Shalat `Masuk` Oke `Ganti`

Waktu sudah beranjak petang, tapi satu kewajibanku belum kutunaikan. Sudah hampir pukul lima sore, tapi sepanjang pencarianku di samping kiri kanan jalan yang kulalui tak ada masjid atau mushala. Padahal, takkan cukup waktu untuk shalat di rumah. Belum lagi jalan yang kulalui langganan macet.

Semua bermula karena tadi aku buru-buru untuk pulang, padahal adzan Ashar sudah berkumandang. Dan, apes, di tengah jalan ban motorku bocor terkena paku. Tukang tambal ban cukup jauh dari “TKP”. Jadilah aku bermandi peluh mendorong sepeda motorku yang genap akan berusia lima tahun.

Wah, ternyata ban dalamku robek, jadi tak bisa ditambal. Kurogoh lagi kocek lebih dalam, Rp 25 ribu. Selesai. Aku lanjutkan perjalanan, sambil menyesal dan memohon ampun. Mungkin ini teguran karena aku lalai. Akhirnya kudapati sebuah department store yang tampaknya akan bangkrut. Pastilah ada tempat shalat, batinku. Setelah berlari aku mencari mushala, aku dapati planknya, aku ikuti. Akhirnya ketemu juga, letaknya di lantai dasar dan sedikit pengap. Cukup banyak orang yang bernasib sama sepertiku.

Akhirnya aku shalat berjamaah. Di sampingku seorang pria gagah, Satpam, turut menjadi makmum. Tiga rakaat kami jalani dengan khusuk walaupun bau ruangan kurasa semakin pengap. Allahu akbar, ucap imam. Samiallahu liman hamidah. Aku menjawab, rabbana wa lakal hamd. Tapi tidak dengan pria gagah di sampingku. Walkie talkie-nya “berbicara”.
“Ya masuk,” ujarnya di tengah shalat.
Astagfirullah, aku tak sanggup menahan senyum. Di saat rakaat terakhir malah batal shalatnya. Cepatlah, pikirku kepada imam untuk segera mengakhiri shalat. Aku tak tahu apakah shalatku dapat diterima. Tapi, tingkah orang di sampingku benar-benar merusak semua kekhusukan shalatku.

Entah reflek atau apa, Satpam tadi menjawab panggilan di walkie talkie-nya, dan meninggalkan shalatnya yang tinggal serekaat. Usai shalat aku hanya tersenyum geli kepadanya yang masih menerima panggilan dari walkie talkie-nya. Dia masih sibuk “over ganti” dengan orang yang entah sedang ada di mana. Mungkin komandannya.

Makanya kalau mau shalat tinggalkan semua aktivitas dan jangan lupa matikan barang-barang yang bisa mengganggu kekhusukan shalat kita, daripada jadi malu sendiri.

Nur Izzi Muntaha
Jl Cipinang Kebembem IX No 56
Pisangan Timur, Pulogadung Jakarta Timur 13230

Sumber : www.republika.co.id

Kuda Lumping Nyebur Kali

Peristiwa kocak ini terjadi pada perayaan HUT ke-61 RI Agustus lalu di sebuah kecamatan di Klaten. Saat itu diadakan karnaval yang diikuti masing-masing kelurahan dengan berbagai pertunjukan. Ada yang khas dan menarik, yaitu kuda lumping, dan uniknya dimainkan oleh anak-anak kecil.

Kebetulan saat itu hanya ada satu kelurahan yang menyajikan kuda lumping. Biasanya waktu sampai di perempatan kuda lumping akan beraksi. Benar juga, di sebuah perempatan grup kuda lumping yang diasuh dan dipimpin Pak Mul itu berhenti dan beraksi menyajikan berbagai atraksi, dari singo barong, kesurupan, makan kaca, sampai mengupas buah kelapa dengan mulut.

Baru berjalan beberapa saat, tiba-tiba salah satu pemainnya, sebut saja Andi, mengalami kejadian tidak mengenakkan. Setelah melakukan atraksi makan beling tiba-tiba minta ijin pada Pak Mul. “Pak, saya ijin sebentar ya!” katanya dengan muka meringis dan langsung lari meninggalkan arena. “Lho, mau ke mana? Ini belum selesai lho,” kata Pak Mul.

Dari atraksi pertama sampai ketiga, para penonton tidak beranjak dari tempatnya menunggu pertunjukan usai. Ketika atraksi keempat dimulai penonton semakin gegap gempita, bersorak dan tepuk tangan. Pada saat lagi ramai-ramainya itulah Andi lari terbirit-birit sehingga mengundang tanda tanya penonton.

“Lho, itu kok ada yang lari. Nanti kalau kesurupan terus masuk sungai gimana?” ujar salah satu penonton. “Ho oh to, kok aneh ya? Kesurupan kok malah menjauh. Itu gimana?” kata suporter lainnya. “Waduh payah itu, gimana to? Jangan-jangan pemain itu kesurupan terus kecebur sungai. Bisa tenggelam itu nanti,” komentar salah satu penonton yang juga teman Andi.

Seorang penonton yang juga teman Andi segera mengkomando teman-teman lainnya berbondong-bondong menuju sungai untuk melihat apa yang terjadi. Betapa terkejutnya mereka setelah melihat apa yang terjadi. Andi mencopot kuda kepangnya dan diletakkan di tanah. Ia kemudian turun ke sungai dan mencari tempat tersembunyi hanya untuk buang air kecil. Setelah tahu apa yang terjadi, beberapa orang langsung cekikikan. Ada-ada saja, kuda lumping makan kaca kok langsung kebelet kencing.

Sigit Priyono
Tegalcitran RT 06/02
Karangdowo, Klaten 57464

Sumber : www.republika.co.id

Gara-gara Tergiur Biskuit Coklat

Tiap memasuki bulan Ramadhan, dan mendekati hari raya Idul Fitri, kalau melihat adik-adikku yang masih kecil, saya jadi teringat masa kanak-kanakku dulu.

Tiap mendekati lebaran perasaan deg-degan pasti selalu mampir, membayangkan indahnya hari raya Idul Fitri. Rasanya ingin cepat-cepat memakai kostum yang serba baru dan ingin dapat uang saku yang banyak dari orang-orang tua kami.

Kisah ini aku alami sewaktu masih kelas 6 SD. Saat itu hari pertama lebaran. Setelah sowan pada keluarga dan tetangga dekat, sorenya aku langsung pergi silaturahim ke rumah bibiku yang berada di kampung sebelah, bersama tiga orang temanku. Kami pergi ke sana jalan kaki.

Walaupun jarak yang kami tempuh ke rumah bibi lumayan jauh, tapi kami paling semangat bila pergi ke sana karena bibiku tergolong kaya dan biasanya kalau ngasih uang saku banyak.

Namun, tidak hanya uang saku yang membuat kami tergiur untuk datang ke sana, tapi juga karena kue-kue lebaran di sana selalu enak-enak.

Begitu sampai di sana bibiku menyambut kedatangan kami dengan gembira. Dan, seperti yang sudah saya prediksi, kue-kue yang dihidangkan bibi di dalam toples begitu spesial.

“Ayo, dimakan kuenya,” kata bibiku sambil membuka tutup toples satu per satu. “Iya, Bi,” jawabku pelan sambil masih terdiam, karena ada perasaan malu untuk mengambil kue itu.

“Sebentar ya, Bibi buatin minum dulu,” kata bibiku lagi sambil berjalan menuju ke dapur.

Saat bibi berada di dapur itulah, aku yang dari tadi sudah menelan ludah melihat kue-kue yang terpampang di atas meja, langsung dengan cepat hendak mengambil biskuit coklat itu. Kumasukan tanganku ke dalam toples. Tapi, saat itu pula tiga temanku juga punya keinginan yang sama, mengambil biskuit coklat. Jadi, secara serentak tangan kami berempat masuk bareng ke dalam toples.

Akibatnya, tangan kami sulit untuk dikeluarkan, karena mulut toples yang kecil dan tangan kami yang sudah menggenggam penuh dengan biskuit. Kami pun akhirnya saling suruh untuk melepas genggaman duluan, karena tidak ada yang mau mengalah.

Aku, yang kebetulan melihat duluan bibi muncul lagi, langsung melepas dan mengeluarkan tanganku kemudian memberi kode pada tiga temanku kalau ada bibi. Setelah mengetahuinya, mereka langsung melepaskan biskuit yang sudah mereka genggam. Akhirnya, semuanya gagal mengambil biskuit. Bahkan, karena mereka gugup saat mengeluarkan tangan, toples berisi biskuit coklat itu ikut tertarik dan jatuh ke lantai, sehingga biskuitnya berceceran.

“Tadi disuruh ngambil tidak ada yang mau. Kok sekarang berebut?” sindir bibi.

Kami hanya terdiam, sambil memunguti biskuit di lantai. Malunya minta ampun.

Abdul Basit
Jl Swadarma Raya No 41, RT 07/03 Srengseng Kembangan Jakarta Barat 11630

Sumber : www.republika.co.id

Wawancara Konyol `Sensus Penduduk`

Saya pernah mengalami kisah konyol berkaitan dengan persoalan jender atau jenis kelami.

Kira-kira setahun sebelum Pemilu Presiden 2004, saya sempat menjadi petugas lapangan P4B (Pendaftaran Pemilih dan Pendataan Penduduk Berkelanjutan) di wilayah Prenggan, Kotagede, Yogyakarta. Dengan menenteng berkas-berkas yang cukup banyak, saya datang ke rumah-rumah warga sesuai blok sensus yang menjadi tanggung jawab saya.

Satu dua hari awalnya agak kurang lancar, tapi hari-hari berikutnya tidak ada kesulitan yang berarti. Malah, mencari data di rumah-rumah warga ternyata mendatangkan keasyikan tersendiri buat saya. “Pokoknya, jangan sampai ada warga yang tidak terdata,” pesan pemateri dari Biro Pusat Statistik Kota Yogyakarta waktu pelatihan.

Alhasil, tak ada satupun rumah warga di blok sensus saya yang tercecer. Semuanya saya datangi satu persatu: rumah pedagang, pensiunan tentara, buruh perak, tukang jahit, pengangguran, pekerja kantoran, tukang becak, makelar sepeda, dan rumah waria.

Menanyakan data diri seseorang itu sebenarnya persoalan yang teramat gampang. Tapi, persoalan sepele ini menjadi rumit tatkala ditanyakan kepada seorang waria, seperti yang harus saya alami.

Sore-sore saya datang ke rumahnya. Ia sedang duduk di teras rumah. Mengenakan celana pendek putih plus bibir tanpa gincu. Ia tersenyum mempersilakan saya masuk. Basa-basi sebentar, saya pun akhirnya menyampaikan maksud kedatangan saya. “Alaah, saya sudah tahu kok Mas mau apa ke rumah saya,” celetuknya rada nakal.

Untuk menetralisir kekikukan, mulailah saya menanyakan data dirinya, mulai dari nama lengkap, tempat tanggal lahir, nomor induk kewarganegaraan, pendidikan terakhir dan, “Maaf, pekerjaannya apa kalau boleh tahu?”

“Ah, tulis saja wiraswasta, gitu. Wiraswasta jalanan.”
“Ee, maaf. Sekali lagi maaf ya Mas, eh, Mbak. Anu, sebaiknya saya mendata Anda sebagai laki-laki atau perempuan, ya?” tanya saya bingung dan takut-takut.

Dengan suara bariton yang baru sekali ini dimunculkan, si waria menjawab kalem tapi tegas. “Begini, Mas. Karena kebetulan Mas mendata saya sore hari, masukkan saja saya laki-laki. Tapi kalau Mas mendatanya nanti malam, ya Mas tahu sendiri.”

Agung Hartadi
Prenggan KG II/938 Kotagede Yogyakarta 55172

Sumber : www.republika.co.id

Stoples Kosong Popcorn

Untuk mengisi waktu senggang, tanteku berjualan nasi uduk dan lontong sayur. Tanteku memang sangat jago memasak. Masakannya sangat lezat dan menggugah selera. Sepertinya tangannya memang tercipta untuk menjadi juru masak. Namun sayang, karena keterbatasan dana akhirnya tanteku “terdampar” berjualan nasi uduk dan lontong sayur di depan rumah.

Sedang aku kurang pandai memasak. Bahkan aku sangat takut bila harus berhubungan dengan goreng-menggoreng, takut minyaknya muncrat dan mengenai wajahku. Tapi, aku sangat mahir dalam membuat pasta.

Sore itu aku membuat pasta makaroni. Ternyata seisi rumah mengatakan masakanku enak. Wah, betapa bangganya mendapat pujian seperti itu. Namun, tidak dengan tanteku. Dia mengatakan makaroninya kurang matang dan bumbunya terlalu masam kebanyakan saus tomat. Aku tak peduli. Yang penting masakanku habis dimakan.

Esoknya aku pergi ke toko buku. Aku bertemu teman kuliahku. Dia sedang membaca buku-buku resep masakan. Tertarik, akupun turut membacanya. Setelah bertukar ide, kami berpisah dan menyisahkan satu keinginanku untuk kembali memasak malam nanti. Popcorn-lah yang disarankan temanku. Mudah dan irit.

Jagung popcorn dan margarin. Hanya itu bahan yang dibutuhkan. Aku mencarinya di warung dekat rumah. Panaskan margarin, masukkan jagung, tutup, tunggu hingga letusan-letusan mulai terdengar, dan selesai. Mamaku memuji rasa popcorn buatanku. Dia habiskan satu toples sendirian. Yang lain pun ikut merasakannya, dan mereka memuji. Namun, lagi-lagi tidak dengan tanteku. Dia mengatakan, popcorn-nya kurang garing, kebanyakan margarin. Sepertinya dia iri karena masakanku sukses dikunyah oleh seisi rumah.

Malam pun tiba. Popcorn masih tersisa satu toples. Bukan karena tidak enak, tapi karena memang aku memasak banyak. Aku letakkan sisa setoples popcorn dalam almari, dan tidur nyenyak.

Keesokannya, toples popcorn-ku hilang. Aku bersungut-sungut kesal. Aku tanyakan kepada mama. Dia bilang, tanteku yang mengambilnya. Dia menghabiskan setoples popcorn sendirian. Kok bisa? Menurut Mama, jualan nasi uduknya tidak lancar, sehingga tanteku iri karena masakanku selalu habis oleh “pembeli”.

Saat bertemu tanteku yang membawa toples kosong, aku pun ternyum lebar dan menggodanya, “Katanya gak enak? Kok habis ya setoples?”

Tanteku tersipu malu lalu mengembalikan toples kosong itu kepadaku. Aku kesal tapi juga geli. Dasar tante, gak enak saja habis setoples, bagaimana bila aku masak yang lebih enak untuknya!

Nur Izzi Muntaha
Jl Cipinang Kebembem IX No 56 RT 004/013, Pisangan Timur Jakarta Timur 13230

Sumber : www.republika.co.id

Disangka Sopir Bus Antarkota

Sabtu malam pertengahan Juli lalu, pukul 19.30 WIB, pelataran terminal bus Pekalongan ramai dipadati calon penumpang. Mereka kebanyakan ingin balik ke Jakarta. Maklum, mereka baru saja menghabiskan masa liburan sekolah dengan keluarga di kampung halaman.

Dan, angkutan buslah menjadi andalan, karena di samping taripnya murah, saat ini banyak bus langsung masuk ke pangkalan bus, dan tidak terfokus di Terminal Pulo Gadung. Jadi, penumpang bisa lebih tenang, aman dan cepat sampai di rumah.

Karena kami termasuk keluarga pas-pasan, naik bus ekonomi AC menjadi angkutan paling favorit. Saya menenteng kardus indomie, tas ransel di punggung, dan menggendong anak kami berumur dua tahun, sementara istri menjinjing tas berisi oleh-oleh, dan menggandeng anak kami yang duduk di kelas 2 SD. Kami berjalan memasuki terminal berharap masih dapat tempat duduk untuk bus ekonomi AC yang parkir di jalur pemberangkatan.

Hampir setengah jam kami mencari tempat duduk bus AC ekonomi, namun hasilnya nihil. Tidak ada tempat duduk untuk bus AC ekonomi. Dari pada kemalaman dan nunggu lama di terminal, naik bus ekonomi tidak apa-apalah. Kebetulan tempat duduknya masih ada yang kosong, walau harus duduk di kursi paling belakang.

”Sudahlah Bu, naik bus ekonomi juga enak, yang penting besok sampai di Jakarta.”
”Tapi, kasihan anak-anak Pak. Penumpangnya banyak yang merokok,” timpal istri saya kecewa.
”Habis gimana, naik bus AC eksekutif mahal, Bu,” jawab saya kesal sambil mengatur tas dan kardus di atas tempat mesin yang berada tepat di belakang kami.

Bus yang kami tumpangi pun tidak langsung jalan, padahal penumpangnya sudah sesuai kapasitas tempat duduk. Udara di dalam bus benar-benar panas dan sumpek. Untunglah, masih ada hiburannya musik dangdut yang menghibur penumpang sambil menunggu bus berangkat. ”Bu, saya mau keluar dulu.”

”Coba berangkatnya sore, Pak, masih kebagian bus AC,” sahut istri saya yang masih marah.

Baru merasakan nikmatnya teh botol dan merokok, sambil duduk di depan bus, tiba-tiba ada bapak-bapak setengah baya turun dari bus dan menegur saya dengan keras, ”Hai, mas sopir, kapan berangkat? Nunggu apa lagi sih? Ngetem kok hampir satu jam!”

Saya terkejut dan kaget, dan spontan membalas, ”He, Pak, kalau ngomong lihat-lihat apa. Jangan asal ngomong. Saya bukan sopirnya!” sahut saya kesal.

Rupanya kejadian itu dilihat oleh kernet bus dan langsung menghampiri kami. ”Maaf, Pak, sopirnya masih ngurus uang setoran di kantor,” jawab kernet bus.

Mendengar jawaban sang kernet bus, bapak-apak tadi minta maaf dan langsung ngeloyor masuk ke dalam bus. Apa tampang dan gaya saya mirip sopir bus kali ya, kok langsung disangka sopirnya, padahal sama-sama penumpang satu bus.

Abdul Manaf
Desa Kepuh RT 01 RW 01 Limpung Batang Jateng

Sumber : www.republika.co.id

Udah Menegur, Malu Sendiri

Saya masih ingat hari-hari bersama kakak kelas pada acara camping Rohis (Rohani Islam) pada tahun 2002. Waktu itu kegiatan kami berlokasi di daerah wisata Kopeng, Semarang.

Kami tiba di lokasi sekitar pukul 10.00. Sesampai di sana, kami langsung diarahkan oleh petugas jaga agar mendirikan kemah di tempat yang sudah ditentukan. Kami segera mendirikan tenda, kemudian beristirahat hingga tiba waktu Dhuhur. Kami segera mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat Dhuhur berjamaah.

Selesai shalat, kami selingi dengan membaca Alquran secara bergiliran, dilanjutkan dengan makan siang bersama. Sekitar pukul 14.00 kami dikumpulkan untuk pembagian regu. Kami dipecah menjadi lima regu, terdiri dari 4-5 orang.

Selang beberapa jam, ada rombongan lain datang yang juga berencana untuk mendirikan tenda. Mereka adalah mahasiswa sebuah universitas Kristen di Semarang. Penjaga yang sejak tadi bertugas menyarankan agar tenda didirikan agak jauh dari tenda kami. Penjaga itu paham, bahwa kami dari Rohis yang Islam, sedang rombongan yang baru datang Kristen.

Rombongan itu tidak langsung membangun tenda, namun beristirahat di salah satu bangunan yang mirip mushala. Mereka berkumpul sambil bermain gitar dan bernyanyi. Waktu Ashar pun tiba, kami kembali mengambil air wudhu dan hendak shalat berjamaah. Tapi salah satu kakak kelasku tidak senang melihat perilaku rombongan itu.

“Kita tidak bisa membiarkan mereka bermain musik di mushala. Kita harus peringatkan mereka bahwa tempat itu untuk shalat bukan untuk menyanyi!” kata ketua pelaksana. “Kita shalat berjamaah di sana,” tambahnya.

“Ya, saya setuju. Kita harus menegurnya,” timpal yang lainnya. “Apa-apaan itu,” lanjutnya.
“Ah… biarkan, mereka kan tidak tahu,” ujar yang lainnya.
Namun, dengan semangat yang membara, kedua kakak kelasku akhirnya pergi juga untuk memperingatkan mereka.

“Kami sudah memperingatkan mereka agar tidak menyanyi di sana,” kata ketua pelaksana.
“Iya, mulai Magrib nanti, kita bisa shalat berjamaah di mushala itu,” tambah kakak kelasku yang satunya.

Namun, bersamaan dengan itu, ada seorang bapak-bapak yang mendengar percakapan kami, kemudian menyela, “Dik, bangunan itu bukan mushala, tapi hanya aula yang digunakan untuk tempat singgah sementara para pengunjung.”

Kami pun tersentak, ternyata perkiraan kami meleset. Kami merasa malu tak terkira, terlebih kedua kakak kelasku. Mereka terlihat sangat malu.

Teguran itu memang beralasan karena bangunan aula tersebut mirip dengan mushala. Kami hendak meminta maaf, tapi rombongan tersebut telah pergi meninggalkan lokasi dan tidak jadi mendirikan tenda.

Joni Santosa
Jl Timoho Raya No 276A Bulusan, Semarang

Sumber : www.republika.co.id

Ketika Pawang Ular ‘Salah Gebuk’

Ibuku adalah seorang petani yang tinggal di Desa Botodayaan, Gunungkidul. Suatu pagi, saat membersihkan rumah, tiba-tiba ibuku terdiam, seolah sedang mendengarkan sesuatu.
“Ada suara aneh, kamu dengar tidak?” kata ibuku.
“Suara apa tho, Bu?” sahutku.
“Ular, ada suara ular di rumah ini,” jawabnya.

Aku mencoba memasang telinga dengan seksama agar dapat mendengar suara seperti yang didengar ibuku. “Tiktik, tiktik, tiktik.” Inilah suara yang dapat kudengar. Aku belum yakin kalau suara itu suara ular. Mungkin karena aku sendiri tidak paham betul karakter suara binatang melata tersebut. Ibuku meyakinkan aku bahwa itu benar-benar gemertik suara ular. Keyakinan ibuku itu kontan membuatku takut.

Dengan hati-hati, sambil membawa sapu lidinya, ibuku melangkah memberanikan diri mencari suara ular itu. Ibu mondar mandir dari kamar satu ke kamar lainnya untuk memastikan di mana suara ular itu berada. Kepanikan ibuku makin menjadi setelah hampir satu setengah jam mencari, namun tak kunjung menemukan asal suara ular itu. Aku sendiri pergi menjauh karena alasan keamanan.

Terakhir kulihat ibuku memasuki kamarku. Lama dia tak keluar. Jantungku berdebar, jangan-jangan sumber suara itu berasal dari dalam kamarku. Aku makin ketakutan ketika tiba-tiba ibuku berteriak, “Suara ular itu ada dalam kamarmu!”
“Di mana itu, Bu?” sahutku dari luar kamar.
“Belum tahu di mana persisnya!” jawabnya.

Dengan perasaan yang tak menentu, kutunggu ibuku yang sedang menyisir kamarku, mencari binatang yang kutakuti itu. Aku berdoa agar ibuku berhasil menangkapnya. Hari itu ibuku benar-benar seperti pawang ular yang telah berpengalaman.

Tiba-tiba, “Brak!”. Sepertinya ibuku mendapatkan sesuatu yang dicarinya. Aku menghampiri pintu kamarku dan melongokkan kepala melihat aksi ibuku yang mungkin sedang mengeksekusi ular.
“Mana ularnya, Bu? Apakah ibu berhasil menangkap dan membunuhnya?” tanyaku penuh penasaran.
Namun, setelah aku perhatikan dengan seksama, aku hanya bisa pasrah menyaksikan ibuku membanting dan menginjak-injak jam wekkerku dengang geramnya. “Jadi ini tho suara ular itu!” gerutu ibuku.

Setelah puas, ibuku meninggalkan bangkai jam wekker itu dengan sedikit memerah mukanya, mungkin karena malu. Ternyata suara ular itu adalah bunyi jam wekker kesayanganku. Duh ibuku sayang. Duh, jam wekkerku malang.

M Madlom Ibnu Madekun
Gedongkiwo, Mj I/735B
Yogyakarta 55142

Sumber : www.republika.co.id

Buronan Tukang Ojek

Hari itu langit bersih dengan tebaran awan tipis di sana sini. Matahari bersinar hangat dan terang di ufuk timur. Aku berjalan menyusuri pagi hari yang indah untuk menunaikan tugas mengajar. Yap, aku adalah guru di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Islam yang cukup terkenal dan mahal di bilangan Bekasi.

Hari itu, Kamis, tahun 2003. Aku berangkat ke tempatku mengajar pukul 06.30. Aku naik mikrolet M26 jurusan Bekasi – Kampung Melayu. Aku turun di Galaxi. Ketika membayar ongkos mikrolet, uangku tinggal selembar Rp 50.000-an dan sopir itu menolak. Secara kebetulan tukang ojek menghampiriku. Aku pinjam uang Rp 2.000 ke tukang ojek untuk membayar mikrolet, kemudian perjalanan ke sekolah aku tempuh dengan ojek itu.

Aku turun tepat di depan sekolah. Aku bayar ojek dengan uang Rp 50.000-an tadi. Ternyata tidak ada kembaliannya. Lalu tukang ojek itu pamit untuk menukar uang, lalu abang ojek memberiku dua lembar uang kembalian, seperti seribuan dan lima ribuan. Sebelum kuperiksa dengan teliti, aku ucapkan terima kasih dan abang ojek segera berlalu.

Sepanjang perjalanan ke kantor guru, di lantai tiga, aku berpikir kembali mengenai uang kembalian dari abang ojek itu. Setibanya di kantor, aku hitung kembalian uang tersebut. Benar, uang itu berjumlah Rp 55.000. Berarti abang ojek itu malah memberiku uang Rp 5.000 sambil mengembalikan uang Rp 50.000-an tadi. Tapi apa dayaku, dia sudah pergi dan aku tidak mengenalnya. Akhirnya aku hanya bisa menceritakan hal itu kepada teman-temanku sebagai sebuah keberuntungan.

Dua hari setelah kejadian itu, aku dipanggil menghadap Kepala Sekolahku di ruangannya. Di ruang kepala sekolah telah duduk dua orang laki-laki. Ketika aku masuk ruangan, salah satu laki-laki itu langsung berteriak, “Nah, ini orangnya, Pak.”

Aku terkejut dan menoleh ke mereka. Ternyata, laki-laki itu adalah tukang ojek yang uangnya terbawa olehku. Mukaku langsung merah dan segera aku kembali ke kantor guru untuk mengambil uang dan aku beritakan ke abang ojek sambil tersenyum minta maaf.

Setelah tukang ojek itu pergi, kepala sekolahku yang humoris itu tertawa. “Resi… Resi…, tahu gak, sudah dua hari tukang ojek itu keliling kelas nyari buronan yang bawa uangnya. Ha ha ha…,” ujar kepala sekolahku sambil mesem-mesem.
Dan, aku hanya bisa nyengir kuda. Malu deh rasanya.

Resi Sukesih
Jl H Amsir RT 02 RW 04 No 53 Cipinang Melayu Jakarta Timur 13620

Sumber : www.republika.co.id

Mau Mendorong Teman, Keliru Bos

Peristiwa konyol ini terjadi pada tahun 1996, ketika saya masih bertugas sebagai PNS di Kantor Departemen Tenaga Kerja di wilayah Kalimantan Timur.

Saat itu kurang lebih pukul 11.00 WIT. Setelah cukup pusing mengerjakan laporan bulanan, saya rehat dulu, jalan-jalan ke bagian Tata Usaha. Karena jumlah karyawan kantor saya saat itu masih sedikit, hanya berjumlah 37 orang, dan persaingan belum begitu tinggi, hubungan di antara karyawan sangat akrab. Bahkan, dengan kepala seksi dan kepala kantor kami baik-baik saja dan nyaris tidak ada jarak.

Begitu masuk ke ruangan Bagian Tata Usaha, saya melihat teman seseksi sedang menghadap ke arah lain. Walau pun teman tersebut lebih tua dari saya, karena merasa akrab, saya guyonan padanya dengan mendorong dan memeluknya. Kemudian, tanpa melihat wajahnya, saya berjalan ke arah lain untuk menanyakan sesuatu kepada teman di sub bagian Tata Usaha. Tapi, teman-teman saya yang berada di ruangan tersebut, semuanya, melihat saya dengan penuh keheranan.

Saya tentu saja merasa kaget melihat sikap teman-teman saya itu. Lalu, saya bertanya kepada seorang teman bernama Mbak Flora, “Mbak, ada apa? Kenapa teman-teman melihat saya seperti itu?”
Mbak Flora, dangan agak tegang, menjawab, “Mus, apakah kamu sadar, yang kamu dorong dan peluk itu siapa?”
Mendapat jawaban itu saya merasa heran lalu menoleh ke arah teman yang barusan saya dorong dan saya peluk tadi. Astaghfirullah, ternyata yang saya dorong dan peluk tadi bukan teman seseksi, tapi Bapak Kepala Kantor.
Beberapa saat saya merasa shock, lalu segera memohon maaf pada beliau, “Oh ternyata Bapak Razak? Paaak…, saya mohon maaf, telah berbuat tidak sopan pada Bapak. Saya kira Bapak tadi Mas Lasiman.” Bapak kepala kantor hanya tersenyum saja, namun semua teman yang ada di ruangan tersebut pada tertawa. Oh, betapa malunya saya, sebab setelah kejadian tersebut, selama beberapa hari, teman-teman masih mengolok-olok saya dan menceritakan kekonyolan saya itu kepada yang lain.

Muslihat
Jl Prawira No 6, RT 007/008
Ciateul, Bandung 40252

Sumber : www.republika.co.id

Ditulis dalam Senggang. 2 Komentar »