Maulana M Syuhada : Dengan Angklung Menaklukkan Eropa

Maulana M Syuhada bersama 35 temannya menjelajahi berbagai negara di belahan Eropa. Misinya hanya satu: Ekspand the Sound of Angklung (ESA). Memperkenalkan alat musik tradisional Sunda yang bisa membawakan berbagai lagu ini merupakan pekerjaan menantang bagi Maulana.

September 2007, buku tentang pengalaman mereka diluncurkan di Bandung: 40 days in Europe. ”Seusai melakukan penjelajahan budaya ke beberapa negara di Eropa ini, saya menilai, pengalaman ini tidak boleh terhapus oleh waktu. Pengalaman ini sangat berharga,” jelas pria kelahiran Bandung, 14 Juni 1977, ini.

Mereka telah berkelana di Eropa pada 22 Juli 2004-30 Agustus 2004. Misi mereka awalnya hanya untuk mengikuti Aberdeen International Youth Festival, salah satu even budaya terbesar di Skotlandia. Peserta festival ini bukan hanya kelompok seniman dari Skotlandia, tapi hampir seluruh kelompok seniman dunia.

Tapi, ibarat pepatah sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, alumnus SMA Negeri 3 Bandung angkatan 1996 ini bertekad upaya melanglang buana mengenalkan angklung tak cukup hanya berlabuh di Skotlandia. Sebagai pimpinan rombongan, Maulana bersusah-payah mencari tahu berbagai festival dan even budaya yang digelar di berbagai negara Eropa dalam kurun waktu yang tak jauh berbeda.

”Festival dan konser itu dicari selama satu tahun. Lalu di set up. Selama mencari berbagai even dan festival itu, saya harus bolak-balik Paris, Berlin, Brussel, dan mencari berbagai festival melalui internet, telepon, maupun kopi darat,” tutur jebolan program Master (S2) Manajemen Produksi Technische Universitaet Hamburg, Jerman. Alhasil, dua festival lain bisa diikuti oleh tim ESA pimpinan Maulana ini. Yaitu, International Festival of Highland Folklore di Zakopane, Polandia, dan International Folklore Festival di Kostelec, Republik Czech.

Berbagai pertunjukan ‘gratisan’ juga digelar ESA di berbagai negara dan kota, mulai dari Bremen, Berlin, Muenchen, Paris, Frankfurt, Hamburg, hingga Brussels. Dalam setiap pertunjukan, Maulana dan tim ESA sering menampilkan lagu-lagu daerah dan keroncong. ”Penampilan angklung dengan membawakan lagu-lagu klasik, seperti karya Bach dan lagu-lagu opera seperti Opera Carmen, cukup mendapatkan apresiasi hangat dari para penonton,” jelas kandidat PhD Ilmu Manajemen Lancaster University Management School, Inggris, itu.

Hampir di setiap pertunjukan, penonton bahkan juga juri memberikan standing applaus. Tidak hanya itu, berbagai penghargaan pun diraih ESA dan tentu saja Maulana. ESA meraih juara pertama di festival mendapat di Kostelec, Republik Czech.

Di festival Zakopane, Polandia, selain meraih juara pertama, mereka juga mendapat penghargaan tertinggi, yaitu Ciupaga. Padahal, di festival itu Maulana dan ESA hanya berstatus sebagai bintang tamu. Sebenarnya, Maulana dan kelompok ESA tidak berhak ikut dalam kompetisi folklor karena tidak mewakili jenis kebudayaan folklor dataran tinggi. Tetapi, lantaran performa ESA dinilai sangat berkualitas, tim juri akhirnya tetap memutuskan penghargaan tertinggi itu berhak diraih ESA dan Maulana.

Aktualisasi Diri
Sebelumnya, Maulana adalah peranakan Sunda yang tak begitu mengenal angklung. Perkenalannya dengan angklung terjadi saat mengikuti orientasi siswa baru di SMAN 3 Bandung. Saat itu, kata dia, Keluarga Paduan Angklung SMAN 3 (KPA 3) membawakan soundtrack film McGyver yang saat itu tengah ngetren.

”Ternyata, angklung itu alat musik tradisional yang bisa digunakan untuk membawakan lagu-lagu Top 40, bahkan soundtrack Mcgyver,” kenang mantan Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli dan Sarjana Indonesia di Jerman (IASI) ini. Hingga lulus dari SMAN 3 Bandung dan belajar di Teknik Industri ITB, Maulana belum juga memainkan angklung. Alat musik bambu itu baru ia pelajari justru saat dirinya belajar di Jerman, tepatnya di Hamburg University of Technology, pada 2001.

Maulana memainkan angklung dengan segala keterbatasannya, mulai dari sarana hingga personel. Dia dan rekan-rekan mahasiswa yang sama-sama berasal dari Indonesia, hanya memainkan angklung pada saat digelar International Student Evening.

Sambutan dari para penonton saat dia dan kelompok mahasiswa Indonesia bermain angklung sangat luar biasa. Bahkan, para penonton terlihat begitu antusias. Atas kepuasan penonton itulah, Maulana mengaku bahwa angklung menjadi semacam bentuk aktualisasi dirinya. Lewat angklung pula, ia merasakan pencitraan positif tentang Indonesia. ”Faktor ini yang menyebabkan saya tidak berhenti bermain angklung,” jelas alumnus Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah, Garut, Jawa Barat, ini.

Dengan segala ketekunannya, Maulana menghimpun rekan-rekannya untuk serius mempelajari angklung. Maulana dan rekan-rekannya pun mendirikan Angklung Orchester Hamburg pada 2002. Kini, kata dia, terdapat puluhan anggota Angklung Orchester Hamburg yang berasal dari 10 negara, yaitu Meksiko, Venezuela, Vietnam, Thailand, Ethopia, Elsavador, India, Austria, Rusia, dan Jerman.

Mengambil program doktoral di Inggris, Maulana tetap bermain angklung. Di Lancaster University Management School, Inggris, kata dia, pesertanya, 100 persen orang Inggris. Maulana yakin bahwa mengenalkan angklung di luar negeri merupakan upaya yang sangat efektif untuk diplomasi, khususnya dalam bentuk pencitraan. ”Lewat seni, Indonesia memiliki nilai yang sangat tinggi,” tegas .

Bersama 35 orang, Maulana telah menundukkan Eropa. Senjata mereka angklung. ”Ini merupakan pengalaman yang luar biasa,” kata mantan presiden Angklung Orchester Hamburg, Jerman, itu.

Sumber : www.republika.co.id

Ditulis dalam Sosok. 4 Komentar »

Endo Suanda : Demi Seni Tradisi

Ada kegelisahan yang tumbuh dalam diri Endo Suanda. Kesenian daerah yang bertebaran di berbagai daerah di Indonesia terancam oleh budaya luar. Pengajaran kesenian di sekolah-sekolah dilihatnya cenderung berorientasi pada dasar nilai estetika Barat. Model pengajaran semacam itu tidak bersambungan dengan kesenian tradisi.

Lebih parah lagi, pada sebuah masa di negeri ini, kesenian daerah yang satu diadu dengan kesenian daerah lain. Padahal, menurut dia, pemahaman orang terhadap musik yang baik atau tari yang baik, tidak bisa diseragamkan. Musik dan tari dari satu daerah, misalnya, belum tentu baik di telinga orang lain. Di sinilah problemnya.

Didera kegelisahan mengenai hal ini, pria kelahiran Majalengka, 1947, ini akhirnya menyusun program pengajaran kesenian kepada guru-guru kesenian. Metodologi pengajaran yang ia kenalkan berbeda dengan kelaziman yang ada. Titik tekannya bukan bagaimana memberikan pengertian kesenian dan semacamnya kepada anak didik, tapi lebih pada apresiasi terhadap kesenian itu sendiri.

Melalui Lembaga Pendidikan Seni Nusantara (LPSN) yang ia ketuai, Endo menyusun kurikulum dan bahan ajar kesenian untuk sekolah-sekolah umum. Acuannya adalah pemahaman pluralitas kesenian dalam kehidupan masyarakat di berbagai wilayah budaya. Materi pengajaran dibuat dalam bentuk buku dan audio visual, sambil memperkenalkan alat musik yang digunakan dalam kesenian daerah. ”Melalui pendekatan culture specific, pengetahuan kemajemukan budaya bisa diperoleh,” ujarnya.

Kala itu, 2001, Endo mulai memperkenalkan metodologi yang dibuatnya ke Pusat Kurikulum, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Bagaimana tanggapan departemen itu? ”(Mereka) tidak setuju, karena sudah punya konsep KBK (kurikulum berbasis kompetensi),” ucapnya. Untungnya, menurut dia, meski tidak setuju, tapi Depdiknas juga tidak melarang.

Dua tahun berselang, 2003, Endo mencoba mengimplementasikannya ke sekolah-sekolah. Tanggapan sekolah pun beragam, seiring dengan diterapkannya otonomi daerah. Dia mengujicobakan metodologinya dalam bentuk pelatihan kepada guru-guru dari 30 sekolah, antara lain berasal dari Jakarta, Medan, dan Flores. Kata Endo, ”Waktu dilatih, banyak guru yang menolak karena terbiasa dengan text book.”

Tanggapan yang diperoleh dari pelatihan itu pun beragam. ”Ada (guru) yang mengaku merasa sulit, tapi menarik,” ucapnya. Toh, umumnya guru yang mengikuti pelatihan mengaku senang. Itu karena mereka merasa akan lebih mudah mengajarkan kesenian kepada anak didik dalam mengenalkan secara langsung bentuk-bentuk kesenian yang ada dengan mengacu pada realitas pertujukan kesenian.

Tidak seperti sebelumnya, anak didik diajari kesenian berdasarkan kurikulum dengan panduan buku yang ada. Dalam metode pengajaran ini, jelas Endo, anak didik diajak berdiskusi. ”Ternyata siswa senang karena diajak berpikir, bukan menghafal,” kata ayah dua anak yang pernah mengikuti program S-3 Etnomusikologi di University of Washington, ini menuturkan.

Tahun-tahun berikutnya, minat guru mengikuti pelatihan kian banyak. Pada 2005, misalnya, tidak kurang dari 850 sekolah di 12 provinsi menyertakan gurunya untuk mengikuti pelatihan. Meski belum memberikan pengakuan resmi, tapi menurut Endo, Depdiknas pun mulai mengulurkan tangan, membantu dana untuk pelatihan. Tapi, lantaran tak memiliki anggaran yang cukup, setahun berselang jumlah peserta diturunkan. ”Sekarang hanya 500 sekolah,” ujarnya.

Sejak Kecil
Endo Suanda mengenal dan belajar kesenian tradisional sejak kecil di desa kelahirannya, Cikasarung, Majalengka, Jawa Barat. Di usia 8 tahun, Endo kecil sudah bermain berbagai jenis kesenian tradisional, seperti gamelan, wayang, sandiwara, dan tari. Bergabung dalam grup wayang, ia kerap melakukan pementasan kesenian keliling, dari desa ke desa. ”Waktu SMP, saya sudah menabuh gendang (dalam pertunjukan wayang),” ujarnya.

Perjalanan waktu membawanya masuk ke Konsevatori Tari (Kori) –yang kemudian berubah menjadi Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung, dan terakhir menjadi Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung– dan ASTI Yogyakarta. Sempat menjadi pengajar di dua lembaga pendidikan itu, Endo pun tercatat sebagai pegawai negeri sipil. Tak betah, ia memilih berhenti. ”Saya ingin jadi seniman. Seniman itu harus mengembara,” ucapnya.

Saat itu, 1977, Endo memulai pengembaraannya. Ia berangkat ke Bali, menjadi seniman freelance di bidang musik, tari, dan teater. Dua tahun kerja bebas, dia memperoleh kesempatan mengikuti program master di Wesleyan University, Middletown, Connecticut, Amerika Serikat. Kembali dari sana, Endo menjadi konsultan dan dosen Jurusan Etnomusikologi, Universitas Sumatra Utara (USU), Medan, sampai akhirnya kembali melanjutkan pendidikannya di University of Washington.

Beruntung, pengembaraannya menyaksikan kesenian tradisional di banyak di daerah di Indonesia selalu ia dokumentasikan. Endo memiliki ratusan arsip audiovisual pertujukan kesenian tradisional yang ada di negeri ini. Arsip itulah yang memudahkan ia menyusun bahan ajar berupa buku dan paket audiovisual yang diterapkan pada sekolah peserta program LPSN. Sekarang sudah diterbitkan 10 buku bahan ajar dengan topik yang berbeda.

Endo menyatakan, ini untuk keseimbangan dari kesenian yang cenderung berorientasi pada nilai-nilai estetika Barat. Mantan ketua Masyarakat Seni Pertujukan Indonesia (MSPI) ini bilang, ”Kita tidak bisa melihat kesenian Batak, misalnya, dengan kaca mata Barat.”

Sumber : www.republika.co.id

Ditulis dalam Sosok. Leave a Comment »

Suryatati : ‘Ratu’ dari Negeri Pantun

Ingat Suryatati, ingat Melayu. Dan, tiap ingat Melayu, kini orang pun akan ingat Suryatati: Penyair yang juga wali kota ‘negeri Melayu’, Tanjungpinang, yang selalu bertanya pada dirinya sendiri, ”Masih Melayukah aku?”

Ia mengakui jati diri kemelayuan sudah banyak terkikis oleh globalisasi. ”Banyak orang Melalyu yang sudah lupa pada jati dirinya sebagai bangsa Melayu. Mereka sudah meninggalkan budaya Melayu yang luhur,” kata Suryatati, mengungkapkan keprihatinannya. Keprihatinan yang juga tersirat pada sajak-sajaknya.

Tegaknya kembali nilai-nilai budaya Melayu memang menjadi obsesi perempuan kelahiran Tanjungpinang, 14 April 1953, ini. Dan, salah satu cara untuk menjaga kemelayuannya agar tidak ikut tergerus globalisasi adalah selalu bertanya pada dirinya sendiri. Maka, Suryatati pun menulis puisi panjang bertajuk Melayukan Aku:

Apa tanda orang Melayu
tunjuk ajarnya jadi penentu
pada orang tua hendaklah hormat
supaya hidup menjadi selamat
bahasanya santun lembut di telinga….

Agar gerakannya untuk mereaktualisasi nilai-nilai budaya Melayu semakin kuat, judul puisi itu pun lantas dijadikan judul buku kumpulan sajaknya. Belum lama ini, buku yang diterbitkan oleh Yayasan Panggung Melayu (YPM) itu diluncurkan di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, dalam sebuah pergelaran besar yang menampilkan sejumlah artis, sastrawan, dan tokoh masyarakat.

Tidak cukup hanya melalui puisi, Suryatati juga mencanangkan kota Tanjungpinang sebagai ‘Kota Gurindam’ sekaligus ‘Negeri Pantun’. ”Karya seni-budaya terpenting dari masyarakat Melayu yang perlu dilestarikan adalah pantun dan gurindam. Tradisi berpantun sejak dulu menjadi bagian dari keseharian masyarakat Tanjungpinang, juga masyarakat Riau pada umumnya,” katanya, di Tanjungpinang, pekan lalu.

Selain itu, tambahnya, banyak sastrawan besar yang lahir di Tanjungpinang. ”Pada masa sastra Melayu lama, ada Raja Ali Haji, penulis gurindam terkenal dan bapak bahasa Melayu-Indonesia. Saat ini, untuk sastra Indonesia kontemporer, ada Sutardji Calzoum Bachri, yang dijuluki sebagai Presiden Penyair Indonesia,” kata dia.

Sejak ‘Negeri Pantun’ dan ‘Kota Gurindam’ dicanangkan, kini tiap orang yang mengunjungi kota yang terletak di Pulau Bintan itu akan menemukan nama-nama yang berbau sastra. Mulai dari nama jalan, kendaraan, sampai bangunan. Jadi, memasuki kota Tanjungpinang rasanya seperti memasuki negeri sastra. Belum lagi kalau menengok acara-acara seremoni yang sering diwarnai baca puisi dan pantun-pantun spontan yang segar.

Ketika menyeberang dengan kapal cepat dari Batam, Singapura, atau Johor (Malaysia), misalnya, begitu berlabuh di Pelabuhan Sri Bintan, pengunjung akan langsung dapat membaca tulisan ‘Kota Gurindam’ terpahat di lereng bukit di seberang gerbang pelabuhan. Di pelabuhan ini pula terdapat perahu-perahu bermotor (pompong) dengan nama Fatwa Gurindam, yang siap membawa pengunjung menyeberang ke Pulau Penyengat, tempat tokoh gurindam dua belas, Raja Ali Haji, dimakamkan.

Di Negeri Pantun itu, sebagai wali kota, hampir tiap hari Suryatati sibuk memberikan sambutan untuk berbagai acara. Dan, di tengah seremoni itu, hampir selalu bertabur pantun dan puisi, baik dari Suryatati maupun dari para penyambut –panitia dan pejabat– lainnya. Maka, jadilah sang penyair yang juga birokrat ini laiknya ‘Ratu’ di Negeri Pantun.

Lulusan IPP Pemerintahan ini memulai kariernya sebagai kasubbag Perundang-undangan Setda Kabupaten Riau (1979-1983) dan kabag Perekonomian Kabupaten Riau (1985-1993). Kemudian, secara berturut-turut menjadi camat Tanjungpinang Barat (1993-1995), kepala Dispenda Kepulauan Riau (1995-1996), wali kota Kota Administratif Tanjungpinang (1996-2001), pejabat wali kota Tanjungpinang (2001-2003), dan wali kota Tanjungpinang hingga kini.

Sebagai perempuan Melayu, diam-diam Suryatati menyimpan bakat sebagai penyair. Bakat terpendam ini mulai ditemukannya ketika diundang untuk membaca sajak pada acara Gelar Sajak, Jalan Bersama Bupati/Walikota dan Penyair Melayu di TIM, Jakarta, November 2006. ”Ketika itu, setelah membaca puisi, ada wartawan yang bertanya, ada berapa puisi yang sudah saya tulis. Terus terang, saat itu baru satu puisi yang saya tulis,” kenangnya.

Dari situlah Suryatati merasa tertantang untuk menulis puisi lebih banyak lagi. Dan, tanpa disadarinya benar, hanya dalam waktu sekitar satu tahun, lebih dari seratus puisi telah ditulisnya, dan diterbitkannya dalam dua buku, yakni Janda (2007) dan Melayukah Aku (2007), yang dipanggungkannya di TIM belum lama ini. ”Mula-mula, menulis puisi terasa berat dan sulit, tapi lama-lama enak dan mengalir saja,” ujar dia. ”Saat ini, tak terasa, saya telah menulis sekitar 104 puisi dengan beragam tema,” tambahnya.

‘Ratu’ dari Negeri Pantun ini mengaku biasa menulis puisi di tengah malam, ketika sudah terbebas dari rutinitas tugas sehari-harinya sebagai pejabat. Dengan dikenal sebagai penyair, kini makin banyak saja undangan bagi Suryatati untuk membacakan sajak-sajaknya di berbagai acara di berbagai kota. Belum lama ini, misalnya, dia menjadi salah satu pembaca puisi andalan dalam acara puncak Pekan Presiden Penyair di TIM, bersama sejumlah menteri dan penyair nasional.

Dari situ pula Suryatati kini sering ketagihan untuk membaca sajak di depan publik, sehingga tiap diminta memberikan sambutan, selain membaca pantun spontan, dia kadang-kadang juga membaca sajak. ”Sebagai penyair, kini saya memiliki obsesi untuk menulis puisi panjang tentang sejarah kota Tanjungpinang, lengkap dengan budaya Melayunya,” ujar dia bertekad.

Sumber : www.republika.co.id

Ditulis dalam Sosok. 3 Komentar »

H Taufiq Pasiak : Tingkatkan Pemanfaatan Otak

Sepasang suami-istri punya profesi sama: Guru. Kala itu, akhir 1970-an, anak-anak pasangan ini masih kecil. Anak sulungnya belum genap 10 tahun, masih duduk di bangku sekolah dasar. Impiannya masa itu, ketika si bocah memasuki perguruan tinggi, penghasilan mereka sudah mencukupi untuk memenuhi kebutuhan si buah hati.

Pasangan suami-istri ini lalu menyusun rencana. Keduanya mesti kuliah agar penghasilan mereka kelak meningkat, seiring dengan perjalanan waktu. Untuk mencapai impian tersebut, apa boleh buat, mereka mesti berupaya mencari tambahan penghasilan. Gaji sebagai guru dirasakan tidak mencukupi.

Di sela-sela waktu mengajar, mereka lalu berjualan rokok di Pasar 45, Manado. Kerap sekali anak sulungnya ikut membantu. Kebetulan, pemilik toko tempat keluarga ini berjualan punya koleksi banyak buku bacaan. Ini yang membuat anak itu kian rajin ikut membantu orangtuanya. Apalagi, pemilik toko tidak pelit meminjamkan buku-buku koleksinya.

Bak oase di tengah gurun pasir, kegemarannya membaca seakan terpenuhi. Anak itu membaca banyak jenis buku, hingga buku-buku yang tergolong berat untuk anak seusianya. ”Hari ini baru saya tahu, buku-buku yang saya baca saat itu termasuk buku-buku yang berat-berat,” kata si anak sulung itu, mengenang.

Taufiq Pasiak, si anak sulung yang hobi membaca itu, akhirnya kuliah di Fakutas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Manado, seusai menyelesaikan pendidikannya di SMA. Kini tiga gelar sarjana mendampingi namanya: dr Taufiq Pasiak MPdI MKes. Ketika ia masuk bangku kuliah, orangtuanya sudah merampungkan kuliahnya. Mimpi orangtua yang dibangun dengan keringat menjelma menjadi kenyataan.

Best seller
Di masa mahasiswa, anak sulung dari enam bersaudara kelahiran Manado, 29 Januari 1970, ini tergolong aktivis. Aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Manado, Taufiq kerap membawakan materi nilai identitas kader dalam setiap kegiatan pengkaderan. Materi itu berkaitan dengan otak manusia dan nilai-nilai agama. Perjalanan hidup kemudian membawa staf pengajar FK Unsrat ini kian mendekatkan kedua hal itu: Agama dan kedokteran.

Lulus pada 1996, ia sempat tiga tahun bertugas sebagai dokter PTT di sebuah puskesmas di Minahasa dan enam tahun berpraktik sebagai dokter. Ia pun menempuh pendidikan pascasarjana di dua tempat yang berbeda dan dua disiplin ilmu yang secara diametral bersilangan 180 derajat. Tahun 2001, Taufiq mengikuti Program Pascasarjana di IAIN Alauddin, Makassar, dan memperoleh gelar magister pendidikan Islam (MPdI) pada 2003. Tahun 2002, ia memasuki Program Pascasarjana di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dengan minat utama pada neuroanatomi (neurosains), suatu disiplin yang mempelajari sistem saraf.

Pemahamannya yang dalam terhadap dua cabang ilmu itu mampu ia urai dengan sistematis. Bukunya, Revolusi IQ/EQ/SQ: Antara Neurosains dan Alquran yang diterbitkan Mizan, 2002, termasuk buku best seller. Dicetak berulang kali. Prof dr JW Siagian, guru besar Patologi Anatomi, Fakultas Kedokteran Unsrat menyebut buku ini sebagai kacamata tembus pandang. Sebelah kiri terbuat dari sains kedokteran dan sebelah kanan dari agama.

Ketua Pengurus Daerah Muhammadiyah Manado ini juga menulis sejumlah buku. Antara lain, Manajemen Kecerdasan (Mizan, 2005), Membangun Raksasa Tidur (Gramedia, 2004), Brain Management for Self Improvement (Mizan, 2006), dan Otak Rasional – Otak Intuitif (Manado, 1995). Meski telah menyusun sejumlah buku yang berkaitan dengan neurosains dan Alquran, tapi anggata Tanwir PP Muhammadiyah ini tak ingin disebut saintis. ”Saya hanya pemerhati neurosains dan aktivis organisasi,” tutur anggota Pusat Studi Neuropsikobiologi dan Pemuda Lintas Agama Sulawesi Utara (Sulut) ini.

Toh, penerima beasiswa S3 dari The Habibie Center untuk program doktoralnya di UIN Surabaya, ini kerap diundang berbicara dalam berbagai seminar dan pelatihan yang berkaitan dengan otak dan Alquran. Pekan lalu, misalnya, ia berada di Jakarta, berceramah di berbagai tempat. Antara lain di kediaman Menpora Adhyaksa Dault. ”Mind set harus diubah dengan cara berpikir jangka panjang,” ujarnya.

Bagaimana Taufiq melihat kemampuan otak orang Indonesia? Ayah tiga anak dari pernikahannya dengan dr Dewi Utari Djafar ini mengatakan pemanfaatannya masih banyak yang jauh dari maksimal. ”Orang Indonesia tidak lebih dari 10 persen yang mengoptimalkan kapasitas otaknya,” ujar dia.

Taufiq menyatakan ingin ikut mengambil bagian dalam membangun pengembangan dan pemanfaatan potensi otak orang Indonesia. Jalan yang akan ditempuhnya mungkin akan panjang, tapi lebih terarah. ”Saya ingin membangun sekolah,” ucapnya.

Di sekolah itu, dalam bayangan Taufiq, akan memadukan empat kapasitas otak. Yakni mental dan fisik, intelektual, spiritual, dan emosinal. Dari sini diharapkan lahir orang-orang yang kapasitasnya tumbuh dengan baik, orang-orang seperti Ibnu Sina. ”Sekarang saya sedang menabung,” ucapnya.

Sumber : www.republika.co.id

Ditulis dalam Sosok. 5 Komentar »

Mohamad Sunjaya : Menghadapi Ketidakmudahan

Tahun 1994, Mohamad Sunjaya membuat sejarah. Mengelola Lembaga Produksi Siaran (LPS) PRRSNI Jawa Barat, Sunjaya menurunkan berita demo anti-SDSB. Rekaman teriakan para pendemo yang memekikkan takbir, ia putar dari studio Radio Mara Bandung. Produksi berita LPS PRSSNI Jawa Barat ini direlai oleh radio swasta di Jawa Barat.

Ada yang tak berkenan dengan siaran berita itu. Maka, Sunjaya yang saat itu menjabat pemimpin redaksi Pusat Pemberitaan LPS PRSSNI Jawa Barat itu harus cuti lama untuk menenangkan diri, meninggalkan program berita untuk radio-radio swasta itu. Saat itu, radio swasta dilarang memproduksi berita sendiri. LPS PRRSNI Jawa Barat, lewat Radio Mara, bisa mengelolanya. Sunjaya mengawal perjalanannya. ”Uang gajinya dari Radio Mara ia habiskan untuk membiayai operasional LPS ini,” ujar Manajer Umum Radio Mara, kala itu, Layla Mirza (almarhumah).

Mendapat tekanan itu, tentu saja ia sedih. Tapi, kesedihannya terbangun bukan karena ia sedang memainkan peran. Sebab, salah satu pentolan Studiklub Teater Bandung (STB) ini, tak sedang di atas panggung teater. Mempunyai pengalaman mendapat tekanan menjadi wartawan radio, Sunjaya ikut bersimpati ketika tiga media di Jakarta dibreidel pemerintah. Ia rajin merekam berita-berita radio asing yang mengulas pembreidelan itu. pengalaman inilah yang membawanya ikut mendirikan Institut Studi Arus dan Informasi (ISAI) bersama Goenawan Mohammad.

Pada 28 Agustus 2008, Sunjaya genap berusia 70 tahun. Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung mengganjarnya penghargaan atas dedikasinya di dunia teater. ”Saya akan terus berakting sampai Tuhan mengizinkan. Setelah saya lumpuh pun, saya akan berakting di atas kursi roda. Saya akan bermain teater sampai ajal menjelang,” ujar Sunjaya, kepada Republika, Rabu (28/8).

Pada 6-7 September, Sunjaya akan bermain di CCF Bandung. Actors Unlimited menggelar pementasan ini sebagai penghormatan atas dedikasi Snjaya di dunia teater.

Rambut putih dan gigi yang sudah banyak diganti oleh gigi palsu, tidak pernah menjadi hambatan baginya tampil di depan publik teater. Bahkan, saat harus memainkan berbagai peran dengan beragam usia, umur yang sudah tidak muda termakan zaman pun tidak menjadi hambatan baginya. Saat tampil di panggung teater, sosok Sunjaya pun berubah menjadi setiap tokoh yang dibawakannya. Semangat Sunjaya, tidak pernah padam untuk menjalankan profesi yang sudah puluhan tahun dijalaninya.

Nama Sunjaya di dunia teater sudah tidak asing lagi. Hampir tiga generasi, sudah dilaluinya. Berbagai penghargaan pernah diberikan kepadanya. Salah satu penghargaan berasal dari Gubernur Jabar. Aktor senior itu, sekarang menjadi guru bagi seluruh aktor muda di Kota Bandung. Bersama-sama aktor muda, ia mendirikan kelompok teater Actors Unlimited, meski ia tetap aktif di STB.

Awal ketertarikannya pada dunia teater dimulai saat masih duduk di SD. Tidak seperti anak SD yang lain, meskipun masih kecil Sunjaya sudah menyukai bacaan sastra yang terhitung berat dimengerti anak seusianya. Misalnya, novel Dian yang Tak Kunjung Padam karya Sutan Takdir Alisyahbana. Buku bacaan yang dibaca Sunjaya pun, berkembang seiring dengan perkembangan usianya. Saat menginjak SMP, Sunajaya sudah membaca buku tentang telepati dan setelah SMA buku-buku filsafat pun menjadi buku favoritnya.

”Saya tertarik dengan berbagai buku yang berbau sastra dan filasafat, karena buku yang sifatnya eksakta bagi saya tidak aneh,” kata anak ke-7 dari 12 bersaudara dari pasangan Memet Bratasuganda (alm) dan Nyi Mas Alniyah (almh).

Saudara kandung Yogie S Memet (alm) ini mengatakan sastra sangat menarik baginya, karena berkaitan dengan sejarah, karya budi daya manusia, tradisi, filsafat, dan psikologi. Drama, kata dia, tidak bisa dilepaskan dari karya sastra. Saat duduk di SMA kelas 1 tahun 1955, untuk pertama kalinya Sunjaya bermain drama dalam lakon Di Langit Ada Bintang karya Utuy T Sontani yang disutradarai oleh Noor Asmara.

Menurut pria yang mengisi waktu luangnya dengan melamun dan ngobrol dengan balita itu, sudah banyak drama yang dilakonkannya sampai sekarang. Tapi ia tidak ingat secara persis berapa jumlahnya. Namun, kata dia, yang tercatat dalam memorinya, sampai sekarang dirinya sudah memerankan drama sekitar 16 lakon.

”Saya tidak pernah bosan memerankan lakon pada pertunjukan teater. Karena, untuk saya bermain peran ada kepuasan batin. Bisa menambah teman dan ‘teman’,” katanya. Dengan bermain teater, kata dia, dirinya memiliki banyak teman karena teater tidak seperti kegiatan seni yang lain, misalnya seni lukis, patung, ataupun puisi yang karyanya lebih bersifat individual.

‘Teman’ yang ia maksud adalah tokoh yang ia perankan. ia selalu berteman dengan tokoh yang ia mainkanitu. Ketika memerankan tokoh Julius Caesar, dirinya merasa tokoh itu selalu ada dan jadi ‘teman’ untuknya. Karena sudah memainkan banyak peran, maka dirinya memiliki ‘teman’ cukup banyak. ”Setiap akan memerankan tokoh dalam suatu lakon, saya selalu menghadirkan roh tokoh itu di panggung. Jadi, waktu bermain diri saya tidak ada yang ada adalah roh tokoh yang saya mainkan,” ujar dia.

Meskipun sangat loyal terhadap profesinya sebagai aktor teater, pria yang memiliki obsesi ingin lebih banyak memberi pada orang lain itu, menilai profesi aktor teater di Indonesia belum bisa dijadikan untuk membiayai kebutuhan hidup. Karena, setiap pertunjukan memang tidak pernah menghasilkan keuntungan bahkan, sering kali rugi.

Sunjaya mencontohkan, untuk menggelar pertunjukan cukup besar bisa menghabiskan uang Rp 50-150 juta. Namun, harga tiket di jual di Bandung paling malah Rp 25 ribu dengan kapasitas tempat duduk biasanya 200 orang. Namun, Sunjaya mengatakan setiap generasi muda yang memiliki keinginan untuk menjadi aktor teater tidak perlu gusar, asal mau mempersiapkan diri bisa bertahan di dunia teater. Hal utama yang harus disiapkan seorang aktor teater, kata dia, adalah menyiapkan diri untuk menghadapi berbagai ketidakmudahan. Setiap aktor teater pun, harus bisa bergaul dan menciptakan kebersamaan dengan kru produksi yang lain.

”Kalau memang sudah memiliki keinginan kuat untuk menjadi aktor teater, tidak ada salahnya mulai menyiapkan diri. Karena, meskipun tidak mendatangkan keuntungan, profesi ini sangat menyenangkan. Kita bisa lebih mengasah EQ dan ES kita yang sekarang sudah jarang dimiliki oleh masyarakat,” kata Sunjaya sambil tersenyum.

Sumber : www.republika.co.id

Ditulis dalam Sosok. 1 Komentar »

Wowok Hesti Prabowo : Buruh, Gudeg, dan Puisi

Kini rekan-rekannya menjulukinya sebagai juragan gudeg. Warung gudegnya sering dijadikan tempat berkumpul untuk berkesenian. Lantai atas warungnya itu biasa dijadikan tempat pameran, diskusi sastra, dan pementasan seni. Penyuka burung dan jenggot ini bilang, ”Sastra jalan kalau ada duit.”

Dulu, ia adalah manajer personalia di sebuah perusahaan swasta. Tapi, sikap kesehariannya kerap tidak seiring dengan pemilik perusahaan. Ia dinilai lebih cenderung membela kepentingan pekerja dibanding perusahaan. Apa boleh buat, sikap itu berbuntut dikeluarkannya surat pemutusan hubungan kerja (PHK).

Peristiwa di akhir 1990-an tersebut membawa jalan hidup Wowok Hesti Prabowo, manajer personalia itu, berbalik. Pria kelahiran Purwodadi-Grobogan, 16 April 1963, ini kembali ke habibatnya: Menjadi seniman. Dari pesangon yang diterimanya, ia menerbitkan antologi puisi, memuat karya-karya sastrawan se-Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi). ”Itu nazar saya,” ucapnya.

Bekerja sebagai buruh pabrik dan terus menulis adalah dua hal yang selalu menyatu dalam diri Wowok selama tak kurang dari 15 tahun masa kerjanya di berbagai perusahaan. Setamat dari STMA (Kimia) Yogyakarta, 1983, ia memang langsung bekerja sebagai buruh pabrik. Tapi, kegemarannya menulis puisi dan artikel semasa masih bersekolah tak serta-merta terhenti.

Ia, agaknya, tak ingin berjalan sendiri. Wowok mengenalkan dunia kesenian kepada sesama buruh. Para pekerja itu dituntun menulis puisi, mengungkapkan perasaan dan pikiran mereka melalui tulisan. Melalui serikat pekerja, ia membentuk komunitas dan mengajari para buruh menulis sastra. Sastra buruh kemudian menggelinding, menjadi pembicaraan kalangan pemerhati sastra.

Maka, sastra buruh kerap diidentikkan dengan pergerakan. Bagi buruh, tulis Wowok dalam pengantar sebuah bukunya, puisi adalah mulut. ”Ketika hak-hak buruh ditebas, kebebasan buruh dibelenggu, kehidupannya ditindas dengan berbagai intimidasi dan kesewenangan, maka untuk menggerakkan isi hatinya buruh butuh mulut. Dan, mulut itu adalah puisi. Jadi, puisi bagi buruh adalah media untuk berjuang.”

Wowok tidak sekadar berpuisi dan mengenalkan seni dan sastra kepada para buruh. Ia ikut turun ke jalan, memperjuangkan nasib buruh. Bertepatan 50 tahun Indonesia Merdeka, 1995, mantan ketua unit kerja Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) PT Berlina, Tangerang, ini melakukan aksi protes terhadap kesewenangan yang menimpa kaum buruh. ”Saya mogok bicara selama 50 hari,” ujar pendiri Komunitas Budaya Buruh Tangerang (Bubutan) itu.

Jual sambal
Berhenti dari pekerjaan sebagai buruh pabrik, tidak berarti berhenti berkarya. Justru sebaliknya, produktivitasnya meningkat, aktivitas kian tinggi. Kumpulan puisinya terbit dalam sejumlah buku. Sebutlah, misalnya, Buruh Gugat (1999), Presiden dari Negeri Pabrik (1999), dan Lahirnya Revolusi (2000). Puisi-puisinya juga tersebar dalam sejumlah antalogi, seperti Hijrah, Bangkit, Rumah Petak, Trotoar, Cisadane, Mimbar Penyair Abad 21, dan Renonansi Indonesia yang diterbitkan dalam dua bahasa: Indonesia dan Mandarin.

Lulusan Fakultas Teknik Kimia Tekstil UNIS Tangerang, 1996, ini juga pernah mengetuai Yayasan Komunitas Sastra Indonesia (KSI), penggelinding komunitas Roda-roda Budaya, dan penggagas Institut Puisi Tangerang (IPT). Roda-roda Budaya adalah komunitas gabungan buruh dan sastrawan. Sedangkan IPT adalah lembaga untuk mengantarkan buruh agar tidak minder di tengah pergaulan sastra. ”Kalau dulu sastra itu elite, kini sastra milik siapa saja,” ujar ayah tiga anak ini.

Wowok, memang tidak semata berkesenian. Saat di-PHK, sebagian pesangonnya ia gunakan mendirikan rumah makan. Pernah mensuplai makanan rantang ke 13 perusahaan, Wowok merasakan penghasilannya jauh melampaui gaji sebagai buruh. Gaji setahun bisa setara dengan penghasilan sebulan dari hasil usaha. ”Itu saya rasakan. Saya menyesal 15 tahun bekerja di pabrik, tapi mungkin Allah menunjukkan jalan ke sana,” ucap anak keempat dari enam bersaudara ini.

Wowok suka menyebut usahanya itu sebagai jualan sambal. Menempati ruko dua lantai, dua rumah makan Galery Gudeg Yogya miliknya di bilangan Tangerang itu sering disambangi para seniman untuk melakukan kegiatan seni.

Belakangan ini, bersama rekan-rekannya, Wowok mencetuskan pamflet sastra Bumi Putra, sekaligus menjadi pemimpin redaksinya. Bersama rekan-rekannya, baik melalui pamflet sastra itu maupun lewat aksi nyata, ia menggugat bentuk dominasi komunitas sastra yang satu atas komunitas sastra yang lain.

Lewat Sastrawan Ode Kampung, ia menjadi penandatangan pertama penolakan terhadap bentuk dominasi komunitas sastra yang satu atas komunitas sastra yang lain itu. Sastrawan Ode Kampung juga menolak eksploitasi seks dalam karya sastra. Ia juga menggugat dominasi kapital asing atas kegiatan sastra di Tanah Air, ”yang memperalat keindonesiaan kita”.

Dunia seni, bagi Wowok, menjadi bagian yang sulit dipisahkan dalam kehidupannya. Tanpa itu, dia merasakan hidup yang hambar. Wowok mengaku menemukan kepuasaan batin bergelut dengan dunia seni. Dengan berkesenian, menurut Wowok, dia bisa merasakan nikmatnya gudeg, eh hidup.

Sumber : www.republika.co.id

Ditulis dalam Sosok. 1 Komentar »

Ilyas Karim : Kisah Pengibar Bendera Pusaka

Deru kereta api terdengar menggaruk-garuk rel, Kamis (16/8) malam itu. Dan, Ilyas Karim kerap dibayangi kekhawatiran jika gerbong sekonyong-konyong menimpa rumahnya. Maklum, jarak rumah Ilyas dengan rel cuma lima meteran. ”Tahun lalu ada tabrakan kereta api dan metro mini. Kebun pisang saya habis tergilas,” kata dia.

Beginilah Ilyas. Di usianya yang 80 tahun, badannya masih tampak kukuh. Maklum, dahulunya ia pejuang. Pada detik-detik Proklamasi 17 Agustus 1945, ia berdiri beberapa jengkal saja dari sisi Bung Karno.

Siapa Ilyas? Dialah sang pengibar Sang Saka Merah Putih. Bersama Sudanco Singgih (almarhum), Ilyas menjadi salah satu yang bertugas mengerek bendera ketika proklamasi dikumandangkan 62 tahun silam di Jl Pegangsaan Timur 56 Jakarta Pusat. Usia Ilyas saat itu 17 tahun.

Foto Ilyas terabadikan dalam buku-buku sejarah. Ia tampak mengenakan kemeja dan celana pendek putih. Sementara Sudanco mengenakan seragam tentara lengkap. Bung Karno, Bung Hatta, dan Fatmawati Soekarno mendongak ke atas menyaksikan bendera kian meninggi.

Takdir yang memilih Ilyas menjadi pelaku sejarah penting ini. Lahir di Padang, Sumbar, Ilyas sekeluarga hijrah ke Jakarta pada 1936. Ia disekolahkan di Banten, sementara ayahnya bertugas sebagai demang (camat) di daerah Matraman, Jakpus.

Namun, Jepang kemudian menangkap sang ayah, memboyongnya ke Tegal, Jateng, dan menembaknya. Ilyas menjadi yatim piatu dan tak punya biaya sekolah.

Ia kembali ke Jakarta dan bergabung dengan Angkatan Muda Islam (AMI) yang bermarkas di Jl Menteng 31, Jakpus. Nah, pada 17 Agustus 1945 anak-anak muda ini ditugaskan Chaerul Shaleh mengawal prosesi proklamasi kemerdekaan di Jl Pegangsaan Timur. Sudanco Singgih, yang saat itu tentara PETA, ditugaskan mengerek bendera.

Lantas siapa yang memegangi bendera? Adalah Latief Hadiningrat yang menugaskan Ilyas. Dari 50-an pemuda AMI, kebetulan Ilyas yang paling muda dan paling kecil. ”Dipikirnya saya yang paling gesit,” kata dia sembari terkekeh. Untungnya Ilyas punya pengalaman mengibarkan bendera ketika sekolah tarbiyah di Banten. Bedanya yang ia kibarkan saat itu adalah bendera Belanda. Lagunya pun lagu kebangsaan Belanda.

Didapuk mengibarkan bendera saat proklamasi, kontan saja Ilyas merasa bangga dan terharu. Ini, kata dia, adalah peristiwa mahapenting. ”Ini adalah titik balik bagi Indonesia dari bangsa budak menjadi bangsa merdeka. Dan, saya terlibat dalam peristiwa paling bersejarah ini,” kata dia.

Usai pengibaran bendera, proklamasi dikumandangkan. Bung Karno lantas mengajak hadirin masuk ke ruang tengah rumahnya di Jl Pegangsaan Timur. Mereka menyantap makanan ringan. Salah satunya kue bolu yang didatangkan dari Senen, Jakpus. Termasuk yang ikut menyantap bolu adalah Ilyas. Ia yang paling muda di situ.

Bung Karno lantas menghampiri Ilyas dan kawan-kawan sembari memberi wejangan. ”Kalian para pemuda. Belajarlah yang sungguh-sungguh. Kalau berdagang, berdaganglah yang sungguh-sungguh” ucap sang founding father ini. Ilyas kemudian bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat (BKR).

Babak baru kehidupan Ilyas dimulai pada 1948. Pada Mei tahun itu Ilyas dan sejumlah pemuda Jakarta diundang ke Bandung oleh Mr Kasman Singodimejo. Bertempat di bekas sebuah sekolah di Jl Buah Batu, Bandung, Kasman dan kawan-kawan berencana membentuk laskar Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Hadir di situ Jenderal AH Nasution dan Kharis Suhud.

TKR unit Jawa Barat pun sepakat dibentuk. Tapi kemudian mereka kebingungan, apa kira-kira nama divisi tentara ini. Ilyas kemudian berbicara pada AH Nasution, ”Beri kami waktu untuk berpikir soal nama.” Rapat pun dibubarkan.

Keesokan hari Ilyas menemui sejumlah tokoh setempat di daerah Leuwiliang, Bandung. Menurut mereka, rakyat Jabar adalah keturunan Prabu Siliwangi dari Sumedang. Ilyas lalu mengusulkan nama Siliwangi kepada AH Nasution. Usul ini disetujui. Jadi,”Saya itu yang beri nama Siliwangi,” kata ayah 15 anak ini sembari tersenyum.

Sebagai tentara, Ilyas pernah diterjunkan di sejumlah medan pertempuran di antaranya di Ambon (1951), Aceh (1954), Riau (1958), Timor-Timur (1974). Ia bertugas sebagai petugas medis. Tahun 1961 Ilyas dikirim ke Kongo dalam misi pasukan perdamaian PBB, termasuk ke Libanon dan Vietnam. Tak ada istilah sengsara dalam kamus Ilyas. Bagi seorang prajurit,”Pahit dan manis sama saja. Justru kita bersyukur karena diselamatkan Tuhan.”

Pada 1979 ia pensiun dengan pangkat letnan kolonel. Pada masa pensiun inilah justru badai mengempas. Tahun 1981 ia diusir dari tempat tinggalnya di asrama tentara Siliwangi, di Lapangan Banteng, Jakpus. Kata Ilyas, presiden saat itu, Soeharto, memang menaruh dendam pada prajurit Siliwangi. Sekitar 50 rumah para veteran perang ini dirubuhkan. Hujan tengah mengguyur deras saat penggusuran terjadi. Perabotan dan kasur pun basah kuyup. Sementara mata mereka basah oleh air mata.

Tak ada ganti rugi dari pemerintah. Mereka cuma diusir. Ilyas pun kelimpungan cari tempat tinggal. Sejumlah kawannya bahkan ada yang pulang kampung. Untungnya, atas kebaikan kepala stasiun Kalibata saat itu, Ilyas diberi sepetak tanah milik PJKA di Jl Rawajati Barat, Kalibata, Jaksel. Luasnya cuma 50 meter persegi. Lokasinya persis di pinggir rel.

Tapi Ilyas lega. Bersama sepuluh purnawirawan Siliwangi yang diusir rezim Orde Baru, Ilyas mendirikan bangunan petak di situ. Dahulunya, lokasi ini adalah tempat pembuangan sampah. Di tempat sempit dan gaduh inilah Ilyas –sang pengibar bendera pusaka– menghabiskan hari tuanya.

Saban bulan Ilyas memperoleh uang pensiun sebesar Rp 1,5 juta. Dahulu, sebagai pejuang berpangkat kopral di era Soekarno, ia memperoleh tunjangan Rp 50. ”Tapi, duit segitu enggak habis sebulan. Sekarang uang besar, tapi nilainya kecil,” tuturnya.

Uang pensiunan bagi para veteran ini bervariasi, dari Rp 500 ribu hingga Rp 1,5 jutaan. Setiap akhir bulan Ilyas kerap berjumpa sesama teman veteran saat mengambil uang pensiun. ”Tinggal di mana sekarang? Sudah punya rumah?” tanya Ilyas suatu waktu kepada rekannya. Yang ditanya menjawab sekenanya,”Boro-boro rumah. Saya masih kos di Condet,” Ilyas menirukan. Sejak 1995 Ilyas adalah Ketua Umum Yayasan Pejuang Siliwangi Indonesia yang bermarkas di Jl Proklamasi. Inilah kerja ngantor yang dilakoninya saban hari. Di usianya yang 80 tahun, dengan kedua bola matanya yang didera stroke, ia harus naik turun kereta api dari stasiun Kalibata hingga Cikini. Berjejal-jejalan.

Tak pernah lupa Ilyas mengenakan pin veteran 1945 di dada kirinya. Inilah yang menyelamatkan dia dari omelan kondektur atau petugas tiket KA. Mereka tak berani menagih ongkos KA. ”Mereka tahu veteran enggak ada duitnya,” kata dia kembali terkekeh. Toh, ia mengaku menikmati hari-harinya. Bagi dia,”Yang penting adalah badan sehat. Dan, enggak menyusahkan orang.”

Sumber : www.republika.co.id

Ditulis dalam Sosok. 1 Komentar »

Firmansyah Kasim : Ke Sekolah Jika Dipanggil

Firmansyah Kasim menjadi buah bibir. Siswa kelas 1 SMA Perguruan Islam Athirah Makassar ini untuk kesekian kalinya berhasil mengharumkan nama Indonesia di ajang internasional. Remaja berkulit kecokelatan ini berhasil menyabet berbagai penghargaan di pentas Olimpiade Fisika. Yang teranyar, Firman meraih medali emas di Olimpiade Fisika International yang berlangsung di Iran pada Juli 2007.

Putra bungsu dari empat bersaudara pasangan HM Kasim dan Hj Farida Kasim ini memang memiliki otak yang cemerlang. Sejak SD, ia sudah meraih juara kedua lomba matematika tingkat Provinsi Sulawesi Selatan. Meningkat ke jenjang SMP, ia sudah meraih medali emas pada ajang International Junior Science Olympiad (IJSO).

Kesuksesannya meraih emas di IJSO yang berlangsung di Yogyakarta tahun 2005 itulah yang mengantarkan remaja kelahiran Makassar, 26 Januari 1991, ini kian mendapat kesempatan menggeluti ilmu fisika. Firman kemudian dikarantinakan oleh Johannes Surya, dengan memasukkannya dalam Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI).

Selama bergabung dengan tim tersebut, Firman kemudian berhasil menggondol sejumlah penghargaan lagi. Pada 2006, ia berhasil meraih dua medali: Perunggu di ajang Asian Physics Olympiad (APhO) di Kazakhtan dan perak di International Physics Olympiad (IPhO) di Singapura, ketika ia masih duduk di kelas 3 SMP Athirah. Pada 2007, Firman kembali menoreh sejarah dengan meraih medali emas pada Asian Physics Olympiad (APhO) di Shanghai, Cina, dan medali emas untuk Olimpiade Fisika di Iran.

Markas tim yang terdiri dari remaja cemerlang di bidang fisika ini berada di Tangerang. Di sanalah Firman dan empat rekannya yang berasal dari Medan, Lampung, Jakarta, dan Yogyakarta digembleng untuk terus mendalami ilmu fisika. Firman mengakui, di tempat pelatihan tersebut, mereka belajar fisika saban hari. Kalau mulai jenuh? ”Kami ngobrol yang santai-santai, main game atau jalan-jalan ke mal,” ujarnya.

Bergabung di TOFI, Firman mengaku menikmati kesempatan jalan-jalan ke luar negeri. Dari beberapa negara yang telah dikunjunginya, ia mengaku sangat terkesan saat berlaga di Shanghai, Cina. Menurutnya, penyelenggaraan olimpiade di Shanghai sangat bagus dan lebih bervariasi. Kota Shanghai menurutnya merupakan kota yang bagus dan memiliki kekhasan tersendiri dibanding negara lain yang sudah didatanginya.

Keikusertaannya dalam TOFI membuat putra pemilik Apotek Farida Farma di Makassar ini harus meninggalkan kawan-kawan dan guru-gurunya di Athirah sejak 2005 lalu. Ia baru kembali ke Makassar pada waktu-waktu tertentu, yakni menjelang Lebaran dan tahun baru. Masuk sekolah dan bertemu dengan teman-temannya pun menjadi jarang. Ia mengaku ke sekolah jika disuruh atau ada panggilan dari sekolah.

Namun, kecemerlangan otaknya membuat pengelola sekolah yang didirikan oleh Wapres HM Jusuf Kalla ini memberinya dispensasi. Firman tetap naik kelas meskipun hampir dua tahun lamanya ia jarang masuk sekolah. Meski demikian, di awal tahun ajaran ini, Firman mengaku akan mengejar ketertiggalannya pada pelajaran lain dengan kembali ke sekolah. ”Senin nanti (6 Juli 2007) saya akan mulai masuk sekolah lagi,” ujar Firman.

Sosok Firman tampaknya memang berbeda dengan pelajar atau remaja kebanyakan. Ia tergolong pendiam. Firman mengaku tak begitu gandrung dengan musik, menonton bioskop, atau nongkrong dengan teman se-gank-nya. Boleh jadi karena selama dua tahun dikarantina, pergaulannya jadi sangat monoton. ”Sudah lama tidak ketemu teman-teman sekolah,” ujarnya.

Sehari-hari, jika tidak ada kegiatan, Firman lebih memilih tinggal di rumah dan menghabiskan waktu dengan membaca atau menonton televisi. Porsi membaca Firman termasuk biasa-biasa saja. Ia tak suka membaca novel dan lebih memilih melahap serial komik Detektif Conan dan 20th Century Boy.

Seabrek penghargaan di bidang fisika yang telah diraihnya juga tidak membuat Firman merasa yakin akan menggeluti bidang itu seterusnya. Ia mengaku belum terpikirkan soal cita-cita, termasuk apakah akan memilih fisika jika harus kuliah nanti. ”Saya belum tahu, lihat nanti saja,” ujarnya singkat.

Anak jenius ini mengaku gandrung pada pelajaran fisika, karena tidak membuatnya harus banyak menghafal rumus-rumus. Fisika menurutnya lebih banyak menggunakan logika, sehingga sangat mudah dicerna. Meski belum mematok diri akan menggeluti bidang apa kelak jika ia dewasa nanti, Firman mengatakan ia sangat suka melakukan riset dan berharap suatu hari kelak diberi kesempatan melaukan riset sendiri.

Sumber : www.republika.co.id

Ditulis dalam Sosok. 4 Komentar »

Stephanie Senna : Peraih Emas Olimpiade Biologi

Desember 2004. Seorang gadis belia tampil di atas panggung. Wajahnya berseri, disaksikan ribuan pasang mata, seorang di antaranya Menteri Pendidikan Nasional, Bambang Sudibyo. Lalu, raut wajahnya berubah. Matanya berkaca-kaca. Sebuah penghargaan berpindah ke tangan siswi kelas 3 SMP IPEKA Tomang, Jakarta, itu.

Hari itu ia mengukir prestasi membanggakan, tidak hanya bagi keluarga, tapi juga bangsa. Ia tak cuma meraih medali emas, tapi sekaligus menempatkan diri sebagai best experimental winner terbaik dalam eksperimen mengungguli 180 siswa dari 30 negara dalam International Junior Science Olympiad (IJSO) I di Jakarta.

Media massa di negeri ini ramai memberitakan keberhasilan itu. Potret wajahnya menghiasi sejumlah surat kabar, tampil menghiasi layar kaca yang dipancarkan oleh hampir semua stasiun televisi di Indonesia. ”Senang banget,” ucapnya mensyukuri prestasinya, kala itu. Juli 2007. Gadis yang telah berangkat remaja itu kembali menjadi ‘kejaran wartawan’. Seperti tiga tahun lalu, media massa kembali menuliskan namanya, menyertai potret wajahnya yang tengah tersenyum.

Hari itu, Rabu (25/7), ia baru saja kembali dari Kanada. Tak hanya sejumlah teman sekolahnya di SMA IPEKA Bilingual, Jakarta, yang menjemput di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, tapi juga keluarga dan Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Atas, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Sungkowo Mudjiamanu. Pujian dan ucapan selamat pun bergantian diterimanya. ”Saya terharu disambut teman-teman,” ucapnya.

Stepanie Senna, gadis itu, kini kembali mengukir prestasi gemilang. Remaja kelahiran Jakarta, 9 Februari 1990, ini membuat sejarah bagi prestasi anak-anak bangsa ini. Ia satu-satunya dari empat siswa Indonesia meraih medali emas Olimpiade Biologi Internasional yang berlangsung di Skatoon, Kanada.

Ini memang kali pertama siswa Indonesia meraih medali emas dalam olimpiade antarsiswa di dunia pada pelajaran biologi itu. Prestasi ini sekaligus membuktikan kemampuan siswa Indonesia tak bisa dipandang sebelah mata dalam beradu kemampuan di tingkat internasional. Stephanie pun tidak bisa menutupi kegembiraannya. Dia bilang, ”Saya bangga karena bisa mempersembahkan medali emas untuk Indonesia.”

Keberhasilan ini seakan menjadi penyempurnaan dari prestasi ia ukir sebelumnya. Tahun lalu, sulung dari dua bersaudara ini meraih medali perak Olimpiade Biologi Internasional di Argentina. ”Saya senang karena kita bisa membuktikan kepada negara lain bahwa kita juga bi sa,” ucapnya atas medali emas yang diperolehnya di Kanada itu.

Sejak SD
Kegemilangan Stephanie rupanya sudah tecermin sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Dari kelas awal hingga menamatkan pendidikannya di jenjang pendidikan dasar, prestasinya selalu membanggakan. Seperti pernah diutarakan Husen Chandra, ayahnya, ”Dari SD sudah sering juara satu.”

Di mata Husen, Stephanie adalah sosok anak yang mandiri. Sang ayah tidak pernah menekankan agar putri sulungnya ini rajin belajar, apalagi dengan memberi jadwal belajar yang ketat. Husen hanya menyediakan kebutuhan untuk bahan pelajaran, termasuk membelikan ensikplopedia ketika Stephanie masih kecil.

Saat duduk di kelas 1 SMP, Stephanie mengaku mulai terkesan dengan pelajaran biologi. Ia menyenangi pelajaran ini karena dianggapnya berhubungan dengan makhluk hidup, hal-hal yang ada di sekeliling dalam keseharian kita.

Tapi, kesenangan itu, diakui, tidak terlepas dari peran guru. Guru biologi waktu di SMP dirasakannya mengajarkan pelajaran ini dengan menarik dan menyenangkan. ”Waktu SMP belajar biologi enak. Gurunya bagus, suka bercanda,” kata dia mengenang masa-masa awal belajar di jenjang pendidikan menengah pertama itu.

Di balik kesenangannya pada biologi, dia juga menyenangi pelajaran bahasa Inggris dan cerita fiksi. Ia mengaku menyenangi cerita-cerita yang bisa memberi inspirasi, sehingga membuat lebih menghargai hidup.

Sejumlah novel asing telah dikoleksinya. Novel laris seperti Harry Potter pun tuntas dibacanya. Sampai-sampai ia mengaku pernah berpikir untuk menulis novel. Lalu, punya koleksi novel berapa banyak? Ia tak menyebut angka pasti. Stephanie hanya bilang, ”Lumayan banyak.”

Kini ia tercatat sebagai siswa kelas akhir (kelas 12 atau kelas 3 SMA) IPEKA Bilingual, Jakarta. Jumat malam (27/7), beberapa hari setelah kembali dari Kanada, teman-teman sekolahnya mengundang Stephanie di sebuah acara. Tanpa ia bayangkan, teman-temannya memberi kejutan. ”Dikasih kue tart. Senang sekali,” ucapnya.

Stephanie, penggemar novel itu, boleh jadi menyimpan sementara impiannya menulis novel. Ia lebih berkonsentrasi untuk bisa kuliah di luar negeri. ”Saya pengen ke Amerika, belajar kedokteran. Sekarang lagi cari beasiswa,” tuturnya.

Pilihan belajar ilmu kedokteran, bukan semata karena ia menyenangi pelajaran biologi. Lebih dari itu, ia ingin kelak bisa menemukan obat antikanker. Keinginan itu bukan tanpa alasan. Dia bilang, ”Soalnya mama meninggal karena kanker payudara, 2006 lalu.”

Sumber : www.republika.co.id

Ditulis dalam Sosok. 1 Komentar »

Chris Lie : Komiknya Laku di Amerika

Juli 2006 diselenggarakan San Diago Comic-Con di Amerika Serikat. Hanya dalam waktu dua hari, Return to Labyrinth –yang tengah digandrungi pencinta komik– terjual habis. Para penggemar antre meminta tanda tangan Jake Forbes bersama Chris Lie, penulis cerita dan ilustrator komik terbitan Tokyopop tersebut. Chris Lie menjadi satu-satunya orang Indonesia di ajang San Diego Comik-Con itu.

Nama Chris Lie –juga Jake Forbes– memang sudah tidak asing lagi di mata pengemar komik negeri itu. Tidak kurang dari 40 komik ia hasilkan, diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan 25 tokoh karakter komik. Ia juga mendisain action figure karakter GI JOE, seperti Snake Eyes, Duke, Storm Shadow, Heavy Duty, dan Spirit. Beberapa perusahaan penerbitan komik di Negeri Paman Sam itu telah memakai karya-karyanya. Sebutlah, misalnya Devils Due, Archie Comics, atau perusahaan mainan Hasbro.

Diajak teman
Semua itu bermula dari ketekunannya membuat komik semasa kuliah di Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB). Sekali waktu, saat masih duduk di semester V, seorang teman kuliahnya menawari pria kelahiran Solo, 5 September 1974, ini bergabung dalam pembuatan komik.

Lu bisa gambar, kan?” Tawaran itu menyentakannya. Sebab, masa-masa itu, anak sulung dari tiga bersaudara ini tengah gandrung bermain basket, olahraga yang ditekuninya sejak di SMAN 3 Semarang. ”Waktu SMA saya lebih banyak bermain basket. Bahkan sempat juara se-DIY. Cuma waktu SMP di Solo saya ilustrator majalah sekolah,” tutur penggemar komik Tintin ini.

Chris menerima ajakan bergabung membuat komik. Seiring perjalanan waktu, ia kian senang membuat komik. Perlahan-lahan ia meninggalkan kegemarannya bermain basket. Apalagi, Chris sadar, tak mungkin berprestasi di cabang olahraga tersebut lantaran kakinya pernah cedera, yang membuatnya sempat enam bulan tidak bisa berjalan.

Lulus dari ITB pada 1997, Chris sempat bekerja dengan pematung Nyoman Nuarta, yang sedang menggarap proyek Garuda Wisnu Kencana di Bali. Dua tahun ia bolak-balik Bandung-Bali dalam urusan pekerjaan. Toh, dunia komik sudah telanjur sulit dipisahkan dari diri Chris Lie. Di sela-sela pekerjaan, ia selalu menyempatkan diri membuat cerita komik.

Sebagian penghasilannya ia habiskan untuk membiayai pencetakan karya-karyanya berupa komik bergambar beserta ceritanya. Ia menerbitkan sendiri, mendistribusikan sendiri ke toko buku. Meski belum mendatangkan keuntungan, tapi hasilnya membuat hati Chris lega. ”Lumayan, dalam dua minggu bisa laku 50 buku,” ujarnya.

Chris terus berkarya. Bersama teman-temannya, ia lalu mendirikan Bajing Loncat, studio komik di Bandung yang memanfaatkan rumah kontrakan. Penerbit seperti Mizan dan Gramedia pun memberi ruang baginya untuk berkarya. Penerbit memberikan kebebasan penuh kepada mereka untuk berkarya setelah presentasi disetujui.

Diam-diam ia menyimpan impian, ingin hidup dari membuat komik. Tapi, apa itu mungkin di tengah masih minimnya penggemar komik di Indonesia? Lebih-lebih lagi, di negeri ini belum ada sekolah yang khusus mengajarkan komik. Melihat kenyataan itu, ia semula tidak yakin bisa hidup dari membuat cerita-cerita bergambar. Tapi, nuraninya lebih kuat mendorongnya untuk terus menekuni profesi ini.

Jalan menuju impian pun terbentang, seiring dengan terbukanya kesempatan untuk belajar ke Amerika. ”Saya memperoleh beasiswa Fullbright,” tuturnya. Pada 2003, Chris berangkat ke Amerika. Ia mengambil program master of fine arts, jurusan sequential art (jurusan komik) di Savannah College of Art and Design, Savannah, Georgia.

Di sana, ia tidak sekadar belajar di bangku kuliah. Ia juga magang di beberapa perusahaan penerbitan komik, sampai akhirnya bekerja secara profesional. ”Capek, tapi enaknya dosen tidak menghalangi. Sekolah malahan bangga kita berkiprah di luar, jadi di-support,” kata dia.

Tidak jarang, dosen memberikan saran perbaikan dalam urusan pekerjaan profesional. Chris sampai bekerja di empat penerbitan, tiap bulan menerbitkan sedikitnya dua buku komik. Ia kembali ke Indonesia, 2006, setelah menyelesaikan kuliahnya dan menyandang predikat lulusan terbaik.

Hidup dari komik
Chris terus menyeriusi dunia komik. Buku-buku cerita bergambar itu bukan lagi sekadar hobi, tapi panggilan jiwa, sekaligus penopang hidup. Pekerjaan itu terus ditekuninya, hingga kini. Perusahaan penerbitan tempatnya bekerja selama di Amerika tetap memberinya job. Komunikasi dilakukan lewat e-mail, karya-karyanya dikirim melalui internet. Ia kini praktis bekerja tanpa kantor. Karya-karyanya lahir di apartemen tempat tinggalnya di Jakarta.

Chris merasa beruntung diberi kebebasan menuangkan ide sendiri dalam membuat gambar-gambar komik yang akan diterbitkan di Amerika. Bahkan, Chris bersama Mark Powers, editornya saat bersama-sama di Negeri Paman Sam yang juga mantan editor Spiderman, kini tengah mempersiapkan cerita komik dengan konsep orisinal. ”Kami mendiskusikan enam bulan lewat e-mail,” ungkapnya.

Cerita orisinal itu berjudul Drafted. Mulai terbit Juni lalu, cerita berseri itu akan terbit tiap bulan. Dalam cerita itu, tutur Chris, dikisahkan tentang perang di dunia karena adanya ancaman dari ruang angkasa. Ancaman itu membuat makhluk di dunia bersatu dengan menampilkan enam tokoh, salah satu di antaranya presiden Amerika. Drafted, dalam bayangan Chris, bisa melahirkan royalti, sebagaimana seri komik lainnya, seperti Spiderman.

Sumber : www.republika.co.id

Ditulis dalam Sosok. 6 Komentar »