasan elit rumah keluarga kerajaan yang kini kosong. Lokasi permukiman elit ini disebut Saffroniyeh. Rumah-rumah megah itu bila di Jakarta ibarat kawasan Menteng. Istana dinasti Pahlevi terdapat di sebuah bukit seperti Kebun Raya Bogor. Suhunya sejuk dan sekelilingnya hutan platenau. Berdiri paling depan adalah Istana Mohammad Reza atau Reza Pahlevi dan Ratu Farrah Diba. Bangunan berwarna putih ini mirip dengan istana di Jakarta atau di tempat lain. Seluruh barang masih asli dan ketika Pahlevi terusir dari negerinya karena Revolusi Islam Iran, konon tak satupun barang berharga itu sempat ia bawa, termasuk pohon kurma dengan buah dari emas murni.

Ruangan-ruangan di dalam istana terdiri atas ruang tamu, ruang jamuan, ruang makan, kamar tidur raja, kamar tidur ratu, ruang kerja, ruang tunggu dan ada satu ruangan yang mirip dengan ruangan bola biliar yang tampak temaram. Semua ruangan berisikan barang furnitur yang megah dan tak sedikit terbuat dari emas murni. Tirai, kain penutup tempat tidur, gelas, piring didatangkan dari tempat-tempat terbaik di Eropa. Langit-langit ruangan dihias dengan lukisan kepahlawanan Rustam, pahlawan bangsa Persia. Hanya karpet tampaknya yang asli Iran.

”Ini menunjukkan bahwa karpet Iran adalah yang terbaik di dunia karena dari semua barang mahal di sini yang dikoleksi Mohammad Reza dan istrinya Ratu Farah Diba, hanya karpet yang asli Iran,” kata Saeed Hajihadi, tourleader kami berseloroh. Untuk menunjukkan bahwa ini adalah istana raja, maka gembok dan gagang pintu pun terbuat dari warna emas dan diberi cap kerajaan berupa gambar mahkota.

Dari Istana Mohammad Reza kami harus menaiki bus untuk mencapai istana Reza Shah, ayah Mohammad Reza. Istana Reza Shah berwarna kehijauan. Di depannya ada kolam air mancur besar. Hampir semua bangunan umum dan istana di Iran memiliki kolam pada bagian depan. Keindahan istana dapat tercermin dari kolam besar di depannya.

Untuk memasuki istana, kita harus mengalasi kaki dengan sepatu kain yang disiapkan pengelola museum. Istana Reza Shah jauh lebih artistik dari istana anaknya. Ornamen mozaik dan potongan cermin kecil-kecil berbentuk segi tiga dan segi lima dengan diameter 2,5-5 cm yang disusun sedemikian rupa menampilkan kemegahan hampir di semua ruangan.

Dari istana, kami beranjak makan siang ke kaki Gunung Albroz. Di kawasan ini, banyak restoran terbuka (open air) dan penjual manisan aneka berry di tepi jalan. Gagis-gadis dan anak muda Iran yang berkulit putih, beralis lengkung hitam, dan bermata bagus menghabiskan waktu libur di tempat ini. Mereka berjalan sembari mencicipi manisan berry yang berwarna merah, hitam serta manisan buah lainnya.

Di kaki gunung ini, terdapat cable car untuk melihat pemandangan gunung. Suasana cukup ramai terlebih pada hari libur. Hampir saja kami tak mendapat tempat. Kami sempat singgah di Grand Bazaar membeli pir, cherry, dan plum untuk bekal di perjalanan. Berkebalikan dengan Istana Pahlevi adalah rumah Ayatullah Ruhullah Imam Khomeini. Berada juga di daerah yang berudara dingin, rumah Ayatullah kini juga jadi museum yang dikunjungi banyak wisatawan lokal dan internasional. Hanya sebuah kamar berukuran sekitar 3×4 meter di pojok huseiniyah atau madrasah dan masjid yang hingga kini tampak belum rapi. Di kamar itu terdapat satu buah sofa mungil tempat Ayatullah tidur dan menerima semua tamu kenegaraan. Presiden, perdana menteri, pemimpin agama Katolik dan Kristen Ortodoks pernah berjumpa Khomeini di rumah mungil ini.

Dengan kebersahajaanya, Khomeini telah menjadi pahlawan Iran yang fotonya terpampang di semua tempat baik hotel, kantor pemerintah, dan rumah-rumah penduduk Iran. Di huseiniyah, terdapat podium tempat dulu Ayatullah sering berpidato. Kursi dan meja ditutupi kain putih dan diberi bunga. Kini, tak satu pun orang berani duduk di situ bahkan para presiden dan pemimpin spiritual Iran. Itu menjadi pertanda bahwa posisi ayatullah di mata rakyat Iran tak tergantikan. Di lantai bawah masjid terdapat perpustakaan dan galeri tempat menyimpan barang dan foto Imam Khomeini selagi hidup.

Sebagai pahlawan yang membebaskan Iran dari tirani klan Pahlevi, maka Imam Khomeini mendapat tempat tersendiri di hati bangsa Iran saat ini. Bahkan, makamnya juga menjadi kompleks yang dikunjungi ratusan ribu warga Iran setiap tahun. Berada di daerah yang panas, city of Rei, makam Imam Khomeini, sebetulnya berada di daerah pemakaman umum. Tempat itu adalah tempat pertama kali Imam Khomeini berpidato sekembalinya dari Prancis. Saat itu, pidatonya dihadiri sekitar 2,5 juta penduduk Iran. Di situ, ia pertama kali datang dari pengasingan dan di situ pula ia dimakamkan. Rencananya, kompleks pemakaman ini akan dilengkapi masjid, universitas, perpustakaan, dan fasilitas lainnya. Tapi, pembangunan belum rampung. Di halaman, ribuan orang dari luar kota berkumpul, menggelar tenda, dan memasak di lapangan.

Qom, Nathans, dan Kasyan
Di mata orang Indonesia, Iran identik dengan Qom. Kota tandus gersang itu adalah penghasil ulama besar di Iran, termasuk Imam Khomeini. Juga salah satu penghasil karpet terbaik di Iran. Pada musim panas, Qom terlihat makin putih. Kami harus berganti dengan bus lokal (bus sekolah) untuk menjangkau Qom.

Sayang, karena kami datang pada hari Jumat, kami hanya sempat memasuki halaman masjid di mana terdapat makam Fatimah al Maksumiyeh, puteri Imam Musa Kazim yang meninggal karena sakit dalam perjalanan menjumpai kakaknya Imam Ridha. Untuk memasuki kompleks, saya dipinjamkan chador, sejenis kain panjang yang dipakai dari kepala hingga kaki. Di Iran, chador wajib dikenakan jika kita mengunjungi tempat khusus.

Dari Qom kami menuju Kasyan. Di kota kecil ini, terdapat madrasah dan masjid yang dibangun untuk mengenang jasa Maulana Malik Ibrahim Kasyan yang pergi berdakwah dan meninggal di Asia Tenggara. Masjid ini sekarang menjadi Madrasah Agabozorgh. Kami sempat mengait-ngaitkan apakah Maulana Malik yang disebut ini adalah ulama yang masuk lewat Aceh dan menyebarkan Islam ke Indonesia.

Dari Kasyan, kami menuju Nathans, sebuah masjid tempat belajar para wali dengan guru Sheikh Abdussamad. Masjid yang dibangun dengan kubah kerucut bukan bulat ini dialiri sungai di bawah tanah. Airnya menyembul ke permukaan tepat di tengah masjid dan digunakan untuk wudhu. Di sungai itu juga terdapat ikan khusus. Keberadaan ikan menjadi inspirasi ornamen keramik buatan seniman lokal dan keturunannya. Di masjid itu, kami disuguhi warisan berupa perpaduan seni, matematika, dan kehidupan sufistik.

Sumber : www.republika.co.id

Ditulis dalam Jalan-jalan. 6 Komentar »

Wisata Agro Tlogo : Saatnya Menikmati Sepi

Kumandang adzan Isya baru saja hilang dari pendengaran. Sesaat, suasana malam terasa hening. Namun, itu tak berlangsung lama. Sayup-sayup terdengar alunan gamelan jawa. Pada saat yang sama, terdengar pula suara katak saling bersahutan.

Itu adalah sepenggal suasana malam di Wisata Agro Tlogo. Tempat wisata ini berlokasi di Desa Delik, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Sebagai objek wisata, tentu saja masyarakat umum bisa mengunjungi tempat ini untuk menikmati suasana yang benar-benar beda dari biasanya.

”Bagi para tamu akan merasakan ketenangan selama berada di sini karena jauh dari kebisingan kota. Karena itu, tempat ini cocok untuk mereka yang ingin ‘nyepi’ dan mengharapkan ketenangan. Ini sesuai dengan konsep Wisata Agro Tlogo yaitu menjual kesunyian,” kata Pimpinan Wisata Agro Tlogo, Ir Dwi Windiari Widyastuti MM.

Kawasan agrowisata Tlogo terhampar di area seluas 415 hektare dengan ketinggian 400-675 meter di atas permukaan laut. Jarak dari Wisata Agro Tlogo ke kota Semarang sekitar 40 kilometer, ke kota Solo sekitar 60 kilometer, dan ke kota Yogyakarta sekitar 80 kilometer.

Selain suasana sepi, kawasan ini juga menjanjikan hawa yang sejuk, bersih, dan bebas polusi. Mata Anda juga akan terhibur oleh panorama alam nan indah, termasuk hamparan hijau tanaman perkebunan seperti kopi, karet, cengkih, pala, serta berbagai buah tropis. Aneka tumbuhan buah tropis yang tumbuh subur di sini adalah durian, mangga, pisang, alpukat, rambutan, dan jambu biji.

Bagi para pengunjung yang ingin bermalam dan menikmati suasana pedesaan lebih lama, tersedia 20 cottage dan 16 kamar penginapan. Semua cottage didesain secara khusus dalam gaya etnik. Anda juga dapat menyaksikan kehidupan warga desa di sekitar perkebunan Tlogo, juga melihat-lihat bangunan tua warisan zaman kolonial.

Bermalam di kawasan ini benar-benar memberi pengalaman yang sulit terlupakan. Di tengah temaram suasana malam, indra penciuman Anda bisa menikmati semerbak aroma bunga kopi yang eksotik. Dan ketika malam berganti pagi, indra penciuman Anda bakal merasakan sensasi yang lain, yakni wanginya aroma bunga cengkeh yang sedang dijemur.

Gunung Rong
Berada di kawasan agrowisata Tlogo, jangan lewatkan untuk menyambangi Gunung Rong. Dari puncak salah satu gunung di sekitar perkebunan Tlogo ini, Anda dapat menyaksikan indahnya panorama matahari terbit (sunrise) dan terbenam (sunset), serta pemandangan Rawa Pening yang menawan. Dari titik ini pula, mata Anda bisa memandang beberapa gunung yang menjulang di kejauhan yakni Gunung Merapi, Gunung Ungaran, Gunung Merbabu, Gunung Telomoyo serta Gunung Gajah.

Gunung Rong bisa dicapai dengan jalan kaki sekitar 45 menit. Jika enggan jalan kaki, mobil jeep bisa Anda gunakan. Dengan kendaraan ini, waktu tempuh hanya sekitar 10 menit. Jalannya cukup sempit, sementara di salah satu sisi, jurang menganga. Karena itu, jika Anda menggunakan mobil jeep untuk ‘mendaki’ ke puncak Gunung Rong yang berketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut, rasanya sungguh mengasyikkan sekaligus mendebarkan.

Begitu sampai di puncak, lepaskan pandangan seluas mungkin. Panoramanya benar-benar indah. Nah, setelah puas menikmati semua keindahan itu, satu pengalaman lain yang tak kalah nikmat telah menanti. Apa itu? Pengalaman itu tak lain adalah menyeruput secangkir kopi Robusta yang merupakan salah satu hasil perkebunan Tlogo. Bayangkan, di puncak gunung dengan hawanya yang dingin-dingin sejuk, Anda menyeruput kopi kental yang masih mengepul. Waaah, nikmat nian…

Dari puncak Gunung Rong, Anda juga bisa menyaksikan segerombolan burung bangau (dalam bahasa jawa: burung blekok/kuntul) yang setiap harinya punya jadwal tetap untuk melakukan perjalanan dari Srondol ke Rawa Pening untuk mencari makan, kemudian terbang lagi melewati Desa Tlogo ke arah Karanganyar. ”Hal itu biasanya dilakukan pagi-pagi hari sekitar pukul 06:00, kemudian pada sore hari sekitar pukul 17:00, segerombolan burung tersebut kembali ke Srondol melewati sini lagi,” ungkap Kepala Urusan Wisata Agrowisata Tlogo, Joko Prastowo.

Di kawasan ini, Anda akan merasa sangat dekat dengan alam. Selain mendaki Gunung Rong, Anda juga bisa mengenal lebih dekat kehidupan warga setempat, seperti melihat warga menyadap karet, atau jalan-jalan di perkebunan kopi sekaligus mengamati proses pembuatan kopi dari biji hingga menjadi bubuk kopi yang siap diminum. Anda yang hobi camping, tersedia tempat yang luas dan menarik untuk camping. Sebagai lokasi untuk outbond, kawasan agrowisata Tlogo juga sangat oke. Jadi, tunggu apa lagi?

Sumber : www.republika.co.id

Menjelajah Negeri Ginseng

Apa yang Anda bayangkan pertama kali ketika mendengar kata: Korea Selatan (Korsel)? Tentu Anda mempunyai bayangan seabrek tentang negeri yang terletak di Semenanjung Korea tersebut.

Mungkin, ingatan Anda langsung tertuju pada ginseng, akar tanaman yang dipercaya mempunyai banyak khasiat. Tapi, selintas juga, alam pikiran bawah sadar membawa kita pada kemampuan high technology Korea yang telah dicapai.

Memang, kecanggihan teknologi Korsel sudah tak diragukan lagi. Produk-produk elektronik, otomotif, hingga peranti lunak asal negeri Ginseng itu telah membanjiri pasar dunia, termasuk Indonesia.

Bahkan di Tanah Air, tak sedikit perusahaan asal Korsel yang mengembangkan investasinya. Sebut saja produk LG, Samsung, Hyundai, Kia, SK Telecom, dan lain sebagainya.

Kemampuan teknologi itu tak luput dari pencapaian ekonomi yang telah diraih. Sejak krisis moneter 1997, Korsel menjadi salah satu negara di kawasan Asia yang terimbas krisis tersebut. Namun, recovery yang cepat dan tepat, membuat negara seluas 99.268 km persegi itu bangkit dari keterpurukan.

Hasilnya, bisa dilihat dari pembangunan gedung-gedung yang megah di segala penjuru negeri ini. Dan tentu saja, kemakmuran warganya. GDP Korsel saat ini sekitar 18 ribu dolar AS per tahun. Bandingkan dengan Indonesia yang GDP-nya hanya 1.500 dolar AS.

Tak heran, begitu kaki menginjak Incheon International Airport, Seoul, gambaran tentang pencapaian itu pun langsung muncul. Dalam perjalanan dari Bandara Incheon ke Hotel Ibis di Seoul selama sekitar satu jam, yang tampak hanya mobil-mobil bermerk Hyundai atau Kia.

Ada mobil asal Eropa, seperti Mercedes Benz atau Volvo, tapi perbandingannya sangat sedikit ketimbang mobil buatan Korsel. Ternyata, warga Korsel memang enggan membeli mobil buatan luar karena harganya yang jauh lebih mahal. ”Bisa lima kali lipat dari mobil Korea,” kata pemandu wisata asal Korea yang menemani kami.

Keteraturan dan kedisiplinan, itulah kesan yang didapat selama satu jam perjalanan tersebut. Meski padat, namun lalu lintas sepanjang 72 km yang kami lalui lancar-lancar saja.

Ini memang tak lepas dari kebiasaan orang Korsel yang lebih suka menggunakan transportasi massal, seperti subway dan bus, ketimbang menaiki kendaraan pribadi. Kebiasaan ini, jelas membuat lalu-lalang kendaraan pribadi menjadi sedikit.

Namun harus diakui, berpindahnya pola moda transportasi orang Korea itu ditunjang oleh sarana angkutan massal yang memadai. Kota-kota utama di Korea, saling tersambung oleh subway. Sehingga, lalu-lalang orang di ‘bawah tanah’ lebih padat dibanding di permukaan.

Orang-orang Korea pun suka jalan kaki. Kebiasaan ini didukung oleh pedestrian yang luas dan nyaman. Tentu, hal ini mendorong mereka memilih jalan kaki.

Sementara, tata kota dengan gedung-gedung yang rapi di sisi kiri dan kanan jalan, membuat suasana terasa adem. Apalagi, awal Agustus kemarin, Seoul sedang dalam musim panas. Cuaca cerah dengan selimut awan tipis, menaungi perjalanan rombongan kami yang sedang ke Seoul guna mengikuti Indonesia’s Integrated Investment and Promotion 2007 yang diadakan Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM).

Melongok Masa Lalu Korea
Kemajuan pesat di bidang teknologi dan ekonomi, tak membuat bangsa Korea lupa akan sejarahnya. Jas merah — slogan yang didengungkan Presiden Soekarno yang artinya jangan sekali-kali melupakan sejarah — mungkin tepat ditujukan kepada bangsa Korea.

Selain membangun Seoul World Cup Stadium yang megah dan mewah, Korea tetap melestarikan bangunan bersejarah. Setidaknya ada tujuh bangunan bersejarah yang terawat baik. Setidaknya terdapat empat istana raja, yakni Changdeokgung Palace, Changyeonggung Palace, Deosugung Palace, dan Gyeongbokgung Palace. Ada pula Namsangol Hanok Maeul (perkampungan tradisional Korea), Prehistoric Dwelling di Amsa-dong (hunian prasejarah), dan Istana Unhyeongung.

Beberapa museum berlokasi di Seoul. Museum Nasional, didirikan di Seoul pada 1945. Museum ini memiliki koleksi arkeologi Korea, kebudayaan, dan benda seni kuno. Cabang Museum Nasional berada di delapan kota besar. Seoul juga merupakan tempat bagi National Museum of Modern Art, the National Folklore Museum, dan the War Memorial Museum.

Di antara bangunan bersejarah yang ada, pantas untuk ditengok adalah Namsangol Hanok Village, perkampungan khusus yang hanya ditempati orang-orang kaya Korea masa lalu. Namsangol Hanok Village ini dibangun sekitar tahun 1.400.

Terletak di daerah Jung-gu, Seoul, di belakang deretan gedung-gedung tinggi modern, pengunjung harus melewati pintu gerbang tinggi yang terbuat dari kayu kokoh untuk memasuki perkampungan ini. Sesaat melewati pintu, pandangan langsung tertuju ke Namsan (Gunung Selatan). Di Namsan ini terdapat Namsan Seoul Tower, menara tertinggi di Korea.

Sebenarnya, kalau dibandingkan dengan di Indonesia, Namsan tidak tepat disebut gunung. Ketinggiannya saja cuma 262 meter. Lebih cocok jika Namsan disebut bukit. Tapi, itulah Korea.

Berjalan sekitar 50 langkah dari pintu gerbang, lokasi Namsangol Hanok Village terasa makin lega. Lima rumah berbahan kayu dengan atap berbentuk kotak persegi ciri khas rumah tradisional Korea, tampak mengelilingi area tersebut. Rumah ini dibangun kembali dari rumah zaman Dinasti Joseon.

Hamparan rumput hijau dan kolam dengan air keperakan, menambah sejuk suasana di perkampungan itu. Burung-burung yang dibiarkan berkeliaran pun menyapa pengunjung dengan siulannya yang nyaring. Rumah orang kaya Korea masa silam, terbagi dalam empat bagian. Bagian pertama yang berukuran lebih besar, ditempati oleh kepala keluarga. Sementara bagian kedua yang lebih kecil, menjadi tempat bagi istri dan anak-anak.

Kok bisa terpisah ya antara kamar tidur suami dan istrinya. Lalu, bagaimana mereka membuat anak,” seloroh teman satu rombongan. Kemudian, ada dapur dan ruang pertemuan keluarga. Ruang pertemuan keluarga ini tampak plong, tanpa sekat dan kursi. Hanya ada meja-meja kecil.

Untuk mengawetkan kimchi, makanan khas Korea, di bagian luar ruangan dibuat bangunan dari ranting tanaman yang berbentuk kerucut. Mirip rumah tradisional orang Indian, tapi berukuran lebih kecil, hanya cukup untuk masuk satu orang.

Orang Korea suka sekali makan kimchi, terutama orang tua. Serasa tak makan bila tanpa kimchi. Karenanya, di saat musim dingin, mereka menyimpan kimchi di rumah-rumahan tersebut. Bahan baku kimchi yakni sayur-sayuran, tak mudah ditemui saat musim dingin. ”Kebanyakan orang Korea memiliki dua kulkas. Satu kulkas besar khusus untuk menyimpan kimchi, dan satunya lagi untuk bahan makanan sehari-hari,” jelas pemandu wisata asal Korea yang sudah mahir berbahasa Indonesia.

Semua bagian rumah ini dikelilingi pagar tinggi sekitar dua meter. Pagar tinggi ini membuat anak-anak tak bisa mengetahui suasana di luar rumah. Tak kurang akal, untuk bisa melihat kondisi di luar rumah, anak-anak main timbangan (neolttwigi). Dengan timbangan itu, mereka dapat melompat tinggi, sehingga mengetahui apa yang terjadi di luar rumah.

Mainan anak-anak lainnya yang tersedia di lapangan utama Namsangol Hanok Village adalah yunnori — permainan tradisional terbuat dari kayu –, dan tuho anak panah.

Di akhir pekan, kompleks perumahan ini seringkali menggelar pernikahan tradisional Korea yang bertempat di rumah Bak Yeong Hyo. Seremoni pernikahan tradisional ini banyak digelar saat musim semi dan musim hujan, bukan di musim dingin (November-Februari).

Taman tradisional yang layak dikunjungi adalah Yongsan Family Park. Taman yang juga berada di kota Seoul ini termasuk kompleks bangunan yang punya akar sejarah perjuangan. Tempat ini, pada tahun 1592, menjadi pangkalan militer tentara Jepang ketika menginvasi Korea atau yang dikenal sebagai Imjinwoeran War.

Pasukan militer PBB dan Amerika Serikat (AS) juga menjadikan kompleks ini sebagai markas selama pecah Perang Korea pada 1950. Sejak saat itu, lokasi ini menjadi tempat main golf tentara AS, hingga akhirnya diambil-alih oleh Pemerintah Metropolitan Seoul pada November 1992 untuk dijadikan taman publik.

Pengaruh Budaya Cina
Secara historis, Korea sangat dipengaruhi kebudayaan Cina. Sekaligus, menjadi perantara masuknya kebudayaan Cina ke Jepang. Korea mengadopsi banyak kesenian Cina yang dipadu dengan inovasi, sehingga membuat kebudayaan Korea berbeda.

Selama beberapa abad, karya logam, seni pahat, lukisan, dan keramik tumbuh subur di seluruh Semenanjung Korea. Ajaran Buddha memberi sumbangan signifikan dalam bidang seni. Konfusianisme menitikberatkan akan pentingnya karya sastra, kaligrafi, serta lukisan.

Masyarakat Korea mulai memasukkan budaya Barat setelah Korea membuka diri pada akhir tahun 1800-an. Selama pemerintahan kolonial Jepang (1910-1945), tradisi kebudayaan lokal sangat dikucilkan.

Walau begitu, masyarakat Korea tetap berusaha melestarikan kebudayaan mereka. Masyarakat Korea memberi apresiasi tinggi pada warisan kebudayaan mereka. Pemerintah memberikan dukungan terhadap kesenian tradisional dan kesenian modern, dengan mengucurkan dana dan program pendidikan serta menjadi sponsor bagi kompetisi pameran nasional setiap tahunnya.

Sumber : www.republika.co.id

Ditulis dalam Jalan-jalan. 2 Komentar »

Berwisata di PLTA, Boleh Juga!

Mobil KIA Pregio warna perakkeluaran 2006 berlogo PT Indonesia Asahan Alumnium (Inalum), melesat dengan kecepatan 80 kilometer per jam. Udara cukup sejuk sehingga pendingin udara tak digunakan.

Sebentar-sebentar mobil oleng ke kanan, sejurus kemudian banting kemudi ke arah kiri. Begitu berulang kali. Di sisi jalan, jurang yang dipenuhi pepohonan siap memangsa bila sopir lengah. Di sisi lainnya, tampak pahatan tebing berwarna cokelat dan abu-abu bercampur dengan dahan dan ranting yang menjuntai.

Mobil KIA Pregio terus meraung dan melaju. Di dalamnya, kami — enam wartawan media nasional — terguncang-guncang akibat liukan mobil. Ahad (29/7) pagi itu, pengemudi mobil tersebut mendapat perintah untuk secepat mungkin membawa kami ke Stasiun Pembangkit Listrik Tenaga Air Siguragura, Paritohan, Kabupaten Toba Samosir, Sumatra Utara (Sumut). Mata kami tak lepas dari jendela mobil. ”Masya Allaaahh,” seru Andi, wartawan yang bekerja di Biro Medan dari salah satu koran tertua di Indonesia. Ia takjub melihat pemandangan di sekelilingnya.

Bukit-bukit nan hijau tampil indah dengan sejumlah air terjun di beberapa sisi. Cipratan airnya memancar dari sisi-sisi dinding bukit yang berwarna cokelat kemerahan.

Pancaran air terjun itu, ada yang cukup tinggi, ada pula yang rendah. Air terjun terbesar, Siguragura, yang memancarkan debit air terbanyak dari Sungai Asahan, digunakan sebagai penggerak PLTA (Pusat Listrk Tenaga Air). Tapi kini, Siguragura telah mati. Ia tak lagi terlihat sebagai air terjun karena cuma bisa ‘ngucur‘.

PLTA bawah tanah
Tepat di samping air terjun terbesar inilah stasiun pembangkit listrik Siguragura berdiri. Ia berada sekitar 23 kilometer dari mulut Danau Toba. Kompleks bangunannya terbagi dua. Pertama adalah stasiun kontrol. Kedua, medan saklar luar dengan belasan menara listrik berwarna perak dan kabel hitam yang menjuntai melintasi bukit-bukit.

”Lho, mana PLTA-nya?” kataku dalam hati. Dari luar, yang namanya stasiun kontrol itu tidak mengikuti gambaran awam tentang PLTA maupun bendungan. Kantornya berbentuk kubus dicat putih pudar, berdampingan dengan bangunan silinder bercat putih yang merupakan ujung dari terowongan lift.

Di lobi, Setiabudi Maslim, senior manager Administration Power Plant Inalum, menjelaskan pada kami bagaimana cara kerja PLTA yang ternyata ada di bawah tanah! Turbin PLTA-nya beserta terowongan air dan transformator listrik tertanam di kedalaman 200 meter dari tempat kami berdiri. Siguragura adalah pembangkit bawah tanah pertama di Indonesia. Ia dibangun pada Mei 1978 dan tuntas tiga tahun sesudahnya.

Pak Budi, begitu kami memanggil Setiabudi Maslim, menunjukkan bagian-bagian dari maket PLTA Siguragura. Bagaimana air Danau Toba yang mengalir ke Sungai Asahan dan menjadi air terjun dimanfaatkan untuk tenaga listrik.

Pak Simanjuntak, salah satu manajer Inalum, yang menyertai rombongan kami, juga bercerita soal PLTA kebanggannya ini. ”Pernah datang seorang ahli PLTA asal Prancis ke sini. Ia kagum masih ada PLTA berumur 30 tahun yang kinerjanya masih baik seperti ini. Suaranya lembut dan getarannya sangat halus. Salah satu ciri PLTA yang baik ya dua itu, dia kagum atas Indonesia,” tutur pria berkacamata tebal ini.

Rombongan lalu bergerak ke bawah. Kami meninjau ruang turbin yang terletak di ujung ruangan. Dalam ruangan itu banyak sekali mesin-mesin seukuran lemari baju berwarna abu-abu dengan panel dan tombol warna-warni yang dikelilingi pagar kawat. Satu tanda terpampang di pagar itu, yakni gambar tengkorak dan kilat, alias ‘awas sengatan listrik tegangan tinggi’. Yang namanya ruangan turbin adalah satu kubus dengan silinder di tengahnya. Silinder itu berputar terus-menerus, selama 24 jam, dengan kecepatan 330-560 RPM untuk menghasilkan listrik. Deru mesin yang dihasilkan akibat air itu sangat besar. Harus teriak supaya bisa terdengar. Tak berapa lama di ruang turbin, kami pun menyudahi kunjungan di Sigura-gura. Rombongan keluar lewat jalur kedua, yaitu terowongan bukit. Terowongan itu menghujam ke dasar PLTA dan muncul di bukit di bawah stasiun.

Bendungan Tangga
Apa jadinya bila warga Sumut sanggup menghalau derasnya air Sungai Asahan dan membeton di antara dua lembah hijau yang terjal dan sempit? Jawaban pastinya cuma satu, yakni Bendungan Tangga! Horas bah! Bendungan Tangga terletak empat kilometer di bawah Siguragura. Air yang sudah memutar turbin Siguragura kembali dialirkan ke Sungai Asahan dan dimanfaatkan kembali untuk menggerakkan turbin di stasiun pembangkit listrik Tangga.

Bendungan Tangga memiliki panjang 125 meter dengan tinggi 82 meter. Ia sanggup menahan volume air sebesar 53 ribu meter kubik. Tangga adalah bendungan bentuk busur pertama di Indonesia. Ia mulai dibangun pada Mei 1978 dan tuntas empat tahun sesudahnya.

Begitu mobil memasuki pelataran parkir bendungan, kami ibarat anak kecil yang girang melihat mainan baru. Seluruh wartawan bergegas turun untuk melihat bendungan yang gambarnya sempat menghiasi uang kertas pecahan Rp 100 di era 1990-an. Aku malahan setengah berlari, tak sabar untuk menikmati bendungan itu.

Pemandangan betul-betul indah. Bendungan Tangga tepat berada di mulut lembah terjal dan sempit. Dua aliran Sungai Asahan berwarna hijau lumut mengalir di belakangnya. Bendungan Tangga berwarna krem dan terbuat dari beton solid. Di sisi yang merapat ke lembah tersedia tangga ke bawah. Ia memiliki tiga pintu air tempat mengontrol volume air. Air selanjutnya turun secara bertingkat-tingkat, layaknya tangga. Sang pembuat bendungan memapas dengan ketepatan sudut yang mengagumkan, menjadikannya sebuah tangga raksasa yang makin jauh ke hilir makin tinggi.

Berbeda dengan Siguragura, stasiun pembangkit listrik Tangga berada di permukaan tanah. Ia memiliki empat generator yang masing-masing berkapasitas 79,2 MW. Air yang ditampung di bendungan ini dialirkan melalui terowongan bawah tanah yang terletak di sisi bendungan sepanjang 1.618 meter yang kemudian menggerakkan turbin.

Tak puas menatap dari anjungan, aku dan Andi mencari jalan turun ke bawah anjungan. Kami ingin semakin dekat dengan bendungan itu. Andi tidak membuang waktu dan langsung mengabadikan bendungan ke dalam kamera digitalnya.

Secara total, tenaga listrik yang dihasilkan oleh pembangkit Siguragura dan Tangga mencapai 426 MW dari kapasitas terpasang 603 MW. Bila tidak digunakan untuk pabrik alumnium yang berlokasi di Kuala Tanjung, listrik dua bendungan itu lebih dari cukup untuk menerangi sebagian wilayah Sumut dan NAD.

Bendungan pengatur
Sudah puas? Ternyata belum. Kami masih bergairah mengunjungi satu bendungan lagi yang terletak di 14,5 kilometer dari mulut Danau Toba yang mengaliri Sungai Asahan. Namanya bendungan pengatur di Siruar. Bentuknya sederhana dengan hanya segaris beton setinggi 39 meter dan volumenya 27.400 meter kubik.

Biarpun sederhana, fungsi bendungan ini sangat strategis. Pak Budi menjelaskan, untuk menjamin kelancaran operasi pabrik peleburan aluminium, dibutuhkan tenaga listrik yang stabil. Listrik yang stabil sangat ditentukan oleh aliran air yang juga stabil. ”Inilah fungsi bendungan pengatur, ia mengatur berapa volume air yang akan melintas di Siguragura dan kemudian Tangga,” katanya.

Di mulut bendungan, kami menemui sejumlah warga yang sedang asyik memancing. Mansyur Barus, wartawan koran sore dari Cawang, Jakarta Timur, langsung tergoda untuk mencoba memancing. ”Ayo lemparkan kailnya yang jauh,” seru pria berbadan tambun ini lalu tertawa lepas.

Apa saja ikan yang berenang di air warna hijau itu? Menurut warga setempat, saat ini ikannya tinggal jenis mujair. Itupun ukurannya kecil. Tadinya, jenis ikan yang ada di bendungan ini beraneka ragam. Tapi polusi yang mencemari air bendungan, konon akibat pabrik kertas di sekitar daerah itu, membuat keluarga ikan punah. Berita banyak ikan mati mengambang di Danau Toba memang sempat mewarnai media massa beberapa tahun belakangan.

Selepas bendungan ini, rombongan memutuskan untuk segera kembali ke Medan. Meski badan penat dan penuh keringat, rona senang terpampang di wajah kami. Tiga bendungan cantik dalam waktu kurang dari empat jam kami kunjungi. Ini baru namanya wisata PLTA di Sumut. Kembali kami berseru girang, horas bah!

Sumber : www.republika.co.id

Ditulis dalam Jalan-jalan. 2 Komentar »

Lembah Baliem Pesona Tiada Akhir

Di ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut, ribuan warga berkumpul di sebuah tanah lapang di Distrik Kurulu, Wamena, Kabupaten Jaya Wijaya, Papua. Selama dua hari, 9-10 Agustus lalu, berbagai suku di kawasan Lembah Baliem berkumpul menampilkan berbagai atraksi di ajang Festival Budaya Lembah Baliem 2007.

Festival dimulai dengan pelepasan anak panah dari sebuah busur oleh pejabat setempat. Anak panah yang melesat cepat itu menandai festival budaya yang telah berlangsung sejak 1989. Patut dicatat, salah satu tujuan digelarnya festival ini adalah menyalurkan hasrat berperang yang telah ada sejak ratusan tahun silam. Kini perang tetap berlanjut, namun tidak lagi diiringi tangis air mata dan pertumpahan darah.

Sementara prosesi pembukaan festival berlangsung, peserta dan penonton menunggu dengan sabar di sekeliling lapangan. Mereka, yang antara lain adalah para utusan dari daerah, menanti giliran untuk menunjukkan atraksi dengan menyanyi dan menari. Tentu, lengkap dengan berbagai atributnya, semisal pakaian kebesaran suku-suku yang mendiami Lembah Baliem. Aneka aksesori dari bulu unggas, tulang, taring dan lain-lain tampak serasi dikenakan di tubuh mereka.

Perang-perangan merupakan atraksi dominan yang ditampilkan para utusan daerah itu. Menggunakan berbagai jenis senjata, atraksi ini digelar di sebidang tanah lapang. Panah dan tombak menjadi senjata yang paling kerap digunakan. Kedua kelompok suku yang tengah beratraksi itu akan terus berperang hingga kedua pihak memutuskan untuk berdamai.

Tidak jauh dari tanah lapang tempat atraksi perang-perangan berlangsung, beberapa kelompok warga memeragakan tradisi bakar batu. Batu-batu yang dibakar ini menjadi sumber panas untuk mengukus umbi-umbian dan beberapa jenis bahan pangan lain yang ditumpuk dengan dedaunan. Konon, cara memasak makanan dengan cara seperti ini telah dilakukan nenek moyang mereka sejak ratusan bahkan ribuan tahun lalu.

Kini, waktu seakan berhenti berdetak di Wamena…
Mengunjungi Papua tanpa mendatangi Wamena, ibarat pergi ke Makkah tanpa menyambangi Madinah. Kalimat itu selalu diucapkan kepada wisatawan yang mengunjungi ibukota Kabupaten Jayawijaya itu. Terletak di ketinggian Pegunungan Jayawijaya, Wamena menyimpan pesona tak terkira bagi setiap orang yang mendatanginya.

Dikelilingi hutan perawan Papua, Wamena tepat berada di tengah Provinsi Papua. Untuk mencapai Wamena, hanya bisa dilakukan dengan transportasi udara. Beberapa penerbangan perintis melayani perjalanan udara itu, yang ditempuh dari Bandara Sentani Jayapura ke Bandara Wamena. Namun, kondisi cuaca yang berubah-ubah di Wamena kerap memengaruhi jadwal penerbangan.

Selain festival budaya tahunan yang menyuguhkan aneka atraksi, Wamena menyimpan banyak potensi wisata lainnya. Jika selama ini, mumi identik dengan Mesir, maka Anda tak perlu terbang jauh-jauh ke negeri di ujung utara benua Afrika itu untuk melihat mumi. Sambangi saja Wamena. Sebab, di sini terdapat setidaknya tiga mumi yang berumur ratusan tahun. Salah satunya, mumi berusia 350 tahun yang ada di Desa Kurulu.

Alam Wamena menjanjikan daya tarik tersendiri. Dataran luas yang dikelilingi perbukitan dan pegunungan tampak asri dipandang dari kejauhan. Cuaca yang terkadang sulit ditebak, justru memberikan variasi pemandangan yang sangat menarik. Semburat sinar matahari yang menerobos awan mendung tampak elok dipandang. Semuanya makin terasa elok karena didukung oleh udara yang sejuk dan segar.

Ingin mencari cenderamata sebagai buah tangan untuk teman dan kerabat? Wamena menyediakannya. Aneka cenderamata khas kota ini bisa didapatkan dengan mudah. Beberapa toko khusus cenderamata telah berdiri di pusat kota. Pasar Wamena pun menjanjikan suasana khas yang sangat sayang jika dilewatkan begitu saja. Aneka cenderamata bisa pula didapatkan di sini.

Wamena memang tak ada habisnya untuk dinikmati. Pada saat-saat sibuk, seperti ketika festival budaya digelar, Wamena berdenyut kencang. Kamar-kamar hotel terisi penuh. Tak hanya pelancong lokal, kamar-kamar hotel itu juga diisi oleh para turis asing, dari Amerika Serikat, Italia, Spanyol, Norwegia, dan Jepang. Selain untuk menghirup udara segar Wamena, mereka juga datang untuk menyaksikan Festival Budaya Lembah Baliem. Beberapa di antara mereka bahkan telah menyaksikannya untuk yang kesekian kali.

Sumber : www.republika.co.id

Keindahan Bawah Laut di Kungkungan

Bagi masyarakat Indonesia, Kungkungan Bay Resort bisa jadi kalah kondang dibanding Taman Nasional Bunaken sebagai tempat wisata bahari di Sulawesi Utara (Sulut). Namun di mata turis mancanegara, Kungkungan menjadi salah satu tempat wisata bawah laut favorit yang wajib dikunjungi. Maka, tidak heran jika pengunjung Kungkungan lebih didominasi turis asing ketimbang wisatawan Nusantara.

Kungkungan tak terlalu sulit dicapai. Jika menggunakan kendaraan pribadi, dari Kota Manado Anda harus terlebih dahulu menuju Kota Bitung. Perjalanan Manado-Bitung ini butuh waktu sekitar dua jam. Sesampainya di Bitung, perjalanan selama 20 menit berikutnya dilakukan dengan menyusuri jalan terjal berliku menuju Selat Lembeh, tempat Kungkungan berada.

Perjalanan jauh dan berliku pasti membuat badan terasa lelah dan letih. Namun jangan kaget, begitu Anda menapaki pasir dengan mata tertuju pada air laut yang kehijauan di sekitar Kungkungan, punahlah rasa lelah dan letih itu.

Untuk pelancong yang baru saja tiba, petugas resor biasanya akan membagikan roti tawar. Jangan salah, roti tersebut bukan untuk cemilan selamat datang, tapi untuk umpan ikan-ikan laut. Kerumunan ikan warna-warni yang berebut remah-remah roti dari pengunjung merupakan pemandangan khas Kungkungan yang konon tak dimiliki resor lain.

Air laut Kungkungan nyaris tak berombak, lantaran letak geografisnya yang berada di bawah bukit. Selain itu, Kungkungan juga diapit dua pulau kecil: Pulau Lembe dan Pulau Serena, yang hanya berjarak sekitar 200 meter dari bibir pantai. Air laut yang tenang dan jernih itu memungkinkan pengunjung mengamati ekosistem laut seperti bintang laut biru, ikan ekor kuning, atau ikan julung-julung dengan mata telanjang.

Luas lahan Kungkungan sendiri hanya sekitar empat haktare. Didirikan sekitar tahun 1995 atas kerja sama swasta dengan Pemkot Bitung, Kungkungan dibangun dengan tujuan wisata diving dan snorkeling. Untuk menciptakan kesan private, pengelola sengaja hanya membangun 17 bungalow yang semuanya menghadap ke laut.

”Karena tempat terbatas, para turis biasanya sudah booking dari jauh hari,” kata Asisten Manajer Kungkungan Bay Resort, Rustam Talengkera. Menurut Rustam, minat wisatawan mancanegara untuk merasakan keindahan panorama Kungkungan sangat tinggi. Hal tersebut dibuktikan dengan tingkat hunian bungalow yang selalu full booked sepanjang tahun. Bahkan, untuk memastikan bisa menyelam di sekitar Kungkungan, lanjut Rustam, pernah ada turis yang mem-booking kamar dua tahun sebelumnya dengan sistem pembayaran penuh di muka.

Soal tarif berwisata di Kungkungan, lanjut Rustam, sebanding dengan fasilitas wisata yang disajikan. Untuk turis domestik, harga sewa bungalow antara Rp 700 ribu sampai Rp 900 ribu per hari. Sementara untuk turis asing, harga bisa dua kali lipat lebih mahal dengan kurs dolar AS. Jika ingin menyelam, pengunjung akan dikenakan biaya Rp 180 ribu per jam. Sementara tarif snorkeling, Rp 120 ribu per jam.

Didampingi instruktur
Di perairan Kungkungan, sedikitnya terdapat 38 titik selam dengan kedalaman 12 hingga 15 meter. Ketika menyelam di Kungkungan, Anda akan menyelam bersama instruktur profesional dari Eco Divers. Para instruktur juga merangkap sebagai juru foto untuk memastikan wisata bawah laut Anda terabadikan. Demi kenyamanan menyelam, setiap kelompok dibatasi hanya empat orang penyelam untuk tiap satu instruktur.

Beragam ikan laut dan gugusan karang yang indah merupakan panorama khas bawah laut Kungkungan. Bahkan jika beruntung, saat menyelam Anda bisa bertemu spesies langka seperti kuda laut kerdil, ikan katak berbulu lebat, ikan kalajengking ambon, hingga ikan pipa kembang. Selesai menyelam, Anda bisa kembali ke resor untuk mandi air hangat atau sekadar berenang di kolam renang mini.

Ketika perut terasa lapar, Anda bisa menyambangi restoran 24 jam a la carte dengan menu masakan Barat dan tradisional Indonesia. Jika masih ingin dimanjakan, terapi pijat tradisional Indonesia bisa Anda coba. Jangan khawatir, para pemijatnya berpengalaman. ”Saat ini kami juga sedang membangun fasilitas spa untuk melengkapi kenyamanan pengunjung,” tambah Rustam.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulut, Edwin Silagen, mengakui bahwa Kungkungan merupakan salah satu tempat wisata unggulan di Sulut. Menurut Edwin, marine tourism memiliki kontribusi cukup besar bagi pertumbuhan ekonomi Sulut. Dari pertumbuhan ekonomi Sulut sebesar 5,87 persen pada tahun 2006, sektor pariwisata menyumbang pendapatan terbesar setelah sektor pertanian.

Eksplorasi wisata bawah laut di Sulut saat ini, lanjut Edwin, belum optimal. Ia memperkirakan, setidaknya masih terdapat 100 titik selam potensial yang tersebar di tiga kabupaten/kepulauan yakni Sitaro, Sangihe, dan Talaud. Untuk mengembangkan potensi itu, pemerintah daerah tengah melakukan investasi infrastruktur pendukung seperti pembangunan jalan menuju tempat wisata dan pembangunan hotel.

World Ocean Conference (WOC) yang rencananya berlangsung di Manado, Mei 2009 nanti pun dibidik Pemprov Sulut sebagai ajang promosi wisata ke dunia luar. Pada WOC nanti, dunia akan dikenalkan pada potensi wisata bahari Indonesia dan Sulut khususnya, lewat motto The Land of Smiling People.

Sumber : www.republika.co.id

Ditulis dalam Jalan-jalan. 1 Komentar »

Bukan Hanya Pasar Sukawati

Pulang jalan-jalan dari Bali tanpa oleh-oleh? Pasti terasa tidak komplet. Sebab, tak hanya panorama alamnya yang indah, Bali juga kesohor dengan aneka cenderamata-nya yang sangat khas. Ada aneka kerajinan kayu, lukisan, kaos, batik, salak Bali yang manis itu, sampai makanan ringan seperti kacang asin.

Banyak tempat di Bali di mana kita bisa mendapatkan aneka cenderamata itu, utamanya di jalan-jalan utama menuju objek wisata. Hanya saja, belum banyak wisatawan, khususnya wisatawan domestik, yang mengetahui tempat-tempat itu. Alhasil, mereka pun belanja cenderamata di pasar tradisional yang sudah dikenal sebelumnya. Sebut saja misalnya, Pasar Seni Sukawati di Kabupaten Gianyar, Pasar Seni Kuta, atau Pasar Kumbasari Denpasar, yang baru-baru ini musnah terbakar.

Selain pasar-pasar tradisional itu, aneka cenderamata khas Bali bisa pula diperoleh di toko oleh-oleh yang dalam tiga tahun terakhir keberadaannya kian menjamur. Toko oleh-oleh ini memang menjadi pesaing pasar-pasar tradisional, terutama dalam hal harga. Dulu, untuk membeli baju batik Bali atau barang-barang kerajinan, wisatawan harus mengunjungi Pasar Seni Sukawati.

Cenderamata yang dijajakan di Pasar Sukawati memang lengkap. Harganya juga relatif murah, asal pintar menawar. Lain halnya dengan Pasar Seni Kuta. Di pasar yang letaknya dekat dengan Pantai Kuta ini, harga cenderamata dipatok lumayan mahal. Agaknya, barang-barang di pasar ini lebih ditujukan untuk turis asing.

Tapi kini, wisatawan tak perlu terpaku pada pasar tradisional. Untuk mendapatkan buah tangan khas Bali, Anda bisa mengunjungi toko oleh-oleh. Toko ini menyerupai pasar swalayan yang khusus menjual aneka cenderamata khas Bali.

Bila Anda menginap di Kuta atau Denpasar, Anda bisa bertanya kepada petugas hotel tempat Anda menginap mengenai toko cenderamata ini. Biasanya, toko oleh-oleh itu sangat aktif menyebar brosur dan menitipkannya ke pengelola hotel. ”Saya lebih suka berbelanja di sini,” kata Wiwid, pelancong asal Jakarta, saat ditemui di Toko Erlangga 2.

Wanita yang bersuamikan warga Korea itu mengatakan, setiap kali ke Bali, ia selalu belanja oleh-oleh di toko ini. Alasannya, lokasi toko ini yakni di pusat Kota Denpasar, sangat mudah dijangkau. Selain itu, harga cenderamata di toko ini juga relatif murah. Kualitasnya juga tidak mengecewakan. ”Karena harganya nggak pakai tawar-menawar, saya jadi yakin bahwa oleh-oleh yang saya beli nggak mahal.”

Di Denpasar, cukup banyak toko oleh-oleh seperti ini. Sayangnya, toko yang terletak di Jl Sumatra dan Jl Thamrin, Denpasar, tak memiliki tempat parkir yang memadai. Bahkan, kendaraan-kendaraan besar dilarang parkir di sana. Padahal, wisatawan domestik umumnya datang ke Bali dengan menumpang bus-bus besar.

One stop shopping
Hanya berkunjung ke satu toko, kini wisatawan di Bali bisa mendapatkan aneka oleh-oleh yang diinginkan. Untuk menarik pembeli, ada pengusaha toko oleh-oleh yang mempertontonkan cara pengolahan atau pembuatan salah satu jenis buah tangan kepada para pengunjung toko-nya. Contohnya di Pusat Oleh-oleh Bali Cahayu. Di toko yang terletak di Batubulan, Gianyar ini, wisatawan bisa melihat langsung proses pembuatan kacang asin Bali. ”Di sini, selain berbelanja, wisatawan akan diajarkan cara membuat kacang asin yang kami produksi. Jadi, setiba di rumah, mereka bisa mempraktikkannya sendiri,” kata Robani, pemilik Pusat Oleh-oleh Bali Cahayu.

Mantan pengasong ini mengaku terinspirasi membuka toko oleh-oleh setelah melihat banyak wisatawan di Bali yang tidak memiliki banyak waktu untuk berbelanja oleh-oleh. Karena itu, dia membuka tempat belanja di mana wisatawan bisa mendapatkan beragam cenderamata cukup di satu tempat atau one stop shopping. Selain kacang asin, Robani juga menyediakan aneka oleh-oleh lainnya seperti emping koro, tomat rasa kurma, dodol kulit jagung, dodol kue gambir, juga aneka kaos dan barang kerajinan.

Pusat Oleh-oleh Bali Cahayu dan Toko Erlangga 2 hanyalah segelintir dari banyak toko oleh-oleh yang menjamur di Bali saat ini. Kepala Dinas Pariwisata Kota Denpasar, Putu Budiasa, juga mengakui perkembangan ini. Menurut dia, hadirnya pusat-pusat belanja itu adalah juga tuntutan dari perkembangan pariwisata Bali. ”Wisatawan umumnya menginginkan kemudahan dan kenyamanan berbelanja, selain juga harganya bersaing.”

Setelah Pasar Kumbasari terbakar beberapa bulan lalu, lanjut Budiasa, Denpasar tak punya lagi pasar tradisional khusus oleh-oleh yang dikelola pemerintah. Karena itu, kehadiran toko oleh-oleh yang dikelola pihak swasta sangat memudahkan wisatawan mendapatkan oleh-oleh khas Bali. ”Mereka bisa mengunjungi satu pusat oleh-oleh, dan bisa mendapatkan semuanya. Ini menghemat waktu,” ujar Budiasa. Anda setuju?

Sumber : www.republika.co.id

Ditulis dalam Jalan-jalan. 1 Komentar »

Lembah Putri Nan Memesona

Batu bertuliskan ‘Lembah Putri’ terpampang di sebelah kiri jalan menuju Pantai Pangandaran. Sepi, itulah kesan yang muncul saat menginjakkan kaki di gerbang masuk tempat tersebut. Di sebelah batu tadi hanya terdapat satu pos Satpam. Melihat tampilan dan aksen yang terlihat di gerbang masuk tadi, seolah kita tengah menuju ke sebuah hotel mewah. Namun saat ditelusuri, Lembah Putri justru menyuguhkan ‘teka-teki’ tentang keindahan sebuah pantai.

Ada dua cara untuk memecahkan teka-teki itu, yakni menggunakan kendaraan atau jalan kaki. Kendaraan yang dipergunakan haruslah dalam kondisi baik. Sebab, jalanan yang harus dilalui cukup berliku dengan tanjakan yang lumayan tajam.

Setidaknya, terdapat dua tanjakan yang cukup tajam dengan kontur jalan melingkar 180 derajat. Selepas itu, pengunjung akan melihat jalanan aspal yang tertata begitu alami. Selama dalam perjalanan di kompleks Lembah Putri, pengunjung disarankan membuka jendela. Sejuknya perpaduan hawa pantai dan gunung sangat terasa di bukit yang luasnya sekitar 5 hektare ini. Sedangkan di sisi kiri dan kanan jalan terhampar hijaunya dedaunan.

Di tengah bukit, pengunjung sudah bisa melihat pesona pantai. Hamparan laut yang begitu eksotik, seolah membuat pengunjung tak ingin pergi dari sana. Namun pesona itu belum seberapa. Di salah satu sisi jalan terdapat tangga yang didesain seperti miniatur Tembok Cina.

Teka-teki Lembah Putri makin menarik. Saat kaki melangkah di setiap undakan miniatur Tembok Cina, keindahan alam makin terasa. Untuk menaklukkan miniatur Tembok Cina dibutuhkan sedikit kerja keras. Jangan kaget, Anda akan bermandi peluh ketika berjalan mendaki miniatur Tembok Cina ini.

Minatur Tembok Cina dibuat dari batu alam berwarna hitam. Tingginya sekitar 1 meter, sedangkan luas untuk berjalan kaki sekitar 1 meter. Jarak antara undakan yang satu dengan undakan yang lain juga cukup luas. Saat berpeluh mendaki bangunan ini, hiburlah mata Anda dengan memandang pantai yang biru beserta deburan ombaknya.

Ingin istirahat? Jangan khawatir, pengelola menyediakan beberapa tempat istirahat dengan pandangan langsung ke pantai. Dari tempat peristirahatan itu, garis pantai terlihat jelas termasuk hutan tropis yang mengelilingi pantai. Bagi Anda yang senang fotografi, pemandangan tersebut merupakan objek yang menggairahkan. Anda tentu tak akan melepas kamera dan terus membidik objek-objek cantik dari berbagai sudut.

Pulau Nusakambangan
Di salah satu tempat peristirahatan, pengunjung bisa melihat Pulau Nusakambangan dengan cukup jelas. Untuk menuju pulau ini, pengunjung perlu naik perahu boat sekitar tiga jam. Sayangnya, pulau tersebut bukan tujuan wisata. Selain itu, tidak setiap saat nelayan mau mengantarkan pengunjung ke Pulau Nusakambangan.

Penempatan miniatur Tembok Cina merupakan suatu hal yang unik. Hal ini yang membedakan Lembah Putri dengan puluhan objek wisata lain di Pangandaran. ”Meskipun capek, tapi nggak rugi. Pantainya keren abis, eksotik banget,” komentar Peter, salah satu pengunjung. Peter dan keluarganya baru pertama kali melancong ke Lembah Putri. Lokasi ini, sambung Peter, memberikan suasana yang baru untuk berlibur. Terlebih, pantai yang terlihat dari Lembah Putri betul-betul masih perawan. Hal yang paling disukainya adalah menelusuri pantai dengan mendaki miniatur tembok Cina. Layaknya sebuah pendakian, saat sampai puncak, pengunjung merasa sangat puas.

Lembah Putri terletak di Desa Putrapinggan, sekitar 85 km dari Kota Ciamis. Saat ini, Lembah Putri dimiliki seorang pengusaha asal Tasikmalaya. Tempat wisata ini terhitung paling anyar di Pangandaran, karena baru diresmikan tiga tahun lalu. Bukit inipun hingga kini belum dikunjungi oleh banyak orang. Namun dalam waktu dekat akan dibuat kesepakatan antara pemerintah dan pemilik untuk menetapkan Lembah Putri menjadi tempat wisata untuk umum.

Pengelola menyediakan empat buah cottage bagi pengunjung yang ingin berlibur dalam waktu yang lama. Lokasi ini sangat cocok untuk liburan keluarga. Lembah Putri pun cukup strategis, karena berdekatan dengan Pantai Pangandaran. Untuk sampai ke Pangandaran, pengunjung hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit dengan kendaraan berkecepatan 60 km per jam.

Di Kabupaten Ciamis, terdapat 22 objek wisata, yakni Situ Lengkong Panjalu, Curug Tujuh, Astana Gede, Situs Gunung Susuru, Karangmulyan, Kampung Kuta, Urug Kasang, Goa Donan, Majingklak, Palatar Agung, Karapyak, Karang Nini, Lembah Putri, Pangandaran, Cagar Alam Pananjung, Karang Tirta, Citumang, Batu Hiu, Cukang Taneuh, Batu Karas, Madasari, dan Keusikluhur.

Untuk menuju ke Pangandaran ada berbagai transportasi umum yang bisa digunakan. Pengunjung bisa menggunakan bus dari Bandung. Atau jika ingin berkelana, pengunjung bisa menggunakan kereta api dari Bandung ke Banjar lalu dilanjutkan dengan bus. Selama perjalanan menggunakan kereta, pemandangan sepanjang jalan cukup indah. Satu lagi, Pangandaran juga bisa dicapai dengan transportasi udara.

Sumber : www.republika.co.id