Masjid-masjid Tua

Cornelis Matelief Jonge, pemimpin armada Belanda, ketika menjelajahi Teluk Jakarta (1607), membuat gambar kota Jayakarta yang berada di tepi pantai. Terlihat sebuah masjid, yang menurut sejarawan Adolf Heuken sebagai masjid pertama di Jakarta. Pada Mei 1619, masjid ini dibumi-hanguskan oleh JP Coen, ketika dia menaklukkan Jayakarta.

Menjadi pertaanyaan, apakah masjid yang dibangun dari kayu terletak beberapa puluh meter sebelah selatan Hotel Omni Batavia (kira-kira terminal angkutan darat Jakarta Kota) itu merupakan masjid pertama di Ibukota? Tanah bekas masjid itu kemudian digunakan untuk membangun sebuah perwakilan dagang Inggris.

Pada paruh abad ke-14 di Karawang, Jawa Barat, berdiri pesantren Kuro. Karawang, seperti juga Sunda Kalapa, ketika itu termasuk wilayah Kerajaan Pajajaran yang dipimpin prabu Siliwangi. Ketika sang prabu mengunjungi pesantren Kuro, ia jatuh hati pada seorang santri bernama Subang Larang. Mereka menikah dan dikarunia seorang putera, Kyan Santang, yang kemudian menyebarkan agama Islam.

Ketika itu, orang Betawi banyak menjadi pengikut Islam. Para pendeta di Pajajaran menilai Kyan Santang melakukan penyimpangan, atau langgara. Karena itu, tempat sembahyang pengikut Islam di sebut langgar. Warga Betawi masih banyak menyebut langgar untuk sebutan mushola. Sedang tempat shalat yang lebih besar mereka sebut masjid atau masigit. Jadi, menjelang abad ke-15 sudah berdiri masjid di Jakarta.

Karena Islam dianggap membahayakan, maka Pejajaran melakukan perjanjian dengan Portugis yang membuat Sultan Trenggano dari Demak menjadi amat gusar. Dia kemudian mengirimkan seorang mubaligh sekaligus panglima, Fatahilah, dengan balatentaranya untuk menyerbu Sunda Kalapa dan mengusir Portugis. Fatahillah mendirikan kadipaten di sebelah barat muara Ciliwung. Di sebelah timur didirikan aryan — perumahan untuk pejabat kadipaten dan keluarganya yang didatangkan dari Banten.

Pada abad ke-17 orang dari berbagai bangsa di Nusantara bertemu di Jakarta. Adat kebiasaan masing-masing terpaksa ditinggalkan karena beraneka ragam. Karena itu, kampung-kampung di sekitar kota dan desa-desa pedalaman bersatu dalam hal agama, dan kemudian dalam hal bahasa Melayu Betawi.

Gereja reformasi, tulis Hayken, tak sampai mencoba penginjilan, karena dianggap mustahil mentobatkan orang Muslim atau Tionghoa. Kecuali kegiatan Katholik yang dilarang sampai 1806. Batavia dan daerah sekitarnya mengalami semacam ‘Melayunisasi’ cepat setelah tahun 1700. Letnan Gubernur Jenderal Raffles sampai menulis pujian terhadap perkembangan Islam yang pesat pada masanya.

Untuk menjajaki sejumlah masjid tua yang sampai kini masih berdiri, baiklah kita mendatangi Masjid Al-Alam di Marunda, Cilincing, Jakarta Utara. Masjid ini dibangun oleh Fatahilah dan pasukannya untuk menyerang Portugis (1527). Ada keyakinan masyarakat di sini, bahwa Fatahillah membangun Masjid Al-Alam hanya dalam sehari.

Hingga kini masjid yang terletak di tepi pantai itu tidak pernah sepi. Selalu diziarai, lebih-lelbih pada malam Jumat kliwon. Seratus tahun kemudian (1628-1629), ketika ribuan prajurit Mataram pimpinan Bahurekso menyerang markas VOC (kini gedung museum sejarah Jakarta) para prajurit Islam ini lebih dulu singgah di Marunda guna mengatur siasat perjuangan. Bahkan, ada yang mengatakan masjid ini dibangun oleh prajurit Sultan Agung.

Dalam bulan puasa ini, ada hal-hal istimewa yang akan kita dapati bila mengunjungi masjid-masjid tua di Jakarta. Di samping mendapatkan siraman rohani, kita akan mendapatkan pula kisah-kisah heroik perjuangan umat Islam di masa lalu. Mencontoh fungsi masjid di masa Rasulullah SAW, nasjid tua itu, melalui para jamaahnya, telah mengobarkan semangat perjuangan melawan penjajahan Belanda. Bahkan, pernah dijadikan sebagai markas perjuangan pada masa revolusi fisik (1945-1949) melawan NICA.

Ada Masjid As-Salafiah di Jatinegara Kaum, dekat Pulo Gadung, Jakarta Timur. Masjid ini didirikan oleh Pangeran Ahmed Jakerta, setelah ia hijrah dari Jayakarta pada tahun 1619 akibat gempuran VOC. Di tempat yang empat abad lalu masih terpencil dan berupa hutan belukar itu pangeran membangun masjid yang hingga kini masih diabadikan. Ini terlihat dari empat tiang utama yang terbuat dari kayu jati yang menjadi penyangganya. Sekalipun sudah delapan kali direnovasi dan diperluas, empat tiang penyanggah ini masih kita dapati.

Dari Masjid As-Salafiah inilah, pangeran Jayakarta dan pengikutnya mengobarkan semangat jihad untuk terus menerus mengusik Belanda. Menurut sejarah versi Belanda, sampai 1670 Batavia tidak pernah aman dari gangguan keamanan akibat aksi gerilya tersebut. Ketika Sultan Agung menyerang Batavia, Jatinegara Kaum kembali memegang sejarah penting. Di masjid ini kita masih mendapati makam Pangeran Ahmed Jakerta, para keluarga dan pengikutnya.

Glodok yang selalu hingar bingar — apalagi saat puasa sekarang ini — juga banyak memiliki masjid tua. Di Jl Pengukiran II, misalnya, terdapat masjid Al-Anshor yang didirikan oleh para pendatang dari Malabar (India) pada abad ke-17. Tepatnya pada 1648. Ada lagi Masjid Kampung Baru yang didirikan pada tahun 1748 yang kini hanya tersisa beberapa dari bangunan aslinya.

Tidak jauh dari tempat itu, di tepi kali Angke di Jl Pekojan, Jakarta Barat, terdapat sebuah surau yang disebut Langgar Tinggi. Disebut demikian karena langgar ini agak tinggi dan berlantai dua. Para Muslim India juga berperan dalam membangun langgar ini. Masih di kawasan Pekojan, terdapat masjid yang dibangun pada abad ke-18. Masjid an-Nawier (Cahaya) erat kaitannya dengan masjid kuno di Kraton Solo dan Banten. Ikut berperan dalam penyebaran Islam. Masih terdapat puluhan lagi masjid tua di Jakarta yang ikut berperan dalam penyebaran Islam dan memeprtahankan kemerdekaan.

(Alwi Shahab )

Sumber : www.republika.co.id

Ditulis dalam Nostalgia. 4 Komentar »

Rogue Assassins : Aksi Sadis Jet Li

Inilah film yang ampuh membetot mata sejak menit pertama dengan satu alasan, yaitu aksi sadistis Jet Li. Untuk kali kedua, setelah The One (2001), Jet Li berperan sebagai tokoh penjagal nan dingin dan ia piawai betul memerankannya hingga kita pantas mendecak kagum.

Ia adalah Rogue (Jet Li), pembunuh agen FBI yang paling dicari. Sebuah operasi penggerebekan transnasional mempertemukan kembali Rogue dengan para agen FBI di Cina, yakni John Crawford (Jason Statham) dan Tom Lone (Terry Chen). Tapi, kini giliran Rogue yang berdarah-darah. Semburan timah panas dari pistol Lone tepat mengenai wajah Rogue, menjungkalkannya ke tepi laut, meski urung membunuhnya. Rogue tak muncul lagi dari permukaan air.

Ia justru muncul di kediaman Lone beberapa hari kemudian. Atas nama balas dendam, sang mafia Yakuza membantai seisi rumah. Lone, anaknya, dan istrinya tewas didor tanpa ampun. Rogue bahkan membakar rumah nahas ini. Pada titik ini, Rogue Assassins sebetulnya dimulai. Inilah ketika Crawford, sang agen FBI, bersumpah membalaskan kematian mitranya itu. Namun, sutradara Phillip Atwell tak ingin menjadikan Rogue Assassins dan aksi balas dendamnya bergerak dalam ruang yang sempit. Aksi Rogue yang kelewat sadistis adalah satu hal. Pertempuran kolosal antarmafia besar Asia adalah lain hal. Tema ambisius ini yang ingin sekaligus dihadirkan Atwell –berikut epilog balas dendam Crawford.

Maka, tiga tahun kemudian Rogue muncul. Kini ia mengabdi pada bos mafia Triad di Cina, Chang (John Lone). Rogue membantu Chang untuk membunuh musuh bebuyutannya, yakni Shiro (Ryo Ishibashi), bos mafia Jepang Yakuza, yang tak lain mantan majikan Rogue. Akan tetapi, sesungguhnya Rogue mengemban misi pribadi. Ia ingin mengadu domba dua mafia besar Asia itu agar saling menghancurkan. Saat itulah Rogue kembali bersua agen-agen FBI.

Pemain: Jet Li, Jason Statham
Sutradara: Philip G Atwell
Durasi: 103 menit
Produksi: Lionsgate Films

Sumber : www.republika.co.id

Ditulis dalam Layar Perak. 1 Komentar »

Le Grand Voyage : Mencintai dengan Sederhana

Seorang anak bertanya pada ayahnya. ”Mengapa Ayah tidak naik pesawat terbang saja ke Makkah? Ini akan lebih mudah.” Sang ayah terdiam sejenak. ”Air laut baru akan kehilangan rasa pahitnya setelah ia menguap ke langit,” jawabnya.
”Apa?”
”Ya, begitulah air laut menemui kemurniannya. Ia harus mengangkasa melewati awan. Inilah mengapa lebih baik naik haji berjalan kaki ketimbang naik kuda. Lebih baik naik kuda ketimbang naik mobil. Lebih baik naik mobil ketimbang naik perahu. Lebih baik naik perahu ketimbang naik pesawat terbang…”

Percakapan ini terbetik pada sebuah trotoar di Bulgaria ketika keduanya terpaksa berlindung dari empasan badai salju. Mobil mereka mogok. Usai melintas sepertiga benua Eropa di atas roda empat, tanya Reda (Nicolas Cazale) pun akhirnya pecah. ”Mengapa tak naik pesawat terbang saja ke Makkah?”

Sebuah pertanyaan masuk akal. Alih-alih terusik oleh tajamnya pertanyaan Reda, sang ayah justru menjawabnya puitis. Sebuah jawaban yang tentu saja tak mudah dicerna oleh rasio awam yang matematis. Jawaban yang agaknya lebih bisa dicerna oleh hati yang khusuk.

Tafsirnya adalah semakin sulit perjalanan menuju Makkah, menurut sang ayah, maka semakin kita memurnikan jiwa kita –seperti halnya perjalanan air laut yang mengangkasa. Hanya dengan cara itulah, ia menemukan kemurniannya kembali. Inilah pesan metaforis Le Grand Voyage (2004), tetapi bukan satu-satunya pesan bernuansa spiritual yang disodorkan peraih Film Terbaik Venice Film Festival ini.

Sang ayah, diperankan secara apik oleh aktor kawakan Mohamed Majd, adalah imigran Maroko. Telah menetap 30 tahun di Prancis, laki-laki berwajah Afrika utara itu masih memegang kukuh budaya Arab dan Islam. Sementara Reda adalah generasi kedua imigran yang sudah kebarat-baratan, ia bahkan tak pernah shalat dan memacari seorang gadis Prancis nonmuslim. Namun, dalam bingkai budaya Arab yang kental, sang ayah tetaplah figur dominan.

Maka, titah sang ayah bagai sambaran geledek di siang bolong. Kala itu Reda akan menggondol gelar sarjana dan tengah di mabuk cinta. Tetapi, ia diminta menyupiri ayahnya naik haji ke Makkah, menyusuri rute sejauh lima ribu kilometer dari Prancis selatan di atas mobil minivan Peugeot yang bobrok. Jadilah Le Grand Voyage, sebuah film perjalanan (road-movie) dan, seperti kebanyakan road movie, ia bergerak linear.

Melintaslah mereka ke Italia, Slovenia, Kroasia, Serbia, dan Bulgaria. Menyeberang ke Turki, Suriah, Yordania, hingga Arab Saudi. Pertikaian kecil meletup sepanjang jalan. Dan, tahulah kita, betapa asingnya dunia ayah dan anak ini. Kita pun diperlihatkan, betapa uniknya peristiwa-peristiwa yang terjadi akibat perbedaan isi kepala dan kegagalan berkomunikasi.

Suatu waktu, sang ayah sekonyong-konyong menarik rem tangan hingga kendaraan yang mereka tumpangi nyaris terguling. Ini semata-mata lantaran Reda menolak meminggirkan mobilnya di jalan tol. Di Suriah, pertengkaran memuncak. Reda pergi meninggalkan ayahnya sendirian di gurun pasir setelah sang ayah memberikan duitnya pada seorang janda tua. Padahal duit mereka nyaris ludes usai ditipu orang Turki bernama Mustafa (Jacky Nercessian).

Uniknya mereka terus bersatu. Lewat film ini kita disodori sebuah hubungan kasih sayang ayah-anak yang ganjil namun terasa alami. Bagai ada tangan tak terlihat yang terus merekatkan keduanya. Ada pula paradok-paradok yang membikin film ini sebuah teka-teki. Yang kentara adalah sang ayah digambarkan sebagai sosok kepala batu dan Muslim yang taat. Namun, tak disangka, ia adalah seorang moderat yang sungkan memaksa Reda ikut shalat bersamanya.

Dan penonton pun bertanya-tanya. Seperti apa kira-kira akhir perjalanan dua manusia dengan kesenjangan budaya dan isi kepala itu? Sutradara Ismael Ferroukhi menyuguhkan sebuah sintesis yang memikat. Seperti air laut yang menguap, sang ayah menemui kemurniannya kembali di Baitullah. Ia wafat di situ.

Maka, pada titik ini, Feeroukhi berhasil mengiris-iris hati penonton. Reda diperlihatkan menangis sejadi-jadinya di depan jasad sang ayah yang terbujur kaku. Betapa menyakitkan. Bukankah Reda baru saja mengenal dan menemukan ayahnya lewat perjalanan jauh ini, tapi sekaligus mesti kehilangannya dalam satu pukulan?

Le Grand Voyage adalah film yang membuat penontonnya pulang dengan hati ‘berdarah-darah’. Sebagai film yang sukses mengaduk emosi dan menggelitik saraf spiritual, Le Grand Voyage terhitung unik. Film ini amat sederhana, jika tidak miskin penggarapan teknis. Penonton kerap dihadapkan pada banyak ruang kosong. Dialog ayah dan anak ini amat irit. Namun, bukankah kejeniusan kerap kali tampak pada kesederhanaan?

Pemain: Nicolas Cazale, Mohamed Majd
Sutradara: Ismael Ferroukhi
Produksi: Ognon Pictures

Sumber : www.republika.co.id

Ditulis dalam Layar Perak. 44 Komentar »

Jejak Sejarah Minangkabau di Tanah Datar

Legenda berkisah, kaum Minangkabau berawal dari daerah Pariangan atau Nagari Tuo Pariangan. Di manakah kira-kira tempat ini berada? Ternyata, tak sulit dicari. Ia berada di Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat.

Setelah menempuh perjalanan darat sekitar satu setengah jam dari bandara, Nagari Tuo Pariangan atau desa tertua itu pun terhampar di depan mata. Hari itu, cuaca mendung. Hawa sejuk terasa membelai kulit. Di bawah cuaca yang tidak menyengat itu, perjalanan menelusuri jejak sejarah Minangkabau pun dimulai.

Nagari Tuo Pariangan berada di tengah perbukitan. Dari salah satu titik tertinggi di perbukitan itu, terlihat rumah-rumah beratap gadang. Tampak pula Masjid Ishlah atau Masjid Tua Minangkabau Pariangan. Siang itu, kami tiba ketika adzan Dzuhur berkumandang. Mendengarnya, warga Nagari Tuo Pariangan segera bergegas meninggalkan aktivitas masing-masing untuk menunaikan kewajiban agama mereka. Dibarengi hujan deras, kami shalat Dzuhur berjamaah.

Bisa jadi, cuma di desa, yang jauh dari hiruk-pikuk kesibukan, kebiasaan seperti itu masih terjaga baik. Kepada seorang ibu yang menunggu hujan reda, saya bertanya, benarkah di sini asal-mula orang Minang? Ibu itu pun mengangguk sembari menunjuk ke sebuah bangunan beratap seng. Setelah saya dekati, di bawah atap seng biru itu terdapat sebongkah batu yang disebut Situs Prasasti Pariangan.

Secara singkat, situs dari batu andesit yang lebarnya 2,6 meter dan tinggi 1,6 meter itu menceritakan bahwa pada awalnya terdapat dua suku besar atau kelarasan di Minangkabau, yakni Bodicaniago dan Kotopiliang. Dalam perkembangannya, dua kelarasan itu kemudian menjadi 10 suku.

Tak terawat
Sangat disayangkan, situs yang menjadi cikal bakal legenda kaum Minangkabau itu tidak terawat. Tulisan pada batu yang diperkirakan berasal dari zaman Adityawarman, tidak lagi dapat terbaca. Sepintas, batu itu terlihat sebagai batu biasa. Rumput liar bahkan menyeruak di antara secuil lahan tempat batu itu berada, yang kini dikelilingi pagar besi bercat telur asin. Kelarasan Bodicaniago dan Kotopiliang berawal dari sejarah yang menceritakan ketidakselarasan keduanya. Sampai pada suatu ketika sebuah batu ditikam di bagian tengahnya sebagai pertanda sumpah satiah atau setia yang menandai berakhirnya perselisihan paham antara kedua kelarasan ini.

Inilah cerita yang melatari keberadaan Situs Batu Batikam. Situs ini berada di Jorong Dusun Tuo, Nagari Lima Kaum, Kecamatan Lima Kaum, Kabupaten Tanah Datar. Legenda atau tambo mengatakan, batu tersebut ditikam dengan keris oleh Datuk Parpatih nan Sabatang.

Di dekat situs Batu Batikam, terdapat sejumlah batu yang disusun melingkar dengan sandaran di belakang tiap batu. Itulah medan nan bapaneh. Fungsinya sebagai tempat bermusyawarah pada masa lampau. Kala itu, setiap permasalahan kampung diselesaikan tokoh masyarakat di ruang terbuka dalam posisi duduk melingkar. Di belakang ruang bermusyawarah itu, warga kampung mendengarkan diskusi para tokoh. Medan nan bapaneh boleh dikatakan sebagai salah satu cikal bakal demokrasi ala bangsa Indonesia.

Perjalanan menuju benda cagar budaya berikutnya menunjukkan, kaum Minangkabau merupakan komunitas yang menyukai kebersamaan dan menganut budaya musyawarah untuk mufakat. Pada masa lalu, masyarakat Minangkabau menggelar pertemuan adat di Balai Adat Balairungsari Nagari Tabek di Kecamatan Pariangan, masih di Kabupaten Tanah Datar. Bangunan Balairungsari merupakan perkembangan bentuk dari medan nan bapaneh. Persamaan ditemukan pada bentuk bangunan yang terbuka tanpa dinding. Balairungsari terbuat dari kayu dengan atap ijuk dengan enam gonjong dan lantai panggung.

Masih ada satu situs lagi yang menarik untuk disambangi. Situs Prasasti Kuburajo namanya. Di sana, terdapat tiga buah batu ukuran besar dengan gambar bunga matahari sebagai perlambang alam, kura-kura perlambang menjunjung adat, dan batu bertuliskan huruf Sansekerta atau batu bersurat sebagai perlambang ibadah. Intinya, prasasti ini menyatakan bahwa bahwa dari dulu kaum Minangkabau diajarkan untuk menghargai alam, menjunjung adat, dan menjalankan ibadahnya.

Tanah Datar sesungguhnya memang daerah yang kaya akan nilai sejarah. Setidaknya ada 43 benda cagar budaya, mulai dari prasasti, rumah adat, hingga masjid yang berumur ratusan tahun. Mengunjunginya satu persatu mengajarkan indahnya kearifan lokal dan betapa kayanya budaya bangsa Indonesia. Sayangnya, kurang perhatian menjadikan sebagian benda cagar budaya itu terlihat tidak menarik. Laksana seonggok benda tanpa makna.

Sumber : www.republika.co.id

Kuda Lumping Nyebur Kali

Peristiwa kocak ini terjadi pada perayaan HUT ke-61 RI Agustus lalu di sebuah kecamatan di Klaten. Saat itu diadakan karnaval yang diikuti masing-masing kelurahan dengan berbagai pertunjukan. Ada yang khas dan menarik, yaitu kuda lumping, dan uniknya dimainkan oleh anak-anak kecil.

Kebetulan saat itu hanya ada satu kelurahan yang menyajikan kuda lumping. Biasanya waktu sampai di perempatan kuda lumping akan beraksi. Benar juga, di sebuah perempatan grup kuda lumping yang diasuh dan dipimpin Pak Mul itu berhenti dan beraksi menyajikan berbagai atraksi, dari singo barong, kesurupan, makan kaca, sampai mengupas buah kelapa dengan mulut.

Baru berjalan beberapa saat, tiba-tiba salah satu pemainnya, sebut saja Andi, mengalami kejadian tidak mengenakkan. Setelah melakukan atraksi makan beling tiba-tiba minta ijin pada Pak Mul. “Pak, saya ijin sebentar ya!” katanya dengan muka meringis dan langsung lari meninggalkan arena. “Lho, mau ke mana? Ini belum selesai lho,” kata Pak Mul.

Dari atraksi pertama sampai ketiga, para penonton tidak beranjak dari tempatnya menunggu pertunjukan usai. Ketika atraksi keempat dimulai penonton semakin gegap gempita, bersorak dan tepuk tangan. Pada saat lagi ramai-ramainya itulah Andi lari terbirit-birit sehingga mengundang tanda tanya penonton.

“Lho, itu kok ada yang lari. Nanti kalau kesurupan terus masuk sungai gimana?” ujar salah satu penonton. “Ho oh to, kok aneh ya? Kesurupan kok malah menjauh. Itu gimana?” kata suporter lainnya. “Waduh payah itu, gimana to? Jangan-jangan pemain itu kesurupan terus kecebur sungai. Bisa tenggelam itu nanti,” komentar salah satu penonton yang juga teman Andi.

Seorang penonton yang juga teman Andi segera mengkomando teman-teman lainnya berbondong-bondong menuju sungai untuk melihat apa yang terjadi. Betapa terkejutnya mereka setelah melihat apa yang terjadi. Andi mencopot kuda kepangnya dan diletakkan di tanah. Ia kemudian turun ke sungai dan mencari tempat tersembunyi hanya untuk buang air kecil. Setelah tahu apa yang terjadi, beberapa orang langsung cekikikan. Ada-ada saja, kuda lumping makan kaca kok langsung kebelet kencing.

Sigit Priyono
Tegalcitran RT 06/02
Karangdowo, Klaten 57464

Sumber : www.republika.co.id

Menelusuri China Town

Menjelang pertengahan Ramadhan, Glodok yang mendapat julukan China Town atawa Pecinan merupakan salah satu pusat perbelanjaan yang banyak didatangi pembeli. Glodok dalam sejarahnya merupakan salah satu pasar tertua di Jakarta, lebih tua dari Pasar Tanah Abang dan Senen yang dibangun pada abad ke-18.

Glodok berasal dari nama yang berbunyi grojok-grojok pada masa VOC merupakan kampung yang terletak di luar kota berbenteng. Jauh sebelum dibangunnya Batavia (Mei 1619), dan semenjak bernama Sunda Kalapa, orang Cina sudah banyak tinggal di tepi pantai tidak jauh dari bandar Sunda Kalapa. Tapi, ketika Olanda membangun loji di sini, mereka pun diusir. Baru setelah terjadinya pembantaian orang Tionghoa (November 1740) mereka ditempatkan di kawasan yang sekarang ini kita kenal dengan sebutan Glodok.

Mendatangi pusat-pusat pembelanjaan di Glodok saat puasa, kita harus ekstra kuat menahan haus. Berdampingan dengan Glodok terdapat pertokoan Pancoran yang dulunya merupakan pancuran tempat orang mengambil air minum dan mandi. Glodok memiliki pusat elektronik yang dikenal sebagai pertokoan Harco. Mungkin banyak yang tidak tahu bahwa yang membangunnya pada tahun 1970-an adalah seorang keturunan Arab bernama Abubakar Bahfen. Dia juga membangun pertokoan dengan nama yang sama di Pasar Baru.

Baik di Glodok maupun di Pasar Baru, sampai tahun 1960-an terdapat Markas Polisi Seksi II dan III — semacam Polsek sekarang ini. Di Harco kita dapat membeli berbagai produk elektronik dengan harga miring, dan kini didominasi oleh produk Cina. Konon, di sini juga terdapat barang-barang selundupan, yang begitu gampang lolos dan dijual bebas. Di sekitar Harco terdapat para pedagang VCD dan DVD, termasuk film-film porno. Entah sudah berapa puluh kali dilakukan razia, tapi tidak pernah berhasil menghalau para pedagamg VCD porno yang jumlahnya ratusan.

Menelusuri jalan-jalan di daerah ini, diperlukan banyak fantasi. Bukan saja untuk membayangkan tragedi 1740 yang menelan korban 10 ribu Tionghoa, tapi situasi tempat dan masyarakat ketika itu. Pria Cina ketika itu berlalu lalang dengan rambut dikepang panjang dan rambut bagian depan dicukur licin, sebagai tradisi ketika daratan Cina dijajah Manchu selama tiga ratus tahun. Pemerintah kolonial Belanda, disamping mengharuskan orang Cina tinggal di satu tempat, juga melarang mereka berpakaian seperti pribumi dan barat. Yang melanggar dikenai denda atau kurungan.

Hingga kini — sekalipun harus bersaing dengan pusat perdagangan lain yang menjamur di Jakarta — Glodok masih tetap merupakan tempat perbelanjaan paling bergengsi. Hampir semua tempat tinggal telah berubah fungsi menjadi tempat perdagangan. Penghuninya kini tinggal di perumahan-perumahan mewah, seperti Pluit, Ancol, Sunter dan Kawasan Indah Kapuk.

Pada masa Bung Karno dan awal pemerintahan Soeharto, konon sebagian besar uang yang beredar berada di Glodok. Sebelum dilarang di masa pemerintahan Soeharto, di Glodok dapat disaksikan berbagai atraksi kesenian Cina, yang juga diminati pribumi. Misalnya, pesta-pesta pada tahun baru Imlek yang meriah dan gemerlapan. Lalu, perayaan Cap Go Meh yang berlangsung setiap malam mulai dari Pecinan hingga Meester Cornelis (Jatinegara), dan diteruskan ke Buitenzorg (Bogor), Sukabumi dan Cianjur.

Ketika kita menelusuri jalan-jalan di Pecinan, serta puluhan jalan kecil di sekitarnya, aroma hio terasa menyengat dan merupakan tipikal kawasan ini. Tidak usah heran, hio bagi masyarakat setempat bukan saja dipasangkan di hio lau, tapi juga di pojok-pojok pintu rumah. Itu membuktikan adat istiadat leluhur masih mendapat tempat. Termasuk bagi generasi mudanya, yang kita dapati banyak mendatangi klenteng-klenteng untuk bersoja sebagai tanda bakti kepada leluhur. Dalam masyarakat Tionghoa, berbakti pada orang tua merupakan kemustian, agar tidak jadi orang doraka.

Di China Town kita akan mendapati belasan sinshe yang membuka praktek pengobatan sejak puluhan tahun lalu. Dulu, ketika dokter masih sedikit, sinshe paling banyak didatangi orang yang ingin berobat. Di samping sinshe, kita akan mendapati kios-kios pedagang obat-obatan Cina yang dijual secara bebas. Pengobatan Cina, yang dikenal sejak ribuan tahun lalu, kini makin diminati. Sayangnya, banyak obat-obat produk Cina yang palsu, seperti berulang kali disiarkan pers.

Berdekatan dengan Glodok terdapat Kali Besar yang oleh Belanda disebut Groote Kanaal. Dulu merupakan alur pelabuhan, di mana kapal-kapal kecil dapat masuk dan sandar untuk membongkar barang-barang, khususnya rempah-rempah. Sampai tahun 1950-an, banyak perusahaan besar berkantor di Kali Besar. Sebelum perusahaan Belanda dinasionalisasi, mereka berkantor di Kali Besar.

Banyak pegawai Belanda yang datang ke kantor dari Menteng dan Pasar Baru dengan naik trem listrik. Di Kali Besar muara Ciliwung pada saat Peh Cun hari keseratus tahun baru Imlek banyak masyarakat Cina melakukan lomba sampan. Ketika itu airnya masih jernih, sering digunakan untuk mandi oleh anak-anak dan mencuci pakaian oleh ibu-ibu.

(Alwi Shahab )

Sumber : www.republika.co.id

Bobby : Wajah Amerika yang Sakit

Yang ingin dikatakan film ini sebetulnya sederhana: Amerika Serikat (AS) pada 1968. Akan tetapi, sutradara Emilio Estevez tak melakukannya dengan sederhana. Ia menabur lebih dari selusin bintang –dari Anthony Hopkins, Demi Moore, Laurence Fishburne, hingga Martin Sheen– untuk menjadi daya tarik film ini. Sayangnya, ia menciptakan setengah selusin jalan cerita (subplot) yang membikin sebagian penonton lumayan terengah-engah.

Meski begitu, Estevez menunjukkan orisinalitasnya, yakni pada bagaimana ia menggambarkan wajah AS pada 1968 itu. Estevez membonceng kisah tragis Robert Francis Kennedy –senator AS yang tewas ditembak tahun itu. Namun, Bobby (2006) sendiri dimulai dengan cerita kematian tokoh kemanusiaan Martin Luther King yang juga mati ditembak.

Ketika King tewas, AS saat itu adalah sebuah negara adidaya yang tengah sakit. Dililit perang Vietnam, AS juga mengalami guncangan besar kebudayaan, euforia demokrasi, dan huru-hara rasialisme. Robert F Kennedy –akrab dipanggil Bobby– muncul sebagai calon presiden AS sekaligus harapan terakhir negeri Paman Sam untuk mengakhiri blunder Richard Nixon.

Syahdan, di jantung kota Los Angeles. Manajer Hotel Ambassador, Paul (William H Macy), dibuat sibuk mempersiapkan perhelatan besar. Sebuah hajatan akbar, dan kelak yang paling bersejarah, bakal berlangsung di ballroom hotel berbintang itu, yakni kampanye senator Robert F Kennedy.

Kemenangan Kennedy di LA disebut-sebut sebagai kunci kemenangan dia di seantero negeri. Kemenangan yang disebut-sebut bakal mengubah wajah AS. Dan, itu dimulai di hotel berbintang Ambassador. Tapi kemudian, sutradara Estevez bergerak metaforis. Ia menjadikan romantika kehidupan di Hotel Ambassador sebagai wajah AS itu sendiri, yakni mikrokosmos bagi pertarungan kelas, ras, drama politik, sekaligus skandal percintaan. Film pun mulai bercabang-cabang bagai ranting pohon.

Kamera lantas menyorot ke dapur hotel. Pada ruangan berbalut cat biru muda ini, konflik ras menemukan wujudnya yang vulgar. Manajer dapur yang rasialis, Timmons (Christian Slater), secara tak adil menugaskan dua koki berdarah Meksiko untuk piket ganda. Jadwal kerja ini mematikan kesempatan keduanya ikut pada pemilihan umum presiden AS.

Paul, manajer hotel, murka. Timmons dituding rasialis dan, lebih dari itu, dituduh tak menyokong pesta demokrasi. Ia dipecat. Tema demokrasi menjadi pesan penting drama politik Bobby.

Simaklah ketika seorang reporter asal koran Chekoslovakia, Lenka Janacek (Svetlana Metkina) ditolak mentah-mentah tim kampanye Bobby mewawancarai sang senator lima menit. Alasannya sederhana. Di Cheko tak ada pemilu dan, karenanya, Cheko bagai negara haram bagi AS.

Kemudian muncul kisah pasangan Romeo-Juliet, William (Elijah Wood) dan Diane (Lindsay Lohan), yang baru saja memutuskan menikah di salah satu kamar Hotel Ambassador. Ini bukan pernikahan biasa. Diane tak sekadar ingin dipersunting lelaki pujaannya, tetapi juga ingin melawan negaranya. Lewat pernikahan ini, Diane telah membebaskan William dari wajib militer ke Vietnam.

Kemudian film bergerak pada sosok Miriam (Sharon Stone), kru tata rias hotel. Miriam baru tersadarkan kesetiaannya baru saja disobek-sobek Paul, suaminya, yang diketahuinya berselingkuh dengan seorang petugas penerima telepon hotel.

Film lantas beringsut pada kehidupan Virginia Fallon (Demi Moore) yang mengalami kebuntuan hidup. Fallon adalah penyanyi yang kariernya mulai padam, namun ia didapuk menyanyi pada prosesi penyambutan Bobby di hotel itu. Tapi, ia terus menerima rongrongan dari suaminya, Tim (Emilio Estevez), yang berujung kehampaan hidup.

Secara sepintas, diceritakan pula tentang kehidupan pensiunan John Casey (Anthony Hopkins), seorang mantan pekerja Ambassador, yang kini menghabiskan waktunya bermain catur di lobi hotel tersebut. Mereka menunggu Bobby tiba di hotel ini, berpidato, dan kelak membawa perubahan bagi AS dan mereka.

Dua orang tim kampanye Bobby, Cooper (Shia LaBeouf) dan Jimmy (Brian Geraghty), adalah sosok pemuda idealis yang percaya demokrasi dan Amerika yang berubah. Lucunya, keduanya malah jatuh teler akibat obat bius menjelang Kennedy tiba di hotel itu.

Satu-satunya wajah yang tak muram adalah kehidupan pasangan Jack (Martin Sheen) dan Samantha (Helen Hunt). Mereka adalah salah satu penyokong dana kampanye Robert F Kennedy yang sukses mengatasi kegalauan hidup AS pada 1968 dengan kembali pada diri sendiri.

Begitulah Estevez. Ia membuat kita bagai keluar masuk partisi-partisi. Ada lebih dari setengah lusin subplot berseliweran dalam film berdurasi 111 menit ini. Penonton, yang kurang biasa menikmati penyajian kontemporer ini, akan sedikit terganggu. Namun, taburan para bintang membikin film ini seperti karnaval yang ramai. Dan, dialog-dialog yang menghanyutkan cukup membikin kita sabar menunggu, menunggu, dan menunggu ujung cerita film ini.

Hingga akhirnya ke-24 tokoh fiksi itu berjumpa pada satu muara, yakni ballroom Hotel Ambassador. Di situlah Bobby Kennedy menyampaikan pidato kampanyenya yang inspiratif. Beberapa menit kemudian ia tewas ditembak di dapur hotel tersebut.

Inilah akhir emosional film Bobby: Kematian Bobby yang mengguncang. Perasaan campur aduk pun muncul –antara terkejut dan hambar. Bukan perasaan yang sederhana, seperti halnya plot film ini yang dibuat tak sederhana.

Sumber : www.republika.co.id

Alex Rider : Operation Stormbreaker : Aksi James Bond Junior

Jika sudah tak sabar menunggu sequel James Bond berikutnya, Alex Rider: Operation Stormbreaker (2006) bolehlah menjadi film pengganjal. Inilah film yang disebut-sebut menyuguhkan aksi James Bond junior –meski lebih bernuansa humor dan kurang high-tech. Namun, aksi-aksinya lumayan mirip laga Pierce Brosnan atau Daniel Craig. Ceritanya pun berkutat soal petualangan agen intel Inggris, M16.

Ia adalah Alex Rider (Alex Pettyfer), seorang yatim piatu berusia 14 tahun, yang dibesarkan pamannya, Ian Rider (Ewan McGregor), dan seorang pembantu yang aduhai, Starbright (Alicia Silverstone). Dialah sang James Bond junior itu.

Alex mengenal pamannya sebagai bankir supersibuk. Tapi, dugaan itu rontok ketika sang paman tewas dalam sebuah kecelakaan mobil. Alex memperoleh informasi bahwa sang paman dibunuh Yassen Gregorovich (Damian Lewis), seorang penembak terkenal. Alasan pembunuhan adalah semata-mata lantaran Ian Rider adalah agen M16, bukan seorang bankir yang diyakininya selama ini.

Alex kemudian dibujuk dua agen M16 –Alan Blunt (Bill Nighy) dan Tulip Jones (Sophie Okonedo)– bergabung dengan Divisi Operasi Khusus M16. Kata mereka, pamannya secara diam-diam telah mempersiapkan Alex untuk menjadi seorang intel yang tangguh dengan mengajarinya olahraga-olahraga ekstrem. Alex setuju.

Misi pertama Alex adalah mengendus gerak-gerik miliarder Darrius Sayle (Mickey Rourke) yang mendonasikan sistem komputer berkekuatan tinggi kepada setiap sekolah di Inggris. Sistem komputer ini berkode Stormbreaker. M16 curiga Sayle memiliki agenda terselubung terkait aksi filantropisnya itu.

Alex berhasil menyusup ke dalam jaringan Sayle dan membongkar niat busuk sang miliarder. Lewat komputer ini, ternyata Sayle ingin menularkan virus komputer berbahaya yang mengancam keamaman Inggris. Sayangnya, identitas Alex sebagai seorang intel keburu terbongkar.

Sebuah aksi tembak-tembakan yang seru terjadi di jalanan dan gedung pencakar langit kota London. Alex nyaris tewas, tetapi Sayle berhasil dilumpuhkan. Usut punya usut, yang melumpuhkan Sayle adalah Yassen Gregorovich, sosok pembunuh paman Alex. Bagaimanakah Alex harus bersikap? Tetap menaruh dendam pada Yaseen atau berterima kasih?

Sumber : www.republika.co.id

Ditulis dalam Layar Perak. 1 Komentar »

Menapaki Sejarah Islam di Iran

Mendengar Iran, yang terbayang adalah keindahan sebuah negara dengan iklim subtropis lengkap dengan keramahan penduduk dan bangunan sejarah bukti gemilangnya Islam pada abad pertengahan (9-18 Masehi). Namun, ketika tiba di sana, yang terlihat lebih dari itu. Kami mendapati gadis-gadis cantik dengan nasionalisme yang cukup tinggi. Mereka selalu berkata, kami bangga sebagai Persia.

Kunjungan rombongan kami terdiri dari beberapa pengelola biro perjalanan dari Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam (hasil kerja sama Iran Air, Iran Doostan Tour, PT Apex, serta Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Indonesia) dimulai dari Tehran, ibukota Iran. Kota ini sepintas adalah kota lama. Tower komunikasi mirip menara Kuala Lumpur menyambut kami.

Karena kunjungan dilakukan pada musim panas, maka di sepanjang perjalanan, kami menyaksikan sebuah gunung besar kemerahan mengepung Tehran. Itulah Gunung Alborz. Selama delapan bulan dalam satu tahun, pengunjung dapat berski es di Alborz. Jalan-jalan di Iran adalah jalan yang rindang dengan pohon platenau (mirip pohon maple) di kiri dan kanan jalan. Uniknya, pohon bertubuh tinggi menjulang dan berdaun rindang itu berdiri kokoh di atas saluran air dingin yang jernih dan lancar mengalir.

Istana Pahlevi vs rumah Imam Khomeini
Tujuan pertama kami adalah Museum Istana Pahlevi. Ini adalah saksi kemegahan gaya hidup klan Pahlevi ketika memimpin Persia yang diganti namanya menjadi Iran. Dinasti Reza Shah sempat memimpin Iran pada 1925-1979 dimulai dari Reza Shah (1925-1941) dan kemudian Mohammad Reza yang di Indonesia lebih dikenal dengan nama Reza Pahlevi (1941-1979). Reza Shah mengangkat dirinya sendiri sebagai shah setelah kudeta terhadap dinasti Qajar.

Sebelum menuju Istana Pahlevi, kami melewati kawasan elit rumah keluarga kerajaan yang kini kosong. Lokasi permukiman elit ini disebut Saffroniyeh. Rumah-rumah megah itu bila di Jakarta ibarat kawasan Menteng. Istana dinasti Pahlevi terdapat di sebuah bukit seperti Kebun Raya Bogor. Suhunya sejuk dan sekelilingnya hutan platenau. Berdiri paling depan adalah Istana Mohammad Reza atau Reza Pahlevi dan Ratu Farrah Diba. Bangunan berwarna putih ini mirip dengan istana di Jakarta atau di tempat lain. Seluruh barang masih asli dan ketika Pahlevi terusir dari negerinya karena Revolusi Islam Iran, konon tak satupun barang berharga itu sempat ia bawa, termasuk pohon kurma dengan buah dari emas murni.

Ruangan-ruangan di dalam istana terdiri atas ruang tamu, ruang jamuan, ruang makan, kamar tidur raja, kamar tidur ratu, ruang kerja, ruang tunggu dan ada satu ruangan yang mirip dengan ruangan bola biliar yang tampak temaram. Semua ruangan berisikan barang furnitur yang megah dan tak sedikit terbuat dari emas murni. Tirai, kain penutup tempat tidur, gelas, piring didatangkan dari tempat-tempat terbaik di Eropa. Langit-langit ruangan dihias dengan lukisan kepahlawanan Rustam, pahlawan bangsa Persia. Hanya karpet tampaknya yang asli Iran.

”Ini menunjukkan bahwa karpet Iran adalah yang terbaik di dunia karena dari semua barang mahal di sini yang dikoleksi Mohammad Reza dan istrinya Ratu Farah Diba, hanya karpet yang asli Iran,” kata Saeed Hajihadi, tourleader kami berseloroh. Untuk menunjukkan bahwa ini adalah istana raja, maka gembok dan gagang pintu pun terbuat dari warna emas dan diberi cap kerajaan berupa gambar mahkota.

Dari Istana Mohammad Reza kami harus menaiki bus untuk mencapai istana Reza Shah, ayah Mohammad Reza. Istana Reza Shah berwarna kehijauan. Di depannya ada kolam air mancur besar. Hampir semua bangunan umum dan istana di Iran memiliki kolam pada bagian depan. Keindahan istana dapat tercermin dari kolam besar di depannya.

Untuk memasuki istana, kita harus mengalasi kaki dengan sepatu kain yang disiapkan pengelola museum. Istana Reza Shah jauh lebih artistik dari istana anaknya. Ornamen mozaik dan potongan cermin kecil-kecil berbentuk segi tiga dan segi lima dengan diameter 2,5-5 cm yang disusun sedemikian rupa menampilkan kemegahan hampir di semua ruangan.

Dari istana, kami beranjak makan siang ke kaki Gunung Albroz. Di kawasan ini, banyak restoran terbuka (open air) dan penjual manisan aneka berry di tepi jalan. Gagis-gadis dan anak muda Iran yang berkulit putih, beralis lengkung hitam, dan bermata bagus menghabiskan waktu libur di tempat ini. Mereka berjalan sembari mencicipi manisan berry yang berwarna merah, hitam serta manisan buah lainnya.

Di kaki gunung ini, terdapat cable car untuk melihat pemandangan gunung. Suasana cukup ramai terlebih pada hari libur. Hampir saja kami tak mendapat tempat. Kami sempat singgah di Grand Bazaar membeli pir, cherry, dan plum untuk bekal di perjalanan. Berkebalikan dengan Istana Pahlevi adalah rumah Ayatullah Ruhullah Imam Khomeini. Berada juga di daerah yang berudara dingin, rumah Ayatullah kini juga jadi museum yang dikunjungi banyak wisatawan lokal dan internasional. Hanya sebuah kamar berukuran sekitar 3×4 meter di pojok huseiniyah atau madrasah dan masjid yang hingga kini tampak belum rapi. Di kamar itu terdapat satu buah sofa mungil tempat Ayatullah tidur dan menerima semua tamu kenegaraan. Presiden, perdana menteri, pemimpin agama Katolik dan Kristen Ortodoks pernah berjumpa Khomeini di rumah mungil ini.

Dengan kebersahajaanya, Khomeini telah menjadi pahlawan Iran yang fotonya terpampang di semua tempat baik hotel, kantor pemerintah, dan rumah-rumah penduduk Iran. Di huseiniyah, terdapat podium tempat dulu Ayatullah sering berpidato. Kursi dan meja ditutupi kain putih dan diberi bunga. Kini, tak satu pun orang berani duduk di situ bahkan para presiden dan pemimpin spiritual Iran. Itu menjadi pertanda bahwa posisi ayatullah di mata rakyat Iran tak tergantikan. Di lantai bawah masjid terdapat perpustakaan dan galeri tempat menyimpan barang dan foto Imam Khomeini selagi hidup.

Sebagai pahlawan yang membebaskan Iran dari tirani klan Pahlevi, maka Imam Khomeini mendapat tempat tersendiri di hati bangsa Iran saat ini. Bahkan, makamnya juga menjadi kompleks yang dikunjungi ratusan ribu warga Iran setiap tahun. Berada di daerah yang panas, city of Rei, makam Imam Khomeini, sebetulnya berada di daerah pemakaman umum. Tempat itu adalah tempat pertama kali Imam Khomeini berpidato sekembalinya dari Prancis. Saat itu, pidatonya dihadiri sekitar 2,5 juta penduduk Iran. Di situ, ia pertama kali datang dari pengasingan dan di situ pula ia dimakamkan. Rencananya, kompleks pemakaman ini akan dilengkapi masjid, universitas, perpustakaan, dan fasilitas lainnya. Tapi, pembangunan belum rampung. Di halaman, ribuan orang dari luar kota berkumpul, menggelar tenda, dan memasak di lapangan.

Qom, Nathans, dan Kasyan
Di mata orang Indonesia, Iran identik dengan Qom. Kota tandus gersang itu adalah penghasil ulama besar di Iran, termasuk Imam Khomeini. Juga salah satu penghasil karpet terbaik di Iran. Pada musim panas, Qom terlihat makin putih. Kami harus berganti dengan bus lokal (bus sekolah) untuk menjangkau Qom.

Sayang, karena kami datang pada hari Jumat, kami hanya sempat memasuki halaman masjid di mana terdapat makam Fatimah al Maksumiyeh, puteri Imam Musa Kazim yang meninggal karena sakit dalam perjalanan menjumpai kakaknya Imam Ridha. Untuk memasuki kompleks, saya dipinjamkan chador, sejenis kain panjang yang dipakai dari kepala hingga kaki. Di Iran, chador wajib dikenakan jika kita mengunjungi tempat khusus.

Dari Qom kami menuju Kasyan. Di kota kecil ini, terdapat madrasah dan masjid yang dibangun untuk mengenang jasa Maulana Malik Ibrahim Kasyan yang pergi berdakwah dan meninggal di Asia Tenggara. Masjid ini sekarang menjadi Madrasah Agabozorgh. Kami sempat mengait-ngaitkan apakah Maulana Malik yang disebut ini adalah ulama yang masuk lewat Aceh dan menyebarkan Islam ke Indonesia.

Dari Kasyan, kami menuju Nathans, sebuah masjid tempat belajar para wali dengan guru Sheikh Abdussamad. Masjid yang dibangun dengan kubah kerucut bukan bulat ini dialiri sungai di bawah tanah. Airnya menyembul ke permukaan tepat di tengah masjid dan digunakan untuk wudhu. Di sungai itu juga terdapat ikan khusus. Keberadaan ikan menjadi inspirasi ornamen keramik buatan seniman lokal dan keturunannya. Di masjid itu, kami disuguhi warisan berupa perpaduan seni, matematika, dan kehidupan sufistik.

Sumber : www.republika.co.id

Ditulis dalam Jalan-jalan. 6 Komentar »

Naik Sepeda Onthel Berwisata ke Masa Lalu

Saban Senin dan Jumat, Chandra Meizir (44 tahun) bagai memutar jarum jam sejarah. Pada hari-hari itulah –seperti Scott Bakula dalam serial televisi Quantum Leap– ia ‘melesat’ ke masa lampau, yakni ke Batavia tahun 1920-an. Dan, Chandra melakukannya lewat sepeda onthel. Inilah yang dilakoninya pada Senin dan Jumat pagi itu. Ia keluarkan sepeda onthel kesayangannya dari ruang tamu. Kemudian ia tanggalkan kemeja kantornya dan hanya memakai kaos oblong. Sebuah topi demang lantas ia pasangkan di kepala. Hmmm, mirip sudah ia dengan meneer-meneer zaman Belanda.

Sang sepeda kuno itu pun mulai mengukur jalan. Dari rumahnya di bilangan Kuningan, Jaksel, Chandra pun meluncur hingga ke kantornya di daerah Pasar Minggu di atas sepeda Gazelle buatan Belanda tahun 1920. Begitulah cara ia ‘berwisata’ ke masa lalu.

Nah, di tengah hiruk-pikuk kemacetan Ibu Kota, Chandra dan sepeda ‘Oemar Bakri’-nya kontan menyajikan pemandangan yang kontras. Tak sedikit yang lantas mengacungkan jempol kepadanya. Chandra membalasnya dengan senyum. Kalau sudah begitu, kata Chandra,”Rasanya bangga banget.” ”Kawas bule, euy (seperti orang bule). Meneer, meneer,” begitu Ricky Hilmansyah Wijaya (31 tahun) menirukan sapaan orang-orang di jalan, setiap kali ia menggelosor di atas sepeda onthelnya di jalanan kota Bandung. Ricky memakai baju khas demang saat itu. Lengkap dengan jasnya.

Di rumahnya, ia memiliki tujuh unit sepeda lawas itu. Salah satunya adalah merek Veeno keluaran tahun 1836 buatan Belanda. Ia juga memarkirkan Gazelle, Philip, Cicloid, Hercules, Magneet, atau Simplex. Inilah sepeda-sepeda generasi pertama yang masuk ke Indonesia. Sejak dibuat kali pertama pada 1971 di Prancis, sepeda bermigrasi ke Nusantara baru pada 1910-an. Pemerintah kolonial menamakannya Fiets. Namun, lidah orang Jawa menyebutnya pit.

Lantas mengapa dinamai onthel? Onthel adalah bahasa Belanda yang berarti mengayuh. Jadi, sepeda onthel adalah sepeda kayuh (sebab saat ditemukan di Eropa, sepeda belumlah memakai pedal dan berbahan kayu). Chandra dan Ricky adalah segelintir dari ribuan penggila sepeda onthel di negeri ini –para penggila masa lalu. Dan, Imam Hartoyo adalah salah satunya. Pria usia 50 tahun ini adalah salah satu pendiri Prima Onthel Club (POC), yakni sebuah perkumpulan sepeda onthel di Bekasi yang diawaki 70-an orang. Kebanyakan anggota POC adalah bapak-bapak paruh baya –dari pimpinan partai politik, manajer, lurah, hingga pengusaha yang supersibuk. Nah, kata Imam, alasan mereka berkecimpung di komunitas ini, cukup sederhana. ”Mereka ingin mendobrak kebosanan setelah bekerja dari Senin hingga Jumat,” tuturnya. Lebih dari itu, mereka sesungguhnya mencoba keluar dari irama kehidupan modern yang sesak. Naik sepeda onthel, tambah Imam, ”Seolah membawa kita kembali ke kehidupan zaman dahulu yang tenteram, dan damai. Paling tidak, kita bisa tebar senyum, deh,” ia tersenyum kecil.

Para bapak ini lantas berwisata ke masa lalu dengan cara yang semarak. Tak hanya naik sepeda onthel, lusinan anggota POC sepakat untuk mengenakan pakaian para meneer atau demang zaman Belanda saat berkumpul. Atau memakai pakaian dinas upacara (PDU), yang lazim dipakai para pejabat pada masa kolonial.

Soal pakaian, Chandra Meizir tak ketinggalan. Pendiri Komunitas Onthel Batavia (KOBA) ini tak pernah bosan mengenakan pakaian favoritnya saat ngumpul bareng dengan para ‘onthelis’ se-Jakarta. Pakaian favorit Chandra? Seragam kebesaran almarhum Bung Karno, plus peci di kepalanya. Chandra amat pas dalam pakaian itu. Ia sepintas amat mirip Bung Karno. Karena itulah ia sempat didapuk naik mobil Bung Karno betulan pada napak tilas HUT RI ke-60.

Di Bandung, para anggota Paguyuban Sepeda Baheula (PSB) juga berwisata ke masa lalu lewat pakaian ‘jadul’. Saban hari Ahad mereka berkumpul di depan Gedung Sate, Bandung. Dari 70-an yang hadir, lebih dari separuhnya mengenakan pelbagai pakaian zaman baheula seperti seragam ‘kompeni’, tentara Jepang, pakaian meneer Belanda, atau pakaian kampret khas Priangan. Alhasil, ”Orang-orang pernah berebut sekadar ingin foto-foto dengan kita,” kata Ricky Hilmansyah, pimpinan PSB.

Pulang Bersama dengan Truk
Ada ribuan penggemar sepeda onthel di negeri ini. Mereka tergabung di puluhan klub sepeda onthel yang tertebar dari Jakarta hingga Pasuruan. Saat peringatan Bandung Lautan Api (BLA) pada Maret 2007 silam menjadi hajatan besar para penggemar sepeda onthel Tanah Air.

Nyaris seribu ‘onthelis’ dari Bandung, Jakarta, Surabaya, hingga Lombok, berkumpul di lapangan Tegalega, Bandung. Mereka melakukan pawai hingga ke Kota Parahyangan, Padalarang, dalam aneka pakaian ‘jadul’. ”Heboh banget,” kata Ricky. ”Jalanan sampai macet.”

Dimulai di Yogyakarta, dan mulai menjamur pada 2000-an, komunitas sepeda onthel kini telah menjadi kekuatan yang terorganisasi rapi. Di tingkat nasional, puluhan klub sepeda onthel ini tergabung dalam Komunitas Sepeda Tua Indonesa (KOSTI). Persaudaraan antarklub lumayan kuat. Ini misalnya ditunjukkan oleh tur-tur bersama yang diikuti berbagai klub seperti peringatan BLA 2007 atau Jambore Nasional yang diadakan di Surabaya beberapa waktu lalu, meski hanya diikuti sedikit peserta.

Ada satu kesamaan di antara komunitas yang jumlahnya puluhan ini. Nyaris dipastikan mereka selalu menggelar acara kumpul rutin saban akhir pekan. KOBA, misalnya, yang beranggotakan 265 orang, getol menghelat kongkow-kongkow di sekitar bundaran Hotel Indonesia setiap hari Ahad pukul 07.00 hingga 08.30 WIB.

Ada saja anggota yang mengenakan seragam ‘kompeni’. Atau kostum daerah yang nyentrik seperti pakaian Madura, blangkon, hingga koteka. Sepanjang 1,5 hingga 1 jam mereka lantas mengarahkan setirnya ke tempat-tempat bersejarah, dari Monas hingga ke Gedung Arsip Nasional. Di Bandung, PSB rutin ngumpul di Gedung Sate pada Ahad sejak pukul 08.00 pagi. Juga dengan kostum ‘jadul’. Mulai pukul 10.00-an, kata Ricky, sekitar 80-an sepeda onthel mulai bergerak meramaikan kota Bandung yang asri. Yang dilakoni para ‘onthelis’ PSB ini cukup unik: Sembari konvoi, mereka mencabuti poster-poster di sepanjang jalan. Poster-poster ini kerap menjadi pemandangan yang mengotori tembok kota. ”Kita juga menurunkan spanduk-spanduk yang sudah habis masa berlakunya,” ujar Ricky. ”Ini kegiatan positif. Hitung-hitung membantu pemda.”

Di tengah kesenjangan sosial yang menganga, sepeda onthel menjadi sarana mengembalikan para penggemarnya ke titik nol. Persamaan dan persaudaraan menjadi kata kunci. Ketika seseorang sudah naik sepeda onthel,”Maka semua status dan jabatan di kantor ditanggalkan,” kata Imam Hartoyo. ”Kita semua sama. Kita ingin senang-senang.”

Anggota komunitas sepeda onthel ini memang berasal dari beragam profesi dan usia. KOBA, misalnya, diawaki oleh pengacara, dokter, hingga tukang teh botol. Sementara POC dianggotai calon wali kota hingga ibu-ibu rumah tangga. PSB, klub yang beranggotakan 240 orang ini, bahkan diawaki ‘onthelis’ usia 8 tahun hingga 87 tahun. Meski beranggotakan orang dengan pelbagai status sosial,”Kita selalu kompak. Sehabis tur, kita harus pulang bersama. Naik truk!” begitu kata Imam.

Kisah ‘Penggali Kuburan’
Sejak menikah beberapa tahun lalu, Ricky Hilmansyah kini masih tinggal bersama mertuanya di pusat kota Bandung. Alih-alih menabung untuk membeli rumah sendiri, Ricky lebih rela menggelontorkan duit hingga Rp 45 juta untuk memborong tujuh sepeda onthel. ”Istri saya mendukung kok,” kata dia sembari tertawa kecil.

Hobi memang selalu memiliki logikanya sendiri. Alasan Chandra Meizir kesengsem sepeda onthel terwakili pada empat kata –nilai historis yang tinggi. ”Coba hitung, berapa ribu kilometer yang sudah ditempuh sepeda ini. Atau berapa puluh orang yang naik di atas sadelnya. Buat saya, ini memberikan sensasi tersendiri,” tutur dia.

Jatuh hati pada onthel pada 2004, Chandra kini memiliki 16 koleksi sepeda onthel. Saking sayangnya, Chandra memarkirkan tiga unit sepeda onthelnya di ruang tamu. Para tamu yang bersambang ke rumah Chandra di bilangan Kuningan, Jaksel, karenanya, sekaligus disuguhkan ‘pameran’ sepeda-sepeda ‘jadul’.

Toh, kenikmatan berkecimpung di hobi sepeda onthel telah dimulai bahkan sejak masa perburuan barang-barang lawas itu. Nah, Chandra punya cerita unik soal itu. Ia pernah ‘membongkar kuburan’ sebuah sepeda onthel! Ceritanya begini. Seorang informan memberitahu soal keberadaan sebuah onthel kuno di bilangan Mampang, Jaksel. Sayangnya, sepeda klasik ini sudah terkubur di dalam tanah selama puluhan tahun. Chandra penasaran.

Ketika disambangi, sang empunya sepeda setuju membongkar kuburan sepedanya. Dengan satu syarat. ”Sepeda ini dihargai satu juta rupiah,” ia menirukan. Maka penggalian pun dimulai. Akhir cerita, sepeda berhasil diangkat dari kedalaman dua atau tiga meter. Yang muncul adalah sepeda Gazelle buatan Belanda tahun 1927. ”Kabarnya, sepeda ini sudah tertimbun tanah selama lima kali musim banjir!,” kata dia antusias.

Padahal, kalau mau jujur, sepeda-sepeda itu tak lebih batangan besi tua. Umurnya sekitar 80 tahunan hingga 100-an tahun. Tetapi, sebagai besi tua,”Ini bukan sembarang besi. Kualitasnya yahud,” kata Imam Hartoyo. Orang Eropa zaman dahulu, kata Imam, betul-betul apik dalam membuat sepeda. Sepeda-sepeda itu, sudah dipersiapkan untuk hidup selama puluhan tahun. ”Coba saja. Sepeda saya ini usianya sudah lebih dari setengah abad, tapi amat nyaman saat dipakai,” kata dia.

Inilah keajaiban sepeda onthel. Meski ia adalah kumpulan batangan besi, bahkan beratnya mencapai 25 hingga 30 kilogram, ”Ketika dinaiki kok rasanya ringan dan nyaman,” kata Ricky. Ia membuktikannya dengan bersepeda onthel dari Bandung ke Cirebon selama 13 jam bersama 23 anggota PSB lain.

Lagi-lagi, logika tak selamanya punya tempat dalam urusan hobi. Segepok duit tak mampu meluluhkan kecintaan Ricky pada sepeda Veeno miliknya. Padahal, tak sedikit yang membujuk Ricky untuk melepas sepeda buatan Belanda tahun 1836 itu. Terakhir ada yang menawar Rp 10 juta. Tapi, Ricky tetap emoh, meski ia cuma merogoh beberapa ratus ribu saja saat membelinya.

Malah, Ricky mengaku tak kepikiran melego satu pun dari tujuh koleksi sepedanya itu. Maklum, ketujuh sepedanya adalah hasil mengobok-obok ke berbagai kota. Bahkan hingga ke Surabaya, Malang, atau Pekalongan. ”Saya sampai pernah menggedor toko orang di Pekalongan untuk cari onderdil, ha ha.”

Sumber : www.republika.co.id

Ditulis dalam Hobi & Habit. 1 Komentar »