Jangan ragu untuk menyebut Yogyakarta sebagai tempat wisata terkemuka di Nusantara, selain Bali. Banyak orang bilang, Yogya sempurna sebagai kota pelesiran. Di kota bekas Kesultanan Mataram itu, Anda bisa menikmati aneka hasil seni dan budaya, cuci mata di pusat-pusat belanja, mencicipi kelezatan aneka makanan khas Yogya sembari duduk lesehan di sepanjang jalan Malioboro, atau mengunjungi tempat-tempat berpanorama indah di sekitar kota ini.
Hal lain yang sangat menyenangkan ketika berada di Yogya adalah kemudahan untuk menjangkau objek wisata yang satu dengan lainnya. Karena jaraknya saling berdekatan, Anda bisa menjangkaunya dengan menumpang delman atau becak. Sedangkan untuk objek wisata yang agak jauh, tersedia taksi, bus kota, angkot, juga ojek.
Namun dari berbagai moda transportasi itu, becak lah yang terfavorit. Selain murah, mobilitasnya di dalam kota juga lebih tinggi. Berbeda dengan banyak kota besar lainnya di negeri kita, Yogya salah satunya yang sangat ramah pada kendaraan roda tiga ini. Di jalan-jalan utama, seperti Malioboro, becak berseliweran mencari penumpang.
Bagi para pelancong, keberadaan becak-becak itu sangat menguntungkan. Bayangkan, di senja hari yang sejuk, Anda naik becak menikmati suasana Yogya. Tentu sangat menyenangkan. Enaknya lagi, Anda bisa bertanya banyak hal pada sang pengemudi becak. Layaknya tour guide, ia akan dengan senang hati menjawab semua pertanyaan Anda. Jangan heran, jika sang pengemudi becak ini bisa menjelaskan secara fasih seluk-beluk kota Yogya. ”Sudah biasa Mas, kita sudah tahu apa yang dikehendaki wisatawan bila ke Yogya, jadi kami hampir hafal,” kata Suryadi, pengemudi becak yang mangkal di ujung jalan masuk kawasan Malioboro.
Selain bisa berperan layaknya tour guide, para pengemudi becak di Yogya juga sangat santun, tidak suka neko-neko. Mereka umumnya tak mau menipu para turis supaya membayar ongkos lebih mahal. ”Kami tidak ingin ketidakjujuran merusak citra kota Yogya. Jika itu terjadi, kami juga yang repot. Jadi kami harus menjaga kenyamanan wisatawan selama berada di Yogya,” kata Tukiman, tukang becak asal Solo yang sudah lebih dari 30 tahun tinggal di Yogya.
Tak hanya para turis berduit, Yogya juga cukup ramah bagi para pelancong dengan dana terbatas. Di kota gudeg ini tersedia banyak penginapan sederhana dengan tarif puluhan ribu rupiah semalam. Jangan pula pusing untuk urusan perut. Siapapun bisa dengan mudah menemukan warung makan atau depot-depot makan kaki lima. Harga makanannya? Dijamin tak merepotkan kantung. ”Satu hal lagi, orang Yogya juga sangat welcome pada wisatawan. Itu membuat kita kerasan di kota ini,” kata Joko Susilo, peserta Press Gathering PT Telkomsel di Yogyakarta, belum lama ini.
Keraton
Di antara sekian banyak tempat menarik yang ‘wajib’ dikunjungi ketika berada di Yogya adalah keraton. Meski telah berusia ratusan tahun, Keraton Ngayogyakata Hadiningrat masih terpelihara baik. Pranata budaya serta benda-benda kuno peninggalan raja-raja Mataram juga sangat terawat. Menurut catatan sejarah, keraton ini dibangun pada tahun 1756 oleh Pangeran Mangkubumi (Hamengku Buwono I) sebagai pusat kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat. Sebagaimana bangunan keraton pada kerajaan-kerajaan Jawa di masa lalu, Keraton Yogyakarta dibangun menghadap ke utara.
Bangunan terluar berupa benteng keraton yang dibuat dari batu bata merah dengan ketebalan sekitar empat meter. Benteng ini melingkari keraton dan membentuk segi empat dengan beberapa gerbang utama (regol). Adapun susunan bangunan Keraton Yogyakarta berturut-turut dari utara ke selatan adalah: alun-alun utara (termasuk Siti Hinggil dan Bangsal Pagelaran), Kemandungan Lor (utara) atau Keben, Sri Manganti, keraton sebagai bangunan induk, Kemagangan, Kemandungan Kidul (selatan), dan alun-alun selatan.
Pada zaman kerajaan, alun-alun utara digunakan untuk mengumpulkan prajurit dan rakyat. Selain itu, digunakan pula untuk upacara-upacara adat seperti grebeg, sekaten, dan lain-lain. Keberadaan alun-alun ini melambangkan menunggalnya raja dengan rakyat dalam membangun kerajaan. Di tengah alun-alun terdapat dua pohon beringin yang melambangkan bahwa sultan adalah pelindung dan pengayom rakyatnya. Puas menikmati keraton, sempatkan melongok Taman Sari. Letaknya tidak jauh dari keraton. Pada masa lalu, Taman Sari merupakan tempat rekreasi bagi para sultan dan kerabat keraton. Di tempat ini, Anda dapat menyaksikan peninggalan sejarah berupa istana, kolam pemandian, gapura, dan lorong bawah tanah. Dari Taman Sari, sempatkan menyambangi Pasar Burung Ngasem. Di pasar inilah, warga Yogya biasa membeli hewan peliharaan, terutama burung.
Selain objek-objek wisata dalam kota Yogyakarta, wisatawan dapat pula mengunjungi sejumlah destinasi yang ada di sekitar kota Yogyakarta. Kendati masuk dalam wilayah kabupaten lain, namun jaraknya tidak terlalu jauh. Sebut saja misalnya, Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Candi Boko. Ada pula Pantai Parangtritis, Kaliurang, Museum Dirgantara, Monumen Yogya Kembali, Museum Afandi, dan sejumlah sentra kerajinan industri kulit. ”Kami hanya dua malam di Yogyakarta, tapi bisa menikmati banyak objek wisata,” kata Yahya Umar, wartawan sebuah media harian di Bali, yang juga salah seorang peserta Press Gathering PT Telkomsel.
Bagaimana dengan urusan cendemata? Yang ini pun tak perlu dikhawatirkan. Yogya punya banyak pilihan cenderamata dan oleh-oleh. Ada batik, keramik, gerabah, kerajinan perak, dan kerajinan kulit. Untuk keramik dan gerabah, Anda bisa mendapatkannya langsung di daerah Kasongan, Bantul. Lain halnya jika menginginkan aneka kerajinan perak berkualitas bagus, maka Anda mesti menuju Kota Gede. Sedangkan untuk mendapatkan kerajinan kulit, seperti rompi, jaket, sepatu, tas, atau dompet, datanglah ke daerah Manding, Bantul. Untuk oleh-oleh makanan khas Yogya seperti bakpia, geplak, yangko, dan ampyang jahe, Anda bisa membelinya di kawasan Purwodiningratan.
Membeli oleh-oleh ke sentra industri, khususnya makanan khas Yogyakarta, cukup menguntungkan karena Anda akan mendapatkan harga lebih murah. Anda pun akan mendapatkan makanan yang masih segar dan baru. Di sepanjang Jalan Malioboro pun, Anda bisa mendapatkan aneka jajanan khas Yogya dan berbagai barang kerajinan termasuk kerajinan perak, kulit, maupun batik. Tapi di sini Anda mesti pintar memilih dan menawar harga. Jika tidak, bisa jadi Anda akan membawa pulang cenderamata dengan harga mahal namun bermutu rendah. Sayang sekali bukan?
Sumber : www.republika.co.id