The Return : Kisah Horor Futuristik

Lewat dua kali penampilan dalam The Grudge: Ju-on (2004,2006), Sarah Michelle Gellar bagai menahbiskan dirinya sebagai spesialis film-film horor. Tahun ini, Gellar kembali dalam The Return, yang shooting-nya hanya terpaut beberapa bulan dengan The Grudge II (2006). Gellar bersiap kembali mengembangkempiskan adrenalin penonton. Namun, akankah film ini seseram The Grudge? The Return berkisah tentang sosok Joanna Mills (Sarah Michelle Gellar), gadis usia 25 tahun, yang kesepian. Tak ada yang terlampau istimewa pada diri Joanna kecuali pekerjaan nomadennya sebagai pengemudi truk dan kemampuannya melihat masa lalu, seperti halnya cenayang. Yang terakhir ini adalah biang dari kesulitan-kesulitannya, tapi juga ‘darah’ dari film ini.

Syahdan, Joanna ditugaskan berangkat ke Texas demi mengamankan pesanan kliennya. Nah, sepanjang perjalanan ke Texas itulah halusinasi-halusinasi mengerikan kian getol menyambanginya. Ia sudah mulai mengalaminya pada usia 11 tahun. Seraut wajah tiba-tiba muncul dari kaca spion dan menatapnya lama. Ketika ia menyalakan radio, anehnya, seluruh stasiun radio menyuarakan lagu Sweet Dream dari Patsy Cline.

Yang kerap tampak dalam halusinasi itu adalah sosok lelaki dengan wajah mengancam serta suasana sebuah bar. Joanna merasa pernah melihat bar ini di suatu masa. Ia menemukannya di La Salle. Betul saja. Itu adalah bar pernah ia lihat di masa kecilnya.

Joanna menemui seseorang pengunjung, Terry Stahl (Peter O’Brien) di situ. Istri Terry, Annie (Erinn Allison), dibunuh secara brutal 15 tahun lalu. Peristiwa ini membuat Terry sebagai tertuduh, meski pengadilan tak kuasa membuktikannya. Anehnya, bayang-bayang peristiwa kriminal itu sekonyong-konyong muncul di benak Joanna. Secara tak terduga pula, ia mendapati dirinya benar-benar tercemplung ke dalam ulangan peristiwa kriminal ini. Apa yang lantas terjadi?

Dibanding The Grudge yang mengobral teror hantu, The Return lebih bernuansa futuristik-supranatural seperti halnya Butterfly Effect (2002). Dialog-dialog amat kering, kecuali ekspresi wajah tegang Gellar yang lumayan meyakinkan. Ide film ini terlalu imajinatif, tak mudah dicerna, dan membikin penonton merasa hampa.

Sumber : www.republika.co.id

Flawless : Demi Sebongkah Berlian

Jika pernah terpukau oleh kejeniusan Danny Ocean (George Clooney) dan kawan-kawan membobol brankas sertifikat berharga dalam Ocean’s Twelve (2004), yakinlah bahwa film itu hanyalah cerita fiksi yang ’sok high-tech‘.

Sebab, di dunia nyata, paling tidak tahun 1960, tak dibutuhkan otak secemerlang Danny Ocean dan teknologi tinggi untuk membawa lari harta senilai ratusan juta poundsterling. Tapi, cukup otak seorang Tony Hobbs (Michael Caine), seorang petugas pembersih lantai yang kakinya pincang. Inilah cerita menarik Flawless (2007).

Kian menarik setelah mengetahui bahwa peristiwa heboh ini betul-betul terjadi di London empat dasawarsa silam. Tepatnya di London Diamond (Lon Di), perusahaan pemasok berlian terbesar di Eropa yang memiliki penjagaan ekstraketat, jika tidak mustahil dibobol. Flawless adalah kisah pembobolan berlian yang, boleh jadi, paling menarik sepanjang sejarah.

Tapi, sekali lagi, Flawless bukanlah Ocean’s Twelve yang menjadikan dirinya pentas bagi kepiawaian para maling. Flawless sejatinya adalah film drama –drama kehidupan Laura Quinn (Demi Moore) yang menggetarkan. Dialah ‘berlian’ sesungguhnya perusahaan berlian Lon Di. Cerdas dan pekerja keras, Quinn adalah satu-satunya wanita di jajaran manajer Lon Di. Seorang wanita ambisius, menghabiskan hidupnya demi karier, usianya 38 tahun, dan tetap melajang.

Sayangnya, karier Quinn tak serupawan parasnya. Ia terus dipaku pada kursi manajer selama bertahun-tahun. Untuk wanita sekaliber Quinn, jabatan ini terlampau mungil, sementara ia dikenal di kantornya sebagai ’si datang pertama, si pulang terakhir’.

Suatu ketika terjadi kisruh yang menewaskan seratus orang di tambang berlian Afrika Selatan. Sebuah kisruh yang merembet ke isu Perang Dingin. Diduga melibatkan Lon Di, kisruh ini memastikan diputusnya kontrak Lon Di dengan pemerintah Rusia. Tapi, Quinn punya ide ambisius. ”Kita lanjutkan bisnis lewat jalan belakang,” cetusnya.

Kabar sial itu pun meluncur dari mulut Hobbs. Sang pembersih lantai mencuri dengar bahwa Quinn bakal dipecat menyusul ide nakal soal Rusia tadi. Betul saja. Surat pemecatan Quinn bahkan sudah rampung disusun. Quinn –yang masih jengkel lantaran gagal promosi– pun meradang, terluka, dan bersumpah membalas dendam.

Dan, Hobbs menawarkan Quinn sebuah jalan balas dendam yang sempurna, yakni bersama-sama membobol brankas berlian Lon Di. Hobbs bakal pensiun dalam hitungan minggu. Ia perlu uang besar (sesungguhnya ia pun menaruh dendam terhadap Lon Di yang zalim).

Sebagai petugas kebersihan, ia tahu betul kode ruang brankas diganti oleh bos Lon Di, Milton (Josh Ackland), saban dua minggu. Karena itulah Hobbs meminta Quinn mencuri kode brankas di kamar pribadi Milton. Berhasil. Kini, mereka harus berhadapan dengan lusinan kamera pengintai nyaris di setiap sudut gedung. Hobbs, kata Quinn, cuma memiliki waktu 30 detik untuk menerobos pintu brankas. Itu mustahil. Sebab kaki Hobbs pincang.

Ajaib. Keesokan harinya Lon Di geger. Berlian seharga ratusan juta poundsterling raib. Quinn sendiri dibuat terkejut-kejut menyaksikan ulah Hobbs malam itu. Seluruh berlian digangsir tak bersisa. ”Ke mana gerangan lari berlian itu? Bagaimana si tua dan si pincang Hobbs memboyong puluhan kilogram berlian dalam sebuah termos kecil?”

Demi mengucurkan adrenalin penontonnya, sutradara Michael Radford tak merasa perlu menyewa lusinan bintang tenar seperti halnya trilogi Ocean 11, 12, dan 13. Atau memamerkan aksi tipu muslihat yang terlampau mencengangkan seperti halnya Catch Me if You Can (2002). Radford melakukannya dengan sederhana saja.

Pertama, ia menyuguhkan percakapan yang panas. Kantor Lon Di adalah gedung bercat serbabiru, kaku, dan dingin. Bagai lemari es raksasa yang dipenuhi karyawan-karyawan necis namun tanpa perasaan. Dalam ‘kedinginan’ itu, sang sutradara membikin gerah nalar dan rasa penontonnya lewat dialog-dialog menyengat dan penuh prasangka.

Kedua, Radford memasang dua peseni peran yang tepat: Demi Moore dengan keanggunan dan rasa frustrasi yang saling bertabrakan di wajahnya. Michael Caine dengan ketenangan, dendam, dan akal bulus yang sama-sama mengendap di benaknya. Akting memikat keduanya adalah darah segar buat film ini, jika bukan daya tarik satu-satunya yang tak putus sepanjang film.

Lihatlah, misalnya, bagaimana Quinn usai perampokan digambarkan terengah-engah napasnya lantaran ciut nyali yang justru membikin Flawless tampak begitu alami, apa adanya. Hingga akhirnya kita dibawa pada aksi perampokan Hobbs. Itu pun bukan aksi perampokan yang mengobral ketegangan, namun tetap saja amat memuaskan.

Sumber : www.republika.co.id

Rogue Assassins : Aksi Sadis Jet Li

Inilah film yang ampuh membetot mata sejak menit pertama dengan satu alasan, yaitu aksi sadistis Jet Li. Untuk kali kedua, setelah The One (2001), Jet Li berperan sebagai tokoh penjagal nan dingin dan ia piawai betul memerankannya hingga kita pantas mendecak kagum.

Ia adalah Rogue (Jet Li), pembunuh agen FBI yang paling dicari. Sebuah operasi penggerebekan transnasional mempertemukan kembali Rogue dengan para agen FBI di Cina, yakni John Crawford (Jason Statham) dan Tom Lone (Terry Chen). Tapi, kini giliran Rogue yang berdarah-darah. Semburan timah panas dari pistol Lone tepat mengenai wajah Rogue, menjungkalkannya ke tepi laut, meski urung membunuhnya. Rogue tak muncul lagi dari permukaan air.

Ia justru muncul di kediaman Lone beberapa hari kemudian. Atas nama balas dendam, sang mafia Yakuza membantai seisi rumah. Lone, anaknya, dan istrinya tewas didor tanpa ampun. Rogue bahkan membakar rumah nahas ini. Pada titik ini, Rogue Assassins sebetulnya dimulai. Inilah ketika Crawford, sang agen FBI, bersumpah membalaskan kematian mitranya itu. Namun, sutradara Phillip Atwell tak ingin menjadikan Rogue Assassins dan aksi balas dendamnya bergerak dalam ruang yang sempit. Aksi Rogue yang kelewat sadistis adalah satu hal. Pertempuran kolosal antarmafia besar Asia adalah lain hal. Tema ambisius ini yang ingin sekaligus dihadirkan Atwell –berikut epilog balas dendam Crawford.

Maka, tiga tahun kemudian Rogue muncul. Kini ia mengabdi pada bos mafia Triad di Cina, Chang (John Lone). Rogue membantu Chang untuk membunuh musuh bebuyutannya, yakni Shiro (Ryo Ishibashi), bos mafia Jepang Yakuza, yang tak lain mantan majikan Rogue. Akan tetapi, sesungguhnya Rogue mengemban misi pribadi. Ia ingin mengadu domba dua mafia besar Asia itu agar saling menghancurkan. Saat itulah Rogue kembali bersua agen-agen FBI.

Pemain: Jet Li, Jason Statham
Sutradara: Philip G Atwell
Durasi: 103 menit
Produksi: Lionsgate Films

Sumber : www.republika.co.id

Ditulis dalam Layar Perak. 1 Komentar »

Le Grand Voyage : Mencintai dengan Sederhana

Seorang anak bertanya pada ayahnya. ”Mengapa Ayah tidak naik pesawat terbang saja ke Makkah? Ini akan lebih mudah.” Sang ayah terdiam sejenak. ”Air laut baru akan kehilangan rasa pahitnya setelah ia menguap ke langit,” jawabnya.
”Apa?”
”Ya, begitulah air laut menemui kemurniannya. Ia harus mengangkasa melewati awan. Inilah mengapa lebih baik naik haji berjalan kaki ketimbang naik kuda. Lebih baik naik kuda ketimbang naik mobil. Lebih baik naik mobil ketimbang naik perahu. Lebih baik naik perahu ketimbang naik pesawat terbang…”

Percakapan ini terbetik pada sebuah trotoar di Bulgaria ketika keduanya terpaksa berlindung dari empasan badai salju. Mobil mereka mogok. Usai melintas sepertiga benua Eropa di atas roda empat, tanya Reda (Nicolas Cazale) pun akhirnya pecah. ”Mengapa tak naik pesawat terbang saja ke Makkah?”

Sebuah pertanyaan masuk akal. Alih-alih terusik oleh tajamnya pertanyaan Reda, sang ayah justru menjawabnya puitis. Sebuah jawaban yang tentu saja tak mudah dicerna oleh rasio awam yang matematis. Jawaban yang agaknya lebih bisa dicerna oleh hati yang khusuk.

Tafsirnya adalah semakin sulit perjalanan menuju Makkah, menurut sang ayah, maka semakin kita memurnikan jiwa kita –seperti halnya perjalanan air laut yang mengangkasa. Hanya dengan cara itulah, ia menemukan kemurniannya kembali. Inilah pesan metaforis Le Grand Voyage (2004), tetapi bukan satu-satunya pesan bernuansa spiritual yang disodorkan peraih Film Terbaik Venice Film Festival ini.

Sang ayah, diperankan secara apik oleh aktor kawakan Mohamed Majd, adalah imigran Maroko. Telah menetap 30 tahun di Prancis, laki-laki berwajah Afrika utara itu masih memegang kukuh budaya Arab dan Islam. Sementara Reda adalah generasi kedua imigran yang sudah kebarat-baratan, ia bahkan tak pernah shalat dan memacari seorang gadis Prancis nonmuslim. Namun, dalam bingkai budaya Arab yang kental, sang ayah tetaplah figur dominan.

Maka, titah sang ayah bagai sambaran geledek di siang bolong. Kala itu Reda akan menggondol gelar sarjana dan tengah di mabuk cinta. Tetapi, ia diminta menyupiri ayahnya naik haji ke Makkah, menyusuri rute sejauh lima ribu kilometer dari Prancis selatan di atas mobil minivan Peugeot yang bobrok. Jadilah Le Grand Voyage, sebuah film perjalanan (road-movie) dan, seperti kebanyakan road movie, ia bergerak linear.

Melintaslah mereka ke Italia, Slovenia, Kroasia, Serbia, dan Bulgaria. Menyeberang ke Turki, Suriah, Yordania, hingga Arab Saudi. Pertikaian kecil meletup sepanjang jalan. Dan, tahulah kita, betapa asingnya dunia ayah dan anak ini. Kita pun diperlihatkan, betapa uniknya peristiwa-peristiwa yang terjadi akibat perbedaan isi kepala dan kegagalan berkomunikasi.

Suatu waktu, sang ayah sekonyong-konyong menarik rem tangan hingga kendaraan yang mereka tumpangi nyaris terguling. Ini semata-mata lantaran Reda menolak meminggirkan mobilnya di jalan tol. Di Suriah, pertengkaran memuncak. Reda pergi meninggalkan ayahnya sendirian di gurun pasir setelah sang ayah memberikan duitnya pada seorang janda tua. Padahal duit mereka nyaris ludes usai ditipu orang Turki bernama Mustafa (Jacky Nercessian).

Uniknya mereka terus bersatu. Lewat film ini kita disodori sebuah hubungan kasih sayang ayah-anak yang ganjil namun terasa alami. Bagai ada tangan tak terlihat yang terus merekatkan keduanya. Ada pula paradok-paradok yang membikin film ini sebuah teka-teki. Yang kentara adalah sang ayah digambarkan sebagai sosok kepala batu dan Muslim yang taat. Namun, tak disangka, ia adalah seorang moderat yang sungkan memaksa Reda ikut shalat bersamanya.

Dan penonton pun bertanya-tanya. Seperti apa kira-kira akhir perjalanan dua manusia dengan kesenjangan budaya dan isi kepala itu? Sutradara Ismael Ferroukhi menyuguhkan sebuah sintesis yang memikat. Seperti air laut yang menguap, sang ayah menemui kemurniannya kembali di Baitullah. Ia wafat di situ.

Maka, pada titik ini, Feeroukhi berhasil mengiris-iris hati penonton. Reda diperlihatkan menangis sejadi-jadinya di depan jasad sang ayah yang terbujur kaku. Betapa menyakitkan. Bukankah Reda baru saja mengenal dan menemukan ayahnya lewat perjalanan jauh ini, tapi sekaligus mesti kehilangannya dalam satu pukulan?

Le Grand Voyage adalah film yang membuat penontonnya pulang dengan hati ‘berdarah-darah’. Sebagai film yang sukses mengaduk emosi dan menggelitik saraf spiritual, Le Grand Voyage terhitung unik. Film ini amat sederhana, jika tidak miskin penggarapan teknis. Penonton kerap dihadapkan pada banyak ruang kosong. Dialog ayah dan anak ini amat irit. Namun, bukankah kejeniusan kerap kali tampak pada kesederhanaan?

Pemain: Nicolas Cazale, Mohamed Majd
Sutradara: Ismael Ferroukhi
Produksi: Ognon Pictures

Sumber : www.republika.co.id

Ditulis dalam Layar Perak. 44 Komentar »

Bobby : Wajah Amerika yang Sakit

Yang ingin dikatakan film ini sebetulnya sederhana: Amerika Serikat (AS) pada 1968. Akan tetapi, sutradara Emilio Estevez tak melakukannya dengan sederhana. Ia menabur lebih dari selusin bintang –dari Anthony Hopkins, Demi Moore, Laurence Fishburne, hingga Martin Sheen– untuk menjadi daya tarik film ini. Sayangnya, ia menciptakan setengah selusin jalan cerita (subplot) yang membikin sebagian penonton lumayan terengah-engah.

Meski begitu, Estevez menunjukkan orisinalitasnya, yakni pada bagaimana ia menggambarkan wajah AS pada 1968 itu. Estevez membonceng kisah tragis Robert Francis Kennedy –senator AS yang tewas ditembak tahun itu. Namun, Bobby (2006) sendiri dimulai dengan cerita kematian tokoh kemanusiaan Martin Luther King yang juga mati ditembak.

Ketika King tewas, AS saat itu adalah sebuah negara adidaya yang tengah sakit. Dililit perang Vietnam, AS juga mengalami guncangan besar kebudayaan, euforia demokrasi, dan huru-hara rasialisme. Robert F Kennedy –akrab dipanggil Bobby– muncul sebagai calon presiden AS sekaligus harapan terakhir negeri Paman Sam untuk mengakhiri blunder Richard Nixon.

Syahdan, di jantung kota Los Angeles. Manajer Hotel Ambassador, Paul (William H Macy), dibuat sibuk mempersiapkan perhelatan besar. Sebuah hajatan akbar, dan kelak yang paling bersejarah, bakal berlangsung di ballroom hotel berbintang itu, yakni kampanye senator Robert F Kennedy.

Kemenangan Kennedy di LA disebut-sebut sebagai kunci kemenangan dia di seantero negeri. Kemenangan yang disebut-sebut bakal mengubah wajah AS. Dan, itu dimulai di hotel berbintang Ambassador. Tapi kemudian, sutradara Estevez bergerak metaforis. Ia menjadikan romantika kehidupan di Hotel Ambassador sebagai wajah AS itu sendiri, yakni mikrokosmos bagi pertarungan kelas, ras, drama politik, sekaligus skandal percintaan. Film pun mulai bercabang-cabang bagai ranting pohon.

Kamera lantas menyorot ke dapur hotel. Pada ruangan berbalut cat biru muda ini, konflik ras menemukan wujudnya yang vulgar. Manajer dapur yang rasialis, Timmons (Christian Slater), secara tak adil menugaskan dua koki berdarah Meksiko untuk piket ganda. Jadwal kerja ini mematikan kesempatan keduanya ikut pada pemilihan umum presiden AS.

Paul, manajer hotel, murka. Timmons dituding rasialis dan, lebih dari itu, dituduh tak menyokong pesta demokrasi. Ia dipecat. Tema demokrasi menjadi pesan penting drama politik Bobby.

Simaklah ketika seorang reporter asal koran Chekoslovakia, Lenka Janacek (Svetlana Metkina) ditolak mentah-mentah tim kampanye Bobby mewawancarai sang senator lima menit. Alasannya sederhana. Di Cheko tak ada pemilu dan, karenanya, Cheko bagai negara haram bagi AS.

Kemudian muncul kisah pasangan Romeo-Juliet, William (Elijah Wood) dan Diane (Lindsay Lohan), yang baru saja memutuskan menikah di salah satu kamar Hotel Ambassador. Ini bukan pernikahan biasa. Diane tak sekadar ingin dipersunting lelaki pujaannya, tetapi juga ingin melawan negaranya. Lewat pernikahan ini, Diane telah membebaskan William dari wajib militer ke Vietnam.

Kemudian film bergerak pada sosok Miriam (Sharon Stone), kru tata rias hotel. Miriam baru tersadarkan kesetiaannya baru saja disobek-sobek Paul, suaminya, yang diketahuinya berselingkuh dengan seorang petugas penerima telepon hotel.

Film lantas beringsut pada kehidupan Virginia Fallon (Demi Moore) yang mengalami kebuntuan hidup. Fallon adalah penyanyi yang kariernya mulai padam, namun ia didapuk menyanyi pada prosesi penyambutan Bobby di hotel itu. Tapi, ia terus menerima rongrongan dari suaminya, Tim (Emilio Estevez), yang berujung kehampaan hidup.

Secara sepintas, diceritakan pula tentang kehidupan pensiunan John Casey (Anthony Hopkins), seorang mantan pekerja Ambassador, yang kini menghabiskan waktunya bermain catur di lobi hotel tersebut. Mereka menunggu Bobby tiba di hotel ini, berpidato, dan kelak membawa perubahan bagi AS dan mereka.

Dua orang tim kampanye Bobby, Cooper (Shia LaBeouf) dan Jimmy (Brian Geraghty), adalah sosok pemuda idealis yang percaya demokrasi dan Amerika yang berubah. Lucunya, keduanya malah jatuh teler akibat obat bius menjelang Kennedy tiba di hotel itu.

Satu-satunya wajah yang tak muram adalah kehidupan pasangan Jack (Martin Sheen) dan Samantha (Helen Hunt). Mereka adalah salah satu penyokong dana kampanye Robert F Kennedy yang sukses mengatasi kegalauan hidup AS pada 1968 dengan kembali pada diri sendiri.

Begitulah Estevez. Ia membuat kita bagai keluar masuk partisi-partisi. Ada lebih dari setengah lusin subplot berseliweran dalam film berdurasi 111 menit ini. Penonton, yang kurang biasa menikmati penyajian kontemporer ini, akan sedikit terganggu. Namun, taburan para bintang membikin film ini seperti karnaval yang ramai. Dan, dialog-dialog yang menghanyutkan cukup membikin kita sabar menunggu, menunggu, dan menunggu ujung cerita film ini.

Hingga akhirnya ke-24 tokoh fiksi itu berjumpa pada satu muara, yakni ballroom Hotel Ambassador. Di situlah Bobby Kennedy menyampaikan pidato kampanyenya yang inspiratif. Beberapa menit kemudian ia tewas ditembak di dapur hotel tersebut.

Inilah akhir emosional film Bobby: Kematian Bobby yang mengguncang. Perasaan campur aduk pun muncul –antara terkejut dan hambar. Bukan perasaan yang sederhana, seperti halnya plot film ini yang dibuat tak sederhana.

Sumber : www.republika.co.id

Alex Rider : Operation Stormbreaker : Aksi James Bond Junior

Jika sudah tak sabar menunggu sequel James Bond berikutnya, Alex Rider: Operation Stormbreaker (2006) bolehlah menjadi film pengganjal. Inilah film yang disebut-sebut menyuguhkan aksi James Bond junior –meski lebih bernuansa humor dan kurang high-tech. Namun, aksi-aksinya lumayan mirip laga Pierce Brosnan atau Daniel Craig. Ceritanya pun berkutat soal petualangan agen intel Inggris, M16.

Ia adalah Alex Rider (Alex Pettyfer), seorang yatim piatu berusia 14 tahun, yang dibesarkan pamannya, Ian Rider (Ewan McGregor), dan seorang pembantu yang aduhai, Starbright (Alicia Silverstone). Dialah sang James Bond junior itu.

Alex mengenal pamannya sebagai bankir supersibuk. Tapi, dugaan itu rontok ketika sang paman tewas dalam sebuah kecelakaan mobil. Alex memperoleh informasi bahwa sang paman dibunuh Yassen Gregorovich (Damian Lewis), seorang penembak terkenal. Alasan pembunuhan adalah semata-mata lantaran Ian Rider adalah agen M16, bukan seorang bankir yang diyakininya selama ini.

Alex kemudian dibujuk dua agen M16 –Alan Blunt (Bill Nighy) dan Tulip Jones (Sophie Okonedo)– bergabung dengan Divisi Operasi Khusus M16. Kata mereka, pamannya secara diam-diam telah mempersiapkan Alex untuk menjadi seorang intel yang tangguh dengan mengajarinya olahraga-olahraga ekstrem. Alex setuju.

Misi pertama Alex adalah mengendus gerak-gerik miliarder Darrius Sayle (Mickey Rourke) yang mendonasikan sistem komputer berkekuatan tinggi kepada setiap sekolah di Inggris. Sistem komputer ini berkode Stormbreaker. M16 curiga Sayle memiliki agenda terselubung terkait aksi filantropisnya itu.

Alex berhasil menyusup ke dalam jaringan Sayle dan membongkar niat busuk sang miliarder. Lewat komputer ini, ternyata Sayle ingin menularkan virus komputer berbahaya yang mengancam keamaman Inggris. Sayangnya, identitas Alex sebagai seorang intel keburu terbongkar.

Sebuah aksi tembak-tembakan yang seru terjadi di jalanan dan gedung pencakar langit kota London. Alex nyaris tewas, tetapi Sayle berhasil dilumpuhkan. Usut punya usut, yang melumpuhkan Sayle adalah Yassen Gregorovich, sosok pembunuh paman Alex. Bagaimanakah Alex harus bersikap? Tetap menaruh dendam pada Yaseen atau berterima kasih?

Sumber : www.republika.co.id

Ditulis dalam Layar Perak. 1 Komentar »

The Brave One : Eksekutor Bernama Jodie Foster

Bagi Erica Bain (Jodie Foster), roda kehidupan bergerak ke titik nadir pada malam jahanam itu. Tubuhnya yang kurus dibentur-bentuk ke tembok. Kemudian sebatang tongkat baseball tampak berkilatan. Dalam belasan kali pukul, para berandal empat anggota geng biadab New York ini juga membikin sekujur tubuh kekasih Erika, David Kirmani (Naveen Andrews), langsung remuk. Kirmani tewas. Mangkatnya sang tunangan sekaligus mengubur rencana pernikahan keduanya yang bakal dipestakan beberapa hari kemudian.

Inilah peristiwa paling menohok yang mengubah hidup Erica. Sang reporter radio lolos dari maut, tetapi ia didera paranoid. New York yang dikenalnya puluhan tahun kini tak ubahnya neraka. Tapi, Erica akhirnya menemukan kembali kepercayaan dirinya, meski itu lewat sepucuk pistol ilegal. Pistol seharga 1.000 dolar inilah yang memetamorfosis diri Erica, sekaligus melekatkan status baru pada dirinya -seorang eksekutor jalanan. Dalam tempo sekejap, empat kasus pembunuhan, dengan modus hampir serupa, menyengat kepolisian kota New York.

Adalah detektif andal, Sean Mercer (Terence Horward), yang mampu memberi penalaran paling bernas terhadap kasus misterius ini. Ia menduga pelaku pembunuhan berseri ini bukanlah seorang lelaki yang kekurangan duit, namun seorang wanita yang terbakar dendam.

The Brave One mengusung tema klasik film thriller, yakni balas dendam. Tapi, di tangan sutradara nominator Piala Oscar, Neil Jordan (The Crying Game), film berdurasi 122 menit ini menjelma menjadi drama-psikologis yang luar biasa menguras emosi, jika tidak membuat penonton pulang dengan perasaan meledak-meledak.

Jordan secara elegan memotret pergulatan batin dahsyat seorang Erica, mendudukkannya dalam konteks yang masuk akal sekaligus menyentuh, dan pada akhirnya menghadirkan pesan kemanusiaan yang telanjang bahwa manusia begitu goyah. Kegoyahan inilah yang memicu revolusi. Ini pula yang dilakukan Martin Scorsese lewat film peraih Piala Oscar, Taxi Driver (1976). Scorsese menghadirkan revolusi seorang sopir taksi (Robert de Niro) yang membantai orang-orang atas nama kejujuran yang suci. Jika Scorsese patut berterima kasih pada De Niro berkat kepiawaian aktingnya, maka Jordan berutang besar pada Jodie Foster.

Foster adalah The Brave One itu sendiri. Tanpa kehadirannya, film ini tak lebih aksi balas dendam yang kering. Foster, barangkali hanya Foster, yang mampu menghadirkan setiap jengkal pemunculan tokoh Erica di layar bagai semburan ribuan kata-kata, tanpa harus berbicara ribuan kata-kata. Kita tersirap hebat oleh tatapan mata Foster yang beku sekaligus getir. Dan, kita berupaya memincingkan mata untuk sekadar mencari kehambaran pada wajah Foster, namun kita gagal menemukannya. Foster berakting amat sempurna. Ia mampu menghadirkan revolusi seorang Erica menjadi Erica dalam gerak lambat dan masuk akal. The Brave One, tak pelak lagi, merupakan aksi Foster paling memikat setelah Silence of the Lambs dan The Accused, dua film yang memberinya Piala Oscar.

Pistol ilegal inilah yang kelak mengantarkan Erica pada pembunuh kekasihnya. Sementara detektif Mercer telah memastikan Erica adalah otak pelaku pembunuhan berseri ini. Tapi, The Brave One adalah sebuah thriller yang paling sulit ditebak ujungnya. Hingga menjelang detik terakhir film, penonton masih memendam tanda tanya besar: Apakah Mercer akan meringkus Erica dengan dingin padahal keduanya kian lengket? Apakah Erica akan bunuh diri setelah membunuh para begundal itu? Semuanya keliru. Sutradara Neil Jordan menyodorkan sebuah akhir yang sama sekali tak terduga dan membikin kita seketika terperangah, sembari menggelengkan kepala. Film ini pantas diganjar empat dari lima bintang.

Pemain: Jodie Foster, Naveen Andrews
Sutradara: Neil Jordan
Durasi: 122 menit
Produksi: Warner Bros Pictures

Sumber : www.republika.co.id

No Reservations : Cerita Ringan Koki Perempuan

Film No Reservations (2007) merupakan karya adaptasi dari film Jerman Mostly Martha yang hadir di Hollywood lewat sutradara kelahiran Australia, Scott Hicks. Di tangan Hicks, film Jerman ini mengalami modifikasi besar-besaran sehingga menyisakan sedikit saja karakter pada film perdananya. Dan, sebagai sebuah drama-humor khas Hollywood, jadilah No Reservations sebagai film yang renyah namun terlampau mudah ditebak.

Film ini berporos pada sosok Kate (Catherine Zeta-Jones), seorang koki pada sebuah restoran top di Bleeker Street, New York. Sejatinya, sepanjang 103 menit, kita semata-mata hanya akan disodorkan kisah hidup seorang Kate yang tengah mengalami titik balik. Dari semula seorang workacholic yang dingin hingga menjadi wanita yang menemukan sisi kewanitaannya yang lembut. Tema sederhana dan amat tipikal.

Kate adalah ‘ratu’ di restoran ini –seorang koki perfeksionis yang resep masakannya dipuji dan digilai pengunjung. Lucunya, Kate malah harus terdampar di ruang kerja seorang terapis. Ia merasa stres lantaran merasa terusik oleh satu atau dua orang pengunjung yang mengkritik masakannya. Belum rampung satu persoalan, Kate harus mengalami ‘pukulan’ kedua.

Kakak perempuannya tewas dalam kecelakaan mobil, membuahkan konsekuensi bahwa Kate harus mengurus putri mendiang satu-satunya, yakni Zoe (Abigail Breslin), usia 9 tahun. Zoe mengalami masa-masa sulit bersama Kate. Dia bangun sebelum fajar dan pulang tengah malam. Terlebih Zoe bahkan tak menyukai masakan Kate. Kate mulai frustrasi. Kate memutuskan untuk cuti sejenak.

Ternyata, usai masa cuti, Kate terkejut mendapati seorang koki baru di dapurnya, yakni Nick (Aaron Eckhart), seorang pria humoris yang gemar mendengarkan musik opera kala bekerja. Kate menganggap Nick sebagai ancaman. Konflik pun terjadi. Di sinilah No Reservations mulai menemukan geregetnya. Tapi, kemudian terjadi sintesis. Kate yang keras kepala, dingin, dan anti-kencan pun, leleh hatinya.

Justru sang mak comblang itu adalah Zoe. Zoe cepat lengket dengan Nick dan ia sukses mengatur kencan tantenya itu dengan Nick pada sebuah malam yang tak terlupakan. Adalah menarik melihat transformasi yang dialami Kate. Setelah bertahun-tahun menutup diri terhadap lelaki, Kate sadar telah melewatkan banyak keindahan dalam hidup yang singkat ini.

Pemain: Catherine Zeta-Jones, Aaron Eckhart
Sutradara: Scott Hicks
Durasi: 104 menit
Produksi: Warner Bros Pictures

Sumber : www.republika.co.id

Underdog : Parodi Hambar Anjing Super

Siang bolong di sebuah gang sepi Capitol City yang hiruk pikuk. Dua kawanan garong menggelar aksinya. Molly (Taylor Momsen), si gadis manis berambut pirang itu, memekik sepatah kata,”Help.” Sebuah pekikan, yang tak ia nyana, terbang hingga radius lima kilometer dan hinggap ke telinga Underdog.

Sang anjing beagle ini langsung bergerak. Mula-mula ia cuma berlari secepat mobil patroli, tetapi kemudian ia terbang bagai Superman. Dalam hitungan detik, Underdog telah tiba di lokasi kejadian, membabakbelurkan perampok nekat tadi, dan membebaskan si cantik Molly. Ah, nyaris saja Molly tak tertolong setidaknya oleh manusia. Inilah aksi perdana Underdog (disuarakan oleh Jason Lee), setelah ia mulai menyadari kekuatan dirinya.

Mulanya, Underdog hanyalah seekor anjing pengendus pecundang. Ia dipecat oleh korps kepolisian Capitol City setelah gagal membedakan bom dan daging pada sebuah persidangan. Ketika tengah keluyuran di jalan, Underdog diringkus oleh Cad (Patrick Warburton), kaki tangan seorang saintis edan, Simon Barsinister (Peter Dinklage), untuk dijadikan kelinci percobaan. Barsinister sedang menggagas riset berbahaya di laboratoriumnya, yakni menciptakan zat kimia pencipta monster. Tak sengaja, zat tersebut tumpah ke tubuh Underdog. Dalam sekejap, tubuhnya berkilat dan ia pun menjadi anjing perkasa.

Underdog belum menyadari kekuatan terpendamnya hingga Dan Unger (James Belushi), seorang satpam, mengambilnya dari jalan. Underdog menjadi kawan akrab bagi putra Dan yang tengah dilanda frustrasi, Jack (Alex Neuberger) dan diberi nama Shoeshine. Tatkala Shoeshine memunculkan kekuatan supernya, Jack memberinya nama Underdog. Underdog segera menjadi tokoh pembasmi kriminal di Capitol City.

Serial televisi
Tokoh Underdog sendiri bukanlah ikon budaya pop baru di Amerika. Ia telah muncul di saluran televisi NBC selama 124 episode sejak 1964 hingga 1973 sebagai serial televisi yang digemari anak-anak. Ia digemari sebab dinilai sebagai parodi dari superhero Superman, yang tengah naik daun saat itu, dan terkenal dengan selorohan,”There is no need to fear, Underdog is here.”

Berbeda dengan Superman, Underdog tak mengaliri kekuatan alami dalam tubuhnya. Ia harus meneguk sebutir pil guna membangkitkan energi supernya. Jika tidak, Underdog hanyalah seekor Shoeshine yang pemalu. Sama halnya Superman, Underdog bakal segera mengenakan ’seragam dinas’-nya (kostum yang nyaris serupa dengan kostum Superman) ketika aksi kriminal terendus olehnya.

Namun, pakem klasik ini diubah sutradara Frederik Du Chau untuk versi layar lebarnya. Underdog seperti Superman memiliki kekuatan yang melekat dalam tubuhnya. Ia tak perlu repot-repot memanggil kekuatan supernya lewat sebutir pil. Tapi, sebutir pil pula yang kelak mengakhiri keperkasaan sang Underdog.

Dalam drama penyanderaan yang dilakukan oleh Barsinister terhadap Dan Unger, Underdog dipaksa untuk menelan sebutir pil anti-Underdog. Dalam sekejap, usai meneguknya, tubuh Underdog berkilat-kilat dan kekuatannya sontak luruh. Ia kini seekor Shoeshine yang bahkan tak bisa bicara.

Setelah melumpuhkan Underdog dan mengambil DNA-nya, Barsinister menyodorkan pil super kepada empat ekor anjing herder piaraannya. Jadilah anjing-anjing polisi ini ‘Underdog’ yang ganas. Keempat anjing bertubuh besar ini lantas menjadi agen teror di Capitol City.

Para penulis naskah tampaknya berupaya keras menjadikan parodi anjing super sebagai komoditas untuk menggelitik saraf humor, termasuk ketololan saintis cebol, Barsinister, dan rekannya, Cad. Antusiasme penonton juga dibangkitkan dengan kisah romantis Underdog dengan anjing cantik, Sweet Polly PureBred (Amy Adams). Sang sutradara berupaya meniupkan nuansa dramatis dengan merekatkan kembali hubungan ayah dan anak, Dan, serta Jack, pascakematian sang ibu.

Namun, yang hadir ke layar lebar adalah (film) anjing yang tak ‘menggigit’. Humor film terasa amat standar, untuk tak menyebut hambar. Untuk ukuran serial yang pernah muncul di layar kaca, Underdog gagal melakukan ‘peremajaan’. Terlebih, sudah ratusan film bergenre serupa yang lahir sejak serial Underdog terakhir pada 1973. Tampaknya pula penonton abad 21 agaknya sudah kadung memiliki selera yang tinggi.

Frederik Du Chau tak terlalu piawai melakukan daur ulang seperti halnya David Silverman pada Simpsons : The Movie (2007). Kisah keluarga Simpsons versi layar lebar ini hadir bagai resep makanan yang terasa anyar di lidah, meski serial Simpsons sudah berseliweran di layar kaca selama lebih satu dekade.

Pemain: Jason Lee, Patrick Warburton, Amy Adams
Sutradara: Frederik Du Chau
Durasi: 84 menit
Produksi: Walt Disney Pictures

Sumber : www.republika.co.id

Disturbia : Kengerian di Balik Teropong

Inilah film yang menyodorkan gelak tawa dan kengerian sekaligus. Disturbia (2007) dimulai dengan keceriaan Daniel Brecht (Matt Craven) dan Kale (Shia LaBeouf) pada sebuah tempat pemancingan. Akan tetapi, inilah keceriaan terakhir ayah dan anak itu. Sebuah jip yang melaju ugal-ugalan memicu kecelakaan hebat dan membikin mobil terguling. Brecht tewas.

Film kemudian meloncat enam bulan ke depan. Rasa perih akibat kematian ayahnya membikin Kale berurusan dengan pengadilan. Ia menonjok muka guru bahasa Spanyolnya setelah sang guru, secara tak sengaja, menyinggung soal ayahnya. Kale dikenai tiga bulan tahanan rumah. Kakinya dipasangi detektor yang menjegalnya untuk keluyuran lebih dari seratus meter dari rumahnya.

Adalah Ashley (Sarah Roemer), tetangga barunya, yang membikin Kale justru malah menikmati masa kurungan rumahnya. Saban hari Kale memata-matai Ashley lewat lensa binocular. Tapi suatu malam, Kale menemukan keganjilan di rumah tetangganya yang lain, Mr Turner (David Morse). Kale menduga ada peristiwa sadistis terjadi di rumah itu.

Sebelum kengerian demi kengerian muncul, Kale terlebih dahulu tertangkap basah oleh Ashley. Toh, teringkus telah memata-matai Ashley, membikin Kale justru kian lengket dengan Ashley. Ashley mengakui bahwa ia kesepian betul tinggal di rumah barunya itu dan Kale adalah hiburan berharga buatnya. Bumbu-bumbu humor, plus sensualitas, lantas bertaburan di sana sini.

Keduanya lantas sepakat membentuk tim untuk mematai-matai, Mr Turner, tetangganya yang misterius ini. Jadilah, Distrubia sebagai sebuah drama intip-intipan yang pada mulanya lucu, segar, dan sedikit menegangkan. Tetapi kelak kita tahu bahwa film berdurasi 105 menit ini kemudian berangsur-angsur menjadi film horor yang lumayan menggidikkan bulu kuduk.

Kale nekad menyelundupkan sohibnya Ronnie (Aaron Yoo) masuk ke garasi rumah Mr Turner. Dugaan Kale tak keliru. Ronnie menemukan mayat terpotong-potong terbungkus plastik. Polisi segera menggeruduk ke rumah itu. Tapi, Mr Turner keburu menukar mayat itu dengan mayat seekor rusa. Sementara Ronnie hilang.

Mr Turner sesungguhnya seorang psikopat. Setelah merasa diusik Kale, Mr Turner mulai menyasar ibu Kale, Julie (Carrie Anne-Moss). Apakah Kale mampu mencegah itu terjadi? Padahal, ia dikenai kurungan rumah dan tak bisa beranjak lebih dari seratus meter.

Pemain: Matt Craven, Shia LaBeouf
Sutradara: DJ Caruso
Durasi: 105 menit
Produksi: Dreamworks Pictures

Sumber : www.republika.co.id